Bab 19 : Salah sangka

Hansen pergi menuju kantor Andini dengan penuh Emosi.

Tap tap tap, Hansen melangkah masuk melalui pintu utama dan segera pergi menuju meja resepsionis.

"Dimana CEO kalian!"

"Aku ingin bertemu dengannya!" nada bicara Hansen terdengar cukup lantang dan kasar karena rasa kesal.

"Apakah anda sudah memiliki janji?" tanya sang respsionis sambil menyembunyikan kepanikannya.

"Apakah seorang suami harus mengatur janji dahulu agar bisa bertemu dengan istrinya sendiri?" Hansen kehilangan batasannya.

"Su ... suami?" sang resepsionis nampak ragu karena melihat seragam Hansen.

"CEO kami adalah nona Andini Wisnu, putri pertama dari keluarga Wisnu yang merupakan satu dari empat keluarga besar dengan pengaruh bisnis yang cukup luas."

"Dengan penampilan burukmu itu, kau pikir kami akan percaya?" seorang penjaga keamanan yang datang karena mendengar seseorang sedang membuat keributan melangkah mendekat ditemani bawahannya.

"Aku memang sedang tak membawa buktinya karena terlalu terburu buru, tapi aku tidaklah berbohong. Nona besar kalian itu, memang benar benar istriku, dan aku ingin segera bertemu dengannya karena urusan pribadi." Hansen membalikkan badan sembari menatap tajam para penjaga keamanan.

"Omong kosong!"

"Seret dia keluar!" kepala penjaga keamanan yang memiliki rupa seram dengan wajah penuh luka, serta badan kekar yang nampak sedikit lebih besar dari para bawahannya menatap Hansen dengan kesal.

"Baik pak!" dua orang penjaga keamanan berjalan mendekati Hansen dengan maksud menyeretnya.

"Lebih baik kau menurut dan segera pergi agar tak terluka," salah satu dari penjaga menatap hina Hansen sembari menepuk pundaknya.

"Apa kau mengancamku?" tanya Hansen sinis.

"Kau yang meminta ya .. ," penjaga itu memperkuat pegangannya dengan maksud mengancam dan menakut nakuti Hansen. Sayangnya hal tersebut sama sekali tak menyakiti dirinya, semua berkat pengalaman akan rasa sakit yang luar biasa saat menjadi seorang veteran tentara.

Kretakkk!!! Bruakk!!! Hansen memegangi lengan pria itu dengan begitu kencang hingga membuatnya menjerit kesakitan, lalu mendorong mundur pria tersebut dengan tendangan kerasnya.

Tendangannya begitu keras hingga mendorong tubuh pria itu mundur begitu jauh, dan berakhir menabrak kursi yang telah tersusun rapih.

"Beraninya kau!" seorang penjaga yang berada di dekat Hansen menjadi kesal karena melihat temannya terluka. Dengan penuh emosi dia mencoba memukul Hansen, namun Hansen menghindari semua serangannya seperti sedang melawan seorang bayi.

"Gerakanmu terlalu mudah ditebak," Hansen meledek targetnya.

"Kenapa kalian hanya menonton saja!"

"Cepat bantu dia!" Kepala penjaga keamanan nampak geram melihat bawahannya dipermainkan.

"Baik pak!" Lusinan penjaga keamanan segera menyerang Hansen mengikuti arahan Kepala penjaga keamanan.

"Dasar bodoh!" Hansen menghindari semua pukulan dan tendangan dengan cukup mudah. Dia juga menjatuhkan serangan fatal yang membuat mereka menjerit kesakitan setiap kali Hansen menjatuhkan pukulan demi pukulan.

"Ini ... ," Kepala keamanan perusahaan, nampak panik setelah melihat semua bawahannya dihancurkan dengan mudah. Dia memang lebih kuat dari pada semua bawahannya, namun dia tak begitu yakin dapat melukai mereka semua tanpa menderita satu lukapun. Setelah melihat penampilan Hansen yang jauh diatas kemampuannya, tentu saja sedikit mempengaruhi kepercayaan dirinya.

