" ... " gadis yang menjadi pelanggan pertama Hansen nampak sedih dan putus asa. Dia terus melamun dan menutup mulutnya meski menyadari keberadaan Hansen.
"Maaf karena sudah meninggalkanmu tanpa mengatakan apapun," Hansen mengangkat suaranya sembari menawarkan genggaman tangannya.
"Ah, kau seharusnya tak kembali kemari. Aku tak mempermasalahkan hal itu," gadis itu mengangkat suaranya dengan lemas.
Sadar bahwa cara biasa tak dapat membujuk pelanggannya pergi, Hansen segera terpikirkan hal yang tak sesuai dengan kepribadiannya. Tanpa berpikir terlalu lama, dia segera membalas ucapan gadis malang itu dengan berkata, "Aku tak terbiasa untuk melakukan pekerjaan yang setengah setengah. Pekerjaanku malam ini adalah mengantar nona pulang ke rumah nona. Jadi ... ,"
"Sudah kubilang, aku tak apa dengan itu!"
"Tinggalkan saja aku sendiri disini!" bentak gadis itu kesal.
"Nona mungkin tak masalah dengan semua ini, tapi ini akan menjadi masalah buruk bagiku. Lagipula anda belum memberiku uang tip ... ," ucap Hansen sembari tersenyum palsu. 'Bukan gayaku untuk memeras uang seseorang yang sedang kesulitan, tapi jika aku tak mengatakan hal ini, aku takut dia terlantar disini. Bagaimanapun berdiam diri diluar rumah di waktu selarut ini, tidak baik bagi gadis seusianya,'
'Tip?'
'Ah benar juga, meski aku sudah membayar lebih awal pada pihak pengelola departemen, aku belum membayarkan uang tip untuknya.'
'Bukan gayaku untuk melanggar janji yang telah kubuat, seingatku aku memiliki uang di ... ,' gadis itu merogoh saku celananya, dan mendapati bahwa dompetnya telah menghilang. 'Mustahil, apakah dompetku terjatuh saat berlarian tadi?' gadis itu merogoh seluruh sudut tas miliknya, namun tak dapat menemukan apa yang dia cari. "Cih ... !"
"Apa ada masalah nona?" tanya Hansen sembari tersenyum.
"A ... anu, sepertinya dompetku telah terjatuh, jadi ... ," belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Hansen menyela pembicaraan dengan berkata, "Jadi, apakah anda tak akan membayar tipnya?"
"Bu ... bukan begitu, aku pasti akan membayarnya. Tapi tidak sekarang, karena aku tak memiliki uang tunai sedikitpun," gadis itu nampak panik dan merasa tidak enak terhadap Hansen.
"Aku bisa mengantar Nona pulang ke rumah nona, dan menerima pembayaran saat sudah disana, lagipula pekerjaan saya sebagai designated driver nona belum sepenuhnya selesai, jadi bisakah kita pergi sekarang?" tanya Hansen sembari mempersilahkan pelanggannya berjalan duluan.
" ... " gadis itu tak punya pilihan selain setuju terhadap ucapan Hansen, dia segera pergi bersama Hansen tanpa membantah lagi. Tentunya sebelum berada di dekat pintu masuk, Hansen kembali berpapasan dengan Herry Wijaya. Meskipun dia tak ingin berpapasan dengannya lagi, karena hanya ada satu pintu keluar maka dia tak punya pilihan lain. Untungnya, kali ini Herry Wijaya hanya bermain mata dengan Hansen dan gadis yang dia campakkan. Dalam tatapannya terlihat jelas bahwa dia sedang ingin mengejek ketidakberuntungan mereka. Berbeda dengan Hansen yang kembali menatap Herry Wijaya dengan tatapan sinis, gadis dihadapan Hansen malah memalingkan muka dengan wajah putus asa, dan segera mempercepat langkahnya.
'Sampah!' Hansen dan Herry Wijaya saling bertatapan dan memikirkan hal yang sama.
" ... "
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Hansen segera menancap gas dan pergi menuju alamat yang diberitahukan gadis tersebut.
Suasana mobil tentunya sangat senyap, Hansen memang tak suka ikut campur urusan pribadi orang lain, namun mengingat gadis itu dikecewakan oleh pria yang dikencani istrinya dia tak dapat menahan diri dan terus berpikir, 'Apa sih bagusnya pria itu, hingga sanggup membuatnya sefrustasi ini!' kecemburuan yang tak terkendali terlihat jelas di wajahnya.
