Senyum puas tercetak jelas di sudut bibirnya.
" Kau akan rasakan akibatnya, Stewartz. Rasa yang sama yang akan Kau terima. Sesuatu yang akan membuat hidupmu hancur. Satu - satu akan Ku hancurkan, " suara wanita itu lirih sebelum matanya terpejam menuju mimpi.
Alland Norman keluar dari ruangan dengan senyum licik yang tercetak di sudut bibirnya.
" Aku akan membalas semuanya Alexander Moralez. Apapun akan kulakukan untuk menghancurkanmu Alexander Moralez, " batin Alland Norman.
***
Di tempat lain di sebuah ruangan di menara pemantau di tengah hutan.
Kinara masih tergeletak tak sadarkan diri. Wajahnya masih pucat pasi dengan denyut yang melemah.
Sebuah infus menusuk pergelangan tangannya dan alat bantu pernafasan sudah terpasang sempurna.
Alexander Moralez mengamati wajah pucat Kinara.
Tangan kokoh Alexander Moralez membingkai wajah Kinara. Menghela nafas perlahan dengan berat.
" Permisi, Tuan. " Han Liu masuk ke dalam ruangan.
Membungkuk perlahan. " Makan siang sudah siap, Tuan. Apakah Anda akan makan siang sekarang ? "
Alexander Moralez hanya meggeleng perlahan.
" Han ... ."
Han Liu mengangkat wajahnya, mengernyitkan kening sejenak karena tidak biasa Tuan besarnya ini lebih sering menjeda kalimatnya.
" Iya, Tuan. "
" Carikan informasi tentang gadis ini. Aku tunggu satu jam lagi. "
" Satu jam, Tuan ? " tanya Han Liu. Ada nada protes terselip dalam pertanyaannya.
Alexander Moralez menatap tajam Han Liu.
" Baik, Tuan. " Han Liu memperbaiki kalimatnya.
" Kau keberatan, Han ? Kalau Kau sudah tidak suka bekerja padaku tinggal bilang Han. "
Han Liu mengernyitkan kening.
" Baik, Tuan. Saya akan ke
mengerjakan sekarang, " ucap Han Liu sambil melangkah ke sudut ruangan dan meraih ponselnya.
" Kau, mau memata - mataiku, Han ? Mengapa masih duduk disitu ? " tanya Alexander Moralez tak suka.
" Maaf, Tuan. Saya undur diri. " pamit Han Liu.
Han Liu sedikit merasa jengkel, niat hati ingin melihat Kinara lebih dekat tetapi ternyata Tuan besarnya Alexander Moralez mengusirnya keluar ruangan.
Alexander Moralez hanya mengibaskan tangan kanannya.
" Hhmm. "
Han Liu keluar ruangan dengan wajah dingin. Rasa jengkel terselip diujung hatinya.
" Aku juga ingin melihat kondisi gadis itu. Tuan Alexander ... ikh. " Han Liu membatin kesal.
Entah perasaan apa yang menyelinap di hati Han Liu, yang jelas rasa penasaran yang besar yang membuatnya bernyali besar untuk mendatangi menara pemantau tanpa dipanggil terlebih dahulu.
Sekalipun Han Liu dan Alexander Moralez tumbuh bersama dan bersahabat, Han Liu tetap membatasi dirinya untuk menjaga sikapnya sebagai seorang bawahan.
Rasa sungkan dan hormat kepada Sang Tuan Besar menjadi sesuatu yang mutlak yang akan membatasi dirinya untuk tetap bersikap sewajarnya seorang Sekretaris kepada Sang Tuan Besar Alexander Moralez Arzallane.
Di dalam ruangan, nampak Alexander Moralez masih membelai wajah Kinara.
" Kamu harus mati. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Kamu harus mati di tanganku langsung. " ucap Alexander sarkas sambil mencekik leher Kinara.
Wajah Kinara semakin pucat. Nafasnya tersengal dan denyut nadinya melambat.
Han Liu yang masih berdiri di depan pintu, berbalik untuk menutup pintu. Tetapi pandangan matanya membuat Han Liu kembali menerobos masuk ruangan dan mendorong tubuh Alexander Moralez yabg sedang mencekik leher Kinara.
Pergumulan terjadi antara Alexander Moralez dan Han Liu. Saling pukul dan tendang.
" Han ! " Suara bariton Alexander Moralez menggelegar marah untuk menghentikan serangan Han Liu.
Seperti disambar petir, Han Liu menarik diri dari pergulatan sengit. Membenarkan ujung krah kemeja dan jas hitamnya.
" Maaf, Tuan. " ucap Han Liu perlahan. Han Liu juga merasa kaget mengapa dirinya bisa seberani itu menyerang Tuan Besarnya hanya karena melihat Alexander Moralez mencekik seorang gadis.
Biasanya Han Liu hanya diam, tanpa bereaksi melihat apapun yang akan dilakukan Alexander Moralez atas diri para wanita mainannya.
