Han Liu merupakan salah satu anak yang berhasil melarikan diri dari perdagangan pasar gelap dari Negara J waktu itu.
" Anda bisa membaca dan melihat berkas tersebut, Sepertinya ada orang lain yang menjadi dalang pembunuhan Tuan Albert. " kata Han Liu sembari menyerahkan berkas kepada Tuan Alexander Moralez Arzallane.
" Kau yakin bukan Soarez yang melakukannya ? " Sebuah pertanyaan dilontarkan Alexander Moralez sembari sesekali membalik lembaran - lembaran berkas di atas meja kaca yang pecah berantakan.
Darah menetes di atas berkas itu, karena tanpa disadari Alexander Moralez, tangan kanannya berlumuran darah karena pecahan kaca.
" Saya sedikit ragu Tuan, karena Tuan Soarez tidak ada pada saat kejadian. Sedangkan Nyonya Briggita pada saat yang bersamaan jatuh pingsan jadi kemungkinan kecil kalau yang melalukan bukan Nyonya Briggita dan para asisten berada digudang. Mereka terkunci."
" Maaf, Tuan. Apakah saya boleh mengobati luka pada tangan Anda terlebih dahulu, " ujar Han Liu sambil meraih kotak obat di ujung ruangan.
" Hmmm ... ." Alexander bergumam acuh.
Kringg ... .
Suara ponsel Han Liu berdering.
" Maaf Tuan, " Han Liu menunduk merasa tidak nyaman karena pantang disaat sedang berbicara dengan Tuan Besar Alexander mengangkat telepon orang lain.
Alexander Moralez mengibaskan tangan kirinya, mengusir Han Liu untuk segera menyingkir.
Kembali mata tajam Alexander Moralez Arzallane meneliti berkas - berkas didepannya. Menggebrak meja lagi dengan gigi gemeletuk menahan murka.
Han Liu masuk kembali ke dalam ruangan. Menatap sungkan kepada tuan besarnya dengan pandangan tak terbaca.
" Maaf Tuan. Jefri Arkanzaz ada dibawah. Dia memaksa masuk dan ingin bertemu dengan Anda, Tuan. " Sebuah kalimat yang sedikit sungkan ia lontarkan kepada tuan besarnya jika tak mengingat seorang Jefri Arkanzaz akan lebih nekad untuk membuat kekacauan jika tak segera bertemu. Han Liu sebenarnya sangat muak dengan lelaki pecundang sekaligus penjilat sekelas Jefri Arkanzaz. Hanya karena tuan besarnya memintanya untuk tidak termakan dengan tikahnya, Han Liu membiarkannya.
" Hm ... ."
Alexander Moralez Arzallane berdiri dari duduknya, melangkah keluar ruang kerja yang sudah hancur berantakan karena ulahnya.
Han Liu mengikuti dibelakangnya.
" Selamat malam Tuan Besar, " Jefri memberi salam dengan membungkukkan setengah badannya dengan penuh rasa hormat.
" Hmm... ." Seorang Alexander Moralez Arzallane hanya berdehem dan menyipitkan matanya, menatap dengan tajam seorang gadis yang masih merontak dibawah cekalan seorang laki - laki bertatto.
Aura dingin dari seorang Alexander Moralez membuat suasana mansion semakin mencengkam. Merasa sedang mengusik Tuan Besar, Jefri Arkanzaz menunduk.
" Maaf Tuan Besar, saya mengganggu waktu Anda. Ini adalah gadis yang saya ceritakan minggu lalu. " Jefri Arkanzaz berujar sambil menarik tubuh Kinara mendekat.
Alexander Moralez hanya melirik sekilas.
" Masukkan di kamar eksekusi ! " Suara berat Alexander Moralez memerintah sambil mengibaskan tangan kirinya.
Dengan langkah tegap Alexander Moralez Arzallane berlalu dari tengah ruangan, meninggalkan Jefri Arkanzaz yang sedang kaget.
" Hah ... maksud Tua ... nn ? " Jefri masih berusaha bernegosiasi dengan Sang Tuan Besar, untuk tidak berlalu meninggalkannya.
Bukan hal baru di kalangan para anak buah Tuan Besar Alexander Moralez Arzalane jika para wanita yang akan dipakai seorang Tuan Besar akan dibawa ke kamar eksekusi..
