Bab 7 : Kembali ke rumah

Hansen dan Andini kini sampai di depan rumah mereka. Rumah besar di mana mereka tinggal, bukan apartemen seperti sebelumnya. 

Tampak jelas keraguan di mata Hansen saat itu. Dia enggan turun dan kembali ke rumah mertuanya. Setelah memarkir mobil di luar halaman rumah, Hansen memberikan kuncinya dan berkata, "Kakimu sudah baikan ‘kan? Katakan pada ibu dan ayahmu, kalau aku tak bisa pulang hari ini."

Andini paham betul akan apa yang Hansen rasakan saat itu. Namun dia tak peduli dengan hal tersebut. Ketika mengambil kunci dari tangan Hansen, Andini menatap tajam suaminya itu dan berkata, "Turun dan kembali ke rumah bersamaku..."

"Tapi…" 

"Sekarang!" potong Andini.

"Cih!" Hansen membuka pintu mobil dengan tampang gelisah. 

Andini yang tak suka berjalan berdampingan dan ingin mengerjai Hansen, menyuruhnya melangkah masuk duluan. Tentu saja Hansen menolaknya dengan alasan tak ingin memalingkan pandangannya dari Andini karena takut nanti dia terjatuh lagi. 

Andini yang tak mau berdebat langsung melangkah maju duluan. Mereka berdua pun sampai di depan pintu rumah. Hansen kembali memikirkan perihal mertuanya yang enggan dia temui.

Mertuanya itu sangatlah misterius bagi Hansen. Dia hanya bertemu dengannya sekali di pesta pernikahan. Dan bahkan pernikahannya dengan Andini Wisnu juga merupakan keputusan mertuanya. Dari awal bertemu hingga saat ini dia masih merasa tidak nyaman saat mendengar namanya. 

Pertemuannya di masa lalu saja masih terngiang di pikirannya. Tatapan tegas dan begitu mendominasi membuat suasana tegang saat berhadapan dengannya. Selain itu, anggota keluarga lain seperti ibu mertua dan adik iparnya juga tak kalah merepotkan seperti Andini. Mereka tak pernah letih menatap hina sembari sesekali menyelipkan cacian setiap kali berbicara kepadanya.

Karena itulah Hansen merasa tak nyaman saat di dalam rumah. 

"Tolong buka pintunya bu, ini aku!" Andini yang berada satu langkah di depan Hansen membunyikan bel sembari memanggil ibunya. 

Hansen mencoba melangkah pergi diam-diam. Namun langkahnya terhenti karena Andini menyadarinya. Dia pun terpaksa menghentikan niatnya. 

Belasan menit mereka menunggu di luar, namun tak ada yang membuka pintu juga. Hansen yang berada dalam pikiran tegangnya, merasa bahwa belasan menit itu bagaikan belasan jam yang begitu menegangkan. Setiap menit dia selalu mencoba untuk membujuk Andini agar membolehkannya pergi, namun tak dihiraukan sama sekali. 

Setelah menunggu lama, Andini pun memutuskan untuk masuk menggunakan kunci cadangan yang selalu dia bawa ke mana-mana. 

Pintu pun terbuka dan mereka melangkah ke dalam rumah. Andini memanggil-manggil ibu serta adiknya. Namun tak ada yang menjawab sehingga dia berpikir kalau mereka mungkin sedang pergi. 

Hansen yang melihat keadaan rumah tampak tersenyum lega. 

Andini kecewa karena gagal melihat tampang tertekan Hansen dihadapan keluarganya. Dia memutuskan untuk beristirahat di kamarnya. Hansen pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya juga. Mereka mungkin pasangan suami istri, namun mereka tak berada dalam satu kamar. 

Sembari menengok ke kanan dan ke kiri, Hansen berjalan sendirian melewati beberapa ruangan. Dari dapur, ruang tamu, hingga semua sudut ruangan tak luput dari pandangannya. 

