Bab 2 : Situasi yang mendesak

Setelah melewati malam yang penuh emosi, Andini terbangun di pelukan Hansen yang masih tertidur lelap. Badannya tidak tertutup pakaian, yang membuat Andini terkejut. Matanya terbuka lebar, dan dia menutupi mulut dengan tangan.

"Kenapa Hansen tertidur di sampingku!?"

"Dan kenapa dia tak memakai baju!?"

"Sebenarnya apa yang terjadi!?" Andini memegangi kepalanya, kebingungan. "Bukankah aku seharusnya sedang membahas bisnis dengan David?"

Ingatan Andini samar-samar karena pengaruh obat. Yang dia ingat terakhir kali adalah merasa pusing dan lelah setelah meminum anggur. Dia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi pada dirinya, yang hampir ternoda oleh pria bejat, serta Hansen yang datang menolongnya.

Andini terdiam, berusaha keras mengingat kejadian semalam. Lalu, matanya menatap tubuhnya dan baru sadar bahwa dirinya juga tidak berbusana.

"Kyaaaaa!"

Hansen terbangun kaget mendengar teriakan Andini.

"Kenapa kau berteriak?" tanya Hansen sambil duduk, tubuhnya masih tertutup selimut sebagian.

Andini meneteskan air mata dan berbicara dengan suara sesenggukan, "Hiks... hiks... Kau bertanya kenapa aku berteriak? Dasar kau pria kotor!" teriak Andini, sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. "Hansen, jawab dengan jujur. Jelaskan padaku, apa yang telah terjadi tadi malam?"

"Kenapa kita tidak berbusana dan tertidur dalam satu ranjang seperti ini?"

"Jawab aku, Hansen!" bentak Andini, air matanya terus mengalir.

"Itu..."

"Apakah... kita telah melakukannya?" potong Andini, suaranya terdengar cemas.

Hansen hanya terdiam, takut salah menjawab.

"Jangan diam saja, pria kotor! Cepat jawab pertanyaanku! Apakah kita telah melakukannya!?" bentak Andini dengan suara semakin keras.

"Ya," jawab Hansen, menunduk.

"Apa kau lupa perjanjian kontraknya? Meski kita telah menikah, aku sudah menegaskan padamu kalau kita tidak akan pernah menjalin hubungan layaknya suami istri."

"Aku membayarmu agar bisa selamat dari desakan ayahku, bukan untuk bersenang-senang! Apakah kau tak mengerti!?" bentak Andini, air matanya terus mengalir bersamaan dengan luapan emosinya.

Karena Andini terus menyalahkan dirinya tanpa henti, Hansen tidak bisa menahan diri lagi. Dia mengangkat suaranya, "Cukup Andini!"

"Berhenti membentakku!"

"Biarkan aku menjelaskannya lebih dulu!"

"Oh, begitu ya... Setelah berhasil meniduriku, kau jadi semakin berani, ya?" Andini melanjutkan, "Beraninya kau mengangkat suaramu kepadaku!" bentaknya.

Andini melayangkan tangannya ke pipi Hansen, namun Hansen berhasil menangkap pergelangan tangan Andini.

"Aku tak akan berani menyentuhmu jika bukan kau yang memulainya. Tolong ingat kejadian tadi malam dengan baik, Andini!" ucap Hansen dengan tenang.

Karena tangannya ditahan, Andini mencoba menamparnya dengan tangan yang satunya. Namun, Hansen kembali menghentikannya. Andini tidak bisa menggerakkan kedua tangannya sama sekali.

Andini meronta-ronta, berusaha melepaskan kedua tangannya, tetapi kilasan kejadian semalam mulai kembali sedikit demi sedikit hingga akhirnya dia pun terdiam.

Hansen melepaskan genggaman tangannya dan berkata, "Apakah kau sudah mengingat semuanya?"

Andini terdiam sejenak, merasa kesal. Lalu dia memegang keningnya dan berkata, "Lupakan kejadian semalam! Dan jangan berharap untuk mendapat pengalaman itu lagi. Kau mengerti!?"

