Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya

Seketika semua orang berlari mendekati Hansen dan langsung mendaratkan pukulan mereka. Namun Hansen dapat menahan semua pukulan hanya dengan satu tangan. Dia bahkan sempat menarik salah satu tentara bayaran itu dan menggunakannya sebagai tameng. 

Karena takut dipukuli hingga babak belur lagi, David pun berusaha untuk pergi di saat Hansen sibuk. Akan tetapi, usahanya gagal karena terdapat seorang pria berjas yang terpukul mundur hingga menghantam dirinya. 

Duak!

David jatuh tertindih oleh tubuh salah seorang tentara bayaran yang terlempar hingga pingsan itu. 

Hansen yang telah berhasil mengalahkan semua orang pun langsung berjalan mendekati David dengan tampang yang sangat kesal. Tanpa mempedulikan David yang memohon ampun, Hansen memberikan sebuah pukulan telak di wajahnya hingga membuatnya pingsan.

Andini yang kagum akan kelihaian Hansen dalam berkelahi, hanya bisa terdiam kaku sambil menatapnya. Dia larut dalam hayalannya sendiri, hingga Hansen menyadarkannya dengan bertepuk tangan di depan wajahnya. 

"Hei, berhenti melamun! Aku tahu kalau aku tampan, tapi menatapku dengan cara seperti itu tidaklah baik nona," ledek Hansen. 

"S-Siapa juga yang sedang menatapmu! Jangan terlalu percaya diri!" ucap Andini sambil memalingkan wajahnya.

"Haih, sudahlah lagipula aku tak mau memaksamu untuk mengaku. Apakah kau baik-baik saja?” 

"Ehm," angguk Andini, “Karena berteriak cukup kencang tadi…"

"Kau pasti merasa haus ‘kan? Tunggu sebentar, akan kuambilkan air untukmu," ucap Hansen sambil berjalan menuju galon air yang berada tak jauh dari tempat mereka berada. 

Setelah pergi menuju tempat di mana galon air berada, Hansen langsung kembali dan menyuruh Andini meminum air tersebut. 

Andini yang tak punya prasangka buruk terhadap Hansen pun langsung meminumnya tanpa ragu. Akan tetapi diluar dugaan, ternyata Hansen telah mencampurkan air tersebut dengan obat bius yang sama dengan yang David gunakan di malam sebelumnya. Obat yang tak sengaja dia temukan tepat sebelum pergi meninggalkan gedung perjamuan.

Setelah menerima efek obat tersebut, Andini pun terjatuh pingsan. Hansen langsung melancarkan apa yang ada di dalam pikirannya. Dia berpikir bahwa David tak akan pernah mau berurusan dengannya lagi, jika dia memiliki bukti kuat bahwa istrinya telah dinodai. Dengan bungkusan obat yang memiliki sidik jari David, serta foto seranjang antara David dan Andini yang dia buat ketika mereka pingsan, Hansen berniat untuk mengancam David. 

Cara itu berhasil, David yang telah sadar mengaku kalah dan tak mau memperpanjang urusannya. Dia langsung beranjak pergi tepat sebelum Andini sadar. 

Andini yang mendengar percakapan antara David dan Hansen merasa kesal karena Hansen membiarkan David pergi begitu saja. Saat sudah sadar sepenuhnya, Andini, sambil marah-marah, menjelaskan alasan sebenarnya dia mendekati David. Meskipun David tidak mau lagi berurusan dengan Andini, tetapi tujuan Andini tidak tercapai sama sekali gara-gara inisiatif Hansen.

Hansen menghela nafas kesal dengan omelan Andini. Dia langsung beranjak pergi meninggalkan Andini tanpa berkata apapun. 

“Hansen, tunggu!” seru Andini.

Hansen berhenti dan berbalik, “Apa lagi?”

“Kakiku terkilir, gendong aku sampai keluar hotel!”

“Apa itu cara minta tolong orang yang membutuhkan?”

“Ugh…,” Andini menggeram pelan, “Tolong, gendong aku sampai keluar hotel.”

Hansen mendekati Andini dan menggendongnya, bridal style.

Keduanya terdiam. Tetapi tanpa Hansen sadari, Andini terus memperhatikan wajah Hansen yang berantakan setelah berkelahi. Andini benci mengakuinya, tetapi wajah Hansen terlihat macho, maskulin, dan tampan sehingga membuatnya terpesona.

“Kenapa, kau mulai jatuh cinta padaku?” ledek Hansen yang menyadari kalau Andini tengah memandanginya.

“S-Siapa yang jatuh cinta padamu, dasar pria bodoh dan payah! Baru menghadapi orang segini saja sudah terengah-engah dan berantakan. Benar-benar lemah!”

