Bab 14 : Tertangkap basah

....

'Pukul 10 malam, nampaknya aku tertidur cukup pulas.' Hansen menatap ke jam dinding di dekat tempatnya bersantai.

'Sepertinya para pengecut itu sudah pulang, dan berapa designated driver yang disana adalah orang yang bertugas di sif dua.' Hansen bernapas lega karena jam kerjanya telah berakhir, dan hendak pulang untuk beristirahat. Namun tepat sebelum dia bangkit dari kursinya, seseorang menyentuh pundaknya dan berkata. "A ... anu, permisi ... ,"

"Bisakah anda mengantarkan aku pulang?"

"Sebenarnya jam kerjaku telah habis, anda bisa meminta bantuan yang lain jika memang mendesak," sahut Hansen sembari menunjuk ke arah orang - orang satu departemennya. Dia tak menoleh ke belakang sama sekali. 'Aku sudah bekerja dari pukul tujuh pagi, walau memang belum mengantar satu pelanggan pun, setidaknya aku tetap mendapat bayaran bulananku.'

"A ... aku tahu ini sudah melebihi jam kerja anda, selain untuk perusahaan, aku akan membayar lebih," ucap gadis itu lagi.

'Uang lebih?' Hansen segera bangkit dari tempat santainya dan berkata, "Maaf atas ketidaksopananku barusan. Dengan senang hati akan kuantarkan sampai tujuan."

"Te ... terima kasih," gadis itu membungkuk dengan senang pipinya nampak merah seperti seseorang yang sedang mabuk berat.

.....

Disepanjang perjalanan, Hansen nampak acuh tak acuh, hingga membuat gadis itu merasa canggung. 'Aku tahu dia orang baru, jadi tak berani macam macam seperti yang lain.'

'Tapi bukankah sifat diamnya ini benar benar keterlaluan?'

'Selain kemana tujuanku, dia tak menanyakan hal lain sama sekali. Bukankah seharusnya dia penasaran terhadap gadis muda secantik diriku berada di hotel tanpa didampingi siapapun hingga harus memohon seorang designited driver sepertinya untuk mengantarku pulang?'

'Dia bahkan tak bertanya alasan mengapa aku duduk disebelahnya dan memilih untuk memberi bayaran lebih kepadanya, dari pada meminta bantuan designated driver yang lain,'

Gadis itu menatap Hansen dengan penuh penasaran.

"Berhenti menatapku dengan tatapan itu nona, jika tidak kau akan jatuh cinta," ledek Hansen tanpa menoleh ke kiri.

Gadis itu segera memalingkan wajah sembari menahan rasa malu, dan berakhir tertidur di kursinya.

'Benar benar gadis yang gegabah, dia tertidur begitu saja tanpa hawatir aku akan membawanya ke tempat lain' Hansen melirik ke arah gadis itu setelah sadar bahwa dia tertidur.

Selang beberapa menit, gadis itu terbangun dari tidurnya, dan membuka matanya begitu lebar seperti baru menyadari sesuatu.

"Tolong antarkan aku ke hotel Dwijaya!" dia segera bangkit dari tempatnya bersandar dengan nada panik.

"Apakah anda tak jadi pulang ke apartemenmu?" tanya Hansen sembari menghentikan mobilnya karena merasa heran.

"Ti ... tidak!"

"Aku tak boleh pulang sekarang. Kau harus mengantarku ke hotel itu sekarang juga!" gadis itu nampak segar dan begitu serius, sangat jelas di mata Hansen bahwa dia sudah tersadar dari efek mabuknya.

"Baiklah kalau begi ... ," belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Hansen terdiam seketika saat menatap ke depan kaca mobilnya dan menyadari keberadaan Andini Wisnu yang sedang berdandan menggunakan kaca mobil seseorang yang terparkir di pinggir jalan.

'Bukankah itu Andini?'

'Apa yang dia lakukan disana?' Hansen mengangkat kepala dengan heran sembari memperhatikan Andini dari balik kaca mobilnya.

