Bab 16 : Hati yang hancur

" ... " gadis yang menjadi pelanggan pertama Hansen nampak sedih dan putus asa. Dia terus melamun dan menutup mulutnya meski menyadari keberadaan Hansen.

"Maaf karena sudah meninggalkanmu tanpa mengatakan apapun," Hansen mengangkat suaranya sembari menawarkan genggaman tangannya.

"Ah, kau seharusnya tak kembali kemari. Aku tak mempermasalahkan hal itu," gadis itu mengangkat suaranya dengan lemas.

Sadar bahwa cara biasa tak dapat membujuk pelanggannya pergi, Hansen segera terpikirkan hal yang tak sesuai dengan kepribadiannya. Tanpa berpikir terlalu lama, dia segera membalas ucapan gadis malang itu dengan berkata, "Aku tak terbiasa untuk melakukan pekerjaan yang setengah setengah. Pekerjaanku malam ini adalah mengantar nona pulang ke rumah nona. Jadi ... ,"

"Sudah kubilang, aku tak apa dengan itu!"

"Tinggalkan saja aku sendiri disini!" bentak gadis itu kesal.

"Nona mungkin tak masalah dengan semua ini, tapi ini akan menjadi masalah buruk bagiku. Lagipula anda belum memberiku uang tip ... ," ucap Hansen sembari tersenyum palsu. 'Bukan gayaku untuk memeras uang seseorang yang sedang kesulitan, tapi jika aku tak mengatakan hal ini, aku takut dia terlantar disini. Bagaimanapun berdiam diri diluar rumah di waktu selarut ini, tidak baik bagi gadis seusianya,'

'Tip?'

'Ah benar juga, meski aku sudah membayar lebih awal pada pihak pengelola departemen, aku belum membayarkan uang tip untuknya.'

'Bukan gayaku untuk melanggar janji yang telah kubuat, seingatku aku memiliki uang di ... ,' gadis itu merogoh saku celananya, dan mendapati bahwa dompetnya telah menghilang. 'Mustahil, apakah dompetku terjatuh saat berlarian tadi?' gadis itu merogoh seluruh sudut tas miliknya, namun tak dapat menemukan apa yang dia cari. "Cih ... !"

"Apa ada masalah nona?" tanya Hansen sembari tersenyum.

"A ... anu, sepertinya dompetku telah terjatuh, jadi ... ," belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Hansen menyela pembicaraan dengan berkata, "Jadi, apakah anda tak akan membayar tipnya?"

"Bu ... bukan begitu, aku pasti akan membayarnya. Tapi tidak sekarang, karena aku tak memiliki uang tunai sedikitpun," gadis itu nampak panik dan merasa tidak enak terhadap Hansen.

"Aku bisa mengantar Nona pulang ke rumah nona, dan menerima pembayaran saat sudah disana, lagipula pekerjaan saya sebagai designated driver nona belum sepenuhnya selesai, jadi bisakah kita pergi sekarang?" tanya Hansen sembari mempersilahkan pelanggannya berjalan duluan.

" ... " gadis itu tak punya pilihan selain setuju terhadap ucapan Hansen, dia segera pergi bersama Hansen tanpa membantah lagi. Tentunya sebelum berada di dekat pintu masuk, Hansen kembali berpapasan dengan Herry Wijaya. Meskipun dia tak ingin berpapasan dengannya lagi, karena hanya ada satu pintu keluar maka dia tak punya pilihan lain. Untungnya, kali ini Herry Wijaya hanya bermain mata dengan Hansen dan gadis yang dia campakkan. Dalam tatapannya terlihat jelas bahwa dia sedang ingin mengejek ketidakberuntungan mereka. Berbeda dengan Hansen yang kembali menatap Herry Wijaya dengan tatapan sinis, gadis dihadapan Hansen malah memalingkan muka dengan wajah putus asa, dan segera mempercepat langkahnya.

'Sampah!' Hansen dan Herry Wijaya saling bertatapan dan memikirkan hal yang sama.

" ... "

Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Hansen segera menancap gas dan pergi menuju alamat yang diberitahukan gadis tersebut.

Suasana mobil tentunya sangat senyap, Hansen memang tak suka ikut campur urusan pribadi orang lain, namun mengingat gadis itu dikecewakan oleh pria yang dikencani istrinya dia tak dapat menahan diri dan terus berpikir, 'Apa sih bagusnya pria itu, hingga sanggup membuatnya sefrustasi ini!' kecemburuan yang tak terkendali terlihat jelas di wajahnya.

"Akan baik bagi nona jika nona melupakan pria sepertinya. Jangan ditangisi, atau dia akan merasa senang akan penderitaan nona. Masa depan nona tidaklah terbatas, jangan sampai semua itu hancur hanya karena seorang baj*ingan sepertinya," ucap Hansen sembari menahan diri agar tak terlihat sedang sangat kesal.

