Bab 18 : Terjebak

" ... " Hansen berjalan masuk ke lingkungan kerjanya dengan postur tegap namun santai. Para designated driver yang pernah beradu tinju dengan Hansen, tentu saja membenci sikap santainya. Meski begitu, tak ada satupun dari mereka yang berani menatap Hansen secara terang terangan. Mayoritas dari mereka hanya mampu menatap kesal secara sembunyi sembunyi, setiap kali fokus Hansen teralihkan.

'Hari yang cukup damai," Hansen segera duduk di tempat santainya, sambil membaca koran yang dia bawa dari luar.

....

Waktu terus berjalan, namun tak ada yang berani mengganggu waktu santai Hansen. Semua orang bergantian mengantar pelanggan hotel yang membutuhkan jasa seorang designated driver, mengabaikan Hansen yang terus bersantai hingga tertidur.

Kring kringg!!! ponsel Hansen berbunyi. Membangunkan Hansen dari istirahat panjangnya.

" ... "

'Andini?'

'Kenapa dia menelponku?' pikir Hansen dengan mata lelahnya.

"Ada apa?" tanya Hansen dengan nada agak kesal. Dia masih teringat akan kata kata Andini semalam.

"Tolong datanglah ke hotel permata!"

"Temanku mabuk berat setelah minum denganku, tolong bantu aku untuk mengantarkannya ke tempat tinggalnya," Andini menjawab dengan biasa.

"Apakah teman minummu seorang pria?" Hansen bertanya dengan nada ketus, karena berpikir negatif tentang Andini.

"Dia seorang wanita," jawab Andini.

"Baiklah kalau begitu, aku akan segera ke sana," Hansen segera menutup telepon setelah mendengar jawaban Andini. 'Ada apa denganku?'

'Kenapa aku jadi begitu mudah berpikir buruk tentang Andini?' Hansen menepuk dahinya dan segera bangkit dari tempat santainya.

....

Sesampainya di hotel permata, Hansen menerima pesan singkat dari nomor Andini. 'Hotel permata, kamar nomor 065.'

Tanpa rasa ragu, Hansen segera pergi memasuki Hotel dan berjalan menuju meja resepsionis.

"Tuan Hansen?"

"Apa yang anda lakukan disini?" tanya sang resepsionis yang pernah bertemu dengan Hansen.

"Seseorang menelponku untuk menjemput temannya yang sedang mabuk berat di hotel ini," Hansen menunjukkan ponselnya.

'Istriku Andini?' Resepsionis terkejut saat menatap nomor ponsel Andini yang mirip dengan nomor daftar orang penting yang menempel di samping meja kerjanya. 'Jadi benar kalau tuan Hansen itu suami CEO hotel ini?'

"Permisi?"

"Bolehkah aku pergi berkunjung ke kamarnya sekarang?" tanya Hansen yang terheran akan lamunan sang resepsionis.

"Ah ... , tentu!" gadis itu terkejut saat tersadar dari lamunannya.

" ... " Setelah mendapat ijin dari resepsionis hotel, Hansen segera naik ke lantai dua untuk berkunjung ke kamar nomor 062.

Tok tok tok, Hansen mengetuk pintu kamar untuk menunggu jawaban orang di dalamnya. Sayangnya tak ada jawaban sedikitpun meski dia mengetuknya berulang ulang kali. Karena berpikir bahwa teman yang Andini terlalu mabuk hingga tak sanggup menjawab, dia pun memasuki kamar tersebut tanpa rasa ragu. "Apakah kau ada di dalam, Andini?" Hansen berpikir kalau Andini mungkin ikut mabuk dan tak sadarkan diri bersama seorang temannya. Suasana kamar nampak begitu gelap, dan tak ada penerangan apapun saat itu. Hansen merasa aneh akan suasana tersebut, namun karena tak ingin menaruh curiga terhadap Andini, Hansen pun berjalan masuk ke kamar tanpa ragu.

Ceklek!!! Pintu tertutup dengan sendirinya. Hansen pun menoleh ke arah pintu untuk memastikan. Namun belum sempat dia mendekat ke arah pintu, lampu seketika menyala dan seorang gadis berpakaian sangat minim tiba tiba saja terlihat dan memeluk Hansen tanpa rasa ragu.

