....
'Pukul 10 malam, nampaknya aku tertidur cukup pulas.' Hansen menatap ke jam dinding di dekat tempatnya bersantai.
'Sepertinya para pengecut itu sudah pulang, dan berapa designated driver yang disana adalah orang yang bertugas di sif dua.' Hansen bernapas lega karena jam kerjanya telah berakhir, dan hendak pulang untuk beristirahat. Namun tepat sebelum dia bangkit dari kursinya, seseorang menyentuh pundaknya dan berkata. "A ... anu, permisi ... ,"
"Bisakah anda mengantarkan aku pulang?"
"Sebenarnya jam kerjaku telah habis, anda bisa meminta bantuan yang lain jika memang mendesak," sahut Hansen sembari menunjuk ke arah orang - orang satu departemennya. Dia tak menoleh ke belakang sama sekali. 'Aku sudah bekerja dari pukul tujuh pagi, walau memang belum mengantar satu pelanggan pun, setidaknya aku tetap mendapat bayaran bulananku.'
"A ... aku tahu ini sudah melebihi jam kerja anda, selain untuk perusahaan, aku akan membayar lebih," ucap gadis itu lagi.
'Uang lebih?' Hansen segera bangkit dari tempat santainya dan berkata, "Maaf atas ketidaksopananku barusan. Dengan senang hati akan kuantarkan sampai tujuan."
"Te ... terima kasih," gadis itu membungkuk dengan senang pipinya nampak merah seperti seseorang yang sedang mabuk berat.
.....
Disepanjang perjalanan, Hansen nampak acuh tak acuh, hingga membuat gadis itu merasa canggung. 'Aku tahu dia orang baru, jadi tak berani macam macam seperti yang lain.'
'Tapi bukankah sifat diamnya ini benar benar keterlaluan?'
'Selain kemana tujuanku, dia tak menanyakan hal lain sama sekali. Bukankah seharusnya dia penasaran terhadap gadis muda secantik diriku berada di hotel tanpa didampingi siapapun hingga harus memohon seorang designited driver sepertinya untuk mengantarku pulang?'
'Dia bahkan tak bertanya alasan mengapa aku duduk disebelahnya dan memilih untuk memberi bayaran lebih kepadanya, dari pada meminta bantuan designated driver yang lain,'
Gadis itu menatap Hansen dengan penuh penasaran.
"Berhenti menatapku dengan tatapan itu nona, jika tidak kau akan jatuh cinta," ledek Hansen tanpa menoleh ke kiri.
Gadis itu segera memalingkan wajah sembari menahan rasa malu, dan berakhir tertidur di kursinya.
'Benar benar gadis yang gegabah, dia tertidur begitu saja tanpa hawatir aku akan membawanya ke tempat lain' Hansen melirik ke arah gadis itu setelah sadar bahwa dia tertidur.
Selang beberapa menit, gadis itu terbangun dari tidurnya, dan membuka matanya begitu lebar seperti baru menyadari sesuatu.
"Tolong antarkan aku ke hotel Dwijaya!" dia segera bangkit dari tempatnya bersandar dengan nada panik.
"Apakah anda tak jadi pulang ke apartemenmu?" tanya Hansen sembari menghentikan mobilnya karena merasa heran.
"Ti ... tidak!"
"Aku tak boleh pulang sekarang. Kau harus mengantarku ke hotel itu sekarang juga!" gadis itu nampak segar dan begitu serius, sangat jelas di mata Hansen bahwa dia sudah tersadar dari efek mabuknya.
"Baiklah kalau begi ... ," belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Hansen terdiam seketika saat menatap ke depan kaca mobilnya dan menyadari keberadaan Andini Wisnu yang sedang berdandan menggunakan kaca mobil seseorang yang terparkir di pinggir jalan.
'Bukankah itu Andini?'
'Apa yang dia lakukan disana?' Hansen mengangkat kepala dengan heran sembari memperhatikan Andini dari balik kaca mobilnya.
'Apa yang dia lakukan disini?'
Setelah selesai berdandan, Andini segera pergi menuju ke dalam sebuah kafe dan bertukar sapa dengan seorang pria asing. Mereka bertukar sapa dengan begitu intim hingga berpelukan mesra dan bergandengan tangan di depan umum, Hansen pun menjadi sangat marah akan hal tersebut. 'Apakah dia sedang berkencan dengan pria lain saat aku sedang bekerja!'
Brukkk!!! gadis yang berada di dalam mobil Hansen medadak turun dari mobil dan berlari menuju ke kafe dimana Andini dan teman kencannya masuk setelah bertukar sapa.
'Apa yang ... !' Hansen terkejut setelah menyadari pelanggannya pergi tanpa peringatan. Dan hal yang paling mengejutkan dirinya, ialah keberadaan Amelia Wisnu yang muncul dari dalam kafe untuk menghalangi gadis itu masuk.
'Kenapa Amelia menghalangi gadis itu?'
'Apa hubungan gadis itu dengannya?'
'Tunggu dulu!'
'Mungkinkah gadis itu memiliki hubungan dengan pria yang menjadi pasangan kencan Andini!' Hansen segera keluar dari mobil menyusul gadis itu.
"Menyingkir dari jalannya!" Hansen Pratama menyingkirkan tangan Amelia Wisnu dengan cukup kasar hingga membuatnya terdorong menjauh.
