"B*engsek! Beraninya kau memukul bos kami!"
Para bodyguard Bos Cahyadi melayangkan tinju mereka ke Hansen. Namun semua itu dapat dihindari dengan mudah olehnya.
"Kau jago menghindar juga ya, b*engsek!" seru salah satu bodyguard.
Hansen adalah mantan tentara profesional, tentu saja serangan dari amatir seperti mereka tak dapat mengenainya. Setelah puas mempermainkan musuh-musuhnya, Hansen pun berniat untuk melayangkan tinjunya.
"Hentikan perlawanan mu!" seru Zaskia lantang.
Hansen menghentikan niatnya.
"Mereka adalah tamu perusahaan!"
"Cih!" karena terikat kontrak dan butuh sebuah pekerjaan, Hansen terpaksa menuruti perintah Zaskia.
Hansen mungkin menghentikan tinjunya, tapi para bodyguard tidak. Hansen terpaksa menerima pukulan mereka tanpa melawan ataupun menghindar. Dia pun berakhir babak belur.
Brukkk!!!
Hansen tergeletak di tanah dan para bodyguard terus menghajarnya tanpa henti hingga dia kehilangan kesadaran.
"Cih, rasakan ini, br*ngsek! ucap salah satu bodyguard sambil menginjakkan kakinya di perut Hansen.
Dalam keadaan mabuk berat, Hansen terus menerima semua serangan. Sedangkan Zaskia hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia hanya hanya bisa menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. Dia sesekali melirik ke arah Hansen dengan penuh rasa bersalah.
Luka lebam, goresan luka, hingga muntahan darah, menghiasi rasa sakit Hansen. Matanya perlahan menutup bersamaan dengan hilangnya kesadarannya.
….
Hansen perlahan membuka matanya. Rasa sakit di seluruh badan dan rasa pening, membuat Hansen tak dapat mengetahui di mana dirinya saat itu. Hansen perlahan duduk sembari memegang dahinya.
Lalu, terdengar suara seorang pria tepat dari arah depannya.
"Apa kau menikmati tidur siangmu, a*jing kampung?"
Hansen mencoba melirik ke arah suara tersebut. Namun efek minuman keras beserta pukulan yang dia terima, masih mengganggu penglihatannya.
"Siapa kau? Di mana aku?" tanya Hansen.
"Mabuk berat di hari pertama kerja dan menyerang seorang bos besar. Kau pikir, kau akan berakhir di mana, ha?"
Pria dengan seragam polisi, berdiri dibalik jeruji besi di mana Hansen terkurung. Awalnya Hansen tak menyadari di mana dia, namun setelah pandangannya mulai membaik, dia pun sadar di mana dirinya.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki dari sekat pembatas ruangan. Zaskia tampak berjalan perlahan dengan penuh rasa bersalah.
"Kudengar kalau Hansen sudah sadar. Bisakah anda beri kami waktu sebentar?" tanya Zaskia.
"Apakah anda sudah izin ke atasanku?” tanya polisi itu, “Bos Cahyadi memerintahkan ku agar tak ada yang boleh membesuk ataupun mengeluar…"
Zaskia menutup mulut polisi tersebut dengan uang dari balik tasnya.
"Ah, aku adalah pria yang bertanggung jawab terhadap hukum, nona. Perilakumu ini bisa membuatmu…"
Zaskia kembali menambah uang tutup mulut.
“Waktu anda lima menit,” ucap polisi tersebut sambil melangkah pergi.
Zaskia berjalan mendekat ke arah Hansen. Dia menatap ke arahnya dengan penuh rasa bersalah.
"Kenapa anda kemari?" tanya Hansen, tangannya masih memegang dahinya.
"Maafkan aku, kau bermaksud menolongku, tapi malah berakhir seperti ini. Bos Cahyadi adalah pria yang berkuasa. Dia telah membayar kepolisian agar tak membiarkan siapapun membesuk ataupun mengeluarkan mu. Tapi tenang saja, aku pasti membantumu untuk menemui keluargamu dan mencoba segala cara untuk mengeluarkan mu dari sini." Zaskia menatap Hansen dengan rasa iba.
"Andini Wisnu," ucap Hansen pelan.
"Apa?" Zaskia terkejut karena nama yang Hansen sebutkan terdengar tak asing di telinganya.
"Tolong pinjamkan ponselmu padaku. Aku ingin menghubungi istriku.”
"Ah, baiklah." Zaskia mengambil ponsel dari dalam tas miliknya dan memberikannya.
Hansen segera menekan nomor telepon Andini.
Awalnya telepon Hansen tak dijawab selama beberapa kali. Namun, akhirnya Andini pun mengangkat panggilan Hansen.
"Halo? Dengan saya, Andini Wisnu, ada yang bisa saya bantu?" ucap Andini dari seberang telepon.
"Ini aku, Hansen. Saat ini aku berada di kantor polisi karena terlibat hal yang rumit. Bisakah kau datang kemari untuk membebas…"
"Kantor polisi katamu!?" seru Andini kaget, “Bagaimana bisa kau berada di sana!?" Apakah kau ingin menghancurkan reputasi keluargaku!? Katakan padaku, di kantor polisi mana kau berada!"
"Kantor cabang, di dekat hotel permata!" jawab Hansen.
Tutt … tutt... Tutt…
Ponsel langsung dimatikan oleh Andini. Hansen mengembalikan ponsel Zaskia, lalu berkata, "Kau bisa pergi sekarang, tak lama lagi aku akan keluar,"
"Jangan bercanda, bagaimana mungkin istrimu bisa mengurus kepulanganmu? Aku tak akan pergi meninggalkanmu sampai bisa mengeluarkan mu dari sini. Jadi berhenti bersikap sok kuat, oke?"