Kamar eksekusi adalah sebuah kamar besar diruang bawah tanah mansion mewah ini yang sangat menakutkan. Karena kamar tersebut dilengkapi dengan peralatan yang tidak biasa. Ruangan tersebut biasanya digunakan Sang Don Juan untuk bersenang senang sekaligus tempat paling mengerikan bagi semua musuh - musuhnya. Karena setelah bersenang - senang dengan para wanitanya biasanya hidup mereka pun akan berakhir di tempat tersebut.
Jefri Arkanzaz bergidik membayangkan tubuh mungil Kinara dihabisi oleh Sang Tuan Besar. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Kinara sudah Jefri serahkan kepada Tuan Besar Alexander Moralez sebagai pertukaran karena sudah berseteru dengan Sang Tuan Besar.
Dulu sekali, Jefri Arkanzaz pernah masuk ke ruangan eksekusi karena menusuk anak buah Alexander Moralez karena persaingan dagang di pasar gelap. Hidupnya hampir berakhir ditempat itu jika Jefri tidak menawarkan barang pengganti sebagai ganti nyawanya. Apalagi ditambah kasus Ayah Jefri yang ternyata menggunakan tanah keluarga Arzalane sebagai pabrik mesin pencetak tanpa seijin pemiliknya.
Yah perseteruan tanah di tepi hutan yang menjadi asetnya ternyata adalah tanah milik Tuan Besar Albert Moralez Arzalane.
Alexander Moralez hanya mengibaskan tangan kirinya.
" Silahkan keluar Tuan Jefri ! " Suara Han Liu memerintah Jefri Arkanzaz untuk segera keluar dari mansion.
" Untuk selanjutnya tolong jangan memaksa menerobos masuk. Saya takut Tuan Besar tidak menyukai sikap Anda dan akan meyulitkan hidup Anda. "
***
Di dalam ruangan lain, tampak Kinara masih memberontak berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
Nafasnya tersengal - sengal menahan rasa marah sekaligus ketakutan karena masuk dalam jeruji penjara Tuan Besar yang sangat menakutkan.
Ayahnya pernah berkata orang yang harus dihindari adalah Jefri Arkanzaz dan Tuan Besar Alexander Moralez Arzalane. Keduanya adalah laki - laki kejam yang akan sangat berbahaya. Lebih baik menghindarinya daripada berhubungan dengan mereka.
Kinara terduduk dengan tangan terikat dibelakang tubuhnya. Matanya mengamati ruangan disekitarnya. Hawa dingin dari ruangan terasa mencekam.
Sedikit temaram karena semua jendela tertutup, sedang lampu dalam ruangan mati.
Duarrrrr ... .
Terdengar bunyi petir menggelegar dan sinar kilat sesekali menyeruak dari kisi - kisi atas jendela.
Tampak tubuh Kinara semakin bergetar. Nyalinya menciut. Trauma belasan tahun melompat dipikirannya.
Ketakutan yang luar biasa membuat Kinara melotot histeris. Nafasnya tersengal - sengal seakan lehernya dicekik orang.
Belasan tahun lalu ... .
" Tidakkkkkkkk ... . " Kinara berontak dipojokan rumah sambil meringkuk. Tangan kecilnya menutup telinga. Matanya terpejam. Tubuhnya gemetaran.
Kinara Olivia Maurenzia Tobiaz adalah putri tunggal dari Tuan Zamuel Tobiaz dan Nyonya Margareth Tobiaz.
Tuan Zamuel Tobiaz adalah pemilik perkebunan dan tambang Tobiaz corp, tapi sayang karena iri hati dan keserakahan dari pamannya Tuan Stewardz, perkebunan anggur dan tambangnya direbut oleh saudara tirinya. Ayahnya diculik dan ibunya Nyonya Margareth Tobiaz tewas saat menghadapi kaki tangan pamannya. Mereka meminta chip hasil kerja keras ayahnya.
Chip yang berisi semua aset keluarga Tobiaz bukti pemalsuan tanda tangan pamannya.
" Mamiii ... . " teriak Kinara menjerit hiateris.
Ingatan Kinara melayang belasan tahun lalu.
Tampak di tengah ruangan sekelompok orang dengan jaket hitam dan penutup wajah sedang menggagahi ibunya.
