Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar

"B*engsek! Beraninya kau memukul bos kami!" 

Para bodyguard Bos Cahyadi melayangkan tinju mereka ke Hansen. Namun semua itu dapat dihindari dengan mudah olehnya. 

"Kau jago menghindar juga ya, b*engsek!" seru salah satu bodyguard. 

Hansen adalah mantan tentara profesional, tentu saja serangan dari amatir seperti mereka tak dapat mengenainya. Setelah puas mempermainkan musuh-musuhnya, Hansen pun berniat untuk melayangkan tinjunya. 

"Hentikan perlawanan mu!" seru Zaskia lantang.

Hansen menghentikan niatnya.

"Mereka adalah tamu perusahaan!"

"Cih!" karena terikat kontrak dan butuh sebuah pekerjaan, Hansen terpaksa menuruti perintah Zaskia. 

Hansen mungkin menghentikan tinjunya, tapi para bodyguard tidak. Hansen terpaksa menerima pukulan mereka tanpa melawan ataupun menghindar. Dia pun berakhir babak belur. 

Brukkk!!! 

Hansen tergeletak di tanah dan para bodyguard terus menghajarnya tanpa henti hingga dia kehilangan kesadaran.

"Cih, rasakan ini, br*ngsek!  ucap salah satu bodyguard sambil menginjakkan kakinya di perut Hansen. 

Dalam keadaan mabuk berat, Hansen terus menerima semua serangan. Sedangkan Zaskia hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia hanya hanya bisa menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. Dia sesekali melirik ke arah Hansen dengan penuh rasa bersalah.

Luka lebam, goresan luka, hingga muntahan darah, menghiasi rasa sakit Hansen. Matanya perlahan menutup bersamaan dengan hilangnya kesadarannya. 

….

Hansen perlahan membuka matanya. Rasa sakit di seluruh badan dan rasa pening, membuat Hansen tak dapat mengetahui di mana dirinya saat itu. Hansen perlahan duduk sembari memegang dahinya.

Lalu, terdengar suara seorang pria tepat dari arah depannya.

"Apa kau menikmati tidur siangmu, a*jing kampung?" 

Hansen mencoba melirik ke arah suara tersebut. Namun efek minuman keras beserta pukulan yang dia terima, masih mengganggu penglihatannya. 

"Siapa kau? Di mana aku?" tanya Hansen.

"Mabuk berat di hari pertama kerja dan menyerang seorang bos besar. Kau pikir, kau akan berakhir di mana, ha?" 

Pria dengan seragam polisi, berdiri dibalik jeruji besi di mana Hansen terkurung. Awalnya Hansen tak menyadari di mana dia, namun setelah pandangannya mulai membaik, dia pun sadar di mana dirinya.

Tak lama, terdengar suara langkah kaki dari sekat pembatas ruangan. Zaskia tampak berjalan perlahan dengan penuh rasa bersalah.

"Kudengar kalau Hansen sudah sadar. Bisakah anda beri kami waktu sebentar?" tanya Zaskia.

"Apakah anda sudah izin ke atasanku?” tanya polisi itu, “Bos Cahyadi memerintahkan ku agar tak ada yang boleh membesuk ataupun mengeluar…" 

Zaskia menutup mulut polisi tersebut dengan uang dari balik tasnya.

"Ah, aku adalah pria yang bertanggung jawab terhadap hukum, nona. Perilakumu ini bisa membuatmu…" 

Zaskia kembali menambah uang tutup mulut.

“Waktu anda lima menit,” ucap polisi tersebut sambil melangkah pergi.

Zaskia berjalan mendekat ke arah Hansen. Dia menatap ke arahnya dengan penuh rasa bersalah.

"Kenapa anda kemari?" tanya Hansen, tangannya masih memegang dahinya. 

"Maafkan aku, kau bermaksud menolongku, tapi malah berakhir seperti ini. Bos Cahyadi adalah pria yang berkuasa. Dia telah membayar kepolisian agar tak membiarkan siapapun membesuk ataupun mengeluarkan mu. Tapi tenang saja, aku pasti membantumu untuk menemui keluargamu dan mencoba segala cara untuk mengeluarkan mu dari sini." Zaskia menatap Hansen dengan rasa iba.