Zaskia lalu berjalan pergi menuju ruangan untuk mencoba bernegosiasi dengan komisaris polisi agar mau melepaskan Hansen.
"Ini adalah perintah dari atasanku,” ucap komisaris polisi, “Aku tak berhak untuk memutuskan apapun. Jika anda sangat bersikeras ingin mengeluarkannya, hubungi saja kantor pusat!"
"Maafkan aku Nona Zaskia, sepertinya aku tak bisa membantumu lebih dari ini. Kita tak akan bisa menentang tuntutan dari bos besar seperti bos Cahyadi," pungkas pengacara yang bertugas membantu Zaskia.
"Tolong jangan katakan itu, tetaplah bersamaku dan bantu aku mengatasi semua ini."
Usaha Zaskia tak membuahkan hasil. Bahkan dengan bantuan seorang pengacara kenalannya pun, dia tak dapat membebaskan Hansen. Waktu telah berjalan cukup lama, Zaskia mulai putus asa.
Lalu, terdengarlah suara langkah kaki dari luar kantor polisi. Seorang wanita masuk ke dalam kantor polisi. Rambutnya hitam panjang menjuntai, pakaiannya mewah, dan dia berjalan layaknya seorang bangsawan. Anggun dan penuh pesona, itulah yang tergambar di mata semua orang.
Setelah wanita itu berada di dekatnya, Zaskia langsung bangkit dari tempat duduknya lalu membungkuk dan berkata, "Anda pasti nona Andini. Maaf atas kekacauan yang terjadi. Saya berjanji akan membereskan semua kekacauan ini."
Tanpa mempedulikan ucapan Zaskia, Andini berjalan melewatinya sembari membawa surat perintah jaminan dari kantor polisi pusat.
"Panggil suamiku kemari dan bebaskan dia!" Andini melempar surat perintah tersebut kepada sang komisaris dengan wajah kesal.
Komisaris polisi langsung membaca dan mengecek keaslian surat itu. Setelah yakin bahwa itu asli, dia melirik ke arah bawahannya dan memintanya untuk melepaskan Hansen.
Hansen pun dikeluarkan dari dalam selnya. Namun, bukan sambutan hangat yang menghampirinya. Melainkan sebuah tamparan yang cukup keras dari Andini.
Plakkkk!!!!
"Bagaimana bisa kau terlibat dalam perkelahian dengan seorang bos besar!? Apakah kau pikir kau seorang jagoan hingga bisa berbuat seenak mu!?” bentak Andini.
Hansen hanya terdiam.
“Aku tak peduli dengan apa yang ingin kau lakukan, tapi setidaknya jangan permalukan nama keluarga Wisnu. Ingatlah, meski apapun yang terjadi kau tetaplah suamiku! Jadi tolong jaga perilakumu, tuan Hansen Pratama!" bentak Andini dengan napas terengah-engah. Wajahnya tampak kesal dan ingin sekali menghabisi Hansen.
"Me-menantu dari keluarga wisnu? Hansen adalah suami nona Andini yang merupakan CEO dari perusahaan kami? Bagaimana bisa…?"
Zaskia membalikkan badannya untuk memastikan bahwa Hansen yang Andini maksud adalah Hansen yang dia kenal sebagai satpam baru di hotel Permata. Zaskia pun terdiam, matanya terbelalak.
Tak ingin diomeli di kantor polisi, Hansen menahan tamparan yang Andini layangkan lagi.
"Tolong jangan tampar aku lagi, bagaimanapun aku tetap suamimu kan? Maaf karena telah membuatmu khawatir.”
Di saat Andini masih kesal dan ingin melayangkan tamparan dengan tangan satunya lagi, Hansen dengan sigap menghindari dan mendekat. Dia memukul bokong Andini sekali.
"Tidak baik jika bertengkar di sini, kita lanjutkan saja di rumah. Aku akan menerima semua omelanmu saat sudah di sana, sayangku."
"Kau!" Andini tercekat. Ingin sekali dia melampiaskan amarahnya, namun karena malu dilihat banyak orang. Dia menahan diri. Wajahnya memerah menahan emosi.
"Benar katamu, sayangku.” Andini menekankan kata terakhirnya sarkastik, “Tidak baik jika kita berlama-lama di sini."
Hansen pun melingkarkan tangannya ke pundak Andini. Andini berusaha menahan supaya tidak bereaksi. Keduanya berjalan keluar bersama, meninggalkan Zaskia yang masih terdiam memproses apa yang baru saja terjadi.
….
Sesampainya di halaman rumah, Andini menghentikan mobilnya lalu menatap tajam Hansen.
"Sejak kapan kau bekerja di hotel permata? Kenapa kau bisa terlibat masalah dengan bos besar seperti Bos Cahyadi!? Apakah kau tahu, gara-gara masalah yang kau ciptakan, reputasi hotelku turun?"
"Ho-hotelmu?" Hansen terkejut.
“Ya, benar itu adalah properti ku, dan seperti biasa kau selalu menghancurkan keuntunganku seperti waktu itu. Apakah merusak citra perusahaan adalah satu-satunya yang kau bisa lakukan?" Andini membentak kesal Hansen tanpa henti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Fhocank Daenk
yg sabar hanzen
2022-11-04
0
Agustina Mose
bukan salahnya dia hanya mau membantu
2022-08-29
0
Imam Sutoto Suro
amazing story lanjut
2022-08-24
0