Lokasi kamar Hansen berada di samping kamar adik iparnya, Amelia Wisnu. Sehingga kemungkinan dia akan bertemu dengannya sangatlah besar. 

Karena tak ingin disadari oleh adik iparnya kalau dia berada di kamar, Hansen melangkah cukup hati-hati saat melewati pintu kamar tersebut. 

Akan tetapi langkahnya terhenti karena mendengar suara aneh dari kamar adik iparnya. 

Suaranya terdengar seperti suara Amelia yang mulutnya sedang ditutup secara paksa. Sontak Hansen pun takut kalau ada pencuri yang masuk dan menyandera Amelia. Tanpa pikir panjang, dia langsung mendobrak pintu kamar.

Akan tetapi bukannya pencuri yang dia lihat, tetapi dua orang yang berbaring di atas ranjang tanpa mengenakan busana.

Hansen tak bisa berkata apa-apa. Meski terkejut dengan apa yang dia lihat, dia berniat untuk pergi dan tak mau ikut campur karena tak ingin dipersulit oleh adik iparnya. Namun belum juga Hansen pergi, Amelia menyuruhnya berhenti, "Diam di sana!"

"Jangan khawatir, aku tidak melihat apapun," jawab Hansen sambil membalikkan badannya. 

Melihat Hansen mengabaikan dirinya, Amelia melangkah mendekat lalu menarik tangan Hansen. Tak hanya itu, dia juga mendaratkan tamparan keras ke pipi Hansen. 

Plakkk!!! 

"Kau pikir kau mau pergi ke mana, ha? Jangan harap kau bisa pergi begitu saja, setelah melihat tubuhku!" tegas Amelia kesal. 

"Lalu apa maumu?"

"Aku ingin kau memutuskan hubungan dengan kakakku, dan pergi menjauh dari keluarga ini!”

"Kurasa itu mustahil, kau kan tahu kalau ayahmulah yang membawaku kemari. Tak ada yang bisa menyuruhku pergi selain dirinya," jawab Hansen sambil menatap tajam mata Amelia.

"Hanya karena ayahku yang membawamu kemari, bukan berarti aku tak bisa mengusirmu! Entah apa yang dipikirkan ayah dan kakakku hingga membiarkan sampah sepertimu menetap di sini. Kalau aku jadi mereka, aku sudah mengusirmu sejak lama!”

Dia terus melontarkan hinaan demi hinaan sembari menunjuk wajah Hansen. Namun Hansen tetap diam karena hinaan itu hanya dilontarkan untuknya. 

Melihat Hansen yang tidak bereaksi, Amelia menjadi semakin keterlaluan. Tidak hanya menghina Hansen dan keluarganya, tapi dia juga memerintahkan Hansen untuk memperbaiki pintu yang dia dobrak. Barulah Hansen mengerti bahwa mundur selangkah hanya akan membuat anggota keluarga Wisnu semakin keterlaluan. 

"Cukup adik ipar! Kau boleh menghinaku tapi bukan keluargaku! Kau juga boleh mengancamku, tapi tidak untuk sekarang!" balas Hansen. "Bayangkan apa yang akan terjadi padamu jika kakakmu melihatmu sekarang!?"  

Hansen menatap Amelia sembari mengingatkan bahwa dia masih dalam keadaan telanjang. Dia juga memberi tahu bahwa tidak ada untungnya untuk Amelia memperpanjang masalah dengannya. Dan tak ada celah baginya untuk membela diri. 

Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki. Amelia pun menjadi sangat gugup dan gemetar karena takut ketahuan. Amelia terpaksa meminta maaf dan kembali menutup pintu agar tak ketahuan.

Ibu Andini Wisnu, Rosa Riyadi, berjalan ke dalam rumah seorang diri. Dia habis bepergian keluar bersama teman-temannya.

Sembari melangkahkan kakinya, dia terus menggumamkan kekesalan karena tak ada yang menyambut kedatangannya. 