"Akan baik bagi nona jika nona melupakan pria sepertinya. Jangan ditangisi, atau dia akan merasa senang akan penderitaan nona. Masa depan nona tidaklah terbatas, jangan sampai semua itu hancur hanya karena seorang baj*ingan sepertinya," ucap Hansen sembari menahan diri agar tak terlihat sedang sangat kesal.
"Terimakasih atas sarannya," ucap gadis itu pelan.
" ... " Hansen tak dapat membantu selain membiarkan semuanya berjalan dengan sendirinya. Perlu waktu bagi gadis itu melupakan kejadian malangnya, dan dia paham betul akan hal tersebut. Dia memang ingin menolong gadis tersebut, tapi masalahnya sendiri sudah terlalu banyak. Karena itu, dia memutuskan untuk tidak terlalu ikut campur dan membiarkan gadis itu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Sesampainya di rumah, gadis itu segera disambut kedua orang tuanya yang nampak khawatir akan anak gadis mereka. Tanpa mengurangi rasa hormat, Hansen menatap mereka dari balik kaca mobilnya dengan tersenyum. 'Kuharap keluarga gadis itu dapat mengurangi semua duka-nya,'
"Aku hanya bisa membantumu sampai sini, nona," Hansen segera pergi tanpa menunggu gadis itu memberinya uang tip.
Sadar bahwa mobil yang mengantarnya pergi begitu saja, gadis itu segera berbalik dan mendapati mobil Hansen sudah berada di luar jangkauannya. 'Bukankah pria itu bilang kalau dia memerlukan uang tip?'
'Kenapa dia pergi begitu saja?' segera setelah itu, gadis tersebut pun menyadari bahwa Hansen mengantarnya bukan untuk uang tip. Sembari tersenyum haru menatap mobil Hansen di kejauhan, gadis itu pun berkata, "Terimakasih,"
" ... "
Setelah selesai bekerja, Hansen segera pulang ke rumahnya dan mendapati bahwa lampu kamar Andini masih dalam keadaan menyala. Karena memiliki banyak pertanyaan terhadap keputusan Andini, Hansen segera mengetuk pintu dan berkata, "Apakah kau belum tidur?"
" ... " Andini membuka pintu kamarnya dan berkata, "Kenapa kau mengetuk pintu kamarku di jam selarut ini," Andini memasang wajah kesal saat bertatapan dengan Hansen.
"Aku hanya ingin memastikan satu hal denganmu, apakah benar jika pernikahan kita sama sekali tak tertolong?"
"Jika benar, mengapa?"
"Aku tahu bahwa sejak awal hubungan kita didasarkan oleh sebuah kepalsuan. Tapi bukan berarti bahwa kau bisa memperlakukanku dengan seburuk ini ... ,"
"Jujur saja, aku tak terima jika kau pergi bersama pria lain. Bisakah kau katakan dengan jelas, apa alasanmu melakukan ini kepadaku?" tanya Hansen dengan serius dan nampak hancur.
"Herry Wijaya adalah seorang pembisnis sukses yang telah mencapai ranah internasional, jika dibandingkan denganmu yang sekarang, kau hanyalah seekor semut. Sedangkan Herry Wijaya bagaikan burung Phoenix yang dapat terus berkembang hanya dengan mengepakkan sayapnya," ucap Andini dengan tenang.
"Bagaimana jika aku juga bisa menjadi seekor phoenix?" tanya Hansen dengan penuh harap.
"Bermimpi memang boleh, tapi jangan terlalu tinggi. Menyadari batasan dari diri sendiri juga sebuah kepandaian, jadi jangan terlalu memaksakan dirimu," Andini segera menutup pintunya setelah selesai mengatakan apa yang dia mau ucapkan. Hansen hanya terdiam terpaku sembari menatap pintu kamar Andini dengan hati yang hancur dan begitu kesal, 'Menyadari batasan diri katanya!' "Cih!" Hansen merasa sangat kacau dan segera pergi menuju kamarnya. Dia berbaring dengan perasaan kacau dan tak dapat tidur dengan tenang semalaman karena terus terpikirkan apa yang Andini katakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Baso imran
wow.... penasaran... pengen cepat selesai ngebacanya.
2023-09-26
0
Muhammad Latif
laki2 bodoh. gk punya hrga diri ente bro.. y tinggl kn aj istri kyk gt. harga diri laki2 hrs bs km jaga dgn baik bro
2022-12-13
0
Agustina Mose
kalau demikian terus terangsaja pada andini
2022-09-04
0