Andini berjalan menjauh setelah selesai mengatakan apa yang ia ingin katakan. Hansen terdiam sejenak karena merasa bersalah atas tuduhan yang dia ucapkan.
" ... " Hansen menarik napas begitu dalam dengan pandangan yang masih tertuju pada lantai ruangan. "Ma ... maaf karena telah meragukanmu ... ,"
"Cih!" Andini yang sempat menghentikan langkahnya, kembali berjalan membelakangi Hansen.
" ... " Hansen kembali terdiam sejenak, sembari mengepal erat kedua tangannya. Perlahan mengangkat kepalanya dan menatap punggung Andini yang sudah agak jauh. Lalu perlahan meninggikan suaranya agar dapat di dengar oleh Andini, "Untuk masalah klien yang mundur karena pengaruh Bos Cahyadi, biar aku yang menyelesaikannya untukmu!"
"Jangan lakukan hal bodoh yang mungkin menyeretmu ke penjara lagi ... ," Andini menghentikan langkahnya sebentar, lalu berkata, "Karena aku tak akan menyelamatkanmu untuk yang kedua kalinya!"
Hansen mengabaikan ucapan Andini, dan perlahan pergi meninggalkan perusahaan.
....
Bos Cahyadi nampak bersenang senang bersama para gadis KTV sembari berbagi minuman dengan kolega kolega besarnya.
"Hahahahaha!"
"Dengan ini, Hotel Permata pasti akan segera hancur. Tak hanya para investor besar saja yang perlahan menarik investasi mereka dari hotel itu, bahkan para investor kecil pun ikut menarik invesrasi mereka karena takut dana mereka tak dapat kembali. Dan semua itu terjadi hanya karena satu kata darimu saja, saya benar benar mengagumi pengaruh anda tuanku," David Hermanto memuja kinerja Bos Cahyadi karena dendam pribadi terhadap Andini telah terbalaskan melalui dirinya.
"Membuat semua investor menarik investasi mereka dari hotel permata memang bisa membuat hotel itu perlahan bangkrut, tapi masih ada kemungkinan lain yang bisa membuat mereka bertahan selama beberapa tahun," seorang kolega bisnis Bos Cahyadi berbicara sembari sesekali meminum anggurnya.
"Kemungkinan apa itu?" tanya David Hermanto dan para investor yang lain.
"Investor baru," jelas seorang kolega bisnis bos Cahyadi yang nampak memiliki sedikit rambut.
"Sepertinya kau investor baru ya?" tanya investor lain, sembari tersenyum sinis.
"Bagaimana kau tahu?" tanya investor dengan rambut minim yang nampak heran.
"Kau pikir apa alasan kami mengikuti bos Cahyadi ha?" tanya David Hermanto.
"Karena dia seorang bos besar yang memiliki banyak kolega?" tanya pria itu ragu.
"Nampaknya kau terlalu meremehkan bos besar kita," ucap David Hermanto sembari menatap tajam pria itu.
"Me ... memangnya bagian apa dari ucapanku yang mengisyaratkan bahwa aku meremehkannya?" pria itu nampak tegang.
"Bos Cahyadi terkenal dengan panggilan raja investor. Kau pikir apa alasanya?" David Hermanto terkekeh.
" ... " pria itu terdiam bingung.
"Karena bos cahyadi menguasai seluruh investor. Baik investor besar, kecil, pemula maupun calon investor. Tak ada yang berani berurusan dengannya apabila dia sudah menargetkan suatu perusahaan untuk dibangkrutkan," sambung David Hermanto sembari mengagungkan junjungannya.
"A ... apa yang membuat semua orang begitu tunduk terhadapnya?" tanya pria itu dengan gemetar.
"Karena dia memiliki kakak seorang jenderal, dan kebal terhadap hukum karena mengenal begitu banyak orang penting. Saking berpengaruhnya orang orang yang dikenalnya, dia bahkan tak dijatuhi hukuman meski terbukti telah menyuruh anak buahnya menghabisi investor yang melawan kehendaknya," David Hermanto kembali mengagungkan Bos Cahyadi.
'Untung saja aku tak berada di pihak yang melawan bos Cahyadi, jika tidak aku pasti akan hancur,' Pria itu menghela napas karena merasa lega.
"Sudahlah, hentikan omong kosong kalian. Kita fokus saja berpesta untuk kemenanganku," Bos Cahyadi mengangkat gelas anggurnya ke atas.
Tring!!! semua orang membenturkan gelas mereka secara perlahan, lalu berkata, "Kebangkrutan Hotel permata!"
Bruakk!!! Seorang body guard Bos Cahyadi yang bertugas menjaga pintu keluar nampak terdorong masuk dan berakhir menghantam meja.
" ... " semua orang menatap body guard yang terbaring pingsan dalam keadaan babak belur dan mendarat di meja mereka.
"Kau lagi!?" Bos Cahyadi nampak geram setelah melihat Hansen masuk melalui sekat pembatas ruangan.
"Nampaknya kau masih mengingat jelas siapa aku," Hansen tersenyum sinis.
"Bagaimana bisa aku melupakan An*jing penjaga yang pernah kurantai," sambung Bos Cahyadi sembari menatap hina Hansen.
"Bu ... bukankah dia seharusnya dipenjara?"
"Mengapa dia berada disini?" David nampak kaget karena tak mengetahui berita kebebasan Hansen.
"Keluarga Wisnu yang telah menjaminnya. Dan itupun atas persetujuanku," sambung Bos Cahyadi.
"Mengapa anda menyetujuinya begitu saja?" David nampak heran.
"Karena keluarga Wisnu menawarkan beberapa kompensasi dan menjamin bahwa pria itu tak akan berurusan lagi denganku," jelas Bos Cahyadi.