"Jelas-jelas mobil Andini ada di luar, sepatu pemuda kotor itu juga ada di luar. Kenapa mereka tak menyambutku?" geram Rosa, "Aku terbiasa dengan pemuda kotor itu yang mengabaikanku, tapi kenapa putriku jadi ikut-ikutan? Ini pasti karena dia sudah terlalu lama bepergian bersamanya. Aku yakin itu!"

Hansen hanya diam saat mendengar suara gumaman ibu mertuanya, dan berniat pergi ke kamarnya untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi, langkahnya terhenti setelah dia mendengar gumaman terakhir ibu mertuanya. 

"Ini salahku karena membiarkan suamiku yang memutuskan segalanya. Karena kebodohanku aku jadi kehilangan kesempatan untuk menjodohkan Andini dengan Herry Wijaya." 

Sejurus kemudian, terdengar suara Andini yang mencoba menghentikan gerutuan ibunya. Dia mengingatkan ibunya agar tak menyebutkan nama itu lagi. 

Hansen yang penasaran akan alasan dibalik perkataan Andini pun langsung melangkah mendekat.

"Siapa Herry Wijaya?" tanyanya, "Apakah dia mantan kekasihmu? Kenapa kau terdengar tak menyukai ibumu menyebut namanya?" 

Hansen baru pertama kalinya mendengar nama ini. Dia juga menyadari ada sesuatu antara Andini dan Herry hingga membuat Andini enggan menjawab pertanyaannya. Saking enggannya dia menjawab pertanyaan tersebut, Andini bahkan menutup mulut ibunya sendiri disaat hendak menjawab Hansen.

Sadar bahwa Andini tak mau menjawab pertanyaannya, Hansen pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya. 

Andini tiba-tiba menyusulnya dengan cepat karena mengingat sesuatu. Dia meminta ponsel Hansen untuk menghapus semua foto yang dia ambil di hotel. Ketika ponsel disodorkan, Andini langsung merebutnya dengan paksa.

Saat Andini mengembalikan ponselnya, Hansen malah menemukan bahwa uang 125 juta yang ditransfer sebelumnya telah ditarik kembali.

Andini yang melihat Hansen panik merasa bangga di dalam hati. 

Dia memperingatkan Hansen untuk tidak membuat masalah di rumah. 

Jangan berharap untuk bisa meninggalkan rumah ini. 

Biaya medis Cindy akan dia transfer ke rumah sakit. 

Tapi tidak akan ada uang lebih untuk Hansen.

Terpopuler

Comments

Agustina Mose

Agustina Mose

itulah ketika wanita lebih kaya dari pria apa saja seenaknya berbuat ini dan itu semaunya

