Hansen pergi menuju kantor Andini dengan penuh Emosi.
Tap tap tap, Hansen melangkah masuk melalui pintu utama dan segera pergi menuju meja resepsionis.
"Dimana CEO kalian!"
"Aku ingin bertemu dengannya!" nada bicara Hansen terdengar cukup lantang dan kasar karena rasa kesal.
"Apakah anda sudah memiliki janji?" tanya sang respsionis sambil menyembunyikan kepanikannya.
"Apakah seorang suami harus mengatur janji dahulu agar bisa bertemu dengan istrinya sendiri?" Hansen kehilangan batasannya.
"Su ... suami?" sang resepsionis nampak ragu karena melihat seragam Hansen.
"CEO kami adalah nona Andini Wisnu, putri pertama dari keluarga Wisnu yang merupakan satu dari empat keluarga besar dengan pengaruh bisnis yang cukup luas."
"Dengan penampilan burukmu itu, kau pikir kami akan percaya?" seorang penjaga keamanan yang datang karena mendengar seseorang sedang membuat keributan melangkah mendekat ditemani bawahannya.
"Aku memang sedang tak membawa buktinya karena terlalu terburu buru, tapi aku tidaklah berbohong. Nona besar kalian itu, memang benar benar istriku, dan aku ingin segera bertemu dengannya karena urusan pribadi." Hansen membalikkan badan sembari menatap tajam para penjaga keamanan.
"Omong kosong!"
"Seret dia keluar!" kepala penjaga keamanan yang memiliki rupa seram dengan wajah penuh luka, serta badan kekar yang nampak sedikit lebih besar dari para bawahannya menatap Hansen dengan kesal.
"Baik pak!" dua orang penjaga keamanan berjalan mendekati Hansen dengan maksud menyeretnya.
"Lebih baik kau menurut dan segera pergi agar tak terluka," salah satu dari penjaga menatap hina Hansen sembari menepuk pundaknya.
"Apa kau mengancamku?" tanya Hansen sinis.
"Kau yang meminta ya .. ," penjaga itu memperkuat pegangannya dengan maksud mengancam dan menakut nakuti Hansen. Sayangnya hal tersebut sama sekali tak menyakiti dirinya, semua berkat pengalaman akan rasa sakit yang luar biasa saat menjadi seorang veteran tentara.
Kretakkk!!! Bruakk!!! Hansen memegangi lengan pria itu dengan begitu kencang hingga membuatnya menjerit kesakitan, lalu mendorong mundur pria tersebut dengan tendangan kerasnya.
Tendangannya begitu keras hingga mendorong tubuh pria itu mundur begitu jauh, dan berakhir menabrak kursi yang telah tersusun rapih.
"Beraninya kau!" seorang penjaga yang berada di dekat Hansen menjadi kesal karena melihat temannya terluka. Dengan penuh emosi dia mencoba memukul Hansen, namun Hansen menghindari semua serangannya seperti sedang melawan seorang bayi.
"Gerakanmu terlalu mudah ditebak," Hansen meledek targetnya.
"Kenapa kalian hanya menonton saja!"
"Cepat bantu dia!" Kepala penjaga keamanan nampak geram melihat bawahannya dipermainkan.
"Baik pak!" Lusinan penjaga keamanan segera menyerang Hansen mengikuti arahan Kepala penjaga keamanan.
"Dasar bodoh!" Hansen menghindari semua pukulan dan tendangan dengan cukup mudah. Dia juga menjatuhkan serangan fatal yang membuat mereka menjerit kesakitan setiap kali Hansen menjatuhkan pukulan demi pukulan.
"Ini ... ," Kepala keamanan perusahaan, nampak panik setelah melihat semua bawahannya dihancurkan dengan mudah. Dia memang lebih kuat dari pada semua bawahannya, namun dia tak begitu yakin dapat melukai mereka semua tanpa menderita satu lukapun. Setelah melihat penampilan Hansen yang jauh diatas kemampuannya, tentu saja sedikit mempengaruhi kepercayaan dirinya.
'Aku bukan lawan baginya, tapi aku memerlukan pekerjaan ini, jika aku tak melawan, kemungkinan besar perusahaan akan memecatku,' Kepala penjaga keamanan nampak panik dan terdiam kaku di tempatnya berdiri.
"Kenapa kau tak bergabung?"
"Bukankah kau yang menyuruh mereka mengusirku?" Hansen berjalan mendekat dengan aura yang mendominasi. Menakuti sang kepala penjaga hingga membuatnya tak sadar bahwa telah melangkah mundur beberapa langkah. 'Ma .. mati aku!'
"Cukup Hansen!" suara teriakan Andini terdengar begitu keras jauh di arah kiri Hansen.
"Andini?" Hansen segera menoleh dan melepaskan permusuhannya terhadap kepala penjaga keamanan.
"Apa maksud semua ini!"
"Mengapa kau mengacau di perusahaanku!"
"Meskipun kau memiliki hubungan denganku, kau seharusnya paham betul akan apa arti dari sebuah batasan!" Andini membentak Hansen dengan kesal.
'Hubungan!?" semua orang terkejut akan pernyataan Andini.
"Luar biasa, Andini!"
"Ternyata wajahmu masih tebal seperti biasanya ya!?" Hansen menatap sinis.
"Apa maksudmu?" Andini nampak bingung.
"Berhenti bersikap bodoh!"
