Bab 5 : Rencana Andini

Saat Andini dan David sudah melangkah masuk ke dalam hotel, Hansen langsung menuju pintu masuk. Namun, keempat pria yang berjaga di depan pintu hotel segera melarangnya masuk. Salah satunya bertanya dengan suara tegas, "Siapa kau? Kenapa kau datang ke sini?"

Hansen menanggapi dengan wajah tenang, "Ada kenalanku yang menginap di sini, aku hanya ingin menemuinya."

"Kenalanmu?" pria itu menatap curiga.

"Iya, err… sepupu perempuanku dari kota sebelah sedang menginap di sini," Hansen mencoba memberikan alasan yang terdengar meyakinkan.

Setelah mendengar penjelasan Hansen, salah satu pria berjas hitam itu bersiul keras. Sepertinya itu adalah tanda, karena seketika itu juga beberapa orang suruhan David muncul dari berbagai penjuru, segera mengepung Hansen dengan tongkat besi di tangan mereka.

"Hei, hei, apa-apaan ini? Kenapa kalian mengepungku?" Hansen mengangkat kedua tangannya dengan sikap waspada, namun mencoba tetap tenang.

"Aku tak tahu siapa kau, tapi kami telah dibayar untuk menghajar siapa pun yang mencoba masuk. Dan karena kau adalah orang pertama yang mencoba masuk, kau harus terima nasib burukmu!" ujar pria berjas hitam itu dengan senyum mengejek, mata tajamnya menatap Hansen.

Hansen menghela napas dalam-dalam. "Ah, nasibku memang selalu buruk," gumamnya, merasa sedikit kesal.

Dia meregangkan tangan dan lehernya, lalu berpikir sejenak, "Padahal baru kemarin malam aku berjanji tak akan berkelahi lagi. Tapi, situasinya memaksa seperti ini…" Dengan cepat, Hansen memasang kuda-kuda, siap melawan.

"Baiklah, ayo maju kalian!" teriak Hansen dengan penuh percaya diri.

Serentak, para pria berjas hitam itu menyerang Hansen. Mereka menendang, memukul dengan tangan kosong, dan menghujani dengan pukulan tongkat besi. Namun, Hansen dengan lincah menghindari setiap serangan itu. Tubuhnya bergerak cepat, menghindari dan membalas setiap pukulan dengan presisi yang luar biasa.

Dalam sekejap, Hansen berhasil menghindari serangan demi serangan dan melancarkan serangan balasan. Pukulan keras dari Hansen tepat mengenai perut para pria itu satu per satu. Setiap pukulan membuat mereka terhuyung mundur, bahkan ada yang sampai terjatuh dan tak mampu bangkit lagi.

"Segini saja?" sindir Hansen dengan santai, melihat mereka yang sudah jatuh ke tanah. "David harusnya menyewa lebih banyak orang jika ingin menghadapiku."

Setelah mengalahkan para penjaga di luar, Hansen melangkah ke dalam hotel. Begitu masuk ke dalam lobi, dia melihat lebih banyak orang suruhan David bertebaran di sekitar hotel. Mereka semua bersiaga dengan gerakan waspada, memerhatikan setiap langkah Hansen.

"Oh, ternyata dia memang menyewa lebih banyak orang," gumam Hansen. Rasa penasaran dan sedikit kekesalan muncul dalam dirinya. Tanpa ragu, dia melanjutkan perjalanannya, siap menghadapi siapa saja yang berani menghalanginya.

Saat Hansen berjalan menuju tangga, dari kejauhan dia melihat David dan Andini sedang berjalan bersama ke arah lantai dua. Keduanya tampak begitu santai, seolah tidak ada masalah. Mereka berdua memasuki kamar di lantai tersebut. Hansen, yang merasa tidak suka dengan pemandangan itu, ingin berteriak memperingatkan Andini untuk tidak masuk ke dalam kamar, namun dirinya menyadari bahwa Andini malah melirik sekilas ke arahnya.

Meski pandangan mereka bertemu, Andini tetap tidak mengindahkan Hansen. Wanita itu malah melanjutkan langkahnya dan masuk begitu saja ke dalam kamar bersama David.

Hansen merasa bingung dan sedikit kesal. "Sebenarnya apa yang direncanakan oleh wanita itu?" gumamnya. "Kenapa dia justru masuk setelah melihatku? Apakah dia menyuruhku datang ke sini agar aku bisa melihatnya bermain dengan pria lain? Tapi, untuk apa?"

Hansen terus melangkah, tetap melawan setiap pria yang mencoba menghalangi jalannya. Setiap serangan dari mereka dihindari dengan gesit, dan setiap balasan yang diberikan semakin membuat lawan-lawan Hansen terjatuh tak berdaya.

Namun, tiba-tiba terdengar suara teriakan Andini yang memanggil namanya. "Tolong aku, Hansen!" teriaknya, suaranya terdengar penuh dengan ketakutan.