2022-08-28

0

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

very good job lanjut

2022-08-24

0

Arif Widia

Arif Widia

Kok blibet

2022-07-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2 Bab 2 : Situasi yang mendesak
3 Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4 Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5 Bab 5 : Rencana Andini
6 Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7 Bab 7 : Kembali ke rumah
8 Bab 8 : Hari pertama bekerja
9 Bab 9 : Pembelaan Hansen
10 Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11 Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12 Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13 Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14 Bab 14 : Tertangkap basah
15 Bab 15 : Keputusan besar Andini
16 Bab 16 : Hati yang hancur
17 Bab 17 : Rasa bersalah
18 Bab 18 : Terjebak
19 Bab 19 : Salah sangka
20 Bab 20 : Singa yang terbangun
21 Bab 21 : Pria yang misterius
22 Bab 22 : Emosi Hansen
23 Bab 23 : Dendam lama
24 Bab 24 : Kembali ke markas
25 Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26 Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27 Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28 Bab 28 : Menemui Zaskia
29 Bab 29 : Gerakan Scorpion
30 Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31 Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32 Bab 32 : Dion Raharja
33 Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34 Bab 34 : Pencarian kawan lama
35 Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36 Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37 Bab 37 : Serangan di gedung putih
38 Bab 38 : Ambil alih
39 Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40 Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41 Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42 Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43 Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44 Chapter 44 : Rencana Number
45 Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46 Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47 Chapter 47 : Shelter
48 Chapter 48 : Shelter 2
49 Chapter 49 : Shelter 3
50 Chapter 50 : Kabar berita
51 Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52 Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53 Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54 Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55 Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56 Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57 Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58 Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59 Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60 Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61 Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62 Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63 Chapter 63 : Zaskia Arista
64 Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65 Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66 Chapter 66 : Murka Mr W
67 Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68 Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69 Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70 Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71 Chapter 71 : Kedatangan Theo
72 Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73 Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74 Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75 Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76 Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77 Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78 Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79 Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80 Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81 Chapter 81 : Menemui Mr W
82 Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83 Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84 Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85 Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86 Chapter 86 : Mengejar Andini
87 Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88 Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89 Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90 Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91 Chapter 91 : Emosi yang meluap
92 chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93 chapter 93 : Hubungan masa lalu
94 chapter 94 - nasib savior eagle
95 chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96 Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97 Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98 Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99 Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100 Chapter 100 : Koridor
101 Chapter 101 : Ilmuan gila
102 Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103 Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104 Chapter 104 : Operasi lanjutan
105 Chapter 105 : Hasil operasi
106 Chapter 106 : Perseteruan
107 Chapter 107 : Dominasi Number
108 Chapter 108 : Identitas
109 Chapter 109 : Sampai di Shelter
110 Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111 Chapter 111 : Keputusan Hansen
112 Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113 Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114 Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115 Chapter 115 : Hampir terungkap
116 Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2
Bab 2 : Situasi yang mendesak
3
Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4
Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5
Bab 5 : Rencana Andini
6
Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7
Bab 7 : Kembali ke rumah
8
Bab 8 : Hari pertama bekerja
9
Bab 9 : Pembelaan Hansen
10
Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11
Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12
Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13
Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14
Bab 14 : Tertangkap basah
15
Bab 15 : Keputusan besar Andini
16
Bab 16 : Hati yang hancur
17
Bab 17 : Rasa bersalah
18
Bab 18 : Terjebak
19
Bab 19 : Salah sangka
20
Bab 20 : Singa yang terbangun
21
Bab 21 : Pria yang misterius
22
Bab 22 : Emosi Hansen
23
Bab 23 : Dendam lama
24
Bab 24 : Kembali ke markas
25
Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26
Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27
Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28
Bab 28 : Menemui Zaskia
29
Bab 29 : Gerakan Scorpion
30
Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31
Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32
Bab 32 : Dion Raharja
33
Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34
Bab 34 : Pencarian kawan lama
35
Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36
Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37
Bab 37 : Serangan di gedung putih
38
Bab 38 : Ambil alih
39
Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40
Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41
Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42
Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43
Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44
Chapter 44 : Rencana Number
45
Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46
Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47
Chapter 47 : Shelter
48
Chapter 48 : Shelter 2
49
Chapter 49 : Shelter 3
50
Chapter 50 : Kabar berita
51
Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52
Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53
Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54
Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55
Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56
Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57
Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58
Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59
Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60
Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61
Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62
Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63
Chapter 63 : Zaskia Arista
64
Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65
Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66
Chapter 66 : Murka Mr W
67
Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68
Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69
Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70
Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71
Chapter 71 : Kedatangan Theo
72
Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73
Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74
Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75
Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76
Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77
Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78
Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79
Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80
Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81
Chapter 81 : Menemui Mr W
82
Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83
Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84
Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85
Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86
Chapter 86 : Mengejar Andini
87
Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88
Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89
Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90
Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91
Chapter 91 : Emosi yang meluap
92
chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93
chapter 93 : Hubungan masa lalu
94
chapter 94 - nasib savior eagle
95
chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96
Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97
Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98
Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99
Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100
Chapter 100 : Koridor
101
Chapter 101 : Ilmuan gila
102
Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103
Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104
Chapter 104 : Operasi lanjutan
105
Chapter 105 : Hasil operasi
106
Chapter 106 : Perseteruan
107
Chapter 107 : Dominasi Number
108
Chapter 108 : Identitas
109
Chapter 109 : Sampai di Shelter
110
Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111
Chapter 111 : Keputusan Hansen
112
Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113
Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114
Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115
Chapter 115 : Hampir terungkap
116
Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!