"Kau baru saja menjebakku untuk berkunjung di hotel dan mengirim wanita jalang untuk mendapatkan foto skandal yang bisa kau jadikan senjata untuk mengancamku!" Hansen menatap Andini dengan penuh amarah dan terus meninggikan nada bicaranya.
"Apa maksudmu!?"
"Aku sama sekali tak memahami ucapanmu!" Andini meninggikan nada bicaranya.
" ... " Hansen hanya diam dan menatap kesal Andini karena yakin bahwa Andinilah yang telah menjebaknya.
"Baiklah, aku memang sempat menyuruhmu berkunjung ke hotel untuk mengantar temanku yang mabuk berat."
"Tapi tepat sebelum aku mengabari nomor kamarnya, seorang klien besar mendadak menelponku melalui telepon kantor dan berkata bahwa dia ingin bertemu denganku karena ada hal penting yang harus dibicarakan." Andini nampak tertekan saat menjelaskan alasannya kepada Hansen.
"Lantas?" Hansen masih tak mempercayai pembelaan Andini.
"Karena terlalu terburu buru, aku baru menyadari bahwa aku lupa mengabarimu saat sudah ada diluar hotel permata, bahkan saking buru burunya, aku juga terlambat menyadari bahwa ponselku tertinggal disana." Andini Wisnu nampak kacau saat mengatakan alasannya.
"Seorang yang teliti sepertimu, bisa meninggalkan sebuah ponsel?"
"Kau pikir aku akan percaya!" Hansen tak mau mendengar penjelasan Andini.
"Pikiranku sedang kacau saat ini kau tahu!"
"Tolong jangan memperburuk keadaanku!" Andini meninggikan suaranya.
"Memangnya apa yang sanggup membuatmu tertekan seperti ini?" Hansen masih memiliki keraguan besar terhadap Andini.
"Klien besar itu tidaklah sendiri, dia berkata bahwa akan ada klien lain yang akan datang bersamanya. Dan yang paling membuatku kacau adalah dia mengatakan bahwa mereka semua akan mencabut investasi mereka dari hotel permata." Andini nampak semakin tertekan hingga menggertakkan gigi serta mengepal erat kedua eratnya. "Aku begitu terburu buru hingga meninggalkan ponselku karena ingin membujuk mereka, kau pikir masalah ini terjadi karena siapa ha!" Andini membentak Hansen dengan kesal dan sedikit stres.
"Apakah ini ulah Bos Cahyadi?" Hansen mulai menurunkan nada bicaranya karena melihat kondisi Andini nampak kacau dan tak terlihat sedang berbohong.
"Ya!"
"Memangnya siapa lagi!" Andini meninggikan suaranya sembari melampiaskan rasa kesal terhadap Hansen yang memperburuk keadaannya.
"Jika ponselmu tertinggal, lantas siapa yang mengirim pesan kepadaku?" Hansen merasa heran dan mulai ragu bahwa Andini lah yang merencanakan jebakan untuknya.
"Seseorang mengirim pesan menggunakan nomorku?" Andini terlihat heran dan tak percaya.
"Kalau pesan itu bukan berasal dari nomormu, memangnya aku akan semarah tadi?" Hansen menunjukkan pesan di ponselnya.
'I ... ini ... ," Andini nampak syok sekaligus bingung.
'Aku sempat bertemu Amelia saat hendak pergi, dan menceritakan bahwa aku lupa memberitahukan nomor kamar dari teman bisnisku. Mungkinkah jika dia ... ?"
"Apakah kau bisa menjelaskan ini, Andini?" tanya Hansen dengan serius. Dia bertanya demikian karena isi pesan itu terlihat masuk akal dan seperti berasal dari Andini sendiri. Semua karena kabar tentang Andini yang meminta bantuan dirinya untuk menjemput seseorang di hotel permata harusnya hanya diketahui oleh mereka berdua saja.
"Amelia," Andini menjawab dengan kecewa.
"Aku sempat berpapasan dengannya saat hendak pergi, dan menceritakan bahwa aku menitipkan temanku padamu tapi lupa memberikan nomor kamarnya."
'Jalang itu!' Hansen nampak geram.
"Karena semuanya sudah jelas, maka pergilah dari sini."
"Aku benar benar sedang repot dan stres saat ini," Andini nampak lemas dan kacau saat itu.
"Maaf karena telah membuat keadaanmu menjadi seperti ini," Hansen teringat akan perbuatannya yang telah mengacaukan reputasi Hotel karena menghajar seorang bos besar.
"Aku tak begitu masalah dengan itu, lagipula aku paham betul kau melakukannya hanya untuk membela seorang karyawan dan dirimu sendiri. Satu satunya yang membuatku kecewa padamu adalah, betapa dangkalnya rasa percayamu padaku, hingga berpikir bahwa aku telah merencanakan hal menjijikan yang bisa merusak reputasimu," Andini nampak kecewa dan pergi begitu saja.
" ... " Hansen tak dapat berkata kata selain terdiam dan menunduk karena rasa malu dan perasaan bersalah atas tuduhan yang dia ucapkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Agustina Mose
bagaimana tidak si ular Amelia Wisnu sudah merusak semuanya
2022-10-06
0
Imam Sutoto Suro
lanjutkan thor seruuuu
2022-08-24
0
Noe Aink
apa yg di harapkan Hansen dari Andini? hingga gk mau bercerai ? hmm mau jdi banci terus
2022-06-04
1