Seketika semua orang berlari mendekati Hansen dan langsung mendaratkan pukulan mereka. Namun Hansen dapat menahan semua pukulan hanya dengan satu tangan. Dia bahkan sempat menarik salah satu tentara bayaran itu dan menggunakannya sebagai tameng.
Karena takut dipukuli hingga babak belur lagi, David pun berusaha untuk pergi di saat Hansen sibuk. Akan tetapi, usahanya gagal karena terdapat seorang pria berjas yang terpukul mundur hingga menghantam dirinya.
Duak!
David jatuh tertindih oleh tubuh salah seorang tentara bayaran yang terlempar hingga pingsan itu.
Hansen yang telah berhasil mengalahkan semua orang pun langsung berjalan mendekati David dengan tampang yang sangat kesal. Tanpa mempedulikan David yang memohon ampun, Hansen memberikan sebuah pukulan telak di wajahnya hingga membuatnya pingsan.
Andini yang kagum akan kelihaian Hansen dalam berkelahi, hanya bisa terdiam kaku sambil menatapnya. Dia larut dalam hayalannya sendiri, hingga Hansen menyadarkannya dengan bertepuk tangan di depan wajahnya.
"Hei, berhenti melamun! Aku tahu kalau aku tampan, tapi menatapku dengan cara seperti itu tidaklah baik nona," ledek Hansen.
"S-Siapa juga yang sedang menatapmu! Jangan terlalu percaya diri!" ucap Andini sambil memalingkan wajahnya.
"Haih, sudahlah lagipula aku tak mau memaksamu untuk mengaku. Apakah kau baik-baik saja?”
"Ehm," angguk Andini, “Karena berteriak cukup kencang tadi…"
"Kau pasti merasa haus ‘kan? Tunggu sebentar, akan kuambilkan air untukmu," ucap Hansen sambil berjalan menuju galon air yang berada tak jauh dari tempat mereka berada.
Setelah pergi menuju tempat di mana galon air berada, Hansen langsung kembali dan menyuruh Andini meminum air tersebut.
Andini yang tak punya prasangka buruk terhadap Hansen pun langsung meminumnya tanpa ragu. Akan tetapi diluar dugaan, ternyata Hansen telah mencampurkan air tersebut dengan obat bius yang sama dengan yang David gunakan di malam sebelumnya. Obat yang tak sengaja dia temukan tepat sebelum pergi meninggalkan gedung perjamuan.
Setelah menerima efek obat tersebut, Andini pun terjatuh pingsan. Hansen langsung melancarkan apa yang ada di dalam pikirannya. Dia berpikir bahwa David tak akan pernah mau berurusan dengannya lagi, jika dia memiliki bukti kuat bahwa istrinya telah dinodai. Dengan bungkusan obat yang memiliki sidik jari David, serta foto seranjang antara David dan Andini yang dia buat ketika mereka pingsan, Hansen berniat untuk mengancam David.
Cara itu berhasil, David yang telah sadar mengaku kalah dan tak mau memperpanjang urusannya. Dia langsung beranjak pergi tepat sebelum Andini sadar.
Andini yang mendengar percakapan antara David dan Hansen merasa kesal karena Hansen membiarkan David pergi begitu saja. Saat sudah sadar sepenuhnya, Andini, sambil marah-marah, menjelaskan alasan sebenarnya dia mendekati David. Meskipun David tidak mau lagi berurusan dengan Andini, tetapi tujuan Andini tidak tercapai sama sekali gara-gara inisiatif Hansen.
Hansen menghela nafas kesal dengan omelan Andini. Dia langsung beranjak pergi meninggalkan Andini tanpa berkata apapun.
“Hansen, tunggu!” seru Andini.
Hansen berhenti dan berbalik, “Apa lagi?”
“Kakiku terkilir, gendong aku sampai keluar hotel!”
“Apa itu cara minta tolong orang yang membutuhkan?”
“Ugh…,” Andini menggeram pelan, “Tolong, gendong aku sampai keluar hotel.”
Hansen mendekati Andini dan menggendongnya, bridal style.
Keduanya terdiam. Tetapi tanpa Hansen sadari, Andini terus memperhatikan wajah Hansen yang berantakan setelah berkelahi. Andini benci mengakuinya, tetapi wajah Hansen terlihat macho, maskulin, dan tampan sehingga membuatnya terpesona.
“Kenapa, kau mulai jatuh cinta padaku?” ledek Hansen yang menyadari kalau Andini tengah memandanginya.
“S-Siapa yang jatuh cinta padamu, dasar pria bodoh dan payah! Baru menghadapi orang segini saja sudah terengah-engah dan berantakan. Benar-benar lemah!”
Hansen menjatuhkan Andini dengan tiba-tiba.
“Aduh!” seru Andini.