Nyonya Margareth Tobiaz disiksa dengan cambuk dan beberapa orang sedang melecehkannya. Kinara kecil hanya berada dipojokan sambil menangis terisak.
" Katakan Nyonya ... dimana letak chip itu ? "
Nyonya Margaret Tobiaz hanya menggeleng ketika beberapa laki - laki mulai memukul dan melecehkannya.
Nyonya Margareth tetap menutup mulut. Tidak ada dalam kamusnya untuk menyerah kalah sekalipun telah kehilangan kehormatannya sebagai seorang wanita dan istri.
" Kami sudah merasakan tubuhmu Nyonya Tobiaz yang terhormat ... ." Seorang laki - laki mengerling dengan penuh nafsu.
" Dan Anda tetap tidak mau mengatakan dimana chip itu. Bagaimana jika Anda melihat putri Anda yang sangat manis ini merasakan apa yang dirasakan ibunya. "
Seorang laki - laki mendekati Kinara. Kinara kecil semakin ketakutan dipojokan ruangan.
" Lari Nara ! " Nyonya Margareth bergerak menerobos sekelompok laki - laki itu.
Dengan wajah yang berlumuran darah dan tubuh yang hampir telanjang Nyonya Margareth menatap putri kecilnya. Mencoba meminta janji kepada putri kecilnya supaya tidak takut dan berjuang untuk melarikan diri.
Detik berikutnya tampak wanita cantik itu menerobos sekelompok laki - laki berjaket hitam dan menghunus pisau dengan membabi buta. Karena serangan yang mendadak, seorang laki - laki tinggi besar segera menarik pistol disaku jaketnya dan dorrr ... . Tubuh Nyonya Margaret luruh ke lantai dengan bersimbah darah.
" Tidaaaakkkkk !!!! " nampak Kinara semakin tersengal - sengal nafasnya. Wajah putihnya nampak pucat pasi.
Kenangan masa lalu yang membuatnya selalu ketakutan di tengah hujan dan bunyi petir serta kilatan - kilatan petir yang menyambar.
Tubuhnya menegang dan lemas seketika.
***
" Han ... . "
" Iya, Tuan ! "
" Bawa wanita itu, Aku ingin memakainya , "
Han Liu menunduk hormat dan berlalu menuju ruang bawah tanah dimana Kinara berada.
Langkah kakinya cepat menuruni tangga dan memasuki sebuah ruangan bawah tanah.
Tembok yang lembab dan dingin nampak mencekam.
Sisi kanan kiri dengan tembok batu besar sebagai pondasi yang kuat sebuah mansion megah menambah aura mencekam. Bau anyir yang tidak biasa menyeruak.
Han Liu menuruni tangga untuk mencapai kamar tempat Kinara di sekap.
Han Liu menarik sebuah anak kunci dari saku celananya dan memasukkan pada lubang kunci. Memutarnya sejenak dan klekk ... pintu terbuka.
Han Liu kaget mendapati Kinara tergolek di lantai dengan kepala yang berlumuran darah.
Tangannya dengan cekatan menelepon dokter Ryan Juville untuk segera datang.
Han Liu mengangkat tubuh Kinara yang masih tergolek di lantai.
Terbersit dalam hatinya ketika menatap sebentuk wajah cantik yang pucat. Tak terasa tangannya mengelus pipi Kinara dan menyibak anak rambut yang menjuntai di wajahnya.
" Cantik, " Han Liu bergumam perlahan.
Tangannya tersentak kaku ketika menyadari bahwa tangan kanannya masih mengelus pipi Kinara.
👉 Bersambung
👉 Jangan lupa dukung author dengan rate bintang lima, like, coment dan votenya. Terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Taryumi 2003
Lo kira baju,..
2025-02-22
0
Jeng Anna
Ya ampun beb...novel yg unik, banyak pake huruf z 😆
2022-11-30
2
🍒⃞⃟🦅 R⃟tunggadevi㊍㊍👻ᴸᴷ
trauma yang akan selalu membayangi langkah gadis kecil yg bernama kinara.
berusaha menjaga kehormatan ditengah kepungan srigala lapar sangatlah mustahil,tapi jika berusaha dan tekad kuat pasti bisa.
2022-09-04
2