" ... " Hansen berjalan masuk ke lingkungan kerjanya dengan postur tegap namun santai. Para designated driver yang pernah beradu tinju dengan Hansen, tentu saja membenci sikap santainya. Meski begitu, tak ada satupun dari mereka yang berani menatap Hansen secara terang terangan. Mayoritas dari mereka hanya mampu menatap kesal secara sembunyi sembunyi, setiap kali fokus Hansen teralihkan.
'Hari yang cukup damai," Hansen segera duduk di tempat santainya, sambil membaca koran yang dia bawa dari luar.
....
Waktu terus berjalan, namun tak ada yang berani mengganggu waktu santai Hansen. Semua orang bergantian mengantar pelanggan hotel yang membutuhkan jasa seorang designated driver, mengabaikan Hansen yang terus bersantai hingga tertidur.
Kring kringg!!! ponsel Hansen berbunyi. Membangunkan Hansen dari istirahat panjangnya.
" ... "
'Andini?'
'Kenapa dia menelponku?' pikir Hansen dengan mata lelahnya.
"Ada apa?" tanya Hansen dengan nada agak kesal. Dia masih teringat akan kata kata Andini semalam.
"Tolong datanglah ke hotel permata!"
"Temanku mabuk berat setelah minum denganku, tolong bantu aku untuk mengantarkannya ke tempat tinggalnya," Andini menjawab dengan biasa.
"Apakah teman minummu seorang pria?" Hansen bertanya dengan nada ketus, karena berpikir negatif tentang Andini.
"Dia seorang wanita," jawab Andini.
"Baiklah kalau begitu, aku akan segera ke sana," Hansen segera menutup telepon setelah mendengar jawaban Andini. 'Ada apa denganku?'
'Kenapa aku jadi begitu mudah berpikir buruk tentang Andini?' Hansen menepuk dahinya dan segera bangkit dari tempat santainya.
....
Sesampainya di hotel permata, Hansen menerima pesan singkat dari nomor Andini. 'Hotel permata, kamar nomor 065.'
Tanpa rasa ragu, Hansen segera pergi memasuki Hotel dan berjalan menuju meja resepsionis.
"Tuan Hansen?"
"Apa yang anda lakukan disini?" tanya sang resepsionis yang pernah bertemu dengan Hansen.
"Seseorang menelponku untuk menjemput temannya yang sedang mabuk berat di hotel ini," Hansen menunjukkan ponselnya.
'Istriku Andini?' Resepsionis terkejut saat menatap nomor ponsel Andini yang mirip dengan nomor daftar orang penting yang menempel di samping meja kerjanya. 'Jadi benar kalau tuan Hansen itu suami CEO hotel ini?'
"Permisi?"
"Bolehkah aku pergi berkunjung ke kamarnya sekarang?" tanya Hansen yang terheran akan lamunan sang resepsionis.
"Ah ... , tentu!" gadis itu terkejut saat tersadar dari lamunannya.
" ... " Setelah mendapat ijin dari resepsionis hotel, Hansen segera naik ke lantai dua untuk berkunjung ke kamar nomor 062.
Tok tok tok, Hansen mengetuk pintu kamar untuk menunggu jawaban orang di dalamnya. Sayangnya tak ada jawaban sedikitpun meski dia mengetuknya berulang ulang kali. Karena berpikir bahwa teman yang Andini terlalu mabuk hingga tak sanggup menjawab, dia pun memasuki kamar tersebut tanpa rasa ragu. "Apakah kau ada di dalam, Andini?" Hansen berpikir kalau Andini mungkin ikut mabuk dan tak sadarkan diri bersama seorang temannya. Suasana kamar nampak begitu gelap, dan tak ada penerangan apapun saat itu. Hansen merasa aneh akan suasana tersebut, namun karena tak ingin menaruh curiga terhadap Andini, Hansen pun berjalan masuk ke kamar tanpa ragu.
Ceklek!!! Pintu tertutup dengan sendirinya. Hansen pun menoleh ke arah pintu untuk memastikan. Namun belum sempat dia mendekat ke arah pintu, lampu seketika menyala dan seorang gadis berpakaian sangat minim tiba tiba saja terlihat dan memeluk Hansen tanpa rasa ragu.
"A ... apa yang anda lakukan nona!" Hansen segera mendorong wanita itu dengan kasar. Dan berbalik pergi menuju pintu untuk melarikan diri. Namun wanita itu tak berhenti mengganggu Hansen, dia terus mencoba mendekat, memeluk bahkan mencoba mencium bibir Hansen meski terus di dorong mundur.
"Tolong bermainlah denganku, tampan," gadis itu mencoba merayu Hansen sembari menunjukkan pintu kamar yang bergelantung di jarinya.
"Berikan aku kuncinya!" Hansen menatap wanita itu dengan kesal.
"Ambil sendiri," Wanita itu memasukkan kuncinya ke dalam belahan dadanya sembari menggoda Hansen dengan rayuannya. Meskipun tak tergoda terhadap rayuan wanita itu, Hansen tetap berjalan mendekat dan mengambil kuncinya karena ingin segera keluar. Dia berani melakukan hal itu, karena tak menyadari keberadaan Amelia Wisnu yang terus mengambil foto dirinya dari balik pintu kamar mandi.
'Bersiaplah akan kehancuranmu, kakak ipar!' Amelia Wisnu tersenyum licik.
" ... " Hansen keluar dari kamar hotel dengan penuh kekesalan. 'Kenapa kau melakukan ini Andini!'
'Apa tujuanmu sebenarnya!'
'Apakah dia berpikir kalau aku akan melupakan kencan butanya jika memberikan aku seorang wanita untuk bersenang senang!' Hansen berjalan dengan kesal hingga seseorang dengan nomor tak dikenal mengirimkan foto foto Hansen dengan wanita berpakaian minim yang nampak memalukan. Bersamaan dengan itu, sebuah pesan singkat juga dikirimkan. 'Bercerailah, atau aku akan menyebarkan scandal tentangmu!'
Bukkk!!! Hansen memukul tembok hotel dengan kesal hingga lengannya terluka. "Jadi ini tujuanmu yang sebenarnya, Andini!" Hansen salah mengira bahwa Andini lah yang bertanggung jawab akan foto foto tersebut. Dengan penuh emosi, Hansen segera menelpon Andini untuk menanyakan dimana dia saat itu. Namun teleponnya tak diangkat, hingga membuat Hansen menjadi semakin kesal.
'Dia bahkan mematikan ponselnya, dasar wanita sialan!' Hansen semakin marah setelah mencoba untuk menelpon nomor tak dikenal yang dia pikir bahwa itu nomor orang suruhan Andini. Dalam kesalnya, Hansen berjalan sembari melamun sembari mencoba untuk mengingat kebiasaan Andini di jam jam saat itu. Hingga akhirnya dia pun mendapat kesimpulan bahwa kemungkinan besar Andini berada di kantornya.
'Jangan harap kalau aku akan membiarkan semua ini begitu saja, Andini!' Hansen menginjak pedal gas dengan penuh emosi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Agustina Mose
itu. adalah siasat Amelia Wisnu hansen
2022-10-06
0
Imam Sutoto Suro
woow lanjutkan
2022-08-24
0
Nasa
Hahaha...cool down han
2022-05-07
0