Hansen menjatuhkan Andini dengan tiba-tiba.

“Aduh!” seru Andini.

“Ups, tanganku tiba-tiba terasa lemas. Maafkan kecerobohan pria lemah ini,” ucap Hansen kesal, “Lagipula kakimu tidak benar-benar terkilir ‘kan?”

“Dasar pria sialan! Gendong aku lagi, cepat!”

Hansen tak mempedulikan Andini yang terus berteriak memanggil dan memarahinya. Dia langsung beranjak turun ke lantai satu. Meskipun begitu, Hansen tetap menunggunya di lantai satu untuk memastikan dia baik-baik saja. Dia menunggu cukup lama sambil sesekali menatap ke arah lift dan tangga di mana Andini akan keluar nantinya. 

Setelah menunggu cukup lama, lift yang berada di dekatnya pun terbuka. Andini berdiri di dalam lift. Penampilannya saat itu sangat berantakan, terdapat luka gores serta lebam di beberapa bagian tubuhnya. Napasnya terdengar lemas karena apa yang telah dia alami sebelumnya. Dalam perjalanan di saat ingin menaiki lift kakinya terkilir tanpa sengaja.

"Cih, kenapa ini harus terjadi padaku?" gumam Andini kesal. Dia melangkah keluar lift sambil menyeret satu kakinya. 

"Akhirnya kau turun juga," ucap Hansen.

Melihat Hansen menunggu dirinya membuat Andini cukup terkejut, dia sempat kesal karena berpikir Hansen pergi meninggalkannya. Dia begitu putus asa sebelumnya karena sandiwaranya tentang kaki terkilir benar-benar terjadi hingga membuatnya kesulitan berjalan. Selain itu, ponsel yang harusnya bisa dia gunakan untuk memanggil seseorang pun kehabisan baterai, sehingga dia tak bisa menghubungi siapapun untuk meminta bantuan.

Meski begitu, Andini masih tak mau menurunkan egonya. Dia tetap memasang wajah tegar dan juteknya saat menatap mata Hansen.

"Kenapa kau masih disini?" tanya Andini judes, "Merusak pemandangan saja."

"Aku di sini karena mau menawarkan bantuan." Hansen tak menghiraukan jawaban jutek Andini, dan tetap memasang tampang tenangnya. 

"Bantuan? Bantuan apa?" tanya Andini masih memperlihatkan ekspresi juteknya. 

"Asalkan kau mau memohon padaku, aku akan mengantarmu pulang ke rumah dengan aman.” 

"Berhenti bermimpi dan ingatlah ini baik-baik! Aku tak akan pernah memohon kepada pria yang tak berguna sepertimu!" Andini melewati Hansen sambil menyeret salah satu kakinya. 

Hansen menggelengkan kepalanya karena masih berpikir Andini berpura-pura terkilir. Akan tetapi, Hansen mulai menyadari kalau Andini benar-benar terkilir melihat dari caranya berjalan yang tidak dibuat-buat. 

Begitu wanita tersebut secara tidak sengaja terjatuh tersandung sesuatu. Hansen berlari mendekat, lalu menyodorkan tangannya untuk membangunkan Andini yang terjatuh.

"Andini!" 

Akan tetapi uluran tangan Hansen ditangkis oleh Andini dengan kasar. Andini lagi-lagi melontarkan kata-kata kasar. Bahkan tak hanya Hansen yang dia hina dalam kata-kata tersebut, dia juga menyelipkan hinaan terhadap ayah serta adiknya yang sakit. Tentu saja Hansen tak suka dengan hal tersebut, sehingga dia menatap tajam mata Andini.

"Kau boleh menghinaku, tapi jangan hina keluargaku. Ingatlah kekayaanmu tidaklah kekal dan tidak dapat membeli segalanya. Dengan keadaanmu saat ini, apakah kau bisa pergi tanpa bantuan orang lain?" tanya Hansen kesal, tetapi masih menyodorkan tangannya, menawarkan bantuan.

"Cih!" Andini meraih tangan Hansen tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Dia mencoba berdiri namun kembali terjatuh karena kehilangan keseimbangannya. 

Melihat kondisi Andini yang begitu malang, Hansen pun merasa tak tega. Dia kembali menggendongnya. Wajah Andini tampak sedikit memerah saat itu, namun dia mencoba menutupinya dengan memalingkan wajah ke arah lain. Hansen tak memperhatikan hal itu dan lanjut pergi menuju ke area parkir. 

Setelah sampai di sana, Hansen menurunkannya secara perlahan lalu meminta kunci mobil Andini untuk mengantarnya pulang. 

