NovelToon NovelToon
Setelah Aku Memilih Bercerai

Setelah Aku Memilih Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Pulang

Kereta bergerak perlahan meninggalkan kota.

Mela duduk di dekat jendela, kepalanya bersandar dan matanya terpejam. Ia menyimpan koper di bagasi atas tempat ia duduk dan meletakkan tas kecil di bawah kursi. Di dalamnya hanya ada pakaian secukupnya dan beberapa barang pribadi. Tidak ada perhiasan, tidak ada kenangan yang ingin ia simpan.

Perlahan, ia membuka matanya, menatap sebuah kunci tua berwarna kusam dan kartu pemberian Rahman.

Dia tersenyum miris, teringat saat membereskan barangnya dan hendak angkat kaki dari keluarga Wijaya.

Dengan angkuh, Rahman dan mantan ibu mertuanya terus meremehkan nya, menganggap ia tidak akan bertahan hidup tanpa mereka.

Terlebih lagi, saat Rahman ingin memberikan beberapa aset dan properti sebagai bagian harta gono-gini, Camila dan Dyah justru melarang dan menganggapnya tidak pantas mendapatkan nya, karena selama ia menjadi bagian keluarga Wijaya, ia tidak berkontribusi apapun.

Mela tersenyum sarkas. Dia tidak berkontribusi dalam keluarga? Lucu sekali.

Ia memang tidak membantu mengembangkan bisnis keluarga, mencari uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi, ia yang sudah menjaga, merawat dan melayani keluarga Wijaya. Tidak hanya satu atau dua tahun. Tapi, selama dua puluh tahun. Dan, itu bukan waktu yang singkat.

Tanpa dirinya, apa Rahman bisa bekerja dengan tenang? Apa kondisi Dyah akan membaik? Dan, apa putrinya bisa tumbuh sehat seperti sekarang?

Mereka selalu menganggap remeh usaha dan pengorbanannya. Bahkan, sampai tega mengkhianatinya. Tidak hanya Rahman, tapi mantan ibu mertua dan juga putrinya sendiri membela orang luar.

Mela masih menatap dua benda itu. Meski, Camila dan Dyah melarang Rahman memberikan sebagian harta padanya, tapi Rahman tetap memberinya uang.

Ia akan menggunakannya dengan baik setelah sampai di tempat kelahirannya, di Desa Morana.

Mela mengambil tasnya, menyimpan kedua benda tersebut lalu, menatap keluar jendela.

Setiap kilometer yang dilewati terasa seperti lapisan beban yang terlepas dari dadanya. Gedung-gedung tinggi berganti sawah, suara bising berubah menjadi angin yang menyentuh jendela.

Ia teringat rumah itu, rumah dengan lantai kayu yang berderit, halaman kecil dengan pohon mangga tua, dan bau tanah basah setelah hujan. Tempat yang dulu ia tinggalkan demi menikah, demi kehidupan yang ia anggap lebih layak.

Tidak berapa lama, Kereta berhenti.

Mela bangkit, menenteng tas kecilnya lalu mengambil koper di bagasi atas. Perlahan tapi pasti, ia turun dari kereta, di sambut udara segar desa Morana dengan kesederhanaan yang nyaris Mela lupakan.

Ia berjalan menyusuri jalan desa, dengan koper yang ditarik pelan. Beberapa orang menoleh, sebagian mengenalinya, sebagian hanya tersenyum ramah.

Kini, ia sampai di depan Rumah kayu warisan orang tuanya yang masih berdiri, meski terlihat tua dan catnya mengelupas.

Mela memasukkan kunci lalu, membuka pintu perlahan dan di sambut debu bersama kesunyian yang tidak menakutkan.

Mela masuk perlahan, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Lalu, ia meletakkan kopernya, berjalan perlahan dengan tangan yang menyentuh satu persatu perabotan yang tertutup kain putih yang berdebu tebal.