'Aku bukan lawan baginya, tapi aku memerlukan pekerjaan ini, jika aku tak melawan, kemungkinan besar perusahaan akan memecatku,' Kepala penjaga keamanan nampak panik dan terdiam kaku di tempatnya berdiri.

"Kenapa kau tak bergabung?"

"Bukankah kau yang menyuruh mereka mengusirku?" Hansen berjalan mendekat dengan aura yang mendominasi. Menakuti sang kepala penjaga hingga membuatnya tak sadar bahwa telah melangkah mundur beberapa langkah. 'Ma .. mati aku!'

"Cukup Hansen!" suara teriakan Andini terdengar begitu keras jauh di arah kiri Hansen.

"Andini?" Hansen segera menoleh dan melepaskan permusuhannya terhadap kepala penjaga keamanan.

"Apa maksud semua ini!"

"Mengapa kau mengacau di perusahaanku!"

"Meskipun kau memiliki hubungan denganku, kau seharusnya paham betul akan apa arti dari sebuah batasan!" Andini membentak Hansen dengan kesal.

'Hubungan!?" semua orang terkejut akan pernyataan Andini.

"Luar biasa, Andini!"

"Ternyata wajahmu masih tebal seperti biasanya ya!?" Hansen menatap sinis.

"Apa maksudmu?" Andini nampak bingung.

"Berhenti bersikap bodoh!"

"Kau baru saja menjebakku untuk berkunjung di hotel dan mengirim wanita jalang untuk mendapatkan foto skandal yang bisa kau jadikan senjata untuk mengancamku!" Hansen menatap Andini dengan penuh amarah dan terus meninggikan nada bicaranya.

"Apa maksudmu!?"

"Aku sama sekali tak memahami ucapanmu!" Andini meninggikan nada bicaranya.

" ... " Hansen hanya diam dan menatap kesal Andini karena yakin bahwa Andinilah yang telah menjebaknya.

"Baiklah, aku memang sempat menyuruhmu berkunjung ke hotel untuk mengantar temanku yang mabuk berat."

"Tapi tepat sebelum aku mengabari nomor kamarnya, seorang klien besar mendadak menelponku melalui telepon kantor dan berkata bahwa dia ingin bertemu denganku karena ada hal penting yang harus dibicarakan." Andini nampak tertekan saat menjelaskan alasannya kepada Hansen.

"Lantas?" Hansen masih tak mempercayai pembelaan Andini.

"Karena terlalu terburu buru, aku baru menyadari bahwa aku lupa mengabarimu saat sudah ada diluar hotel permata, bahkan saking buru burunya, aku juga terlambat menyadari bahwa ponselku tertinggal disana." Andini Wisnu nampak kacau saat mengatakan alasannya.

"Seorang yang teliti sepertimu, bisa meninggalkan sebuah ponsel?"

"Kau pikir aku akan percaya!" Hansen tak mau mendengar penjelasan Andini.

"Pikiranku sedang kacau saat ini kau tahu!"

"Tolong jangan memperburuk keadaanku!" Andini meninggikan suaranya.

"Memangnya apa yang sanggup membuatmu tertekan seperti ini?" Hansen masih memiliki keraguan besar terhadap Andini.

"Klien besar itu tidaklah sendiri, dia berkata bahwa akan ada klien lain yang akan datang bersamanya. Dan yang paling membuatku kacau adalah dia mengatakan bahwa mereka semua akan mencabut investasi mereka dari hotel permata." Andini nampak semakin tertekan hingga menggertakkan gigi serta mengepal erat kedua eratnya. "Aku begitu terburu buru hingga meninggalkan ponselku karena ingin membujuk mereka, kau pikir masalah ini terjadi karena siapa ha!" Andini membentak Hansen dengan kesal dan sedikit stres.

"Apakah ini ulah Bos Cahyadi?" Hansen mulai menurunkan nada bicaranya karena melihat kondisi Andini nampak kacau dan tak terlihat sedang berbohong.

"Ya!"

