Hansen masih belum bisa memahami alasan di balik sikap Andini yang membiarkan David tetap menempel padanya. Padahal, Hansen tahu betul bahwa Andini bukan orang yang mudah dipengaruhi. Sesuatu tentang pertemuan mereka sore itu membuatnya merasa gelisah dan semakin bingung. Mengapa Andini seolah-olah tidak peduli dengan niat buruk David terhadap dirinya?
Meskipun begitu, Hansen tidak bisa menahan perasaan kesalnya. Dia harus mengakui bahwa tawaran uang yang Andini berikan sangat menggoda. Uang itu bisa memberikan kenyamanan bagi keluarganya, dan lebih dari itu, Hansen merasa sangat membutuhkan uang tersebut untuk masa depan yang lebih baik.
Dengan keputusan itu di hati, Hansen akhirnya berjalan mendekati meja tempat Andini dan David sedang duduk. Ketika ia berdiri di hadapan mereka, dia berkata, “Apakah aku boleh bergabung?”
“Oh, tentu saja. Silakan duduk, sepupuku,” jawab Andini sambil tersenyum lebar, nada suaranya seolah-olah tidak ada yang aneh.
Hansen merasa sedikit terkejut dengan panggilan Andini yang tiba-tiba menyebutnya sepupu. Namun, dia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Mengikuti apa yang diinginkan istrinya, dia pun duduk.
“Terima kasih, sepupu,” ucap Hansen sambil memaksakan senyum.
David, yang sedari tadi diam, menatap Hansen dengan tatapan tajam. “Bukankah dia suamimu? Kenapa sekarang jadi sepupumu?” tanyanya dengan heran, masih mencoba mencari jawaban dari kebingungannya.
Andini tersenyum dengan penuh arti. "Oh, dia sepupuku. Suamiku tidak tahu banyak soal bisnis. Aku sengaja memanggilnya karena dia sangat pandai dalam urusan bisnis. Wajahnya memang mirip suamiku, tapi percayalah, dia bukan suamiku. Benar, kan?" Andini melirik ke Hansen, memberikan tatapan yang seolah memberi kode.
“Ya, aku sepupunya. Suamiku sedang mencari pekerjaan saat ini, jadi tidak mungkin dia ada di sini,” jawab Hansen dengan serius.
David menyipitkan matanya. "Tapi bagaimana bisa sepupumu mirip suamimu?"
Hansen merasa sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan itu, tetapi Andini dengan cepat menjawab, “Mereka memang agak mirip. Tapi tidak seratus persen, kok. Mungkin kau terlalu banyak minum kopi hingga tidak bisa membedakan wajah mereka."
David mengangguk sedikit, meskipun masih tampak ragu. “Apa iya? Tapi aku kan hanya minum kopi, bagaimana bisa aku mabuk?”
Andini menanggapi dengan cepat, “Sudahlah, lupakan saja itu. Bisakah kita lanjutkan pembahasan bisnisnya?” Ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
David, yang tampaknya tidak begitu suka dengan gangguan itu, berusaha tetap fokus. “Aku tak ingin membahas bisnis ini di sini. Ada banyak orang di sekitar kita. Mari bicarakan di tempat yang lebih pribadi.” David bersikeras, merasa tidak leluasa di ruang terbuka.
“Ah, bisa-bisanya kau. Tidak bisakah kita bahas di sini saja? Sepupuku ini, kan, tidak asing. Dia juga terlibat dalam bisnis ini!” Andini berusaha meyakinkan David, berharap agar pembicaraan itu tetap terjadi di tempat yang lebih terbuka.
“Aku tidak peduli apakah dia sepupumu atau suamimu. Kalau kau ingin melanjutkan bisnis ini, aku hanya ingin dirimu, nona Andini,” jawab David, akhirnya berdiri dan siap untuk pergi.
Andini tampak kebingungan, berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Tapi, aku...”
Belum sempat Andini menyelesaikan kalimatnya, David sudah memotong, “Akan kutunggu kau di hotel Permata. Jangan lupa kabari aku lewat SMS jika sudah tiba.”
