Hansen dan Andini kini sampai di depan rumah mereka. Rumah besar di mana mereka tinggal, bukan apartemen seperti sebelumnya.
Tampak jelas keraguan di mata Hansen saat itu. Dia enggan turun dan kembali ke rumah mertuanya. Setelah memarkir mobil di luar halaman rumah, Hansen memberikan kuncinya dan berkata, "Kakimu sudah baikan ‘kan? Katakan pada ibu dan ayahmu, kalau aku tak bisa pulang hari ini."
Andini paham betul akan apa yang Hansen rasakan saat itu. Namun dia tak peduli dengan hal tersebut. Ketika mengambil kunci dari tangan Hansen, Andini menatap tajam suaminya itu dan berkata, "Turun dan kembali ke rumah bersamaku..."
"Tapi…"
"Sekarang!" potong Andini.
"Cih!" Hansen membuka pintu mobil dengan tampang gelisah.
Andini yang tak suka berjalan berdampingan dan ingin mengerjai Hansen, menyuruhnya melangkah masuk duluan. Tentu saja Hansen menolaknya dengan alasan tak ingin memalingkan pandangannya dari Andini karena takut nanti dia terjatuh lagi.
Andini yang tak mau berdebat langsung melangkah maju duluan. Mereka berdua pun sampai di depan pintu rumah. Hansen kembali memikirkan perihal mertuanya yang enggan dia temui.
Mertuanya itu sangatlah misterius bagi Hansen. Dia hanya bertemu dengannya sekali di pesta pernikahan. Dan bahkan pernikahannya dengan Andini Wisnu juga merupakan keputusan mertuanya. Dari awal bertemu hingga saat ini dia masih merasa tidak nyaman saat mendengar namanya.
Pertemuannya di masa lalu saja masih terngiang di pikirannya. Tatapan tegas dan begitu mendominasi membuat suasana tegang saat berhadapan dengannya. Selain itu, anggota keluarga lain seperti ibu mertua dan adik iparnya juga tak kalah merepotkan seperti Andini. Mereka tak pernah letih menatap hina sembari sesekali menyelipkan cacian setiap kali berbicara kepadanya.
Karena itulah Hansen merasa tak nyaman saat di dalam rumah.
"Tolong buka pintunya bu, ini aku!" Andini yang berada satu langkah di depan Hansen membunyikan bel sembari memanggil ibunya.
Hansen mencoba melangkah pergi diam-diam. Namun langkahnya terhenti karena Andini menyadarinya. Dia pun terpaksa menghentikan niatnya.
Belasan menit mereka menunggu di luar, namun tak ada yang membuka pintu juga. Hansen yang berada dalam pikiran tegangnya, merasa bahwa belasan menit itu bagaikan belasan jam yang begitu menegangkan. Setiap menit dia selalu mencoba untuk membujuk Andini agar membolehkannya pergi, namun tak dihiraukan sama sekali.
Setelah menunggu lama, Andini pun memutuskan untuk masuk menggunakan kunci cadangan yang selalu dia bawa ke mana-mana.
Pintu pun terbuka dan mereka melangkah ke dalam rumah. Andini memanggil-manggil ibu serta adiknya. Namun tak ada yang menjawab sehingga dia berpikir kalau mereka mungkin sedang pergi.
Hansen yang melihat keadaan rumah tampak tersenyum lega.
Andini kecewa karena gagal melihat tampang tertekan Hansen dihadapan keluarganya. Dia memutuskan untuk beristirahat di kamarnya. Hansen pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya juga. Mereka mungkin pasangan suami istri, namun mereka tak berada dalam satu kamar.
Sembari menengok ke kanan dan ke kiri, Hansen berjalan sendirian melewati beberapa ruangan. Dari dapur, ruang tamu, hingga semua sudut ruangan tak luput dari pandangannya.
Lokasi kamar Hansen berada di samping kamar adik iparnya, Amelia Wisnu. Sehingga kemungkinan dia akan bertemu dengannya sangatlah besar.
Karena tak ingin disadari oleh adik iparnya kalau dia berada di kamar, Hansen melangkah cukup hati-hati saat melewati pintu kamar tersebut.
Akan tetapi langkahnya terhenti karena mendengar suara aneh dari kamar adik iparnya.
Suaranya terdengar seperti suara Amelia yang mulutnya sedang ditutup secara paksa. Sontak Hansen pun takut kalau ada pencuri yang masuk dan menyandera Amelia. Tanpa pikir panjang, dia langsung mendobrak pintu kamar.
Akan tetapi bukannya pencuri yang dia lihat, tetapi dua orang yang berbaring di atas ranjang tanpa mengenakan busana.
Hansen tak bisa berkata apa-apa. Meski terkejut dengan apa yang dia lihat, dia berniat untuk pergi dan tak mau ikut campur karena tak ingin dipersulit oleh adik iparnya. Namun belum juga Hansen pergi, Amelia menyuruhnya berhenti, "Diam di sana!"
"Jangan khawatir, aku tidak melihat apapun," jawab Hansen sambil membalikkan badannya.
Melihat Hansen mengabaikan dirinya, Amelia melangkah mendekat lalu menarik tangan Hansen. Tak hanya itu, dia juga mendaratkan tamparan keras ke pipi Hansen.