"Memangnya siapa lagi!" Andini meninggikan suaranya sembari melampiaskan rasa kesal terhadap Hansen yang memperburuk keadaannya.

"Jika ponselmu tertinggal, lantas siapa yang mengirim pesan kepadaku?" Hansen merasa heran dan mulai ragu bahwa Andini lah yang merencanakan jebakan untuknya.

"Seseorang mengirim pesan menggunakan nomorku?" Andini terlihat heran dan tak percaya.

"Kalau pesan itu bukan berasal dari nomormu, memangnya aku akan semarah tadi?" Hansen menunjukkan pesan di ponselnya.

'I ... ini ... ," Andini nampak syok sekaligus bingung.

'Aku sempat bertemu Amelia saat hendak pergi, dan menceritakan bahwa aku lupa memberitahukan nomor kamar dari teman bisnisku. Mungkinkah jika dia ... ?"

"Apakah kau bisa menjelaskan ini, Andini?" tanya Hansen dengan serius. Dia bertanya demikian karena isi pesan itu terlihat masuk akal dan seperti berasal dari Andini sendiri. Semua karena kabar tentang Andini yang meminta bantuan dirinya untuk menjemput seseorang di hotel permata harusnya hanya diketahui oleh mereka berdua saja.

"Amelia," Andini menjawab dengan kecewa.

"Aku sempat berpapasan dengannya saat hendak pergi, dan menceritakan bahwa aku menitipkan temanku padamu tapi lupa memberikan nomor kamarnya."

'Jalang itu!' Hansen nampak geram.

"Karena semuanya sudah jelas, maka pergilah dari sini."

"Aku benar benar sedang repot dan stres saat ini," Andini nampak lemas dan kacau saat itu.

"Maaf karena telah membuat keadaanmu menjadi seperti ini," Hansen teringat akan perbuatannya yang telah mengacaukan reputasi Hotel karena menghajar seorang bos besar.

"Aku tak begitu masalah dengan itu, lagipula aku paham betul kau melakukannya hanya untuk membela seorang karyawan dan dirimu sendiri. Satu satunya yang membuatku kecewa padamu adalah, betapa dangkalnya rasa percayamu padaku, hingga berpikir bahwa aku telah merencanakan hal menjijikan yang bisa merusak reputasimu," Andini nampak kecewa dan pergi begitu saja.

" ... " Hansen tak dapat berkata kata selain terdiam dan menunduk karena rasa malu dan perasaan bersalah atas tuduhan yang dia ucapkan.

Terpopuler

Comments

Agustina Mose

Agustina Mose

bagaimana tidak si ular Amelia Wisnu sudah merusak semuanya

2022-10-06

0

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

lanjutkan thor seruuuu

2022-08-24

0

Noe Aink

Noe Aink

apa yg di harapkan Hansen dari Andini? hingga gk mau bercerai ? hmm mau jdi banci terus

