Hansen hendak beranjak pergi, namun tiba-tiba, suara teriakan dari dalam ruangan adiknya membuatnya terhenti. Dengan langkah cepat, ia kembali ke luar ruangan, tempat suara itu terdengar. Di sana, ia melihat ayahnya, Hendra Pratama, sedang terjatuh bersujud di depan dokter yang tampak kelelahan dan frustrasi.
"Tolong jangan cabut alat bantu pernapasannya, dok! Saya janji akan membayar biayanya nanti!" Hendra memohon dengan suara gemetar, mata merah karena menangis. Tubuhnya tampak lunglai, lelah, dan penuh keputusasaan.
Dokter itu menatap Hendra dengan pandangan tajam, jelas merasa tidak nyaman dengan permohonan yang datang dari orang yang sudah berutang terlalu banyak kepada rumah sakit. "Tagihan Anda terus menumpuk, Pak. Rumah sakit ini bukan tempat amal. Maafkan saya, tapi saya bisa dipecat jika saya memaksakan untuk menanganinya tanpa persetujuan dari pemilik rumah sakit."
Ayah Hansen, yang tidak bisa menahan kesedihannya, sekali lagi bersujud, berusaha memohon dengan segenap hati. "Tolonglah, dok! Berikan saya kelonggaran, saya akan mencicil biaya pengobatannya, tapi tolong jangan cabut alat bantu pernapasannya. Cindy... Cindy adalah satu-satunya anak saya!"
Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa. Tentu saja, dia tahu bahwa di dunia ini, orang-orang seperti Hendra yang terjebak dalam lingkaran utang medis adalah pemandangan yang tidak asing. "Saya bukan pemilik rumah sakit ini, Pak. Perintah dari mereka sangat jelas: tidak ada perawatan tanpa pembayaran. Lagipula, lihat kondisinya sekarang. Dia sedang kritis, dan kondisi tubuhnya terus memburuk setiap harinya."
Hendra semakin terisak, seakan tak bisa menerima kenyataan. Tiba-tiba, suara keras datang dari mulut pintu, menarik perhatian semua orang di ruangan itu. "Cabut saja! Cabut saja jika kau berani!" seru Hansen dengan suara yang menggema. Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang, matanya memancarkan amarah yang tak terbendung.
Hansen mengangkat ponselnya, membuka aplikasi rekaman suara, dan memutar ulang kata-kata dokter yang tadi ia rekam. "Kau dengar itu?" kata Hansen dengan tegas, matanya menatap dokter itu tajam. "Jika kau berani memutuskan alat bantu pernapasan adikku, aku akan sebarkan rekaman ini ke seluruh dunia. Aku akan tuntut rumah sakit ini sampai habis!"
Dokter itu terdiam, tak tahu harus berkata apa. Dalam situasi seperti ini, mengabaikan ancaman adalah hal yang sangat berbahaya. Akhirnya, dokter itu menyerah dan mengangguk pasrah. "Saya akan menemui pemilik rumah sakit dan meminta kelonggaran. Saya akan menceritakan semuanya," ujarnya dengan suara pelan, namun terlihat jelas jika ia merasa terpojok.
Setelah beberapa saat, Hansen mendampingi ayahnya dengan tenang. Setelah kondisi Cindy berhasil melewati masa kritis, Hansen berpamitan untuk meninggalkan rumah sakit. Tak lupa, ia memberikan semua sisa uang yang ia miliki kepada ayahnya agar bisa digunakan untuk keperluan Cindy.
"Aku harus mendapatkan pekerjaan ini," gumam Hansen dengan penuh tekad, meski langkahnya terasa berat. Ia pergi meninggalkan rumah sakit tanpa sepeserpun uang di saku, hanya bermodalkan selembar koran di tangannya dan sedikit harapan.
Beruntung, tempat kerja yang ia tuju tak jauh dari rumah sakit. Dalam koran yang ia pegang, terdapat iklan lowongan pekerjaan di Hotel Permata, sebuah hotel bintang lima yang cukup terkenal. Ia tahu bahwa hotel tersebut bukan sembarang tempat; hotel megah yang dikenal dengan kualitas pelayanan terbaik ini menawarkan posisi sebagai penjaga keamanan.
Mata Hansen menyala ketika melihat peluang itu. Tanpa berpikir panjang, ia segera menuju ke sana, menembus keramaian jalanan, dan langsung melangkah ke pintu hotel yang mengkilap seperti permata. Dengan langkah mantap, ia menghampiri resepsionis dan menyatakan niatnya.
Gadis resepsionis yang tampaknya masih muda itu langsung menghubungi kepala keamanan dan menanyakan apakah Hansen memenuhi syarat untuk pekerjaan itu. Tak lama kemudian, seorang pria berbadan tegap keluar dari ruang belakang. Kepala keamanan itu menilai Hansen dari ujung kaki hingga kepala, seolah menimbang apakah pria ini bisa diandalkan.
"Kamu ingin bekerja sebagai penjaga keamanan di sini?" tanya kepala keamanan itu dengan suara rendah, matanya penuh penilaian.
"Ya, saya siap untuk menjadi penjaga keamanan di sini!" jawab Hansen dengan mantap, meski dalam hatinya masih ada rasa ragu.