Perasaan Han Liu menjadi bergolak. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Wajahnya memerah menahan perasaannya. Sebuah rasa aneh yang berkecamuk dalam dadanya.
" Maafkan saya, Tuan ! Saya tidak bermaksud menyerang Anda, hanya rasa kasihan. Gadis itu masih sekarat Tuan. Nanti jika gadis itu sudah sadar Tuan bisa melakukan apapun. " ucap Han Liu bernegosiasi untuk mengulur waktu dengan nafas yang masih memburu akibat perkelahian singkat tadi.
" Sembuhlah, Kinara ! Dan aku akan membawamu keluar dari tempat ini. " batin Han Liu.
Alexander Moralez membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya.
" Pergilah, Han ! Apapun yang kulakukan atas gadis ini, Dia adalah milikku. Mengerti ? Kau harus tahu batasanmu, Han. " ucap Alexander Moralez tegas.
Han Liu hanya mengangguk perlahan. Hatinya tidak tenang untuk meninggalkan gadis itu bersama Tuan besarnya.
" Saya undur diri, Tuan. Jika membutuhkan sesuatu, Anda bisa menghubungi saya. " ujar Han Liu hormat. Langkah kakinya membawa Han Liu keluar ruangan.
" Semoga Kau dilindungi Dewi keberuntungan, Kin. " batin Han Liu menutup pintu.
Di dalam ruangan, Alexander Moralez mengamati wajah Kinara yang masih pucat. Alat bantu pernafasan sudah terpasang kembali setelah sempat terlepas akibat ulah Alexander Moralez beberapa menit yang lalu.
Pandangan Alexander Moralez menatap tajam wajah Kinara, hingga menyusuri lekuk leher yang sedikit memerah akibat tangan kokohnya yang mencekik leher Kinara tadi.
Alexander Moralez menyentuh leher Kinara.
Sebuah sensasi aneh tiba - tiba membangkitkan miliknya.
" Oh no, " Alexander Moralez menarik tangannya. Meremas rambutnya dengan frustasi.
" Gadis bodoh, menyentuhmu dalam kondisi begini saja mengapa bisa membangkitkan keinginananku ? Oh no. " Alexander Moralez mengumpat frustasi.
Miliknya sudah tegang. Tubuhnya menahan hasrat untuk dipuaskan.
Biasanya Alexander Moralez akan meminta Han Liu mencarikan wanita seperti biasanya. Sekedar bermain. Tapi kali ini rasanya lain, Alexander Moralez merasa sangat enggan mencari wanita untuk memuaskan hasratnya.
Dengan frustasi, Alexander Moralez menuju walk in closet dan bersolo karier menyelesaikan ketegangan miliknya di bawah guyuran air dingin.
Satu jam kemudian, Alexander Moralez keluar dari walk in closet dengan handuk putih yang melilit dipinggangnya.
Sebuah handuk kecil Alexander gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
Alexander Moralez berjalan menghampiri ranjang.
Sebuah lenguhan meluncur lagi dari bibir pucat Kinara.
" Akh, " Kinara mengaduh kesakitan, mencoba menggerakan tangannya.
Tapi tidak berhasil.
Alexander Moralez mendekati sisi ranjang dan menyentuh ujung tangan Kinara.
Kinara masih memejamkan mata. Jarinya bergerak sebentar. Kinara merasakan ada seseorang yang sedang menggegam tangannya.
Wangi sabun yang maskulin menyerbak memasuki hidungnya.
Kinara merasakan tangan dingin yang menyentuhnya membuatnya merasa nyaman.
" Akh. " Sekali lagi Kinara mengerang kesakitan. Kinara merasakan suaranya tercekat di kerongkongan.
Kinara merasakan seperti ratusan jarum sedang menusuk setiap bagian tubuhnya. Seluruh tubuhnya sakit.
" Akh. " Kinara mengerang lagi dan kegelapan menghampirinya.
Dengan gelagapan Alexander Moralez menggegam tangan Kinara. Ada kepanikan di ujung hatinya ketika melihat gadis itu mengerang kesakitan dan tak sadarkan diri lagi.
Tangan Alexander Moralez meraih interkom di atas nakas, " Han panggil Dokter Ryan kemari ! "
👉 bersambung.
👉 Tolong tetap dukung author dengan rate, like, coment positif dan votenya Terima kasih 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Jeng Anna
Dia dendam sama Stewartz dan Moralez? Ibunya Kirana kah ya
2022-12-03
0
༄༅⃟𝐐✰͜͡w⃠🆃🅸🆃🅾ᵉᶜ✿☂⃝⃞⃟ᶜᶠ𓆊
tadi dicekik waktu pingsan bingung dasar aneh kau al😴😴😴😴😴
2021-10-31
3
🐊⃝⃟ Fina💕📴line😎
mulai ada rasa
2021-10-27
3