'Apa yang dia lakukan disini?'

Setelah selesai berdandan, Andini segera pergi menuju ke dalam sebuah kafe dan bertukar sapa dengan seorang pria asing. Mereka bertukar sapa dengan begitu intim hingga berpelukan mesra dan bergandengan tangan di depan umum, Hansen pun menjadi sangat marah akan hal tersebut. 'Apakah dia sedang berkencan dengan pria lain saat aku sedang bekerja!'

Brukkk!!! gadis yang berada di dalam mobil Hansen medadak turun dari mobil dan berlari menuju ke kafe dimana Andini dan teman kencannya masuk setelah bertukar sapa.

'Apa yang ... !' Hansen terkejut setelah menyadari pelanggannya pergi tanpa peringatan. Dan hal yang paling mengejutkan dirinya, ialah keberadaan Amelia Wisnu yang muncul dari dalam kafe untuk menghalangi gadis itu masuk.

'Kenapa Amelia menghalangi gadis itu?'

'Apa hubungan gadis itu dengannya?'

'Tunggu dulu!'

'Mungkinkah gadis itu memiliki hubungan dengan pria yang menjadi pasangan kencan Andini!' Hansen segera keluar dari mobil menyusul gadis itu.

"Menyingkir dari jalannya!" Hansen Pratama menyingkirkan tangan Amelia Wisnu dengan cukup kasar hingga membuatnya terdorong menjauh.

"Ba ... bagaimana bisa kau disini!" Amelia Wisnu terbelalak kaget.

'Aku bahkan belum bercerai, bagaimana bisa kau menjodohkan Andini Wisnu dengan pria lain!'

'Aku yakin seluruh anggota keluarga juga turut andil akan hal ini. Jangan harap aku akan membiarkannya!' Hansen menatap tajam mata Amelia Wisnu sejenak dengan penuh amarah, lalu menarik lengan gadis itu dan berkata, "Ayo kita masuk!"

Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang, begitupula Hansen yang sedang mencari keberadaan Andini. Mereka menerobos keramaian sambil menengok ke kanan dan ke kiri, hingga akhirnya mata Hansen bertatapan dengan Andini yang kebetulan melirik ke arahnya. 'Ketemu!'

'Cih, apa yang dia lakukan disini!' Andini memalingkan wajah, dan melanjutkan kencan butanya tanpa menunjukkan sedikitpun ekspresi bersalah.

'Gadis itu benar benar!' Hansen naik pitam hingga ingin segera mendekat dan menampar wajahnya.

Tepat sebelum Hansen menunaikan niatnya, gadis disebelah Hansen segera berlari mendekati pria dihadapan Andini dan berkata, "Apakah wanita ini alasan mengapa kau membatalkan janjimu untuk bertemu denganku!" Suasana hati gadis itu sangat emosional, dia menangis sambil berteriak terhadap pria yang berada di hadapan Andini Wisnu. "Tolong katakan padaku, apakah alasanmu sulit kuhubungi belakangan ini juga adalah karena wanita ini!"

"Cepat jawab aku dan beri aku penjelasan, Herry Wijaya!" gadis itu mencengkram kerah Herry wijaya dengan penuh tangis diwajahnya.

Melihat gadis itu mengacaukan kencannya, ekspresi wajah Andini Wisnu menjadi sangat buruk. Dia langsung berniat pergi dan berkata, "Sepertinya kencan kita tak berjalan lancar hari ini, aku akan pergi,"

"Tu ... tunggu Andini, aku bisa menjelaskan semua ini!" Herry Wijaya hendak mengejar Andini tapi gadis yang sedang mencengkram kerah bajunya tak membiarkan hal tersebut.

Ditengah kekacauan tersebut Andini hanya pergi tanpa memperdulikan keberadaan Hansen. Sadar bahwa dirinya sedang diabaikan, Hansen segera menyusul dan berkata, "Apa maksud semua ini, Andini!"

