Bab 8 : Hari pertama bekerja

Hari telah berganti. Di pagi buta, Hansen bangun dari tidurnya dan langsung pergi keluar rumah. Dia pergi tanpa berpamitan dan sepengetahuan semua orang karena tak ingin merusak mood-nya di pagi hari. 

Dengan menaiki kendaraan umum, Hansen pergi menuju ke tempat kerjanya. Dia sampai di tempat tujuan tepat sebelum jam 8 pagi. Dia pergi ke tempat penjaga keamanan dan mengenakan seragam yang telah disiapkan untuknya di sana.

Tak lama setelah itu, dia berpapasan dengan seorang wanita yang tampak elegan. Suaranya terdengar ramah dan cukup lembut hingga sanggup menenangkan jiwa. Wajahnya yang tampak sangat indah bak permata, membuat Hansen terkagum hingga terdiam sejenak.  

Melihat Hansen terus memandangi wajahnya, perempuan itu pun membalas tatapan Hansen dan berkata, “Apakah kau penjaga keamanan yang baru?”

“Ah, I-Iya.” Hansen tersadar dari lamunannya.

Perempuan itu memperkenalkan dirinya bernama Zaskia Arista. Dia menyebutkan bahwa dia adalah Supervisor di sana. Hansen pun langsung mengubah sikapnya setelah tahu siapa perempuan di hadapannya itu.

Tiba-tiba, terdengar suara pertengkaran dari sebuah ruangan. Suaranya terdengar nyaring hingga membuat Zaskia penasaran akan apa yang terjadi. 

Suara itu terdengar tak asing bagi Zaskia. Tampak jelas wajah kesal tergambar di raut wajahnya. Seraya menghela nafasnya, dia memutuskan untuk membawa Hansen pergi bersama menuju sumber suara. 

Awalnya Hansen berpikir Zaskia akan meminta dirinya melerai pertengkaran para tamu di ruangan VIP. Akan tetapi, hal yang terjadi malah sebaliknya. Ketika sampai di depan ruangan, Hansen yang berniat masuk dengan tongkat kayu di tangannya dicegah oleh tepukan lembut Sazkia. 

Zaskia menjelaskan bahwa tamu yang membuat keributan adalah tamu penting. Akan lebih baik jika Hansen menunggu di luar ruangan hingga dia menenangkan segalanya. Sejenak pikiran Hansen melayang karena sentuhan lembut dari Zaskia, hingga dirinya tak menyadari bahwa perempuan itu benar-benar masuk ke ruangan VIP dan meninggalkan dirinya di luar. 

Di dalam ruangan, terlihat seorang pria berukuran besar yang bernama Bos Cahyadi. Dia duduk di atas sofa, tampak berkharisma dan sangat mendominasi. Kedua matanya bulat, tetapi sorot matanya dingin dan tajam.

Di sebelah kanan dan kirinya, terdapat kolega-kolega bisnis yang mempercayakan beberapa bisnis mereka agar diurus oleh Bos Cahyadi. Sedangkan di belakangnya terdapat puluhan orang yang berdiri tegak dengan pakaian serba hitam. Mereka adalah orang-orang suruhan bos Cahyadi yang bekerja sebagai bodyguard. 

"Apa kau tahu apa kesalahanmu?" tanya Bos Cahyadi sembari menatap pekerja yang sedang dipegangi oleh dua orang bodyguard-nya. Wajah pekerja itu babak belur karena habis dipukuli. 

"S-Saya mohon maafkan saya, tuan. Saya benar-benar tak sengaja melakukannya. Tolong ampuni saya," ucap pekerja itu dengan kepala tertunduk. 

"Ini adalah jas kesukaanku dan kau berani mengotorinya dengan tumpahan jus yang kau bawa. Tahukah kau berapa banyak uang yang kukeluarkan untuk merawat jasku ini?"

Pelayan tersebut terdiam tak menjawab.

"Bahkan gajimu dalam sepuluh tahun saja tak akan bisa menggantinya. Kau benar benar telah merusak mood-ku hari ini. Bersyukurlah karena aku berbaik hati dengan hanya memukulimu saja. Aku akan memberimu kompensasi dengan memberitahu nona Zaskia bahwa aku akan menarik seluruh investasi yang ada dalam kendaliku karena hasil kecerobohanmu.”

Bos Cahyadi mendekatkan wajahnya ke pelayan itu. Dia menatapnya sambil tersenyum keji, “Bayangkan apa yang akan terjadi pada dirimu saat itu. Tak hanya akan dipecat dari hotel ini, mungkin pihak hotel juga akan meminta ganti rugi dengan nominal yang diluar dari jangkauanmu."