Hansen terkejut, mendengar seruan itu. "Dia yang masuk dengan sukarela tadi, kenapa sekarang meminta tolong?" pikir Hansen, merasa bingung dan sedikit kesal. "Lebih baik kubiarkan saja, agar dia kapok," bisiknya dalam hati. Namun, meskipun rasanya lebih mudah untuk membiarkannya, ada sesuatu yang menggerakkan hatinya. Rasa iba muncul begitu saja.

Tanpa berpikir panjang, Hansen menelan rasa lelahnya dan berlari menuju kamar di mana Andini berada. Di tengah-tengah perjalanannya, Hansen bisa merasakan detak jantungnya yang cepat dan napasnya yang terengah-engah, namun semangatnya tak bisa dipadamkan.

"Wooshhh!" Pintu kamar itu terbuka dengan keras saat Hansen menendangnya. Di dalam kamar, dia melihat Andini sedang terdesak di bawah cengkeraman tangan David, sementara dua pria berjas hitam memegangi lengan Andini dengan kasar.

"Lebaskan aku, David! Jika tidak…" teriak Andini, tubuhnya meronta, berusaha melepaskan diri.

David menatap Andini dengan senyum sinis. "Jika tidak apa? Kau ingin membatalkan perjanjian kita?" tanya David, menambahkan tekanan pada pergelangan tangan Andini yang sudah terikat erat.

"Batalkan saja kalau kau mau!" jawab Andini dengan suara penuh amarah. "Lagipula, perusahaanmu yang akan rugi. Kau tahu kan, mereka harus mengirimkan ratusan ribu unit perhiasan mutiara kelas atas kepada perusahaan ayahku. Kalau tidak, mereka harus mengganti rugi!" ujarnya dengan tegas.

David tertawa dingin. "Aku bisa menghapus kontrak itu kapan saja. Lagipula, aku juga memiliki hubungan dengan perusahaan lain yang bisa memasok mutiara kelas atas. Kau tinggal memilih, Andini. Hapus kontrak itu atau kau bisa membantuku mendapatkan pasokan mutiara kelas atas. Tentu saja, kau harus membayarnya dengan tubuhmu. Bagaimana, hm?" katanya sambil menyentuh wajah Andini dengan tangannya yang kasar.

Andini meludahi wajah David dengan penuh kekesalan. "Cuih!" serunya dengan jijik.

David terkejut, tetapi kemarahannya segera muncul. "Dasar tak tahu diuntung!" katanya sambil mengusap ludah itu dengan kasar dari wajahnya. "Beraninya kau meludahiku!"

Andini tetap menatapnya dengan penuh kebencian. "Terus terang saja, aku tidak punya niat untuk menuruti perjanjian ini sejak awal!" teriaknya dengan penuh tekad. "Aku hanya akan merebut kontrakmu ketika kau lengah!" katanya dengan suara keras.

David semakin marah. "Preteli pakaiannya!" teriaknya dengan suara bergetar penuh kebencian, dan perintah itu langsung diikuti oleh dua pria berjas hitam yang memegang Andini.

Tiba-tiba terdengar suara keras dari pintu yang dihajar dengan kasar. "Bruakk!!"

Pintu itu terbuka lebar, dan sosok yang muncul di ambang pintu adalah Hansen, wajahnya terengah-engah dan matanya menyala penuh tekad. "Apa kau baik-baik saja, Andini?" tanya Hansen dengan suara tegas, mengalihkan perhatian dari David yang kini terlihat semakin panik.

"Kau bodoh ya? Apa aku terlihat seperti baik-baik saja?" seru Andini dengan marah, wajahnya penuh dengan amarah dan ketakutan.

David terkejut, matanya melebar. "Mustahil… Kau mengalahkan semua tentara bayaran yang aku sewa?" ucap David dengan nada yang hampir tak percaya.

Hansen mengangkat alisnya. "Oh, yang tadi itu tentara bayaran?" tanyanya, menyeringai. "Lain kali, sewalah tentara bayaran yang lebih profesional."

David semakin panik. "Ce-cepat habisi dia!" teriaknya, menunjuk ke arah Hansen.

Terpopuler

Comments

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

good job thor lanjutkan

2022-08-24

0

Arif Widia

Arif Widia

ANDINI MENTANG "BANYAK UANG ,NGK MENGGARGAI LAKI " YG JADI SUAMIMU, WALAU SEBATAS KONTRAK, BENTAR LAGI BUCIN,KLAU NGK MLAH DI AMBIL WANITA LAIN