"Andini Wisnu," ucap Hansen pelan.

"Apa?" Zaskia terkejut karena nama yang Hansen sebutkan terdengar tak asing di telinganya.

"Tolong pinjamkan ponselmu padaku. Aku ingin menghubungi istriku.”

"Ah, baiklah." Zaskia mengambil ponsel dari dalam tas miliknya dan memberikannya.

Hansen segera menekan nomor telepon Andini. 

Awalnya telepon Hansen tak dijawab selama beberapa kali. Namun, akhirnya Andini pun mengangkat panggilan Hansen.

"Halo? Dengan saya, Andini Wisnu, ada yang bisa saya bantu?" ucap Andini dari seberang telepon.

"Ini aku, Hansen. Saat ini aku berada di kantor polisi karena terlibat hal yang rumit. Bisakah kau datang kemari untuk membebas…" 

"Kantor polisi katamu!?" seru Andini kaget, “Bagaimana bisa kau berada di sana!?" Apakah kau ingin menghancurkan reputasi keluargaku!? Katakan padaku, di kantor polisi mana kau berada!"

"Kantor cabang, di dekat hotel permata!" jawab Hansen. 

Tutt … tutt... Tutt…

Ponsel langsung dimatikan oleh Andini. Hansen mengembalikan ponsel Zaskia, lalu berkata, "Kau bisa pergi sekarang, tak lama lagi aku akan keluar,"

"Jangan bercanda, bagaimana mungkin istrimu bisa mengurus kepulanganmu? Aku tak akan pergi meninggalkanmu sampai bisa mengeluarkan mu dari sini. Jadi berhenti bersikap sok kuat, oke?" 

Zaskia lalu berjalan pergi menuju ruangan untuk mencoba bernegosiasi dengan komisaris polisi agar mau melepaskan Hansen.

"Ini adalah perintah dari atasanku,” ucap komisaris polisi, “Aku tak berhak untuk memutuskan apapun. Jika anda sangat bersikeras ingin mengeluarkannya, hubungi saja kantor pusat!" 

"Maafkan aku Nona Zaskia, sepertinya aku tak bisa membantumu lebih dari ini. Kita tak akan bisa menentang tuntutan dari bos besar seperti bos Cahyadi," pungkas pengacara yang bertugas membantu Zaskia.

"Tolong jangan katakan itu, tetaplah bersamaku dan bantu aku mengatasi semua ini." 

Usaha Zaskia tak membuahkan hasil. Bahkan dengan bantuan seorang pengacara kenalannya pun, dia tak dapat membebaskan Hansen. Waktu telah berjalan cukup lama, Zaskia mulai putus asa.

Lalu, terdengarlah suara langkah kaki dari luar kantor polisi. Seorang wanita masuk ke dalam kantor polisi. Rambutnya hitam panjang menjuntai, pakaiannya mewah, dan dia berjalan layaknya seorang bangsawan. Anggun dan penuh pesona, itulah yang tergambar di mata semua orang.

Setelah wanita itu berada di dekatnya, Zaskia langsung bangkit dari tempat duduknya lalu membungkuk dan berkata, "Anda pasti nona Andini. Maaf atas kekacauan yang terjadi. Saya berjanji akan membereskan semua kekacauan ini."

Tanpa mempedulikan ucapan Zaskia, Andini berjalan melewatinya sembari membawa surat perintah jaminan dari kantor polisi pusat.

"Panggil suamiku kemari dan bebaskan dia!" Andini melempar surat perintah tersebut kepada sang komisaris dengan wajah kesal.

Komisaris polisi langsung membaca dan mengecek keaslian surat itu. Setelah yakin bahwa itu asli, dia melirik ke arah bawahannya dan memintanya untuk melepaskan Hansen.

Hansen pun dikeluarkan dari dalam selnya. Namun, bukan sambutan hangat yang menghampirinya. Melainkan sebuah tamparan yang cukup keras dari Andini.

Plakkkk!!!!

"Bagaimana bisa kau terlibat dalam perkelahian dengan seorang bos besar!? Apakah kau pikir kau seorang jagoan hingga bisa berbuat seenak mu!?” bentak Andini.