"Terimakasih atas sarannya," ucap gadis itu pelan.

" ... " Hansen tak dapat membantu selain membiarkan semuanya berjalan dengan sendirinya. Perlu waktu bagi gadis itu melupakan kejadian malangnya, dan dia paham betul akan hal tersebut. Dia memang ingin menolong gadis tersebut, tapi masalahnya sendiri sudah terlalu banyak. Karena itu, dia memutuskan untuk tidak terlalu ikut campur dan membiarkan gadis itu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Sesampainya di rumah, gadis itu segera disambut kedua orang tuanya yang nampak khawatir akan anak gadis mereka. Tanpa mengurangi rasa hormat, Hansen menatap mereka dari balik kaca mobilnya dengan tersenyum. 'Kuharap keluarga gadis itu dapat mengurangi semua duka-nya,'

"Aku hanya bisa membantumu sampai sini, nona," Hansen segera pergi tanpa menunggu gadis itu memberinya uang tip.

Sadar bahwa mobil yang mengantarnya pergi begitu saja, gadis itu segera berbalik dan mendapati mobil Hansen sudah berada di luar jangkauannya. 'Bukankah pria itu bilang kalau dia memerlukan uang tip?'

'Kenapa dia pergi begitu saja?' segera setelah itu, gadis tersebut pun menyadari bahwa Hansen mengantarnya bukan untuk uang tip. Sembari tersenyum haru menatap mobil Hansen di kejauhan, gadis itu pun berkata, "Terimakasih,"

" ... "

Setelah selesai bekerja, Hansen segera pulang ke rumahnya dan mendapati bahwa lampu kamar Andini masih dalam keadaan menyala. Karena memiliki banyak pertanyaan terhadap keputusan Andini, Hansen segera mengetuk pintu dan berkata, "Apakah kau belum tidur?"

" ... " Andini membuka pintu kamarnya dan berkata, "Kenapa kau mengetuk pintu kamarku di jam selarut ini," Andini memasang wajah kesal saat bertatapan dengan Hansen.

"Aku hanya ingin memastikan satu hal denganmu, apakah benar jika pernikahan kita sama sekali tak tertolong?"

"Jika benar, mengapa?"

"Aku tahu bahwa sejak awal hubungan kita didasarkan oleh sebuah kepalsuan. Tapi bukan berarti bahwa kau bisa memperlakukanku dengan seburuk ini ... ,"

"Jujur saja, aku tak terima jika kau pergi bersama pria lain. Bisakah kau katakan dengan jelas, apa alasanmu melakukan ini kepadaku?" tanya Hansen dengan serius dan nampak hancur.

"Herry Wijaya adalah seorang pembisnis sukses yang telah mencapai ranah internasional, jika dibandingkan denganmu yang sekarang, kau hanyalah seekor semut. Sedangkan Herry Wijaya bagaikan burung Phoenix yang dapat terus berkembang hanya dengan mengepakkan sayapnya," ucap Andini dengan tenang.

"Bagaimana jika aku juga bisa menjadi seekor phoenix?" tanya Hansen dengan penuh harap.

"Bermimpi memang boleh, tapi jangan terlalu tinggi. Menyadari batasan dari diri sendiri juga sebuah kepandaian, jadi jangan terlalu memaksakan dirimu," Andini segera menutup pintunya setelah selesai mengatakan apa yang dia mau ucapkan. Hansen hanya terdiam terpaku sembari menatap pintu kamar Andini dengan hati yang hancur dan begitu kesal, 'Menyadari batasan diri katanya!' "Cih!" Hansen merasa sangat kacau dan segera pergi menuju kamarnya. Dia berbaring dengan perasaan kacau dan tak dapat tidur dengan tenang semalaman karena terus terpikirkan apa yang Andini katakan.

Terpopuler

Comments

Baso imran

Baso imran

wow.... penasaran... pengen cepat selesai ngebacanya.

2023-09-26

0

Muhammad Latif

Muhammad Latif

laki2 bodoh. gk punya hrga diri ente bro.. y tinggl kn aj istri kyk gt. harga diri laki2 hrs bs km jaga dgn baik bro