Plakkk!!!
"Kau pikir kau mau pergi ke mana, ha? Jangan harap kau bisa pergi begitu saja, setelah melihat tubuhku!" tegas Amelia kesal.
"Lalu apa maumu?"
"Aku ingin kau memutuskan hubungan dengan kakakku, dan pergi menjauh dari keluarga ini!”
"Kurasa itu mustahil, kau kan tahu kalau ayahmulah yang membawaku kemari. Tak ada yang bisa menyuruhku pergi selain dirinya," jawab Hansen sambil menatap tajam mata Amelia.
"Hanya karena ayahku yang membawamu kemari, bukan berarti aku tak bisa mengusirmu! Entah apa yang dipikirkan ayah dan kakakku hingga membiarkan sampah sepertimu menetap di sini. Kalau aku jadi mereka, aku sudah mengusirmu sejak lama!”
Dia terus melontarkan hinaan demi hinaan sembari menunjuk wajah Hansen. Namun Hansen tetap diam karena hinaan itu hanya dilontarkan untuknya.
Melihat Hansen yang tidak bereaksi, Amelia menjadi semakin keterlaluan. Tidak hanya menghina Hansen dan keluarganya, tapi dia juga memerintahkan Hansen untuk memperbaiki pintu yang dia dobrak. Barulah Hansen mengerti bahwa mundur selangkah hanya akan membuat anggota keluarga Wisnu semakin keterlaluan.
"Cukup adik ipar! Kau boleh menghinaku tapi bukan keluargaku! Kau juga boleh mengancamku, tapi tidak untuk sekarang!" balas Hansen. "Bayangkan apa yang akan terjadi padamu jika kakakmu melihatmu sekarang!?"
Hansen menatap Amelia sembari mengingatkan bahwa dia masih dalam keadaan telanjang. Dia juga memberi tahu bahwa tidak ada untungnya untuk Amelia memperpanjang masalah dengannya. Dan tak ada celah baginya untuk membela diri.
Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki. Amelia pun menjadi sangat gugup dan gemetar karena takut ketahuan. Amelia terpaksa meminta maaf dan kembali menutup pintu agar tak ketahuan.
Ibu Andini Wisnu, Rosa Riyadi, berjalan ke dalam rumah seorang diri. Dia habis bepergian keluar bersama teman-temannya.
Sembari melangkahkan kakinya, dia terus menggumamkan kekesalan karena tak ada yang menyambut kedatangannya.
"Jelas-jelas mobil Andini ada di luar, sepatu pemuda kotor itu juga ada di luar. Kenapa mereka tak menyambutku?" geram Rosa, "Aku terbiasa dengan pemuda kotor itu yang mengabaikanku, tapi kenapa putriku jadi ikut-ikutan? Ini pasti karena dia sudah terlalu lama bepergian bersamanya. Aku yakin itu!"
Hansen hanya diam saat mendengar suara gumaman ibu mertuanya, dan berniat pergi ke kamarnya untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi, langkahnya terhenti setelah dia mendengar gumaman terakhir ibu mertuanya.
"Ini salahku karena membiarkan suamiku yang memutuskan segalanya. Karena kebodohanku aku jadi kehilangan kesempatan untuk menjodohkan Andini dengan Herry Wijaya."
Sejurus kemudian, terdengar suara Andini yang mencoba menghentikan gerutuan ibunya. Dia mengingatkan ibunya agar tak menyebutkan nama itu lagi.
Hansen yang penasaran akan alasan dibalik perkataan Andini pun langsung melangkah mendekat.
"Siapa Herry Wijaya?" tanyanya, "Apakah dia mantan kekasihmu? Kenapa kau terdengar tak menyukai ibumu menyebut namanya?"
Hansen baru pertama kalinya mendengar nama ini. Dia juga menyadari ada sesuatu antara Andini dan Herry hingga membuat Andini enggan menjawab pertanyaannya. Saking enggannya dia menjawab pertanyaan tersebut, Andini bahkan menutup mulut ibunya sendiri disaat hendak menjawab Hansen.
Sadar bahwa Andini tak mau menjawab pertanyaannya, Hansen pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
Andini tiba-tiba menyusulnya dengan cepat karena mengingat sesuatu. Dia meminta ponsel Hansen untuk menghapus semua foto yang dia ambil di hotel. Ketika ponsel disodorkan, Andini langsung merebutnya dengan paksa.
Saat Andini mengembalikan ponselnya, Hansen malah menemukan bahwa uang 125 juta yang ditransfer sebelumnya telah ditarik kembali.
Andini yang melihat Hansen panik merasa bangga di dalam hati.
Dia memperingatkan Hansen untuk tidak membuat masalah di rumah.
Jangan berharap untuk bisa meninggalkan rumah ini.
Biaya medis Cindy akan dia transfer ke rumah sakit.
Tapi tidak akan ada uang lebih untuk Hansen.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Agustina Mose
itulah ketika wanita lebih kaya dari pria apa saja seenaknya berbuat ini dan itu semaunya
2022-08-28
0
Imam Sutoto Suro
very good job lanjut
2022-08-24
0
Arif Widia
Kok blibet
2022-07-07
0