Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan

Hansen hendak beranjak pergi, namun tiba-tiba, suara teriakan dari dalam ruangan adiknya membuatnya terhenti. Dengan langkah cepat, ia kembali ke luar ruangan, tempat suara itu terdengar. Di sana, ia melihat ayahnya, Hendra Pratama, sedang terjatuh bersujud di depan dokter yang tampak kelelahan dan frustrasi.

"Tolong jangan cabut alat bantu pernapasannya, dok! Saya janji akan membayar biayanya nanti!" Hendra memohon dengan suara gemetar, mata merah karena menangis. Tubuhnya tampak lunglai, lelah, dan penuh keputusasaan.

Dokter itu menatap Hendra dengan pandangan tajam, jelas merasa tidak nyaman dengan permohonan yang datang dari orang yang sudah berutang terlalu banyak kepada rumah sakit. "Tagihan Anda terus menumpuk, Pak. Rumah sakit ini bukan tempat amal. Maafkan saya, tapi saya bisa dipecat jika saya memaksakan untuk menanganinya tanpa persetujuan dari pemilik rumah sakit."

Ayah Hansen, yang tidak bisa menahan kesedihannya, sekali lagi bersujud, berusaha memohon dengan segenap hati. "Tolonglah, dok! Berikan saya kelonggaran, saya akan mencicil biaya pengobatannya, tapi tolong jangan cabut alat bantu pernapasannya. Cindy... Cindy adalah satu-satunya anak saya!"

Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa. Tentu saja, dia tahu bahwa di dunia ini, orang-orang seperti Hendra yang terjebak dalam lingkaran utang medis adalah pemandangan yang tidak asing. "Saya bukan pemilik rumah sakit ini, Pak. Perintah dari mereka sangat jelas: tidak ada perawatan tanpa pembayaran. Lagipula, lihat kondisinya sekarang. Dia sedang kritis, dan kondisi tubuhnya terus memburuk setiap harinya."

Hendra semakin terisak, seakan tak bisa menerima kenyataan. Tiba-tiba, suara keras datang dari mulut pintu, menarik perhatian semua orang di ruangan itu. "Cabut saja! Cabut saja jika kau berani!" seru Hansen dengan suara yang menggema. Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang, matanya memancarkan amarah yang tak terbendung.

Hansen mengangkat ponselnya, membuka aplikasi rekaman suara, dan memutar ulang kata-kata dokter yang tadi ia rekam. "Kau dengar itu?" kata Hansen dengan tegas, matanya menatap dokter itu tajam. "Jika kau berani memutuskan alat bantu pernapasan adikku, aku akan sebarkan rekaman ini ke seluruh dunia. Aku akan tuntut rumah sakit ini sampai habis!"

Dokter itu terdiam, tak tahu harus berkata apa. Dalam situasi seperti ini, mengabaikan ancaman adalah hal yang sangat berbahaya. Akhirnya, dokter itu menyerah dan mengangguk pasrah. "Saya akan menemui pemilik rumah sakit dan meminta kelonggaran. Saya akan menceritakan semuanya," ujarnya dengan suara pelan, namun terlihat jelas jika ia merasa terpojok.

Setelah beberapa saat, Hansen mendampingi ayahnya dengan tenang. Setelah kondisi Cindy berhasil melewati masa kritis, Hansen berpamitan untuk meninggalkan rumah sakit. Tak lupa, ia memberikan semua sisa uang yang ia miliki kepada ayahnya agar bisa digunakan untuk keperluan Cindy.

"Aku harus mendapatkan pekerjaan ini," gumam Hansen dengan penuh tekad, meski langkahnya terasa berat. Ia pergi meninggalkan rumah sakit tanpa sepeserpun uang di saku, hanya bermodalkan selembar koran di tangannya dan sedikit harapan.