2022-07-07

1

Santoso Zha

Santoso Zha

oke

2022-07-06

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2 Bab 2 : Situasi yang mendesak
3 Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4 Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5 Bab 5 : Rencana Andini
6 Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7 Bab 7 : Kembali ke rumah
8 Bab 8 : Hari pertama bekerja
9 Bab 9 : Pembelaan Hansen
10 Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11 Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12 Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13 Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14 Bab 14 : Tertangkap basah
15 Bab 15 : Keputusan besar Andini
16 Bab 16 : Hati yang hancur
17 Bab 17 : Rasa bersalah
18 Bab 18 : Terjebak
19 Bab 19 : Salah sangka
20 Bab 20 : Singa yang terbangun
21 Bab 21 : Pria yang misterius
22 Bab 22 : Emosi Hansen
23 Bab 23 : Dendam lama
24 Bab 24 : Kembali ke markas
25 Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26 Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27 Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28 Bab 28 : Menemui Zaskia
29 Bab 29 : Gerakan Scorpion
30 Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31 Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32 Bab 32 : Dion Raharja
33 Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34 Bab 34 : Pencarian kawan lama
35 Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36 Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37 Bab 37 : Serangan di gedung putih
38 Bab 38 : Ambil alih
39 Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40 Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41 Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42 Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43 Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44 Chapter 44 : Rencana Number
45 Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46 Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47 Chapter 47 : Shelter
48 Chapter 48 : Shelter 2
49 Chapter 49 : Shelter 3
50 Chapter 50 : Kabar berita
51 Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52 Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53 Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54 Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55 Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56 Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57 Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58 Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59 Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60 Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61 Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62 Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63 Chapter 63 : Zaskia Arista
64 Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65 Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66 Chapter 66 : Murka Mr W
67 Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68 Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69 Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70 Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71 Chapter 71 : Kedatangan Theo
72 Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73 Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74 Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75 Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76 Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77 Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78 Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79 Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80 Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81 Chapter 81 : Menemui Mr W
82 Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83 Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84 Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85 Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86 Chapter 86 : Mengejar Andini
87 Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88 Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89 Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90 Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91 Chapter 91 : Emosi yang meluap
92 chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93 chapter 93 : Hubungan masa lalu
94 chapter 94 - nasib savior eagle
95 chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96 Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97 Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98 Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99 Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100 Chapter 100 : Koridor
101 Chapter 101 : Ilmuan gila
102 Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103 Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104 Chapter 104 : Operasi lanjutan
105 Chapter 105 : Hasil operasi
106 Chapter 106 : Perseteruan
107 Chapter 107 : Dominasi Number
108 Chapter 108 : Identitas
109 Chapter 109 : Sampai di Shelter
110 Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111 Chapter 111 : Keputusan Hansen
112 Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113 Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114 Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115 Chapter 115 : Hampir terungkap
116 Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2
Bab 2 : Situasi yang mendesak
3
Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4
Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5
Bab 5 : Rencana Andini
6
Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7
Bab 7 : Kembali ke rumah
8
Bab 8 : Hari pertama bekerja
9
Bab 9 : Pembelaan Hansen
10
Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11
Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12
Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13
Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14
Bab 14 : Tertangkap basah
15
Bab 15 : Keputusan besar Andini
16
Bab 16 : Hati yang hancur
17
Bab 17 : Rasa bersalah
18
Bab 18 : Terjebak
19
Bab 19 : Salah sangka
20
Bab 20 : Singa yang terbangun
21
Bab 21 : Pria yang misterius
22
Bab 22 : Emosi Hansen
23
Bab 23 : Dendam lama
24
Bab 24 : Kembali ke markas
25
Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26
Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27
Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28
Bab 28 : Menemui Zaskia
29
Bab 29 : Gerakan Scorpion
30
Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31
Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32
Bab 32 : Dion Raharja
33
Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34
Bab 34 : Pencarian kawan lama
35
Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36
Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37
Bab 37 : Serangan di gedung putih
38
Bab 38 : Ambil alih
39
Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40
Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41
Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42
Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43
Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44
Chapter 44 : Rencana Number
45
Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46
Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47
Chapter 47 : Shelter
48
Chapter 48 : Shelter 2
49
Chapter 49 : Shelter 3
50
Chapter 50 : Kabar berita
51
Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52
Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53
Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54
Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55
Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56
Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57
Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58
Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59
Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60
Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61
Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62
Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63
Chapter 63 : Zaskia Arista
64
Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65
Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66
Chapter 66 : Murka Mr W
67
Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68
Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69
Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70
Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71
Chapter 71 : Kedatangan Theo
72
Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73
Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74
Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75
Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76
Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77
Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78
Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79
Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80
Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81
Chapter 81 : Menemui Mr W
82
Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83
Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84
Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85
Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86
Chapter 86 : Mengejar Andini
87
Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88
Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89
Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90
Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91
Chapter 91 : Emosi yang meluap
92
chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93
chapter 93 : Hubungan masa lalu
94
chapter 94 - nasib savior eagle
95
chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96
Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97
Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98
Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99
Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100
Chapter 100 : Koridor
101
Chapter 101 : Ilmuan gila
102
Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103
Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104
Chapter 104 : Operasi lanjutan
105
Chapter 105 : Hasil operasi
106
Chapter 106 : Perseteruan
107
Chapter 107 : Dominasi Number
108
Chapter 108 : Identitas
109
Chapter 109 : Sampai di Shelter
110
Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111
Chapter 111 : Keputusan Hansen
112
Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113
Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114
Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115
Chapter 115 : Hampir terungkap
116
Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!