Ia lalu menarik salah satu kain. Debu langsung berterbangan, membuatnya batuk dan sesak. Lalu, ia duduk di kursi, menarik napas panjang dan tersenyum kecil.

"Akhirnya, aku pulang," bisiknya pada diri sendiri.

Mela akhirnya bangkit, menarik kopernya ke kamar. Saat membuka pintu, lagi-lagi debu menyambutnya. Dia meletakan koper di sudut ruangan, lalu mulai menggulung lengan bajunya, membersihkan rumah, di mulai dari kamarnya.

"Sepertinya, besok aku harus membeli alat kebersihan yang baru dan beberapa peralatan untuk membersihkan halaman dan kebun," gumam Mela.

Ia menyeka keringat, kembali menyapu, membersihkan sarang laba-laba. Lalu, berpindah di ruang tamu dan dapur.

Mela menarik napas dalam dengan tangan berkacak pinggang. Dapur yang sudah ia tinggalkan begitu lama, masih terlihat sama. Masih menggunakan kayu bakar dan peralatan seadanya.

Dia mulai membersihkannya, menyalakan kayu bakar di tungku untuk merebus air.

Tanpa terasa, hari sudah malam. Mela menutup pintu kayu, mematikan lampu ruang tamu dan memilih istirahat lebih awal.

Dia berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit dalam diam.

Kini, ia mulai merasakan kesunyian. Hanya suara hewan malam yang terdengar di luar. Namun, ia tidak takut sama sekali. Dan, ia harus membiasakan diri dengan kesendirian ini.

...****************...

Keesokan paginya di Morana, matahari masuk melalui celah kayu rumahnya. Namun, Mela tidak buru-buru bangun.

Ia masih berbaring di kasurnya, melihat jam di ponsel dan tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak perlu bangun lebih pagi dari siapa pun. Tidak perlu menyiapkan keperluan orang lain, tidak perlu melayani orang lain dan memikirkan jadwal obat orang lain.

Meski begitu, Mela akhirnya bangun ketika matahari sudah naik. Hari ini, ia akan pergi ke pasar, membeli beberapa peralatan kebersihan, kebutuhan dapur dan kamar mandi.

Ia segera membersihkan diri dan bersiap. Saat, ia keluar dari rumah, tetangga mulai memperhatikannya. Mereka hanya menyapa dengan senyuman, tanpa berani bertanya.

Namun, begitu ia berlalu, mereka mulai berkumpul.

"Bukannya itu Mela. Kenapa tiba-tiba dia pulang ke desa? Apa dia di usir suaminya yang kaya itu?"

"Hush! Jangan bicara sembarangan. Nanti, kalau Mela dengar bagaimana?"

"Memangnya, kamu tidak penasaran?"

"Ya... Penasaran, sih. Tapi, itu bukan urusan kita."

Mela yang berjalan belum terlalu jauh, samar-samar mendengar pembicaraan mereka. Namun, ia hanya tersenyum tanpa niat berhenti atau menjelaskannya.

Ia sudah menduga, kepulangannya akan menjadi bahan pembicaraan tetangganya. Apalagi, ia pulang seorang diri, setelah dua puluh tahun lamanya.

Namun, ia tidak peduli dengan penilaian mereka. Yang terpenting, ia akan menata hidupnya menjadi lebih baik, di tanah kelahirannya.

Tidak berapa lama, Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Mela pulang menaiki mobil pickup kecil yang mengangkut barang belanjaannya.

Setelah semua barang di turunkan, ia langsung memasang kompor dan tabung gas, lalu memasak air untuk membuat teh hangat.

Setelahnya, ia menyapu halaman, membersihkan rumput liar, lalu duduk di teras sambil menikmati secangkir teh hangat.

Dia memejamkan matanya, menikmati udara sejuk tanpa ada suara keluhan dan tanpa ada perintah. Hanya burung dan angin yang terdengar.