"To-tolong jangan lakukan itu, tuan! Apapun itu asal jangan tarik investasimu dari hotel ini karena kecerobohanku. Hidupku akan sangat hancur jika itu terjadi," pinta pekerja itu dengan seluruh tubuh gemetar penuh dengan rasa putus asa. 

Zaskia yang mendengar itu pun menjadi panik. 

Bos Cahyadi begitu menekankan kekuasaannya karena tahu bahwa pihak hotel sedang mengusahakan kerja sama dengan dirinya. Karena itu pula, Zaskia harus bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Dia tidak boleh meninggalkan kesan buruk pada Bos Cahyadi terhadap hotel Permata. 

Zaskia melangkah masuk lalu berniat untuk menenangkan suasana hati Bos Cahyadi dengan meminta maaf atas nama pekerjanya. Akan tetapi, diluar dugaan, baru saja Zaskia memasuki ruangan, Bos Cahyadi langsung berseru memanggil.

“Akhirnya kau datang juga! Cepat kemarilah dan temani aku minum! Jika kau menemaniku, aku akan melupakan masalah pekerjamu yang ceroboh ini.”

Zaskia yang tak begitu suka minum tentu saja berusaha untuk menolak ajakan tersebut, sembari tersenyum tipis.

"Bi-bisakah jika saya hanya menemani anda duduk saja? Saya tidak terlalu pandai minum, saya takut jika membuat anda kecewa." 

"Aku tak ingin kau hanya duduk dan menemaniku saja. Aku memintamu untuk minum bersamaku. Apakah itu masih kurang jelas, nona Zaskia? Atau aku perlu menjelaskannya dengan cara lain?" tanya Bos Cahyadi dengan tatapan tajamnya. 

"Ma-maksud anda?" tanya Zaskia sembari menahan rasa takutnya. 

Bos Cahyadi menepuk kedua tangannya sekali, lalu para bodyguard yang bertugas mendampinginya langsung melangkah dari tempat mereka berdiri. 

“To-tolong jangan hukum nona Zaskia! Sayalah yang bersalah di sini. Tolong jangan libatkan di— 

Buakkk!!!  

Pria pelayan itu dipukul habis-habisan hingga pingsan tak sadarkan diri. 

“Tolong berhenti memukulinya, dia sudah tak sadarkan diri! Apakah kalian tak punya rasa kemanusiaan!?” teriak Zaskia. 

Sementara itu, Hansen yang berdiri di depan pintu langsung masuk setelah mendengar suara teriakan Zaskia. 

Dia pun langsung dapat melihat sekelompok orang sedang mengelilingi Zaskia dan memaksanya minum, merobek pakaiannya sehingga banyak bagian yang terekspos. 

Dia juga melihat pekerja yang telah pingsan tak sadarkan diri dalam keadaan mengenaskan. 

Hansen segera maju untuk melindungi Zaskia. Hansen yang sempat mendengar perbincangan serta teriakan Bos Cahyadi tentu saja paham bahwa dia tak boleh begitu menyinggungnya.

Secara reflek Hansen melangkah maju membelakangi Zaskia, di saat orang-orang masih belum memperhatikan keberadaannya. 

Tapp 

"Jika tuan membutuhkan teman untuk minum, tolong ijinkan saya mewakili nona Zaskia. Saya lebih pandai dalam hal minum jika dibandingkan dengannya." Hansen tersenyum sembari merebut gelas anggur yang dipegang bodyguard Bos Cahyadi. 

Sontak hal itu berhasil mengakibatkan sejumlah orang yang ada dalam ruangan tersebut kesal. Semua orang yang berada di pihak Bos Cahyadi menatap tajam Hansen. 

"Cih! Siapa satpam ini?” ucap Bos Cahyadi, memandang rendah Hansen, “Beraninya dia ikut campur urusanku.”