Beruntung, tempat kerja yang ia tuju tak jauh dari rumah sakit. Dalam koran yang ia pegang, terdapat iklan lowongan pekerjaan di Hotel Permata, sebuah hotel bintang lima yang cukup terkenal. Ia tahu bahwa hotel tersebut bukan sembarang tempat; hotel megah yang dikenal dengan kualitas pelayanan terbaik ini menawarkan posisi sebagai penjaga keamanan.

Mata Hansen menyala ketika melihat peluang itu. Tanpa berpikir panjang, ia segera menuju ke sana, menembus keramaian jalanan, dan langsung melangkah ke pintu hotel yang mengkilap seperti permata. Dengan langkah mantap, ia menghampiri resepsionis dan menyatakan niatnya.

Gadis resepsionis yang tampaknya masih muda itu langsung menghubungi kepala keamanan dan menanyakan apakah Hansen memenuhi syarat untuk pekerjaan itu. Tak lama kemudian, seorang pria berbadan tegap keluar dari ruang belakang. Kepala keamanan itu menilai Hansen dari ujung kaki hingga kepala, seolah menimbang apakah pria ini bisa diandalkan.

"Kamu ingin bekerja sebagai penjaga keamanan di sini?" tanya kepala keamanan itu dengan suara rendah, matanya penuh penilaian.

"Ya, saya siap untuk menjadi penjaga keamanan di sini!" jawab Hansen dengan mantap, meski dalam hatinya masih ada rasa ragu.

"Kemampuanmu dalam berkelahi bagaimana?" tanya kepala keamanan itu lagi, kali ini sambil menyilangkan tangan di dada, menunggu jawaban dari Hansen.

"Saya yakin dengan kemampuan saya berkelahi. Kalau Bapak mau, kita bisa sparring sebentar. Tidak bermaksud sombong, tapi kalau boleh jujur, saya rasa saya bisa mengalahkan Bapak dengan mudah," jawab Hansen, walau sedikit merasa gugup karena sikap kepala keamanan yang begitu serius.

Kepala keamanan itu terdiam sejenak, seolah menilai kejujuran dan kepercayaan diri Hansen. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman dalam bidang keamanan, ia bisa merasakan aura seseorang hanya dari cara berbicara dan penampilan fisik. Dan meskipun pria ini tampak sederhana, ia bisa merasakan bahwa Hansen bukan orang sembarangan. Hansen tidak hanya percaya diri, tetapi juga memiliki kemampuan yang cukup untuk menjaga keamanan.

"Baiklah, kamu diterima kerja di sini. Jangan terlambat besok pagi, ya?" kata kepala keamanan itu, suara tegasnya menandakan bahwa ini bukan candaan.

Hansen hampir tak percaya dengan kata-kata itu. "Eh, begitu saja? Saya diterima? Anda tidak sedang bercanda, kan Pak?" tanyanya lagi, untuk memastikan bahwa ini bukan lelucon.

"Tentu saja tidak! Siapa yang sedang bercanda di sini? Kalau kau bertanya lagi, aku akan berubah pikiran," jawab kepala keamanan itu dengan tawa kecil.

Hansen tidak bisa menahan perasaan lega dan terkejutnya. "Tunggu! Jangan berubah pikiran, Pak! Tolong terima saya!" serunya refleks, sambil membungkukkan tubuhnya sebagai tanda terima kasih.

Kepala keamanan itu hanya tersenyum, melihat sikap Hansen yang mulai canggung. "Aih, ternyata kau bisa membungkuk juga, ya? Kupikir kamu orang yang sombong karena berani mengatakan seperti itu tadi."

Hansen tidak menyangka bahwa pencariannya untuk pekerjaan pertama akan berjalan begitu lancar. Namun, ia tidak mau terlalu terlarut dalam kebahagiaan karena pikirannya tetap tertuju pada Cindy yang masih membutuhkan biaya perawatan.

Setelah Hansen mendapat konfirmasi bahwa ia diterima kerja, kepala keamanan memberitahunya bahwa ia harus kembali esok hari karena seragam baru untuk penjaga keamanan belum tersedia. Dengan demikian, Hansen harus menunggu sehari lagi.

