" ... " Andini terdiam sembari berbaring di atas ranjangnya. Dalam diam dan sunyinya malam, andi merenungkan diri sembari mengingat saat saat dimana Hansen Pratama membantunya menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan David Hermanto. Dia mengingat betapa hebat dan lihainya Hansen saat mengatasi situasi kritis yang dia alami. Setelah mengingat jasa jasa Hansen akan dirinya, Andini kembali merenungkan apa yang telah dia lakukan terhadap suaminya itu. Sembari mengingat wajah putus asa Hansen dia pun kembali termenung, 'Apakah aku sudah keterlaluan?'
keesokan harinya, setelah mandi untuk membersihkan diri, Andini segera pergi menuju kamar Hansen dengan ragu ragu. Setelah mengetuk pintu kamarnya andini menarik napas begitu dalam dan berkata, "Bo ... bolehkah aku masuk?"
" ... " Andini terdiam diluar pintu sembari menunggu jawaban Hansen. Sayangnya selama lebih dari sepuluh menit dia menunggu, tak ada respon sedikitpun dari dalam kamar Hansen. 'Apakah dia telah pergi bekerja?' Andini hendak membuka pintu kamar Hansen untuk memastikan, namun Amelia Wisnu memanggilnya dari belakang dengan berkata, "Apakah kakak mencari pria tak berguna itu?"
"Dia sudah pergi sejak pagi."
"Ah, begitu ya ... ," Andini segera mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamar Hansen.
"Ngomong ngomong kenapa kakak berinisiatif ke kamarnya di waktu sepagi ini?" tanya Amelia Wisnu heran.
"Bu ... bukan apa apa, aku hanya ingin membicarakan beberapa hal pribadi dengannya, hehe," Andini menutupi niatnya untuk meminta maaf karena tak ingin harga dirinya jatuh dihadapan Amelia Wisnu. Gengsinya yang tinggi membuatnya ingin mengubur pemikirannya untuk dirinya sendiri.
"Kenapa kau berkeringat dan nampak panik begitu?"
"Apakah kakak mencoba menyembunyikan rahasia dariku lagi?" tanya Amelia Wisnu heran.
"Ti ... tidak ada rahasia kok!" Andini nampak tegang dan berkeringat.
" Hmmm ," Amelia Wisnu merasa curiga.
"Lu ... lupakan soal itu!"
"Seharusnya aku yang bertanya disini!" Andini berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Bertanya soal apa?" tanya Amelia Wisnu heran.
"Kenapa kau meninggalkanku begitu saja kemarin malam," Andini memasang tampang kesal dan penuh emosi.
Sadar akan kesalahannya, Amelia Wisnu segera merubah ekspresi herannya menjadi ekspresi panik. Strategi Andini untuk mengganti topik pembicaraanpun sukses besar.
" I ... itu ... ,"
" Sebenarnya aku telah berjanji untuk berkencan dengan pacarku kemarin, tapi aku melupakannya karena terlalu bersemangat akan urusan kakak. Yah kakak kan tahu kalau aku sangat membenci pria tak berguna itu, bagaimana mungkin aku melepaskan kesempatan untuk memisahkan kalian,"
"Andai saja pacarku tak mengancam akan memutuskanku, aku pasti akan terus disana dan memberi pria yang tak tahu malu itu pelajaran!" Amelia Wisnu mengepal kedua lengannya dengan kesal.
"Pria yang tak tahu malu?"
"Apakah yang kau maksud Hansen?" tanya Andini Heran.
"Memangnya siapa lagi?"
"Lihatlah lenganku ini, bekas luka akibat dorongan kasar darinya pun masih membekas dengan jelas," Amelia Wisnu menunjukkan luka lebam di lengan kanannya.
"Jadi kau tahu kalau Hansen ada disana dan membiarkannya lolos begitu saja?"
"Bukannya membayar orang untuk menahannya, kau malah membiarkan dia masuk dan mengacaukan rencana kita?" Andini nampak kesal sembari mengepalkan kedua tangannya. Berjalan mendekati Amelia Wisnu hingga menakuti dirinya.