"A... Aku mengerti," jawab Hansen, memalingkan wajahnya.

"Kenapa kau memalingkan wajahmu?" tanya Andini curiga.

"Itu..."

Andini baru menyadari bahwa selimut yang menutupi tubuhnya telah terlepas. Dia pun berteriak dan membentak Hansen agar pergi.

Gugup, Hansen buru-buru mengenakan celananya, masih tertutup selimut, dan segera berlari keluar.

Andini mengenakan pakaiannya, namun dia menyadari aDa beberapa noda dan goresan pada pakaiannya. Andini yang tak suka terlihat kotor pun meraih ponselnya dan menelpon Hansen agar kembali ke kamar.

Setelah Hansen kembali masuk, Andini berkata, "Kita menyewa apartemen ini karena tempat perjamuan semalam cukup jauh dari rumah kita."

"Tentu saja aku tahu, memangnya kenapa?" jawab Hansen.

"Ada noda dan goresan pada pakaianku, aku tak bisa keluar dengan penampilan seperti ini. Belikan aku baju baru untuk dipakai!"

"Apa kau tak membawa baju ganti?" tanya Hansen heran.

"Aku salah membawa koper karena terburu-buru. Jadi hanya ada pakaian ini yang bisa kupakai," jawab Andini sambil memegangi dahinya karena merasa pusing.

"Begitu ya, ya sudahlah, akan kubelikan," ucap Hansen sambil mengulurkan tangannya.

"Apa?" tanya Andini sinis.

"Apalagi kalau bukan meminta uang untuk beli baju baru. Bukankah kau menyuruhku untuk membelinya?"

"Kau telah menikmati tubuhku semalam, tak bisakah kau membayarnya dengan membelikanku baju?"

"Tapi, kau ‘kan tahu kalau aku tak punya banyak uang," ucap Hansen.

"Tak ada kata ‘tapi’, kalau kau tak mau membelikanku baju dengan uangmu, maka aku akan berhenti memberimu uang!" ancam Andini kesal.

Hansen tak lagi membantah. Dia masih memerlukan uang Andini untuk membayar biaya perawatan adiknya. Akhirnya, Hansen pun terpaksa menurut. Dia menerima deskripsi baju yang Andini inginkan, lalu pergi keluar untuk membelinya.

Sesampainya di toko pakaian, Hansen mendapati pakaian yang Andini inginkan. Namun harganya sekitar empat ratus ribu rupiah, sedangkan uangnya hanya ada enam ratus ribu rupiah. Kembaliannya tidak cukup untuk membayar biaya pengobatan adiknya hari ini.

Hansen mencoba menghubungi Andini melalui telepon. Dia memintanya untuk mentransfer uang untuk membeli baju, namun Andini kembali menolak dan mengancam akan mengakhiri kontraknya.

Hansen yang tak punya pilihan lain akhirnya terpaksa membayar pakaian itu dengan uangnya sendiri. Karena hal itu, dia pun harus memikirkan cara mendapatkan uang untuk menutupi biaya perawatan adiknya.

Setelah membelikan Andini baju, Hansen pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi adiknya. Dia sempat mengajak Andini, namun Andini menolak untuk pergi karena masih merasa kesal dengan kejadian semalam.

Sesampainya di rumah sakit, Hansen langsung menuju ke ruangan tempat adiknya dirawat. Namun langkahnya terhenti begitu melihat ayahnya sedang duduk di luar ruangan adiknya.

Ayah Hansen, Hendra Pratama, sedang memegang dahinya, pusing. Dia mengenakan pakaian putih, celana hitam yang cukup terang, dan masker hijau yang menutupi mulutnya.

Hansen yang bingung melihat ayahnya berada di luar ruangan langsung mendatanginya, "Kenapa ayah di luar?"

"Tidak apa-apa, ayah hanya sedang mencoba menenangkan pikiran dan membiarkan Cindy beristirahat," jawab Hendra sambil menyentuh dahinya.