"A ... apa yang anda lakukan nona!" Hansen segera mendorong wanita itu dengan kasar. Dan berbalik pergi menuju pintu untuk melarikan diri. Namun wanita itu tak berhenti mengganggu Hansen, dia terus mencoba mendekat, memeluk bahkan mencoba mencium bibir Hansen meski terus di dorong mundur.

"Tolong bermainlah denganku, tampan," gadis itu mencoba merayu Hansen sembari menunjukkan pintu kamar yang bergelantung di jarinya.

"Berikan aku kuncinya!" Hansen menatap wanita itu dengan kesal.

"Ambil sendiri," Wanita itu memasukkan kuncinya ke dalam belahan dadanya sembari menggoda Hansen dengan rayuannya. Meskipun tak tergoda terhadap rayuan wanita itu, Hansen tetap berjalan mendekat dan mengambil kuncinya karena ingin segera keluar. Dia berani melakukan hal itu, karena tak menyadari keberadaan Amelia Wisnu yang terus mengambil foto dirinya dari balik pintu kamar mandi.

'Bersiaplah akan kehancuranmu, kakak ipar!' Amelia Wisnu tersenyum licik.

" ... " Hansen keluar dari kamar hotel dengan penuh kekesalan. 'Kenapa kau melakukan ini Andini!'

'Apa tujuanmu sebenarnya!'

'Apakah dia berpikir kalau aku akan melupakan kencan butanya jika memberikan aku seorang wanita untuk bersenang senang!' Hansen berjalan dengan kesal hingga seseorang dengan nomor tak dikenal mengirimkan foto foto Hansen dengan wanita berpakaian minim yang nampak memalukan. Bersamaan dengan itu, sebuah pesan singkat juga dikirimkan. 'Bercerailah, atau aku akan menyebarkan scandal tentangmu!'

Bukkk!!! Hansen memukul tembok hotel dengan kesal hingga lengannya terluka. "Jadi ini tujuanmu yang sebenarnya, Andini!" Hansen salah mengira bahwa Andini lah yang bertanggung jawab akan foto foto tersebut. Dengan penuh emosi, Hansen segera menelpon Andini untuk menanyakan dimana dia saat itu. Namun teleponnya tak diangkat, hingga membuat Hansen menjadi semakin kesal.

'Dia bahkan mematikan ponselnya, dasar wanita sialan!' Hansen semakin marah setelah mencoba untuk menelpon nomor tak dikenal yang dia pikir bahwa itu nomor orang suruhan Andini. Dalam kesalnya, Hansen berjalan sembari melamun sembari mencoba untuk mengingat kebiasaan Andini di jam jam saat itu. Hingga akhirnya dia pun mendapat kesimpulan bahwa kemungkinan besar Andini berada di kantornya.

'Jangan harap kalau aku akan membiarkan semua ini begitu saja, Andini!' Hansen menginjak pedal gas dengan penuh emosi.