Hansen hanya terdiam. 

“Aku tak peduli dengan apa yang ingin kau lakukan, tapi setidaknya jangan permalukan nama keluarga Wisnu. Ingatlah, meski apapun yang terjadi kau tetaplah suamiku! Jadi tolong jaga perilakumu, tuan Hansen Pratama!" bentak Andini dengan napas terengah-engah. Wajahnya tampak kesal dan ingin sekali menghabisi Hansen.

"Me-menantu dari keluarga wisnu? Hansen adalah suami nona Andini yang merupakan CEO dari perusahaan kami? Bagaimana bisa…?" 

Zaskia membalikkan badannya untuk memastikan bahwa Hansen yang Andini maksud adalah Hansen yang dia kenal sebagai satpam baru di hotel Permata. Zaskia pun terdiam, matanya terbelalak.

Tak ingin diomeli di kantor polisi, Hansen menahan tamparan yang Andini layangkan lagi.

"Tolong jangan tampar aku lagi, bagaimanapun aku tetap suamimu kan? Maaf karena telah membuatmu khawatir.” 

Di saat Andini masih kesal dan ingin melayangkan tamparan dengan tangan satunya lagi, Hansen dengan sigap menghindari dan mendekat. Dia memukul bokong Andini sekali. 

"Tidak baik jika bertengkar di sini, kita lanjutkan saja di rumah. Aku akan menerima semua omelanmu saat sudah di sana, sayangku." 

"Kau!" Andini tercekat. Ingin sekali dia melampiaskan amarahnya, namun karena malu dilihat banyak orang. Dia menahan diri. Wajahnya memerah menahan emosi.

"Benar katamu, sayangku.” Andini menekankan kata terakhirnya sarkastik, “Tidak baik jika kita berlama-lama di sini."

Hansen pun melingkarkan tangannya ke pundak Andini. Andini berusaha menahan supaya tidak bereaksi. Keduanya berjalan keluar bersama, meninggalkan Zaskia yang masih terdiam memproses apa yang baru saja terjadi.

…. 

Sesampainya di halaman rumah, Andini menghentikan mobilnya lalu menatap tajam Hansen.

"Sejak kapan kau bekerja di hotel permata? Kenapa kau bisa terlibat masalah dengan bos besar seperti Bos Cahyadi!? Apakah kau tahu, gara-gara masalah yang kau ciptakan, reputasi hotelku turun?" 

"Ho-hotelmu?" Hansen terkejut.

“Ya, benar itu adalah properti ku, dan seperti biasa kau selalu menghancurkan keuntunganku seperti waktu itu. Apakah merusak citra perusahaan adalah satu-satunya yang kau bisa lakukan?" Andini membentak kesal Hansen tanpa henti.

 

 