Hari itu sudah memasuki pukul 12:00 siang, dan Hansen merasa perutnya mulai kosong. Namun, karena tidak punya uang, ia terpaksa menahan lapar sambil berjalan kembali menuju apartemen.

Saat sedang berjalan, matanya tertumbuk pada sebuah kafe yang terlihat ramai. Di depan kafe, ada papan pengumuman besar yang menyatakan bahwa mereka sedang mempromosikan produk terbaru mereka: secangkir kopi gratis untuk setiap pelanggan. Hansen merasa tertarik dan memutuskan untuk mampir.

Ia melangkah masuk ke dalam kafe dan duduk di salah satu meja kosong. Kopi yang diberikan ternyata cukup nikmat, memberikan sedikit kehangatan bagi tubuhnya yang lelah. Namun, suasana hatinya berubah seketika saat matanya tertuju pada sosok yang duduk di sudut kafe. Andini. Dia tengah duduk bersama David, pria yang jelas-jelas memiliki niat buruk terhadap Andini di masa lalu.

Hansen memandangi mereka dengan tatapan penuh kebencian. Melihat Andini yang tampak begitu nyaman di samping David membuat hatinya dipenuhi rasa kesal dan jijik. Terlebih lagi, saat David dengan tidak sopan menggesekkan kakinya ke kaki Andini, sebuah tindakan yang semakin membuat Hansen merasa marah.

Namun, sebelum ia bisa berbuat sesuatu, ponselnya tiba-tiba bergetar. Hansen menoleh dan melihat pesan singkat yang masuk. Matanya membelalak saat membaca isi pesan itu: “125 juta.”

Itulah yang tertulis dalam pesan singkat tersebut, disertai permintaan Andini agar Hansen bergabung dengan dirinya dan David. Tidak hanya itu, Andini bahkan menawarkan uang sebesar 125 juta sebagai imbalan.

Hansen terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang terjadi pada Andini? Mengapa dia berubah begitu cepat? Semua perasaan campur aduk di hatinya. Ia merasa bingung, marah, dan kecewa, tetapi yang lebih membuatnya terkejut adalah tawaran uang itu. Apa sebenarnya yang Andini inginkan?