Suasana di dalam mobil cukup tegang karena raut muka Hansen yang masih terlihat kesal. Saat itu Andini dan Hansen saling membuang wajah mereka tanpa menatap satu sama lain. Bahkan tak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka, sehingga membuat suasana hening di sepanjang perjalanan.

Terpopuler

Comments

Fhocank Daenk

Fhocank Daenk

mulai seru

2022-11-04

0

Agustina Mose

Agustina Mose

maunya apa sih Andiniii

2022-08-28

0

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

good luck lanjut

2022-08-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2 Bab 2 : Situasi yang mendesak
3 Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4 Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5 Bab 5 : Rencana Andini
6 Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7 Bab 7 : Kembali ke rumah
8 Bab 8 : Hari pertama bekerja
9 Bab 9 : Pembelaan Hansen
10 Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11 Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12 Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13 Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14 Bab 14 : Tertangkap basah
15 Bab 15 : Keputusan besar Andini
16 Bab 16 : Hati yang hancur
17 Bab 17 : Rasa bersalah
18 Bab 18 : Terjebak
19 Bab 19 : Salah sangka
20 Bab 20 : Singa yang terbangun
21 Bab 21 : Pria yang misterius
22 Bab 22 : Emosi Hansen
23 Bab 23 : Dendam lama
24 Bab 24 : Kembali ke markas
25 Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26 Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27 Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28 Bab 28 : Menemui Zaskia
29 Bab 29 : Gerakan Scorpion
30 Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31 Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32 Bab 32 : Dion Raharja
33 Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34 Bab 34 : Pencarian kawan lama
35 Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36 Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37 Bab 37 : Serangan di gedung putih
38 Bab 38 : Ambil alih
39 Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40 Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41 Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42 Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43 Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44 Chapter 44 : Rencana Number
45 Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46 Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47 Chapter 47 : Shelter
48 Chapter 48 : Shelter 2
49 Chapter 49 : Shelter 3
50 Chapter 50 : Kabar berita
51 Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52 Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53 Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54 Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55 Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56 Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57 Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58 Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59 Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60 Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61 Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62 Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63 Chapter 63 : Zaskia Arista
64 Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65 Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66 Chapter 66 : Murka Mr W
67 Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68 Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69 Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70 Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71 Chapter 71 : Kedatangan Theo
72 Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73 Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74 Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75 Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76 Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77 Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78 Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79 Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80 Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81 Chapter 81 : Menemui Mr W
82 Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83 Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84 Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85 Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86 Chapter 86 : Mengejar Andini
87 Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88 Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89 Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90 Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91 Chapter 91 : Emosi yang meluap
92 chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93 chapter 93 : Hubungan masa lalu
94 chapter 94 - nasib savior eagle
95 chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96 Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97 Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98 Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99 Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100 Chapter 100 : Koridor
101 Chapter 101 : Ilmuan gila