Sebelum Andini sempat membalas, David mendekatkan wajahnya ke telinga Andini dan berbisik, “Mataku ada di mana-mana. Jangan coba-coba membawa orang bersamamu. Jika kau berani macam-macam, bisnis kita akan batal saat itu juga.”
David kemudian berdiri dan berjalan pergi, meninggalkan Andini yang tampak kesal.
"Cih, baiklah," ucap Andini, jelas kesal dengan sikap David. Namun, dia langsung berdiri dan mendekati David.
Melihat Andini yang langsung setuju dan mendekati David, Hansen semakin bingung. Hatinya berkecamuk, dan ia bergumam dalam hati, Apa sebenarnya yang dipikirkan Andini? Kenapa dia tetap mengikutinya meskipun tahu David berniat buruk terhadapnya?
Awalnya, Hansen ingin mengikuti mereka secara terang-terangan, namun saat dia hendak bergerak, Andini menghentikannya. "Berhenti di situ!" seru Andini dengan tegas.
“Apa kau tidak dengar, sepupu?” Andini melanjutkan, “Jika kau ikut denganku, bisnisnya akan batal. Jadi, tolong jangan ikuti aku, mengerti?” Andini mengedipkan matanya tanpa diketahui oleh David, seolah memberikan kode yang hanya bisa dipahami oleh Hansen.
Hansen hanya bisa menghela napas dan berkata, “Baiklah, sepupu.”
Saat Andini dan David mulai berjalan agak jauh, ponsel Hansen kembali berbunyi. Ia membaca pesan singkat dari Andini yang mengingatkannya.
‘Apa yang kau lakukan, pria payah?’
‘Cepat ikuti aku diam-diam seperti semalam!’
‘Jangan diam saja!’
Bersamaan dengan pesan itu, notifikasi transfer bank muncul di ponsel Hansen, memberitahukan bahwa uang sebesar 125 juta rupiah telah masuk ke rekeningnya.
Hansen terkejut, tetapi meskipun begitu, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak merespons permintaan Andini. Beberapa detik setelah itu, sebuah pesan lain masuk.
‘Akan kuberi kau 125 juta lagi jika mau menuruti permintaanku. Cepat ikuti aku!’
‘Tapi ingat, lakukan itu secara diam-diam!’
Meskipun kebingungannya semakin besar, Hansen tahu bahwa dia tidak punya pilihan. Dia sudah menerima uang dari Andini dan merasa perlu lebih banyak untuk keluarganya. Dia pun memutuskan untuk mengikuti perintah Andini.
Setelah itu, Hansen cepat-cepat mencari taksi dan meminta pengemudinya untuk mengambil jalan pintas menuju Hotel Permata. Di tengah perjalanan, Hansen terus memikirkan apa yang sedang terjadi, tetapi tidak ada jawabannya. Hanya satu hal yang ia tahu pasti, yaitu ia harus terus mengikuti perintah Andini.
Sesampainya di dekat Hotel Permata, Hansen berhenti tidak jauh dari gedung hotel. Dari balik gedung, ia mengintip ke arah pintu utama dan terkejut melihat Andini yang dengan mudahnya masuk ke dalam hotel tanpa perlawanan. Di luar pintu hotel, ada empat penjaga kekar yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan kacamata hitam, menjaga dengan ketat.
“Ah, ini sih tidak ada bedanya dengan kemarin malam,” gumam Hansen sambil menahan napas, merasa bahwa ia telah terjebak dalam permainan yang jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
good job lanjut
2022-08-24
0
Ⓦ︎Ⓚ︎🅡︎Ⓩ︎🇳 s̑̈n͜͡ɐ𝘬乇🅿︎ȋ̈Ⓣ︎
tabhtwatbtbwtjwant
2022-07-15
0
Ⓦ︎Ⓚ︎🅡︎Ⓩ︎🇳 s̑̈n͜͡ɐ𝘬乇🅿︎ȋ̈Ⓣ︎
atvybsydnsgbsby
2022-07-14
0