"Pikirkan saja sendiri, aku tak punya waktu untuk menjelaskan kehidupan pribadiku," Andini pergi mengabaikan Hansen. Tentunya Hansen pratama tak membiarkannya pergi begitu saja. Sedangkan langkah Andini berhenti tepat disaat menyadari bahwa Amelia Wisnu telah pergi tanpanya. Dia menyadari hal tersebut setelah membaca pesan singkat yang dia terima dari Amelia Wisnu.

'Aku mendadak teringat bahwa ada hal penting yang harus kukerjakan. Pulanglah menggunakan taksi atau semacamnya, maaf karena pergi tanpa pamit.'

"Gadis itu benar benar!' Andini nampak geram.

"Kenapa kau nampak geram?"

"Apakah karena kencanmu yang tak berjalan lancar?" ledek Hansen sinis.

Andini mengabaikan Hansen lalu berjalan menuju mobil perusahaan milik Hansen yang terlihat olehnya, dan segera masuk tanpa mengatakan apapun. Dia menggunakan pintu belakang agar tak duduk disebelahnya.

 

Brukkk! Hansen segera masuk ke mobilnya dan berkata, "Kau benar benar wanita yang luar biasa Andini. Wajahmu nampak begitu tebal, hingga langsung datang ke mobil suamimu setelah tertangkap basah bermain dengan pria lain."

"Awalnya aku berpikir kau adalah wanita sombong yang dapat menjaga diri, tapi ternyata kau hanyalah wanita munafik yang berpura-pura polos saat didepanku, dan menjadi tidak sabar ingin tidur dengan pria lain saat aku tak ada." Hansen menatap Andini dengan penuh emosi.

"Beraninya kau berkata bahwa aku wanita munafik!"

"Kau pikir siapa dirimu!"

"Dengarkan aku baik baik, Hansen Pratama!"

"Kau hanyalah suami palsu yang kubeli, dan tak berhak untuk mengomentari kehidupan pribadiku!"

"Kencanku dengan Herry Wijaya juga terjadi karena ketidak mampuanmu untuk memikat hati istrimu. Jadi ini bukan sepenuhnya kesalahanku!" Andini membentak Hansen dengan penuh emosi.

"Terserah apa pembelaanmu, tapi dimata semua orang dan media, jika fakta dibalik perselingkuhanmu ini terungkap maka posisimu lah yang akan dirugikan," sambung Hansen dengan kesal.

 Setelah Hansen selesai berbicara, suasana hening menyelimuti seisi mobil. Hansen terdiam dengan penuh amarah, sedang Andini terdiam dalam pikirannya sendiri.