Sadar apa yang terjadi, Hansen memasang tampang serius dan berkata, "Apakah pihak rumah sakit mendesak biaya perawatan Cindy lagi?"

Hendra hanya menganggukkan kepala pelan. Dia merasa malu sekaligus kesal karena tak dapat menolong putrinya sendiri.

Tak sanggup melihat ayahnya bersedih, Hansen menyentuh pundak sang ayah dan berkata, "Jangan khawatir ayah, Hansen berjanji akan melunasi tagihan perawatan Cindy. Hansen berjanji akan mengurus semuanya. Ayah hanya perlu tetap di sini untuk menjaga Cindy."

"Baiklah," ucap Hendra. Dia terdiam sejenak, lalu mengangkat kepalanya setelah mengingat sesuatu. Sambil menghela napas, dia bertanya, "Di mana Andini?"

“Dia… ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan hari ini,” ucap Hansen berbohong.

"Oh, begitu ya."

"Kau begitu beruntung mempunyai istri sebaik Andini. Dia seorang pekerja keras dan dari kalangan atas, namun mau menikahimu, dan bahkan membantu membayar biaya perawatan Cindy. Jika bukan karena dia, tagihan rumah sakit Cindy saat ini..."

“Tapi kita tak boleh terus bergantung padanya, kita harus bekerja dan berusaha mengumpulkan uang. Apakah kau mengerti, putraku?" tanya Hendra sambil menatap mata Hansen.

"Aku mengerti ayah," jawab Hansen.

Setelah berbincang dan melihat kondisi Cindy yang belum membaik, Hansen beranjak pergi meninggalkan rumah sakit. Namun dia tak langsung kembali ke apartemen untuk bertemu Andini. Dia ingin membiarkan istrinya merasa lebih tenang terlebih dulu dan berusaha untuk tidak bergantung padanya lagi.

Hansen memutuskan untuk mencari pekerjaan.

