Keesokan harinya, saat mentari telah naik tinggi, tubuh Kinara bergerak pelan. Tubuhnya menggeliat dengan erangan tertahan menahan pening yang terasa.
" Ughh. " Kinara mengerang perlahan, berusaha bangun dari tidurnya sambil memijit keningnya yang memang terasa sangat pusing.
Kinara terhenyak melihat sekeliling, mendapati dirinya berada di sebuah kamar dengan nuansa yang mencekam.
Dinding dominasi cat warna hitam dan putih. ranjang dengan bed warna gelap. Terasa dingin dan membuat bulu kuduk meremang.
Sinar mentari masuk dari celah jendela dengan gorden hitam diseberang ranjangnya. Lantai marmer menambah aura dingin yang membuat bulu kuduk Kinara semakin meremang.
" Akh, sial. Aku harus secepatnya keluar dari tempat ini. Bisa mati sia - sia Aku di tempat ini, Awas Kau, Jef, Aku akan balas semuanya." Kinara berdecak marah sambil sesekali tangannya memijit pelipisnya.
Rasa pening masih menderanya. Kinara menyibak selimut tebal yang masih membelit tubuhnya dan Kinara berteriak tertahan sambil membekap mulutnya sendiri.
" Kurang ajar, siapa yang mengganti bajuku ? Oh no. " Kinara berdecak lagi dengan rasa marah karena merasa sudah dilecehkan.
Ingatannya melayang saat terakhir bersama Tuan Besar Alexander Moralez, "Oh, tidak."
Wajah Kinara bersemu merah mengingat dirinya yang terjatuh dan menimpa Tuan Besar Tuan Besar Alexander Moralez Arzallane.
Kinara menepuk - nepuk pipinya sambil menggeleng - gelengkan kepalanya berharap ingatan yang dianggapnya mesum hilang dari otaknya. Segera.
Dengan sekali hentak, Kinara bangun dari ranjang dan bergegas mencapai jendela besar di seberang ranjang. Tangan kecilnya berusaha membuka kait jendela dan wushhh ... angin bertiup dengan kencang.
Kinara menghela nafas panjang, mendapati dirinya berada di lantai cukup tinggi.
" Kemarin mereka membawaku ke ruangan bawah tanah, tapi kenapa sekarang aku ada di ruangan yang cukup tinggi, mana di bawah sungai besar lagi. Bisa mati sia - sia jika aku kabur lewat jendela ... ." Kinara berjalan mondar - mandir, sambil berpikir bagaimana cara kabur.
Tubuhnya masih sempoyongan. Tangan Kinara masih sering memijit pelipis tanda pening dikepalanya belum hilang.
Brukk.
Tubuh Kinara hampir terhempas ketika berpaling dan tidak memperhatikan seorang tinggi besar sudah menghadang langkahnya.
" Aww ... Kenapa ada tembok disini ? " Kinara meraba benda keras yang dipikirnya tembok. Rasa pening di kepala Kinara membuatnya tidak fokus dengan keadaan di sekelilingnya.
Tangan Kinara masih meraba - raba merasakan ada yang aneh dengan rasa keras benda yang dirabanya. Keras tapi nyaman di sentuh.
Kinara mengerutkan dahinya saat tanpa sadar menempelkan tubuh dan pipinya pada benda yang dipikirnya sebuah tembok keras. Terdengar bunyi sesuatu.
Deg ... deg ... deg.
" Kenapa tembok bisa berbunyi deg ... deg ... ." Kinara berujar bodoh sambil menekan - nekan benda yang dipikirnya tembok.
Kinara tampak terlihat seperti seorang bodoh.
" Sudah cukup memeluknya ? " Sebuah suara berat mengagetkan Kinara yang masih memeluk benda yang dipikirnya tembok.
" Ughhh ... ." Kinara meringis menahan pening yang semakin menderanya dan semakin memeluk erat, merasa nyaman dengan pelukannya.
" Sial. " Tubuh tinggi besar yang dipeluk Kinara mengejang sejenak, merasakan hawa panas dan desir aneh dalam aliran darahnya. Tubuhnya merespon cepat sejak tangan Kinara meraba dadanya.
Tapi beberapa detik kemudian.
" Menjijikan. "
Tiba - tiba dengan kasar Sang Tuan Besar Alexander Moralez menghempaskan tubuh Kinara dengan sekali hentak.
Tubuh kecil Kinara terhempas, Tapi beruntung tangannya dengan sigap menarik ujung jas sebagai pegangannya supaya tidak terjatuh.
Karena gerak reflek Kinara yang menarik ujung jas, akhirnya tubuh keduanya terhempas tepat diatas ranjang. Alexander Moralez juga kehilangan keseimbangan ketika tangan Kinara menarik ujung jasnya dengan keras.
Posisi yang mendebarkan karena tubuh mungil Kinara terhimpit badan besar Sang Tuan Besar.
Seperti tersengat listrik Alexander Moralez menekan tubuh Kinara dengan kekuatan penuh yang membuat Kinara menggeliat menahan berat badan Sang Tuan Besar.
" Ughh ... ." Kinara melenguh menahan berat badan diatasnya sekaligus merasakan sensasi aneh.
" Me ... nyingkirlah, Tuan. Be..rat. " Kinara berusaha melepaskan himpitan tindihan Alex Moralez dengan menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
" Si ... alan. Be ... rattt ... . Kau ... uu mau membunuh ... kuu ... ." Kinara masih berusaha melepaskan diri, menggeliat ke kanan kiri tapi tetap tubuh diatasnya tidak bergerak sama sekali.