2022-12-13

0

Agustina Mose

Agustina Mose

kalau demikian terus terangsaja pada andini

2022-09-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2 Bab 2 : Situasi yang mendesak
3 Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4 Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5 Bab 5 : Rencana Andini
6 Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7 Bab 7 : Kembali ke rumah
8 Bab 8 : Hari pertama bekerja
9 Bab 9 : Pembelaan Hansen
10 Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11 Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12 Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13 Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14 Bab 14 : Tertangkap basah
15 Bab 15 : Keputusan besar Andini
16 Bab 16 : Hati yang hancur
17 Bab 17 : Rasa bersalah
18 Bab 18 : Terjebak
19 Bab 19 : Salah sangka
20 Bab 20 : Singa yang terbangun
21 Bab 21 : Pria yang misterius
22 Bab 22 : Emosi Hansen
23 Bab 23 : Dendam lama
24 Bab 24 : Kembali ke markas
25 Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26 Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27 Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28 Bab 28 : Menemui Zaskia
29 Bab 29 : Gerakan Scorpion
30 Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31 Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32 Bab 32 : Dion Raharja
33 Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34 Bab 34 : Pencarian kawan lama
35 Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36 Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37 Bab 37 : Serangan di gedung putih
38 Bab 38 : Ambil alih
39 Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40 Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41 Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42 Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43 Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44 Chapter 44 : Rencana Number
45 Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46 Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47 Chapter 47 : Shelter
48 Chapter 48 : Shelter 2
49 Chapter 49 : Shelter 3
50 Chapter 50 : Kabar berita
51 Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52 Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53 Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54 Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55 Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56 Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57 Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58 Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59 Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60 Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61 Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62 Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63 Chapter 63 : Zaskia Arista
64 Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65 Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66 Chapter 66 : Murka Mr W
67 Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68 Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69 Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70 Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71 Chapter 71 : Kedatangan Theo
72 Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73 Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74 Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75 Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76 Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77 Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78 Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79 Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80 Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81 Chapter 81 : Menemui Mr W
82 Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83 Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84 Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85 Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86 Chapter 86 : Mengejar Andini
87 Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88 Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89 Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90 Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91 Chapter 91 : Emosi yang meluap
92 chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93 chapter 93 : Hubungan masa lalu
94 chapter 94 - nasib savior eagle
95 chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96 Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97 Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98 Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99 Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100 Chapter 100 : Koridor
101 Chapter 101 : Ilmuan gila
102 Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103 Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104 Chapter 104 : Operasi lanjutan
105 Chapter 105 : Hasil operasi
106 Chapter 106 : Perseteruan
107 Chapter 107 : Dominasi Number
108 Chapter 108 : Identitas
109 Chapter 109 : Sampai di Shelter
110 Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111 Chapter 111 : Keputusan Hansen
112 Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113 Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114 Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115 Chapter 115 : Hampir terungkap
116 Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2
Bab 2 : Situasi yang mendesak
3
Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4
Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5
Bab 5 : Rencana Andini
6
Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7
Bab 7 : Kembali ke rumah
8
Bab 8 : Hari pertama bekerja
9
Bab 9 : Pembelaan Hansen
10
Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11
Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12
Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13
Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14
Bab 14 : Tertangkap basah
15
Bab 15 : Keputusan besar Andini
16
Bab 16 : Hati yang hancur
17
Bab 17 : Rasa bersalah
18
Bab 18 : Terjebak
19
Bab 19 : Salah sangka
20
Bab 20 : Singa yang terbangun
21
Bab 21 : Pria yang misterius
22
Bab 22 : Emosi Hansen
23
Bab 23 : Dendam lama
24
Bab 24 : Kembali ke markas
25
Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26
Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27
Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28
Bab 28 : Menemui Zaskia
29
Bab 29 : Gerakan Scorpion
30
Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31
Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32
Bab 32 : Dion Raharja
33
Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34
Bab 34 : Pencarian kawan lama
35
Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36
Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37
Bab 37 : Serangan di gedung putih
38
Bab 38 : Ambil alih
39
Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40
Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41
Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42
Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43
Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44
Chapter 44 : Rencana Number
45
Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46
Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47
Chapter 47 : Shelter
48
Chapter 48 : Shelter 2
49
Chapter 49 : Shelter 3
50
Chapter 50 : Kabar berita
51
Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52
Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53
Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54
Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55
Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56
Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57
Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58
Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59
Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60
Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61
Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62
Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63
Chapter 63 : Zaskia Arista
64
Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65
Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66
Chapter 66 : Murka Mr W
67
Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68
Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69
Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70
Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71
Chapter 71 : Kedatangan Theo
72
Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73
Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74
Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75
Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76
Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77
Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78
Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79
Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80
Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81
Chapter 81 : Menemui Mr W
82
Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83
Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84
Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85
Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86
Chapter 86 : Mengejar Andini
87
Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88
Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89
Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90
Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91
Chapter 91 : Emosi yang meluap
92
chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93
chapter 93 : Hubungan masa lalu
94
chapter 94 - nasib savior eagle
95
chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96
Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97
Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98
Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99
Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100
Chapter 100 : Koridor
101
Chapter 101 : Ilmuan gila
102
Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103
Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104
Chapter 104 : Operasi lanjutan
105
Chapter 105 : Hasil operasi
106
Chapter 106 : Perseteruan
107
Chapter 107 : Dominasi Number
108
Chapter 108 : Identitas
109
Chapter 109 : Sampai di Shelter
110
Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111
Chapter 111 : Keputusan Hansen
112
Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113
Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114
Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115
Chapter 115 : Hampir terungkap
116
Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!