Terpopuler

Comments

Agustina Mose

Agustina Mose

lebih baik cerai hidup saja

2022-08-29

0

Alimuddin Rahman

Alimuddin Rahman

lanjutkan

2022-06-02

0

Nasa

Nasa

Hahaha...Tak sedar diri, lepas je Han

2022-05-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2 Bab 2 : Situasi yang mendesak
3 Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4 Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5 Bab 5 : Rencana Andini
6 Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7 Bab 7 : Kembali ke rumah
8 Bab 8 : Hari pertama bekerja
9 Bab 9 : Pembelaan Hansen
10 Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11 Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12 Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13 Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14 Bab 14 : Tertangkap basah
15 Bab 15 : Keputusan besar Andini
16 Bab 16 : Hati yang hancur
17 Bab 17 : Rasa bersalah
18 Bab 18 : Terjebak
19 Bab 19 : Salah sangka
20 Bab 20 : Singa yang terbangun
21 Bab 21 : Pria yang misterius
22 Bab 22 : Emosi Hansen
23 Bab 23 : Dendam lama
24 Bab 24 : Kembali ke markas
25 Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26 Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27 Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28 Bab 28 : Menemui Zaskia
29 Bab 29 : Gerakan Scorpion
30 Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31 Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32 Bab 32 : Dion Raharja
33 Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34 Bab 34 : Pencarian kawan lama
35 Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36 Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37 Bab 37 : Serangan di gedung putih
38 Bab 38 : Ambil alih
39 Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40 Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41 Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42 Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43 Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44 Chapter 44 : Rencana Number
45 Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46 Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47 Chapter 47 : Shelter
48 Chapter 48 : Shelter 2
49 Chapter 49 : Shelter 3
50 Chapter 50 : Kabar berita
51 Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52 Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53 Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54 Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55 Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56 Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57 Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58 Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59 Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60 Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61 Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62 Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63 Chapter 63 : Zaskia Arista
64 Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65 Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66 Chapter 66 : Murka Mr W
67 Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68 Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69 Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70 Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71 Chapter 71 : Kedatangan Theo
72 Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73 Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74 Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75 Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76 Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77 Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78 Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79 Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80 Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81 Chapter 81 : Menemui Mr W
82 Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83 Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84 Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85 Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86 Chapter 86 : Mengejar Andini
87 Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88 Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89 Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90 Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91 Chapter 91 : Emosi yang meluap
92 chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93 chapter 93 : Hubungan masa lalu
94 chapter 94 - nasib savior eagle
95 chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96 Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97 Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98 Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99 Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100 Chapter 100 : Koridor
101 Chapter 101 : Ilmuan gila
102 Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103 Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104 Chapter 104 : Operasi lanjutan
105 Chapter 105 : Hasil operasi
106 Chapter 106 : Perseteruan
107 Chapter 107 : Dominasi Number
108 Chapter 108 : Identitas
109 Chapter 109 : Sampai di Shelter
110 Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111 Chapter 111 : Keputusan Hansen
112 Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113 Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114 Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115 Chapter 115 : Hampir terungkap
116 Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2
Bab 2 : Situasi yang mendesak
3
Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4
Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5
Bab 5 : Rencana Andini
6
Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7
Bab 7 : Kembali ke rumah
8
Bab 8 : Hari pertama bekerja
9
Bab 9 : Pembelaan Hansen
10
Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11
Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12
Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13
Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14
Bab 14 : Tertangkap basah
15
Bab 15 : Keputusan besar Andini
16
Bab 16 : Hati yang hancur
17
Bab 17 : Rasa bersalah
18
Bab 18 : Terjebak
19
Bab 19 : Salah sangka
20
Bab 20 : Singa yang terbangun
21
Bab 21 : Pria yang misterius
22
Bab 22 : Emosi Hansen
23
Bab 23 : Dendam lama
24
Bab 24 : Kembali ke markas
25
Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26
Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27
Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28
Bab 28 : Menemui Zaskia
29
Bab 29 : Gerakan Scorpion
30
Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31
Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32
Bab 32 : Dion Raharja
33
Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34
Bab 34 : Pencarian kawan lama
35
Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36
Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37
Bab 37 : Serangan di gedung putih
38
Bab 38 : Ambil alih
39
Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40
Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41
Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42
Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43
Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44
Chapter 44 : Rencana Number
45
Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46
Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47
Chapter 47 : Shelter
48
Chapter 48 : Shelter 2
49
Chapter 49 : Shelter 3
50
Chapter 50 : Kabar berita
51
Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52
Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53
Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54
Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55
Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56
Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57
Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58
Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59
Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60
Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61
Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62
Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63
Chapter 63 : Zaskia Arista
64
Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65
Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66
Chapter 66 : Murka Mr W
67
Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68
Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69
Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70
Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71
Chapter 71 : Kedatangan Theo
72
Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73
Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74
Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75
Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76
Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77
Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78
Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79
Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80
Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81
Chapter 81 : Menemui Mr W
82
Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83
Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84
Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85
Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86
Chapter 86 : Mengejar Andini
87
Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88
Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89
Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90
Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91
Chapter 91 : Emosi yang meluap
92
chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93
chapter 93 : Hubungan masa lalu
94
chapter 94 - nasib savior eagle
95
chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96
Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97
Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98
Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99
Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100
Chapter 100 : Koridor
101
Chapter 101 : Ilmuan gila
102
Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103
Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104
Chapter 104 : Operasi lanjutan
105
Chapter 105 : Hasil operasi
106
Chapter 106 : Perseteruan
107
Chapter 107 : Dominasi Number
108
Chapter 108 : Identitas
109
Chapter 109 : Sampai di Shelter
110
Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111
Chapter 111 : Keputusan Hansen
112
Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113
Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114
Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115
Chapter 115 : Hampir terungkap
116
Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!