Tubuh Kinara yang terus menggeliat menimbulkan sengatan listri pada tubuh tinggi besar yang ada di atas tubuhnya. Tubuh itu mengejang sesaat. Aliran darahnya memanas bersamaan miliknya yang mengeras.
Tuan Besar Alexander Moralez menatap tajam mata Kinara seperti menatap mangsa buruannya. Sudut bibirnya tersenyum jahat, dan ... .
" Uhmmmm ... ." Kinara kaget dan semakin berusaha mendorong tubuh Alexander Moralez. Kinara terus menggeliat dan berusaha melepaskan pagutan Tuan Besar Alexander Moralez yang tiba tiba mencecap bibirnya dengan rakus. Alexander Moralez benar - benar merasakan tubuhnya menggila. Reaksi dan sensasi yang belum pernah dirasakan seorang Alexander Moralez.
Lenguhan Kinara menambah aliran mengalir lebih kuat. Ada sensasi aneh yang membuat Tuan besar Alexander semakin menggila. Berkali - kali mencecap dan menggigit, menerobos masuk, membelit dan memainkan dengan lincah.
Tangan kokohnya mengurung wajah Kinara sehingga Kinara tidak dapat berontak.
Kinara masih berusaha menggeliat. Tetapi ternyata bukannya terlepas tetapi bagian lain seakin mengeras diantara kedua pahanya.
Kinara melotot kaget merasakan dirinya dalam bahaya. Dengan sekuat tenaga dan nafas yang tersengal - sengal diantara pagutan liar Sang Tuan Besar, Kinara meraba benda yang mengeras dan memuntirnya dengan jengkel.
" Awww ... . Kurang ajar. Wanita bodoh. " Alexander Moralez berteriak marah. Aset berharganya dipuntir Kinara.
Dengan sekali menghentak, Tuan Alexander Moralez melepaskan pagutannya. Matanya menatap kejam Kinara yang masih tersengal - sengal karena kehabisan nafas setelah sekian lama dicecap dengan liar.
Kinara bergidik ngeri saat tangannya menyentuh sesuatu tadi.
Tatapan mata Alexander Moralez sangat tajam penuh dengan kemarahan menatap Kinara yang masih shock, seakan ingin menelannya bulat - bulat.
" Kau ... merusak milikku. Kau harus bertanggung jawab. " Ujar Tuan Besar Alexander Moralez sambil menahan miliknya yang berdenyut. Sensasi aneh masih sulit dikendalikan, Otaknya liar ketika menatap tubuh dibawahnya yang hanya mengenakan kemeja putih besar miliknya.
Semburat merah muda tegak menantang dibalik kemeja yang dikenakan Kinara.
Dada yang masih turun naik dengan nafas yang memacu masih membuat milik Tuan besar berdenyut ngilu.
Untuk sekian menit tubuh mereka hanya diam. Hanya mata saja yang saling menatap, seakan saling menilai kekuatan masing - masing.
Kinara menatap tubuh berotot diatasnya dengan perasaan takut. Dirinya tadi reflek meraba dan memuntir kejantanan Sang Tuan Besar karena nafasnya hampir habis. Reflek untuk membela diri.
" Minggirlah, Tuan ! Anda sangat berat. Anda hampir membunuh saya ... . " ujar Kinara membela diri dengan semu merah dipipinya mengingat betapa sensasi aneh itu begitu nikmat. Apalagi ini adalah ciuman kedua Kinara.
" Ciuman keduaku. Akh, sialan. Nikmat apanya ? Tubuh besarnya menindih membuatku susah bernafas, tapi bibirnya manis sekali dan wangi tubuhnya membuatku nyaman ... Okh tidak, Aku tidak boleh tertarik dengannya. Dia monster yang menakutkan. " Kinara masih sibuk dengan pikirannya. Tanpa menyadari bahwa posisi tubuhnya membuat laki - laki di depanya menatapnya dengan liar.
Masih dengan menahan amarah, Tuan Besar Alexander Moralez menatap tubuh Kinara. Rasa marah dan miliknya yang mengeras membuat Sang Tuan besar menindih kembali tubuh Kinara dengan keras.
Kinara sontak kaget.
Alexander Moralez kembali mencecap dengan kasar bibir Kinara yang membengkak akibat ulahnya beberapa menit yang lalu.
Rasanya sangat manis. Tuan Besar semakin liar mencecap dan merasakan sensasi bibir manis mangsanya. Membelit tanpa ampun.
Tangan Alexander Moralez menjelajah tubuh Kinara, membelai dan merasakan halus kulit Kinara, menyelusup di balik kemeja putihnya.
Kinara gadis yang cantik dengan mata yang jernih, bibir mungil yang menggoda, hidung mancung dengan garis wajah yang enak dipandang.
Kulitnya yang halus sekalipun tidak pernah menggunakan produk kosmetik branded dengan rambut hitam panjangnya yang membuat sempurna kecantikannya.
Tuan Besar masih dengan liar mencecap semua bagian tubuh Kinara tanpa menyadari bahwa Kinara sudah terkulai lemas tanpa perlawanan lagi.
👉 Bersambung
👉 Jangan lupa rate, like, koment, gift n vote ya. Terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
༄༅⃟𝐐✰͜͡w⃠🆃🅸🆃🅾ᵉᶜ✿☂⃝⃞⃟ᶜᶠ𓆊
waaaaaaaaooooooo kasar kali kau tuan🙄🙄🙄🙄🙄🙄
2021-10-30
23
🐊⃝⃟ Fina💕📴line😎
haredang😂
2021-10-27
10
Go𝕡𝕙𝕒𝕟
like
2021-10-19
7