Terpopuler

Comments

Agustina Mose

Agustina Mose

itu. adalah siasat Amelia Wisnu hansen

2022-10-06

0

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

woow lanjutkan

2022-08-24

0

Nasa

Nasa

Hahaha...cool down han

2022-05-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2 Bab 2 : Situasi yang mendesak
3 Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4 Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5 Bab 5 : Rencana Andini
6 Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7 Bab 7 : Kembali ke rumah
8 Bab 8 : Hari pertama bekerja
9 Bab 9 : Pembelaan Hansen
10 Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11 Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12 Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13 Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14 Bab 14 : Tertangkap basah
15 Bab 15 : Keputusan besar Andini
16 Bab 16 : Hati yang hancur
17 Bab 17 : Rasa bersalah
18 Bab 18 : Terjebak
19 Bab 19 : Salah sangka
20 Bab 20 : Singa yang terbangun
21 Bab 21 : Pria yang misterius
22 Bab 22 : Emosi Hansen
23 Bab 23 : Dendam lama
24 Bab 24 : Kembali ke markas
25 Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26 Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27 Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28 Bab 28 : Menemui Zaskia
29 Bab 29 : Gerakan Scorpion
30 Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31 Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32 Bab 32 : Dion Raharja
33 Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34 Bab 34 : Pencarian kawan lama
35 Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36 Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37 Bab 37 : Serangan di gedung putih
38 Bab 38 : Ambil alih
39 Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40 Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41 Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42 Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43 Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44 Chapter 44 : Rencana Number
45 Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46 Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47 Chapter 47 : Shelter
48 Chapter 48 : Shelter 2
49 Chapter 49 : Shelter 3
50 Chapter 50 : Kabar berita
51 Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52 Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53 Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54 Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55 Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56 Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57 Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58 Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59 Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60 Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61 Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62 Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63 Chapter 63 : Zaskia Arista
64 Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65 Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66 Chapter 66 : Murka Mr W
67 Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68 Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69 Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70 Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71 Chapter 71 : Kedatangan Theo
72 Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73 Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74 Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75 Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76 Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77 Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78 Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79 Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80 Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81 Chapter 81 : Menemui Mr W
82 Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83 Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84 Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85 Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86 Chapter 86 : Mengejar Andini
87 Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88 Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89 Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90 Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91 Chapter 91 : Emosi yang meluap
92 chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93 chapter 93 : Hubungan masa lalu
94 chapter 94 - nasib savior eagle
95 chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96 Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97 Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98 Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99 Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100 Chapter 100 : Koridor
101 Chapter 101 : Ilmuan gila
102 Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103 Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104 Chapter 104 : Operasi lanjutan
105 Chapter 105 : Hasil operasi
106 Chapter 106 : Perseteruan
107 Chapter 107 : Dominasi Number
108 Chapter 108 : Identitas
109 Chapter 109 : Sampai di Shelter
110 Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111 Chapter 111 : Keputusan Hansen
112 Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113 Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114 Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115 Chapter 115 : Hampir terungkap
116 Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2
Bab 2 : Situasi yang mendesak
3
Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4
Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5
Bab 5 : Rencana Andini
6
Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7
Bab 7 : Kembali ke rumah
8
Bab 8 : Hari pertama bekerja
9
Bab 9 : Pembelaan Hansen
10
Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11
Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12
Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13
Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14
Bab 14 : Tertangkap basah
15
Bab 15 : Keputusan besar Andini
16
Bab 16 : Hati yang hancur
17
Bab 17 : Rasa bersalah
18
Bab 18 : Terjebak
19
Bab 19 : Salah sangka
20
Bab 20 : Singa yang terbangun
21
Bab 21 : Pria yang misterius
22
Bab 22 : Emosi Hansen
23
Bab 23 : Dendam lama
24
Bab 24 : Kembali ke markas
25
Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26
Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27
Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28
Bab 28 : Menemui Zaskia
29
Bab 29 : Gerakan Scorpion
30
Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31
Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32
Bab 32 : Dion Raharja
33
Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34
Bab 34 : Pencarian kawan lama
35
Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36
Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37
Bab 37 : Serangan di gedung putih
38
Bab 38 : Ambil alih
39
Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40
Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41
Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42
Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43
Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44
Chapter 44 : Rencana Number
45
Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46
Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47
Chapter 47 : Shelter
48
Chapter 48 : Shelter 2
49
Chapter 49 : Shelter 3
50
Chapter 50 : Kabar berita
51
Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52
Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53
Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54
Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55
Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56
Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57
Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58
Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59
Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60
Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61
Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62
Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63
Chapter 63 : Zaskia Arista
64
Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65
Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66
Chapter 66 : Murka Mr W
67
Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68
Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69
Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70
Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71
Chapter 71 : Kedatangan Theo
72
Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73
Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74
Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75
Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76
Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77
Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78
Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79
Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80
Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81
Chapter 81 : Menemui Mr W
82
Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83
Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84
Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85
Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86
Chapter 86 : Mengejar Andini
87
Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88
Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89
Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90
Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91
Chapter 91 : Emosi yang meluap
92
chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93
chapter 93 : Hubungan masa lalu
94
chapter 94 - nasib savior eagle
95
chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96
Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97
Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98
Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99
Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100
Chapter 100 : Koridor
101
Chapter 101 : Ilmuan gila
102
Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103
Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104
Chapter 104 : Operasi lanjutan
105
Chapter 105 : Hasil operasi
106
Chapter 106 : Perseteruan
107
Chapter 107 : Dominasi Number
108
Chapter 108 : Identitas
109
Chapter 109 : Sampai di Shelter
110
Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111
Chapter 111 : Keputusan Hansen
112
Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113
Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114
Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115
Chapter 115 : Hampir terungkap
116
Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!