Terpopuler

Comments

Santoso Zha

Santoso Zha

next

2022-07-06

0

Ⓦ︎Ⓚ︎🅡︎Ⓩ︎🇳 s̑̈n͜͡ɐ𝘬乇🅿︎ȋ̈Ⓣ︎

Ⓦ︎Ⓚ︎🅡︎Ⓩ︎🇳 s̑̈n͜͡ɐ𝘬乇🅿︎ȋ̈Ⓣ︎

baguuss

2022-06-08

1

Ⓦ︎Ⓚ︎🅡︎Ⓩ︎🇳 s̑̈n͜͡ɐ𝘬乇🅿︎ȋ̈Ⓣ︎

Ⓦ︎Ⓚ︎🅡︎Ⓩ︎🇳 s̑̈n͜͡ɐ𝘬乇🅿︎ȋ̈Ⓣ︎

bagiss

2022-06-08

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2 Bab 2 : Situasi yang mendesak
3 Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4 Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5 Bab 5 : Rencana Andini
6 Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7 Bab 7 : Kembali ke rumah
8 Bab 8 : Hari pertama bekerja
9 Bab 9 : Pembelaan Hansen
10 Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11 Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12 Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13 Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14 Bab 14 : Tertangkap basah
15 Bab 15 : Keputusan besar Andini
16 Bab 16 : Hati yang hancur
17 Bab 17 : Rasa bersalah
18 Bab 18 : Terjebak
19 Bab 19 : Salah sangka
20 Bab 20 : Singa yang terbangun
21 Bab 21 : Pria yang misterius
22 Bab 22 : Emosi Hansen
23 Bab 23 : Dendam lama
24 Bab 24 : Kembali ke markas
25 Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26 Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27 Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28 Bab 28 : Menemui Zaskia
29 Bab 29 : Gerakan Scorpion
30 Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31 Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32 Bab 32 : Dion Raharja
33 Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34 Bab 34 : Pencarian kawan lama
35 Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36 Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37 Bab 37 : Serangan di gedung putih
38 Bab 38 : Ambil alih
39 Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40 Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41 Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42 Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43 Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44 Chapter 44 : Rencana Number
45 Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46 Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47 Chapter 47 : Shelter
48 Chapter 48 : Shelter 2
49 Chapter 49 : Shelter 3
50 Chapter 50 : Kabar berita
51 Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52 Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53 Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54 Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55 Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56 Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57 Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58 Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59 Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60 Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61 Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62 Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63 Chapter 63 : Zaskia Arista
64 Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65 Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66 Chapter 66 : Murka Mr W
67 Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68 Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69 Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70 Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71 Chapter 71 : Kedatangan Theo
72 Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73 Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74 Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75 Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76 Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77 Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78 Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79 Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80 Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81 Chapter 81 : Menemui Mr W
82 Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83 Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84 Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85 Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86 Chapter 86 : Mengejar Andini
87 Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88 Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89 Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90 Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91 Chapter 91 : Emosi yang meluap
92 chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93 chapter 93 : Hubungan masa lalu
94 chapter 94 - nasib savior eagle
95 chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96 Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97 Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98 Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99 Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100 Chapter 100 : Koridor
101 Chapter 101 : Ilmuan gila
102 Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103 Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104 Chapter 104 : Operasi lanjutan
105 Chapter 105 : Hasil operasi
106 Chapter 106 : Perseteruan
107 Chapter 107 : Dominasi Number
108 Chapter 108 : Identitas
109 Chapter 109 : Sampai di Shelter
110 Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111 Chapter 111 : Keputusan Hansen
112 Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113 Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114 Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115 Chapter 115 : Hampir terungkap
116 Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2
Bab 2 : Situasi yang mendesak
3
Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4
Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5
Bab 5 : Rencana Andini
6
Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7
Bab 7 : Kembali ke rumah
8
Bab 8 : Hari pertama bekerja
9
Bab 9 : Pembelaan Hansen
10
Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11
Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12
Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13
Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14
Bab 14 : Tertangkap basah
15
Bab 15 : Keputusan besar Andini
16
Bab 16 : Hati yang hancur
17
Bab 17 : Rasa bersalah
18
Bab 18 : Terjebak
19
Bab 19 : Salah sangka
20
Bab 20 : Singa yang terbangun
21
Bab 21 : Pria yang misterius
22
Bab 22 : Emosi Hansen
23
Bab 23 : Dendam lama
24
Bab 24 : Kembali ke markas
25
Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26
Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27
Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28
Bab 28 : Menemui Zaskia
29
Bab 29 : Gerakan Scorpion
30
Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31
Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32
Bab 32 : Dion Raharja
33
Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34
Bab 34 : Pencarian kawan lama
35
Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36
Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37
Bab 37 : Serangan di gedung putih
38
Bab 38 : Ambil alih
39
Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40
Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41
Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42
Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43
Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44
Chapter 44 : Rencana Number
45
Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46
Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47
Chapter 47 : Shelter
48
Chapter 48 : Shelter 2
49
Chapter 49 : Shelter 3
50
Chapter 50 : Kabar berita
51
Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52
Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53
Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54
Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55
Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56
Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57
Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58
Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59
Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60
Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61
Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62
Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63
Chapter 63 : Zaskia Arista
64
Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65
Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66
Chapter 66 : Murka Mr W
67
Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68
Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69
Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70
Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71
Chapter 71 : Kedatangan Theo
72
Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73
Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74
Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75
Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76
Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77
Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78
Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79
Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80
Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81
Chapter 81 : Menemui Mr W
82
Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83
Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84
Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85
Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86
Chapter 86 : Mengejar Andini
87
Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88
Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89
Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90
Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91
Chapter 91 : Emosi yang meluap
92
chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93
chapter 93 : Hubungan masa lalu
94
chapter 94 - nasib savior eagle
95
chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96
Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97
Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98
Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99
Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100
Chapter 100 : Koridor
101
Chapter 101 : Ilmuan gila
102
Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103
Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104
Chapter 104 : Operasi lanjutan
105
Chapter 105 : Hasil operasi
106
Chapter 106 : Perseteruan
107
Chapter 107 : Dominasi Number
108
Chapter 108 : Identitas
109
Chapter 109 : Sampai di Shelter
110
Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111
Chapter 111 : Keputusan Hansen
112
Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113
Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114
Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115
Chapter 115 : Hampir terungkap
116
Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!