"Kemampuanmu dalam berkelahi bagaimana?" tanya kepala keamanan itu lagi, kali ini sambil menyilangkan tangan di dada, menunggu jawaban dari Hansen.
"Saya yakin dengan kemampuan saya berkelahi. Kalau Bapak mau, kita bisa sparring sebentar. Tidak bermaksud sombong, tapi kalau boleh jujur, saya rasa saya bisa mengalahkan Bapak dengan mudah," jawab Hansen, walau sedikit merasa gugup karena sikap kepala keamanan yang begitu serius.
Kepala keamanan itu terdiam sejenak, seolah menilai kejujuran dan kepercayaan diri Hansen. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman dalam bidang keamanan, ia bisa merasakan aura seseorang hanya dari cara berbicara dan penampilan fisik. Dan meskipun pria ini tampak sederhana, ia bisa merasakan bahwa Hansen bukan orang sembarangan. Hansen tidak hanya percaya diri, tetapi juga memiliki kemampuan yang cukup untuk menjaga keamanan.
"Baiklah, kamu diterima kerja di sini. Jangan terlambat besok pagi, ya?" kata kepala keamanan itu, suara tegasnya menandakan bahwa ini bukan candaan.
Hansen hampir tak percaya dengan kata-kata itu. "Eh, begitu saja? Saya diterima? Anda tidak sedang bercanda, kan Pak?" tanyanya lagi, untuk memastikan bahwa ini bukan lelucon.
"Tentu saja tidak! Siapa yang sedang bercanda di sini? Kalau kau bertanya lagi, aku akan berubah pikiran," jawab kepala keamanan itu dengan tawa kecil.
Hansen tidak bisa menahan perasaan lega dan terkejutnya. "Tunggu! Jangan berubah pikiran, Pak! Tolong terima saya!" serunya refleks, sambil membungkukkan tubuhnya sebagai tanda terima kasih.
Kepala keamanan itu hanya tersenyum, melihat sikap Hansen yang mulai canggung. "Aih, ternyata kau bisa membungkuk juga, ya? Kupikir kamu orang yang sombong karena berani mengatakan seperti itu tadi."
Hansen tidak menyangka bahwa pencariannya untuk pekerjaan pertama akan berjalan begitu lancar. Namun, ia tidak mau terlalu terlarut dalam kebahagiaan karena pikirannya tetap tertuju pada Cindy yang masih membutuhkan biaya perawatan.
Setelah Hansen mendapat konfirmasi bahwa ia diterima kerja, kepala keamanan memberitahunya bahwa ia harus kembali esok hari karena seragam baru untuk penjaga keamanan belum tersedia. Dengan demikian, Hansen harus menunggu sehari lagi.
Hari itu sudah memasuki pukul 12:00 siang, dan Hansen merasa perutnya mulai kosong. Namun, karena tidak punya uang, ia terpaksa menahan lapar sambil berjalan kembali menuju apartemen.
Saat sedang berjalan, matanya tertumbuk pada sebuah kafe yang terlihat ramai. Di depan kafe, ada papan pengumuman besar yang menyatakan bahwa mereka sedang mempromosikan produk terbaru mereka: secangkir kopi gratis untuk setiap pelanggan. Hansen merasa tertarik dan memutuskan untuk mampir.
Ia melangkah masuk ke dalam kafe dan duduk di salah satu meja kosong. Kopi yang diberikan ternyata cukup nikmat, memberikan sedikit kehangatan bagi tubuhnya yang lelah. Namun, suasana hatinya berubah seketika saat matanya tertuju pada sosok yang duduk di sudut kafe. Andini. Dia tengah duduk bersama David, pria yang jelas-jelas memiliki niat buruk terhadap Andini di masa lalu.
Hansen memandangi mereka dengan tatapan penuh kebencian. Melihat Andini yang tampak begitu nyaman di samping David membuat hatinya dipenuhi rasa kesal dan jijik. Terlebih lagi, saat David dengan tidak sopan menggesekkan kakinya ke kaki Andini, sebuah tindakan yang semakin membuat Hansen merasa marah.
Namun, sebelum ia bisa berbuat sesuatu, ponselnya tiba-tiba bergetar. Hansen menoleh dan melihat pesan singkat yang masuk. Matanya membelalak saat membaca isi pesan itu: “125 juta.”
Itulah yang tertulis dalam pesan singkat tersebut, disertai permintaan Andini agar Hansen bergabung dengan dirinya dan David. Tidak hanya itu, Andini bahkan menawarkan uang sebesar 125 juta sebagai imbalan.
Hansen terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang terjadi pada Andini? Mengapa dia berubah begitu cepat? Semua perasaan campur aduk di hatinya. Ia merasa bingung, marah, dan kecewa, tetapi yang lebih membuatnya terkejut adalah tawaran uang itu. Apa sebenarnya yang Andini inginkan?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
lanjutkan thor seruuuu
2022-08-24
0
Santoso Zha
yes
2022-07-06
0
Ⓦ︎Ⓚ︎🅡︎Ⓩ︎🇳 s̑̈n͜͡ɐ𝘬乇🅿︎ȋ̈Ⓣ︎
jcmdunystsnatb
2022-06-30
0