"Sepertinya, aku harus merenovasi rumah dan membuat lahan untuk menanam sayur-sayuran," gumam Mela.

Hari-hari berikutnya berjalan sederhana. Ia mulai membersihkan rumah sedikit demi sedikit, mengganti papan yang lapuk, mengecat ulang dinding dengan warna netral, menanam cabai dan sayur di pekarangan.

Tetangga mulai memperhatikannya. Salah satunya, yang bernama Darmi, memberanikan diri untuk berkunjung ke rumah Mela.

"Apa yang kamu lakukan, Mel?" tanya Darmi.

Mela mendongak, lalu tersenyum. "Eh, mbak Darmi." Ia berdiri. "Aku hanya menanam sayuran saja. Ada apa mbak?"

"O-oh, tidak ada apa-apa. Hanya saja... Sudah beberapa hari yang lalu kamu pulang, tapi aku belum sempat menyapa mu," ujar Darmi.

Mela tersenyum. "Tidak apa-apa, mbak."

"Tapi... " Darmi sedikit mendekat. "Kalau boleh tahu, kenapa tiba-tiba kamu pulang? Maksud ku..." ia menoleh kearah dalam rumah Mela, lalu kembali menatapnya.

"Dimana Suami dan anakmu?"

Mela hanya terdiam. Tanpa sadar, tangannya mulai menggenggam erat peralatan yang ada di tangannya.

1
Marina Tarigan
camila orang cerdik cerdik yg baik dancerdik yg jahat rahman
Marina Tarigan
ke apa berbahaya karma kalo ada uh mengontao
Marina Tarigan
sdh nenek keriput ya usia 40 thn Dino r5 thn ya nlm niksh di zdinonya
Marina Tarigan
dino teman masa kecilmu yg dulu duka sm kamu mel tapi lebih cepat rahmannya terima saja supaya. ada pelindungmu
LENY
PARA PRCUNDANG JULID IRI HATI TANDA TAK MAMPU😡😡
LENY
DINO ORANG YG DI KOTA CEO KAYAKNYA🙏
Yuli Yuliawati
Pelakor nggak di kasih balasan tor
Yuli Yuliawati
enak jadi pelakor menang banyak
nggak adil dong buat istri sah 😭😭😭😭😭😭
Yuli Yuliawati
enak jadi pelakor dan suami durjana kalau malah makin sukses
buat balasan yang settir
LENY
KASIHAN KAMU MELA PEKERJA KERAS ULET BAIK HATI TAPI ADA AJA MANUSIA BUSUK HATI YG IRI 😥😥😡😡
Yuli Yuliawati
alur nya yang runtut tor
biar yang baca nggak bosan
LENY
JANGAN2 MANTAN SUAMI DARMI IBLIS BEJO😡😡
LENY
PASTI ADA YG JAHAT IRI HATI DIMANAPUN🙈
Yuli Yuliawati
Belum berakhir penderitaan Mela
pelakor dan suami durhaka nya dapet balasan setimpal dong
Marina Tarigan
semoga hati yg dulu bertaut kembali ya mel dan juga sbgzi teman join kalian semua
LENY
LINA ANAK DURHAKA 😡😡
LENY
ANAKNYA LINA KITA LIHAT AKAN JADI APA HASIL DIDIKAN CAMILA 😡😡🙈
Marina Tarigan
semova dia tertolong oleh kenalan lamanya
Marina Tarigan
wanita yg terjolimi akan bisa merangkak kembali dgn pelan
Marina Tarigan
mela lahanmu selama imi tfk ditanami jadi tanah itu keras tentu tumnuhanmu juga berpengarjh pd tanah kerad tapi kalau sdh timnuh tanah terus divemburi disiram dan pupuk akhinya jd subur kgm patah semangat mel anak desamu sdh siap membantumu anak desa memang difatnya godip acuh kalau sfh dekag pasto kalian berjuang bersams
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!