Terpopuler

Comments

Agustina Mose

Agustina Mose

itulah kalau sudah terkenal lupa daratan bos cahyady

2022-08-28

0

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

seruuuu lanjut

2022-08-24

0

Nazwa Azahra

Nazwa Azahra

ayo hansen habisi aja semuanya jangan ada yg tersisa

2022-07-15

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2 Bab 2 : Situasi yang mendesak
3 Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4 Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5 Bab 5 : Rencana Andini
6 Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7 Bab 7 : Kembali ke rumah
8 Bab 8 : Hari pertama bekerja
9 Bab 9 : Pembelaan Hansen
10 Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11 Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12 Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13 Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14 Bab 14 : Tertangkap basah
15 Bab 15 : Keputusan besar Andini
16 Bab 16 : Hati yang hancur
17 Bab 17 : Rasa bersalah
18 Bab 18 : Terjebak
19 Bab 19 : Salah sangka
20 Bab 20 : Singa yang terbangun
21 Bab 21 : Pria yang misterius
22 Bab 22 : Emosi Hansen
23 Bab 23 : Dendam lama
24 Bab 24 : Kembali ke markas
25 Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26 Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27 Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28 Bab 28 : Menemui Zaskia
29 Bab 29 : Gerakan Scorpion
30 Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31 Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32 Bab 32 : Dion Raharja
33 Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34 Bab 34 : Pencarian kawan lama
35 Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36 Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37 Bab 37 : Serangan di gedung putih
38 Bab 38 : Ambil alih
39 Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40 Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41 Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42 Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43 Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44 Chapter 44 : Rencana Number
45 Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46 Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47 Chapter 47 : Shelter
48 Chapter 48 : Shelter 2
49 Chapter 49 : Shelter 3
50 Chapter 50 : Kabar berita
51 Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52 Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53 Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54 Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55 Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56 Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57 Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58 Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59 Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60 Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61 Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62 Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63 Chapter 63 : Zaskia Arista
64 Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65 Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66 Chapter 66 : Murka Mr W
67 Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68 Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69 Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70 Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71 Chapter 71 : Kedatangan Theo
72 Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73 Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74 Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75 Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76 Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77 Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78 Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79 Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80 Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81 Chapter 81 : Menemui Mr W
82 Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83 Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84 Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85 Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86 Chapter 86 : Mengejar Andini
87 Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88 Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89 Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90 Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91 Chapter 91 : Emosi yang meluap
92 chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93 chapter 93 : Hubungan masa lalu
94 chapter 94 - nasib savior eagle
95 chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96 Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97 Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98 Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99 Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100 Chapter 100 : Koridor
101 Chapter 101 : Ilmuan gila
102 Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103 Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104 Chapter 104 : Operasi lanjutan
105 Chapter 105 : Hasil operasi
106 Chapter 106 : Perseteruan
107 Chapter 107 : Dominasi Number
108 Chapter 108 : Identitas
109 Chapter 109 : Sampai di Shelter
110 Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111 Chapter 111 : Keputusan Hansen
112 Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113 Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114 Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115 Chapter 115 : Hampir terungkap
116 Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2
Bab 2 : Situasi yang mendesak
3
Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4
Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5
Bab 5 : Rencana Andini
6
Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7
Bab 7 : Kembali ke rumah
8
Bab 8 : Hari pertama bekerja
9
Bab 9 : Pembelaan Hansen
10
Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11
Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12
Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13
Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14
Bab 14 : Tertangkap basah
15
Bab 15 : Keputusan besar Andini
16
Bab 16 : Hati yang hancur
17
Bab 17 : Rasa bersalah
18
Bab 18 : Terjebak
19
Bab 19 : Salah sangka
20
Bab 20 : Singa yang terbangun
21
Bab 21 : Pria yang misterius
22
Bab 22 : Emosi Hansen
23
Bab 23 : Dendam lama
24
Bab 24 : Kembali ke markas
25
Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26
Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27
Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28
Bab 28 : Menemui Zaskia
29
Bab 29 : Gerakan Scorpion
30
Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31
Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32
Bab 32 : Dion Raharja
33
Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34
Bab 34 : Pencarian kawan lama
35
Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36
Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37
Bab 37 : Serangan di gedung putih
38
Bab 38 : Ambil alih
39
Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40
Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41
Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42
Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43
Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44
Chapter 44 : Rencana Number
45
Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46
Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47
Chapter 47 : Shelter
48
Chapter 48 : Shelter 2
49
Chapter 49 : Shelter 3
50
Chapter 50 : Kabar berita
51
Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52
Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53
Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54
Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55
Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56
Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57
Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58
Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59
Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60
Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61
Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62
Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63
Chapter 63 : Zaskia Arista
64
Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65
Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66
Chapter 66 : Murka Mr W
67
Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68
Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69
Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70
Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71
Chapter 71 : Kedatangan Theo
72
Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73
Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74
Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75
Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76
Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77
Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78
Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79
Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80
Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81
Chapter 81 : Menemui Mr W
82
Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83
Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84
Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85
Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86
Chapter 86 : Mengejar Andini
87
Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88
Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89
Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90
Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91
Chapter 91 : Emosi yang meluap
92
chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93
chapter 93 : Hubungan masa lalu
94
chapter 94 - nasib savior eagle
95
chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96
Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97
Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98
Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99
Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100
Chapter 100 : Koridor
101
Chapter 101 : Ilmuan gila
102
Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103
Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104
Chapter 104 : Operasi lanjutan
105
Chapter 105 : Hasil operasi
106
Chapter 106 : Perseteruan
107
Chapter 107 : Dominasi Number
108
Chapter 108 : Identitas
109
Chapter 109 : Sampai di Shelter
110
Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111
Chapter 111 : Keputusan Hansen
112
Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113
Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114
Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115
Chapter 115 : Hampir terungkap
116
Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!