2022-06-04

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2 Bab 2 : Situasi yang mendesak
3 Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4 Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5 Bab 5 : Rencana Andini
6 Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7 Bab 7 : Kembali ke rumah
8 Bab 8 : Hari pertama bekerja
9 Bab 9 : Pembelaan Hansen
10 Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11 Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12 Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13 Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14 Bab 14 : Tertangkap basah
15 Bab 15 : Keputusan besar Andini
16 Bab 16 : Hati yang hancur
17 Bab 17 : Rasa bersalah
18 Bab 18 : Terjebak
19 Bab 19 : Salah sangka
20 Bab 20 : Singa yang terbangun
21 Bab 21 : Pria yang misterius
22 Bab 22 : Emosi Hansen
23 Bab 23 : Dendam lama
24 Bab 24 : Kembali ke markas
25 Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26 Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27 Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28 Bab 28 : Menemui Zaskia
29 Bab 29 : Gerakan Scorpion
30 Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31 Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32 Bab 32 : Dion Raharja
33 Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34 Bab 34 : Pencarian kawan lama
35 Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36 Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37 Bab 37 : Serangan di gedung putih
38 Bab 38 : Ambil alih
39 Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40 Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41 Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42 Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43 Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44 Chapter 44 : Rencana Number
45 Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46 Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47 Chapter 47 : Shelter
48 Chapter 48 : Shelter 2
49 Chapter 49 : Shelter 3
50 Chapter 50 : Kabar berita
51 Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52 Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53 Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54 Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55 Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56 Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57 Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58 Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59 Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60 Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61 Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62 Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63 Chapter 63 : Zaskia Arista
64 Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65 Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66 Chapter 66 : Murka Mr W
67 Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68 Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69 Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70 Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71 Chapter 71 : Kedatangan Theo
72 Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73 Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74 Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75 Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76 Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77 Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78 Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79 Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80 Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81 Chapter 81 : Menemui Mr W
82 Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83 Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84 Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85 Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86 Chapter 86 : Mengejar Andini
87 Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88 Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89 Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90 Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91 Chapter 91 : Emosi yang meluap
92 chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93 chapter 93 : Hubungan masa lalu
94 chapter 94 - nasib savior eagle
95 chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96 Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97 Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98 Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99 Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100 Chapter 100 : Koridor
101 Chapter 101 : Ilmuan gila
102 Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103 Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104 Chapter 104 : Operasi lanjutan
105 Chapter 105 : Hasil operasi
106 Chapter 106 : Perseteruan
107 Chapter 107 : Dominasi Number
108 Chapter 108 : Identitas
109 Chapter 109 : Sampai di Shelter
110 Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111 Chapter 111 : Keputusan Hansen
112 Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113 Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114 Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115 Chapter 115 : Hampir terungkap
116 Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2
Bab 2 : Situasi yang mendesak
3
Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4
Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5
Bab 5 : Rencana Andini
6
Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7
Bab 7 : Kembali ke rumah
8
Bab 8 : Hari pertama bekerja
9
Bab 9 : Pembelaan Hansen
10
Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11
Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12
Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13
Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14
Bab 14 : Tertangkap basah
15
Bab 15 : Keputusan besar Andini
16
Bab 16 : Hati yang hancur
17
Bab 17 : Rasa bersalah
18
Bab 18 : Terjebak
19
Bab 19 : Salah sangka
20
Bab 20 : Singa yang terbangun
21
Bab 21 : Pria yang misterius
22
Bab 22 : Emosi Hansen
23
Bab 23 : Dendam lama
24
Bab 24 : Kembali ke markas
25
Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26
Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27
Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28
Bab 28 : Menemui Zaskia
29
Bab 29 : Gerakan Scorpion
30
Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31
Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32
Bab 32 : Dion Raharja
33
Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34
Bab 34 : Pencarian kawan lama
35
Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36
Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37
Bab 37 : Serangan di gedung putih
38
Bab 38 : Ambil alih
39
Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40
Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41
Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42
Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43
Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44
Chapter 44 : Rencana Number
45
Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46
Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47
Chapter 47 : Shelter
48
Chapter 48 : Shelter 2
49
Chapter 49 : Shelter 3
50
Chapter 50 : Kabar berita
51
Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52
Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53
Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54
Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55
Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56
Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57
Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58
Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59
Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60
Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61
Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62
Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63
Chapter 63 : Zaskia Arista
64
Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65
Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66
Chapter 66 : Murka Mr W
67
Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68
Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69
Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70
Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71
Chapter 71 : Kedatangan Theo
72
Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73
Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74
Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75
Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76
Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77
Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78
Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79
Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80
Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81
Chapter 81 : Menemui Mr W
82
Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83
Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84
Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85
Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86
Chapter 86 : Mengejar Andini
87
Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88
Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89
Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90
Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91
Chapter 91 : Emosi yang meluap
92
chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93
chapter 93 : Hubungan masa lalu
94
chapter 94 - nasib savior eagle
95
chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96
Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97
Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98
Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99
Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100
Chapter 100 : Koridor
101
Chapter 101 : Ilmuan gila
102
Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103
Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104
Chapter 104 : Operasi lanjutan
105
Chapter 105 : Hasil operasi
106
Chapter 106 : Perseteruan
107
Chapter 107 : Dominasi Number
108
Chapter 108 : Identitas
109
Chapter 109 : Sampai di Shelter
110
Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111
Chapter 111 : Keputusan Hansen
112
Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113
Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114
Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115
Chapter 115 : Hampir terungkap
116
Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!