"Ba ... bagaimana bisa kau disini!" Amelia Wisnu terbelalak kaget.
'Aku bahkan belum bercerai, bagaimana bisa kau menjodohkan Andini Wisnu dengan pria lain!'
'Aku yakin seluruh anggota keluarga juga turut andil akan hal ini. Jangan harap aku akan membiarkannya!' Hansen menatap tajam mata Amelia Wisnu sejenak dengan penuh amarah, lalu menarik lengan gadis itu dan berkata, "Ayo kita masuk!"
Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang, begitupula Hansen yang sedang mencari keberadaan Andini. Mereka menerobos keramaian sambil menengok ke kanan dan ke kiri, hingga akhirnya mata Hansen bertatapan dengan Andini yang kebetulan melirik ke arahnya. 'Ketemu!'
'Cih, apa yang dia lakukan disini!' Andini memalingkan wajah, dan melanjutkan kencan butanya tanpa menunjukkan sedikitpun ekspresi bersalah.
'Gadis itu benar benar!' Hansen naik pitam hingga ingin segera mendekat dan menampar wajahnya.
Tepat sebelum Hansen menunaikan niatnya, gadis disebelah Hansen segera berlari mendekati pria dihadapan Andini dan berkata, "Apakah wanita ini alasan mengapa kau membatalkan janjimu untuk bertemu denganku!" Suasana hati gadis itu sangat emosional, dia menangis sambil berteriak terhadap pria yang berada di hadapan Andini Wisnu. "Tolong katakan padaku, apakah alasanmu sulit kuhubungi belakangan ini juga adalah karena wanita ini!"
"Cepat jawab aku dan beri aku penjelasan, Herry Wijaya!" gadis itu mencengkram kerah Herry wijaya dengan penuh tangis diwajahnya.
Melihat gadis itu mengacaukan kencannya, ekspresi wajah Andini Wisnu menjadi sangat buruk. Dia langsung berniat pergi dan berkata, "Sepertinya kencan kita tak berjalan lancar hari ini, aku akan pergi,"
"Tu ... tunggu Andini, aku bisa menjelaskan semua ini!" Herry Wijaya hendak mengejar Andini tapi gadis yang sedang mencengkram kerah bajunya tak membiarkan hal tersebut.
Ditengah kekacauan tersebut Andini hanya pergi tanpa memperdulikan keberadaan Hansen. Sadar bahwa dirinya sedang diabaikan, Hansen segera menyusul dan berkata, "Apa maksud semua ini, Andini!"
"Pikirkan saja sendiri, aku tak punya waktu untuk menjelaskan kehidupan pribadiku," Andini pergi mengabaikan Hansen. Tentunya Hansen pratama tak membiarkannya pergi begitu saja. Sedangkan langkah Andini berhenti tepat disaat menyadari bahwa Amelia Wisnu telah pergi tanpanya. Dia menyadari hal tersebut setelah membaca pesan singkat yang dia terima dari Amelia Wisnu.
'Aku mendadak teringat bahwa ada hal penting yang harus kukerjakan. Pulanglah menggunakan taksi atau semacamnya, maaf karena pergi tanpa pamit.'
"Gadis itu benar benar!' Andini nampak geram.
"Kenapa kau nampak geram?"
"Apakah karena kencanmu yang tak berjalan lancar?" ledek Hansen sinis.
Andini mengabaikan Hansen lalu berjalan menuju mobil perusahaan milik Hansen yang terlihat olehnya, dan segera masuk tanpa mengatakan apapun. Dia menggunakan pintu belakang agar tak duduk disebelahnya.
Brukkk! Hansen segera masuk ke mobilnya dan berkata, "Kau benar benar wanita yang luar biasa Andini. Wajahmu nampak begitu tebal, hingga langsung datang ke mobil suamimu setelah tertangkap basah bermain dengan pria lain."
"Awalnya aku berpikir kau adalah wanita sombong yang dapat menjaga diri, tapi ternyata kau hanyalah wanita munafik yang berpura-pura polos saat didepanku, dan menjadi tidak sabar ingin tidur dengan pria lain saat aku tak ada." Hansen menatap Andini dengan penuh emosi.
"Beraninya kau berkata bahwa aku wanita munafik!"
"Kau pikir siapa dirimu!"
"Dengarkan aku baik baik, Hansen Pratama!"
"Kau hanyalah suami palsu yang kubeli, dan tak berhak untuk mengomentari kehidupan pribadiku!"
"Kencanku dengan Herry Wijaya juga terjadi karena ketidak mampuanmu untuk memikat hati istrimu. Jadi ini bukan sepenuhnya kesalahanku!" Andini membentak Hansen dengan penuh emosi.
"Terserah apa pembelaanmu, tapi dimata semua orang dan media, jika fakta dibalik perselingkuhanmu ini terungkap maka posisimu lah yang akan dirugikan," sambung Hansen dengan kesal.
Setelah Hansen selesai berbicara, suasana hening menyelimuti seisi mobil. Hansen terdiam dengan penuh amarah, sedang Andini terdiam dalam pikirannya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Agustina Mose
lebih baik cerai hidup saja
2022-08-29
0
Alimuddin Rahman
lanjutkan
2022-06-02
0
Nasa
Hahaha...Tak sedar diri, lepas je Han
2022-05-07
0