"A ... aku bisa jelaskan itu kak ... ,"
"Sungguh aku tak bermaksud mengacaukan rencananya, hanya saja situasinya begitu mendesak bagiku. Lagipula bukankah bagus bagi kakak jika Hansen mengetahui kencan kalian?"
"Pria tak berguna itu pasti akan mulai berpikir akan ketidaklayakannya dan tak menutup kemungkinan dia juga akan terpikirkan untuk mundur dari hubungan ini,"
"Yah itu pun jika dia sadar diri dan paham apa itu langit," Amelia Wisnu berjalan mundur sembari menghina Hansen untuk mengalihkan emosi Andini. Sayangnya hal tersebut tak berhasil, Andini terus berjalan mendekat dengan penuh emosi dan langsung menampar wajah Amelia Wisnu yang terus menghina Hansen.
Plakk!!! telapak tangan Andini membekas di wajah Amelia Wisnu.
'A ... apa yang ... ?'
"Kenapa kakak menamparku?" tanya Amelia Wisnu dengan terbelalak. Dia begitu terkejut akan tindakan Andini yang berada diluar dugaannya.
"Berhentilah menghina Hansen, walau bagaimana pun dia masih kakak iparmu!" Andini tak dapat mengontrol emosinya saat itu.
"Ka ... kakak ipar?"
"Jadi kakak menamparku demi pria itu?" Amelia Wisnu nampak terkejut dan begitu syok.
"A ... aku tak bermaksud untuk menamparmu, sungguh ... !" Andini nampak gemetar setelah menyadari tindakannya.
"Ini adalah pertama kalinya kakak menamparku, dan itu hanya demi membela pria payah itu. Ja ... jangan bilang kalau kakak sudah mulai menyukainya," Amelia nampak sedikit berkaca kaca seakan mau menangis.
"I ... itu tidak benar!"
"Aku hanya menyukai Herry Wijaya, dan kau tahu benar akan hal itu kan?" tanya Andini sembari mencoba meyakinkan Adiknya.
"Meski aku ingin mempercayai kakak, namun entah mengapa hati ini merasa sangat ragu."
"Sebelum perasaan kakak menjadi sulit untuk dikendalikan, hubungan palsu ini harus segera diakhiri!"
"Ya ... ini harus segera diakhiri!" Amelia Wisnu memegang bekas tamparan Andini dengan mata yang berkaca kaca. Hatinya terasa begitu hancur saat itu, karena merasa bahwa kakak tersayangnya sudah mulai tidak menyayanginya lagi.
" ... " Andini tak bisa melakukan apa apa, selain mencoba mendekat dan mengobati luka adiknya. Sayangnya Amelia Wisnu tak membiarkan hal tersebut. Dengan air mata yang mulai menetes di wajahnya, dia terus melangkah mundur dan berkata, "Aku tahu kalau kakak sudah berniat untuk menceraikannya kemarin malam, tapi sayangnya pria itu menolak untuk bercerai hingga merobek surat cerai yang kakak berikan."
"Sebelum pikiran kakak untuk bercerai menghilang, aku berjanji akan memikirkan cara untuk membuat pria itu berinisiatif menceraikan kakak. Aku berjanji!" Amelia Wisnu membalikkan badannya lalu pergi meninggalkan Andini dengan tangis di wajahnya.
Andini ingin mengejar Amelia Wisnu untuk menghiburnya, namun karena memiliki sebuah janji untuk meeting dengan seorang klien, dia pun membatalkan niatnya. 'Maafkan aku adikku,' Andini hanya terpikirkan akan tamparan yang dia lepaskan, dia mengabaikan semua ucapan Amelia Wisnu karena mengira bahwa sisa dari ucapannya hanya terucap karena emosi belaka.
Kring kring!!! Andini mengangkat ponselnya dan mendapati bahwa telepon tersebut berasal dari kliennya. Tanpa menunda jawaban, dia pun langsung berkata, "Aku akan segera kesana,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Agustina Mose
sudah pasti Hansen akan menika dengan andini
2022-10-06
1
Imam Sutoto Suro
very good job thor lanjut
2022-08-24
0
Nasa
Hahaha...suka or benci dgn han....ummmp
2022-05-07
0