Terpopuler

Comments

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

lanjutkan thor seruuuu

2022-08-24

0

Santoso Zha

Santoso Zha

yes

2022-07-06

0

Ⓦ︎Ⓚ︎🅡︎Ⓩ︎🇳 s̑̈n͜͡ɐ𝘬乇🅿︎ȋ̈Ⓣ︎

Ⓦ︎Ⓚ︎🅡︎Ⓩ︎🇳 s̑̈n͜͡ɐ𝘬乇🅿︎ȋ̈Ⓣ︎

jcmdunystsnatb

2022-06-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2 Bab 2 : Situasi yang mendesak
3 Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4 Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5 Bab 5 : Rencana Andini
6 Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7 Bab 7 : Kembali ke rumah
8 Bab 8 : Hari pertama bekerja
9 Bab 9 : Pembelaan Hansen
10 Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11 Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12 Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13 Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14 Bab 14 : Tertangkap basah
15 Bab 15 : Keputusan besar Andini
16 Bab 16 : Hati yang hancur
17 Bab 17 : Rasa bersalah
18 Bab 18 : Terjebak
19 Bab 19 : Salah sangka
20 Bab 20 : Singa yang terbangun
21 Bab 21 : Pria yang misterius
22 Bab 22 : Emosi Hansen
23 Bab 23 : Dendam lama
24 Bab 24 : Kembali ke markas
25 Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26 Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27 Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28 Bab 28 : Menemui Zaskia
29 Bab 29 : Gerakan Scorpion
30 Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31 Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32 Bab 32 : Dion Raharja
33 Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34 Bab 34 : Pencarian kawan lama
35 Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36 Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37 Bab 37 : Serangan di gedung putih
38 Bab 38 : Ambil alih
39 Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40 Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41 Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42 Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43 Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44 Chapter 44 : Rencana Number
45 Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46 Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47 Chapter 47 : Shelter
48 Chapter 48 : Shelter 2
49 Chapter 49 : Shelter 3
50 Chapter 50 : Kabar berita
51 Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52 Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53 Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54 Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55 Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56 Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57 Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58 Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59 Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60 Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61 Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62 Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63 Chapter 63 : Zaskia Arista
64 Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65 Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66 Chapter 66 : Murka Mr W
67 Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68 Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69 Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70 Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71 Chapter 71 : Kedatangan Theo
72 Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73 Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74 Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75 Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76 Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77 Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78 Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79 Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80 Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81 Chapter 81 : Menemui Mr W
82 Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83 Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84 Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85 Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86 Chapter 86 : Mengejar Andini
87 Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88 Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89 Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90 Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91 Chapter 91 : Emosi yang meluap
92 chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93 chapter 93 : Hubungan masa lalu
94 chapter 94 - nasib savior eagle
95 chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96 Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97 Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98 Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99 Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100 Chapter 100 : Koridor
101 Chapter 101 : Ilmuan gila
102 Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103 Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104 Chapter 104 : Operasi lanjutan
105 Chapter 105 : Hasil operasi
106 Chapter 106 : Perseteruan
107 Chapter 107 : Dominasi Number
108 Chapter 108 : Identitas
109 Chapter 109 : Sampai di Shelter
110 Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111 Chapter 111 : Keputusan Hansen
112 Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113 Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114 Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115 Chapter 115 : Hampir terungkap
116 Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2
Bab 2 : Situasi yang mendesak
3
Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4
Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5
Bab 5 : Rencana Andini
6
Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7
Bab 7 : Kembali ke rumah
8
Bab 8 : Hari pertama bekerja
9
Bab 9 : Pembelaan Hansen
10
Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11
Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12
Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13
Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14
Bab 14 : Tertangkap basah
15
Bab 15 : Keputusan besar Andini
16
Bab 16 : Hati yang hancur
17
Bab 17 : Rasa bersalah
18
Bab 18 : Terjebak
19
Bab 19 : Salah sangka
20
Bab 20 : Singa yang terbangun
21
Bab 21 : Pria yang misterius
22
Bab 22 : Emosi Hansen
23
Bab 23 : Dendam lama
24
Bab 24 : Kembali ke markas
25
Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26
Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27
Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28
Bab 28 : Menemui Zaskia
29
Bab 29 : Gerakan Scorpion
30
Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31
Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32
Bab 32 : Dion Raharja
33
Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34
Bab 34 : Pencarian kawan lama
35
Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36
Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37
Bab 37 : Serangan di gedung putih
38
Bab 38 : Ambil alih
39
Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40
Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41
Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42
Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43
Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44
Chapter 44 : Rencana Number
45
Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46
Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47
Chapter 47 : Shelter
48
Chapter 48 : Shelter 2
49
Chapter 49 : Shelter 3
50
Chapter 50 : Kabar berita
51
Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52
Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53
Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54
Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55
Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56
Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57
Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58
Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59
Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60
Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61
Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62
Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63
Chapter 63 : Zaskia Arista
64
Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65
Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66
Chapter 66 : Murka Mr W
67
Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68
Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69
Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70
Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71
Chapter 71 : Kedatangan Theo
72
Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73
Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74
Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75
Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76
Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77
Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78
Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79
Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80
Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81
Chapter 81 : Menemui Mr W
82
Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83
Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84
Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85
Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86
Chapter 86 : Mengejar Andini
87
Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88
Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89
Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90
Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91
Chapter 91 : Emosi yang meluap
92
chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93
chapter 93 : Hubungan masa lalu
94
chapter 94 - nasib savior eagle
95
chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96
Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97
Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98
Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99
Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100
Chapter 100 : Koridor
101
Chapter 101 : Ilmuan gila
102
Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103
Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104
Chapter 104 : Operasi lanjutan
105
Chapter 105 : Hasil operasi
106
Chapter 106 : Perseteruan
107
Chapter 107 : Dominasi Number
108
Chapter 108 : Identitas
109
Chapter 109 : Sampai di Shelter
110
Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111
Chapter 111 : Keputusan Hansen
112
Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113
Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114
Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115
Chapter 115 : Hampir terungkap
116
Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!