102 Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103 Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104 Chapter 104 : Operasi lanjutan
105 Chapter 105 : Hasil operasi
106 Chapter 106 : Perseteruan
107 Chapter 107 : Dominasi Number
108 Chapter 108 : Identitas
109 Chapter 109 : Sampai di Shelter
110 Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111 Chapter 111 : Keputusan Hansen
112 Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113 Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114 Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115 Chapter 115 : Hampir terungkap
116 Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 : Kejadian yang tak direncanakan
2
Bab 2 : Situasi yang mendesak
3
Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan
4
Bab 4 : Terjebak di lubang yang sama
5
Bab 5 : Rencana Andini
6
Bab 6 : Menghancurkan David dan semua bawahannya
7
Bab 7 : Kembali ke rumah
8
Bab 8 : Hari pertama bekerja
9
Bab 9 : Pembelaan Hansen
10
Bab 10 : Harga dari melawan seorang bos besar
11
Bab 11 : Timbul sedikit rasa
12
Bab 12 : Di tendang dari lingkaran penjaga keamanan
13
Bab 13 : Hansen dan pekerjaan barunya
14
Bab 14 : Tertangkap basah
15
Bab 15 : Keputusan besar Andini
16
Bab 16 : Hati yang hancur
17
Bab 17 : Rasa bersalah
18
Bab 18 : Terjebak
19
Bab 19 : Salah sangka
20
Bab 20 : Singa yang terbangun
21
Bab 21 : Pria yang misterius
22
Bab 22 : Emosi Hansen
23
Bab 23 : Dendam lama
24
Bab 24 : Kembali ke markas
25
Bab 25 : Menghadap Jenderal Besar
26
Bab 26 : Keadaan militer sejak kepergian Hansen
27
Bab 27 : Kegundahan Jenderal Fahar
28
Bab 28 : Menemui Zaskia
29
Bab 29 : Gerakan Scorpion
30
Bab 30 : Amelia Wisnu yang tersadar
31
Bab 31 : Kedekatan Hansen dan Amelia
32
Bab 32 : Dion Raharja
33
Bab 33 : Hansen dan masa lalunya
34
Bab 34 : Pencarian kawan lama
35
Bab 35 : Menghadap pemimpin kelompok Scorpion
36
Bab 36 : Gerakan kelompok peniru
37
Bab 37 : Serangan di gedung putih
38
Bab 38 : Ambil alih
39
Bab 39 : Wajah asli sang peniru
40
Chapter 40 : Pertemuan di istana merdeka
41
Chapter 41 : Deklarasi Hansen
42
Chapter 42 : Misteri kematian palsu
43
Chapter 43 : Kabar dari sang Jenderal
44
Chapter 44 : Rencana Number
45
Chapter 45 : Kebenaran yang telah lama tersembunyi
46
Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung
47
Chapter 47 : Shelter
48
Chapter 48 : Shelter 2
49
Chapter 49 : Shelter 3
50
Chapter 50 : Kabar berita
51
Chapter 51 : Kesalah pahaman Andini
52
Chapter 52 : Kepala keluarga Wisnu
53
Chapter 53 : Kedatangan Mr W
54
Chapter 54 : Di balik kacamata Mr W
55
Chapter 55 : Pertemuan keluarga
56
Chapter 56 : Perdebatan di jamuan makan siang
57
Chapter 57 : Bicara empat mata dengan Mr W
58
Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle
59
Chapter 59 : Tantangan dari pemilik lencana perak
60
Chapter 60 : Theo vs Andrew Julian
61
Chapter 61 : Teknologi rahasia Number
62
Chapter 62 : kejahilan yang berakhir petaka
63
Chapter 63 : Zaskia Arista
64
Chapter 64 : Andini Wisnu dan Herry Wijaya
65
Chapter 65 : Kesalahan langkah Amelia Wisnu
66
Chapter 66 : Murka Mr W
67
Chapter 67 : Mengungkap masa lalu
68
Chapter 68 : Kemalangan Zaskia
69
Chapter 69 : Adi Wijaya dan masa lalunya
70
Chapter 70 : Nasib Weapon Eagle
71
Chapter 71 : Kedatangan Theo
72
Chapter 72 : Kedekatan Theo dan Mr W
73
Chapter 73 : Menuju Battle Holder resmi pertama Hansen
74
Chapter 74 : Duduk dan bersiap
75
Chapter 75: Hansen Vs Marsekal Leo
76
Chapter 76 : Hansen Vs Marsekal Leo part 2
77
Chapter 77 : Pertemuan yang tak direncanakan
78
Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle
79
Chapter 79 : Keputusan Demon Eagle
80
Chapter 80 : Musuh bebuyutan Law Breaker
81
Chapter 81 : Menemui Mr W
82
Chapter 82 : Penculikan besar besaran
83
Chapter 83 : Berbicara empat mata dengan Mr W
84
Chpater 84 : Masa Lalu Number One
85
Chapter 85 : Jebakan untuk Andini dan Hansen
86
Chapter 86 : Mengejar Andini
87
Chapter 87 : Penyergapan Weapon Eagle
88
Chapter 88 : Hansen vs Weapon Eagle
89
Chapter 89 : Musuh tersembunyi
90
Chapter 90 : Menyelamatkan Andini
91
Chapter 91 : Emosi yang meluap
92
chapter 92 : Puncak emosi Mr W
93
chapter 93 : Hubungan masa lalu
94
chapter 94 - nasib savior eagle
95
chapter 95 : Perang yang tak terhindarkan
96
Chapter 96 : Rasa bersalah Hansen
97
Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya
98
Chapter 98 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya part 2
99
Chapter 99 : Akhir dari perang angkatan laut vs angkatan udara
100
Chapter 100 : Koridor
101
Chapter 101 : Ilmuan gila
102
Chapter 102 : Kejadian setelah berakhirnya perang antara angkatan laut dan udara
103
Chapter 103 : Dampak setelah peperangan
104
Chapter 104 : Operasi lanjutan
105
Chapter 105 : Hasil operasi
106
Chapter 106 : Perseteruan
107
Chapter 107 : Dominasi Number
108
Chapter 108 : Identitas
109
Chapter 109 : Sampai di Shelter
110
Chapter 110 : Kondisi Cindy Pratama
111
Chapter 111 : Keputusan Hansen
112
Chapter 112 : Campur tangan pihak lain
113
Chapter 113 : Pertarungan yang tak terhindarkan
114
Chapter 114 : Pertarungan yang tak terhindarkan part 2
115
Chapter 115 : Hampir terungkap
116
Chapter 116 : Pertarungan yang tak terhindarkan bagian 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!