"Kompensasi apa yang kau maksud?" tanya Hansen heran.
"Setengah dari properti perusahaan keluarga Wisnu," Bos Cahyadi tersenyum sinis.
'Andini melakukan semua itu hanya demi mengeluarkanku?' Hansen nampak terkejut.
'Setengah dari properti perusahaan keluarga Wisnu?'
'Kenapa keluarga Wisnu menjadi senekad itu hanya untuk mengeluarkan seorang penjaga keamanan!?' semua orang yang tak tahu status Hansen sebagai suami Andini nampak kebingungan.
"Rubah tua itu benar benar kehilangan otaknya, hingga nekad menyerahkan setengah dari propertinya hanya untuk membebaskan menantunya yang tak berguna ini." Bos Cahyadi tersenyum sambil menyatukan kedua tangannya.
"Aku jadi penasaran, apa sih yang membuat rubah tua itu begitu membanggakan pria bodoh ini?"
'Rubah tua?'
'Apakah yang dia maksud ayah mertuaku?' Hansen terbelalak kaget.
"Yah tak peduli apapun itu, setelah memukulinya kita akan memenjarakannya lagi seperti saat itu. Dan kita lihat apakah rubah tua itu akan menawarkan sisa propertinya sebagai kompensasi!"
"Hahahhaah!" Bos Cahyadi dan semua pendukungnya tertawa lepas membayangkan jatuhnya seluruh properti keluarga Wisnu.
"Cepat hajar dia!" Bos Cahyadi menyuruh bawahannya untuk menyerang dan menyiksa Hansen dengan maksud membuatnya jerah.
"Baik Bos!" para bawahan Bos Cahyadi yang berbadan kekar dan berkepala licin mulai melangkah maju.
"Ingat, dia adalah asetku!"
"Cukup siksa dia hingga jerah dan pastikan agar tidak mati!" Bos Cahyadi memperingatkan bawahannya.
Wooshh!! bawahan bos Cahyadi berlari mendekat dengan pukulan yang dijatuhkan ke arah Hansen. Diikuti oleh gerakan lincah Hansen yang sanggup menghindari semua pukulan dan mematahkan lengan yang dipakai untuk memukul setiap kali berhasil dia hindari.
Krakk!!! "Arrghh!!" seorang body guard yang mengalami patah tulang menjerit kesakitan.
Wooshh!!! Bukkk!! Hansen menggunakan tubuh pria yang menyerang pertama kali sebagai tameng untuk menahan pukulan orang irang yang menyerang menggunakan batang kayu serta batang besi.
Woosh, Buaakk!! Hansen melempar pria yang telah dia gunakan sebagai tameng ke arah kerumunan body guard yang berniat menyerangnya.
Tap tap Krakk!! Hansen menahan setiap pukulan satu persatu, lalu menguatkan genggamannya hingga membuat kepalan tangan musuh yang dia tahan mengeluarkan suara akibat retak dari dalam.
Krakk!! "Arghh!" beberapa orang yang mengalami retak di bagian jari serta punggung tangan mereka, menjerit kesakitan.
"Dasar lemah!" Hansen menendang setiap orang yang bermaksud menyerangnya lagi untuk membalaskan rasa sakit yang mereka rasakan.
Singkat cerita, semua body guard berhasil Hansen bereskan. Bos Cahyadi yang tak mengharapkan keadaan tersebut, menjadi panik dan segera menelpon kenalannya. Namun anehnya, tak ada satupun kenalan yang mau mengangkat telepon darinya.
'Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi, atau tinggalkan pesan!' balasan operator terus terdengar ditelinga Bos Cahyadi setiap kali dia menelepon. Tak hanya satu nomor yang dia hubungi, melainkan seluruh nomor orang penting yang dia kenal.
"Percuma saja kau menelpon mereka, tak akan ada satupun dari mereka yang akan mau membantumu. Tidak akan!" Hansen melangkah mendekat.
"Ti ... tidak mungkin!"
"Orang orang itu tak pernah meninggalkanku, berhenti menggertakku!" Bos Cahyadi nampak panik.
"Co ... coba hubungi kakak tuan, dia pasti menjawab panggilanmu," David nampak panik karena situasi yang tak dia prediksikan.
" ... " Bos Cahyadi langsung menelpon kakaknya mengikuti anjuran David, dan benar saja, kali ini panggilannya tersambung. "Ka .. kakak, tolong aku, aku sedang dalam masalah," Bos Cahyadi menceritakan kondisinya secara rinci, namun sayangnya respon sang kakak berada diluar prediksinya. Alih alih mengirim bantuan ataupun bertanya tentang siapa musuhnya, kakak Bos Cahyadi yang merupakan seorang jenderal besar sekaligus veteran militer malah memperingatkannya dengan berkata, "Kau telah membangunkan singa yang tertidur,"
tut tut tut... panggilan terputus.
"Halo?"
"Kak ... ?" Bos Cahyadi nampak panik.
"Kembalikan seluruh properti keluarga Wisnu, dan tarik kembali perintah untuk para investor yang kau ancam untuk menarik investasi. Jika tidak ... ," Hansen melangkah mendekat dengan penuh dominasi. Menjatuhkan keberanian semua orang, hingga sanggup membuat mereka berlutut hanya dengan sekali ancam.
"Ka ... kami akan melakukan apa yang kau minta," semua orang termasuk Bos Cahyadi bersujud memohon pengampunan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Agustina Mose
yang benar biarlah benar saja
2022-10-06
0
Imam Sutoto Suro
woow keren banget lanjutkan
2022-08-24
0
Nasa
Hahaha....we'll come lion king
2022-05-07
0