“Ups, tanganku tiba-tiba terasa lemas. Maafkan kecerobohan pria lemah ini,” ucap Hansen kesal, “Lagipula kakimu tidak benar-benar terkilir ‘kan?”
“Dasar pria sialan! Gendong aku lagi, cepat!”
Hansen tak mempedulikan Andini yang terus berteriak memanggil dan memarahinya. Dia langsung beranjak turun ke lantai satu. Meskipun begitu, Hansen tetap menunggunya di lantai satu untuk memastikan dia baik-baik saja. Dia menunggu cukup lama sambil sesekali menatap ke arah lift dan tangga di mana Andini akan keluar nantinya.
Setelah menunggu cukup lama, lift yang berada di dekatnya pun terbuka. Andini berdiri di dalam lift. Penampilannya saat itu sangat berantakan, terdapat luka gores serta lebam di beberapa bagian tubuhnya. Napasnya terdengar lemas karena apa yang telah dia alami sebelumnya. Dalam perjalanan di saat ingin menaiki lift kakinya terkilir tanpa sengaja.
"Cih, kenapa ini harus terjadi padaku?" gumam Andini kesal. Dia melangkah keluar lift sambil menyeret satu kakinya.
"Akhirnya kau turun juga," ucap Hansen.
Melihat Hansen menunggu dirinya membuat Andini cukup terkejut, dia sempat kesal karena berpikir Hansen pergi meninggalkannya. Dia begitu putus asa sebelumnya karena sandiwaranya tentang kaki terkilir benar-benar terjadi hingga membuatnya kesulitan berjalan. Selain itu, ponsel yang harusnya bisa dia gunakan untuk memanggil seseorang pun kehabisan baterai, sehingga dia tak bisa menghubungi siapapun untuk meminta bantuan.
Meski begitu, Andini masih tak mau menurunkan egonya. Dia tetap memasang wajah tegar dan juteknya saat menatap mata Hansen.
"Kenapa kau masih disini?" tanya Andini judes, "Merusak pemandangan saja."
"Aku di sini karena mau menawarkan bantuan." Hansen tak menghiraukan jawaban jutek Andini, dan tetap memasang tampang tenangnya.
"Bantuan? Bantuan apa?" tanya Andini masih memperlihatkan ekspresi juteknya.
"Asalkan kau mau memohon padaku, aku akan mengantarmu pulang ke rumah dengan aman.”
"Berhenti bermimpi dan ingatlah ini baik-baik! Aku tak akan pernah memohon kepada pria yang tak berguna sepertimu!" Andini melewati Hansen sambil menyeret salah satu kakinya.
Hansen menggelengkan kepalanya karena masih berpikir Andini berpura-pura terkilir. Akan tetapi, Hansen mulai menyadari kalau Andini benar-benar terkilir melihat dari caranya berjalan yang tidak dibuat-buat.
Begitu wanita tersebut secara tidak sengaja terjatuh tersandung sesuatu. Hansen berlari mendekat, lalu menyodorkan tangannya untuk membangunkan Andini yang terjatuh.
"Andini!"
Akan tetapi uluran tangan Hansen ditangkis oleh Andini dengan kasar. Andini lagi-lagi melontarkan kata-kata kasar. Bahkan tak hanya Hansen yang dia hina dalam kata-kata tersebut, dia juga menyelipkan hinaan terhadap ayah serta adiknya yang sakit. Tentu saja Hansen tak suka dengan hal tersebut, sehingga dia menatap tajam mata Andini.
"Kau boleh menghinaku, tapi jangan hina keluargaku. Ingatlah kekayaanmu tidaklah kekal dan tidak dapat membeli segalanya. Dengan keadaanmu saat ini, apakah kau bisa pergi tanpa bantuan orang lain?" tanya Hansen kesal, tetapi masih menyodorkan tangannya, menawarkan bantuan.
"Cih!" Andini meraih tangan Hansen tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Dia mencoba berdiri namun kembali terjatuh karena kehilangan keseimbangannya.
Melihat kondisi Andini yang begitu malang, Hansen pun merasa tak tega. Dia kembali menggendongnya. Wajah Andini tampak sedikit memerah saat itu, namun dia mencoba menutupinya dengan memalingkan wajah ke arah lain. Hansen tak memperhatikan hal itu dan lanjut pergi menuju ke area parkir.
Setelah sampai di sana, Hansen menurunkannya secara perlahan lalu meminta kunci mobil Andini untuk mengantarnya pulang.
Suasana di dalam mobil cukup tegang karena raut muka Hansen yang masih terlihat kesal. Saat itu Andini dan Hansen saling membuang wajah mereka tanpa menatap satu sama lain. Bahkan tak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka, sehingga membuat suasana hening di sepanjang perjalanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Fhocank Daenk
mulai seru
2022-11-04
0
Agustina Mose
maunya apa sih Andiniii
2022-08-28
0
Imam Sutoto Suro
good luck lanjut
2022-08-24
0