Terpopuler

Comments

Fhocank Daenk

Fhocank Daenk

yg sabar hanzen

2022-11-04

0

Agustina Mose

Agustina Mose

bukan salahnya dia hanya mau membantu

2022-08-29

0

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

amazing story lanjut

2022-08-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2 Bab 2 : Situasi yang mendesak
3 Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4 Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5 Bab 5 : Rencana Andini
6 Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7 Bab 7 : Kembali ke rumah
8 Bab 8 : Hari pertama bekerja
9 Bab 9 : Pembelaan Hansen
10 Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11 Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12 Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13 Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14 Bab 14 : Tertangkap basah
15 Bab 15 : Keputusan besar Andini
16 Bab 16 : Hati yang hancur
17 Bab 17 : Rasa bersalah
18 Bab 18 : Terjebak
19 Bab 19 : Salah sangka
20 Bab 20 : Singa yang terbangun
21 Bab 21 : Pria yang misterius
22 Bab 22 : Emosi Hansen
23 Bab 23 : Dendam lama
24 Bab 24 : Kembali ke markas
25 Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26 Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27 Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28 Bab 28 : Menemui Zaskia
29 Bab 29 : Gerakan Scorpion
30 Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31 Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32 Bab 32 : Dion Raharja
33 Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34 Bab 34 : Pencarian kawan lama
35 Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36 Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37 Bab 37 : Serangan di gedung putih
38 Bab 38 : Ambil alih
39 Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40 Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41 Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42 Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43 Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44 Chapter 44 : Rencana Number
45 Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46 Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47 Chapter 47 : Shelter
48 Chapter 48 : Shelter 2
49 Chapter 49 : Shelter 3
50 Chapter 50 : Kabar berita
51 Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52 Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53 Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54 Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55 Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56 Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57 Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58 Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59 Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60 Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61 Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62 Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63 Chapter 63 : Zaskia Arista
64 Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65 Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66 Chapter 66 : Murka Mr W
67 Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68 Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69 Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70 Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71 Chapter 71 : Kedatangan Theo
72 Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73 Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74 Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75 Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76 Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77 Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78 Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79 Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80 Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81 Chapter 81 : Menemui Mr W
82 Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83 Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84 Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85 Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86 Chapter 86 : Mengejar Andini
87 Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88 Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89 Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90 Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91 Chapter 91 : Emosi yang meluap
92 chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93 chapter 93 : Hubungan masa lalu
94 chapter 94 - nasib savior eagle
95 chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96 Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97 Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98 Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99 Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100 Chapter 100 : Koridor
101 Chapter 101 : Ilmuan gila
102 Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103 Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104 Chapter 104 : Operasi lanjutan
105 Chapter 105 : Hasil operasi
106 Chapter 106 : Perseteruan
107 Chapter 107 : Dominasi Number
108 Chapter 108 : Identitas
109 Chapter 109 : Sampai di Shelter
110 Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111 Chapter 111 : Keputusan Hansen
112 Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113 Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114 Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115 Chapter 115 : Hampir terungkap
116 Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2
Bab 2 : Situasi yang mendesak
3
Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4
Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5
Bab 5 : Rencana Andini
6
Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7
Bab 7 : Kembali ke rumah
8
Bab 8 : Hari pertama bekerja
9
Bab 9 : Pembelaan Hansen
10
Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11
Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12
Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13
Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14
Bab 14 : Tertangkap basah
15
Bab 15 : Keputusan besar Andini
16
Bab 16 : Hati yang hancur
17
Bab 17 : Rasa bersalah
18
Bab 18 : Terjebak
19
Bab 19 : Salah sangka
20
Bab 20 : Singa yang terbangun
21
Bab 21 : Pria yang misterius
22
Bab 22 : Emosi Hansen
23
Bab 23 : Dendam lama
24
Bab 24 : Kembali ke markas
25
Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26
Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27
Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28
Bab 28 : Menemui Zaskia
29
Bab 29 : Gerakan Scorpion
30
Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31
Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32
Bab 32 : Dion Raharja
33
Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34
Bab 34 : Pencarian kawan lama
35
Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36
Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37
Bab 37 : Serangan di gedung putih
38
Bab 38 : Ambil alih
39
Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40
Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41
Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42
Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43
Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44
Chapter 44 : Rencana Number
45
Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46
Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47
Chapter 47 : Shelter
48
Chapter 48 : Shelter 2
49
Chapter 49 : Shelter 3
50
Chapter 50 : Kabar berita
51
Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52
Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53
Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54
Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55
Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56
Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57
Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58
Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59
Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60
Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61
Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62
Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63
Chapter 63 : Zaskia Arista
64
Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65
Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66
Chapter 66 : Murka Mr W
67
Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68
Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69
Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70
Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71
Chapter 71 : Kedatangan Theo
72
Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73
Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74
Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75
Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76
Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77
Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78
Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79
Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80
Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81
Chapter 81 : Menemui Mr W
82
Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83
Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84
Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85
Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86
Chapter 86 : Mengejar Andini
87
Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88
Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89
Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90
Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91
Chapter 91 : Emosi yang meluap
92
chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93
chapter 93 : Hubungan masa lalu
94
chapter 94 - nasib savior eagle
95
chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96
Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97
Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98
Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99
Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100
Chapter 100 : Koridor
101
Chapter 101 : Ilmuan gila
102
Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103
Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104
Chapter 104 : Operasi lanjutan
105
Chapter 105 : Hasil operasi
106
Chapter 106 : Perseteruan
107
Chapter 107 : Dominasi Number
108
Chapter 108 : Identitas
109
Chapter 109 : Sampai di Shelter
110
Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111
Chapter 111 : Keputusan Hansen
112
Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113
Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114
Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115
Chapter 115 : Hampir terungkap
116
Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!