Woooshh!! Andini menyetir begitu cepat dengan penuh amarah.
"To ... tolong kurangi kecepatanmu!"
"Ini berbahaya!" Andini mengabaikan ucapan Hansen, dan terus mempercepat mobilnya setiap kali Hansen mengangkat suara.
Sadar bahwa Andini tak dapat diajak bicara, Hansen langsung menghentikan laju mobil dengan mengambil paksa kunci mobil Andini dan segera menarik rem tangan serta menginjak pedal rem secara bersamaan.
Sretttt!!!! Mobil terhenti di tengah jalanan yang kebetulan dalam keadaan sepi.
"Apa yang sedang kau lakukan!" Bentak Andini kesal.
"Biar aku yang menyetir, kau sedang dikendalikan emosi saat ini," tegas Hansen dengan serius.
"Cih," Andini segera bertukar tempat duduk tanpa mengeluhkan apapun. Dia terdiam seribu bahasa hingga membuat Hansen merasa tak enak terhadapnya.
"Aku sungguh tidak tahu kalau hotel permata adalah hotelmu. Lagipula itu bukan salahku, bos besar itulah yang memulai kekacauan terlebih dulu dengan menindas seorang karyawan demi kesenangannya. Jujur saja, aku memang membencimu, tapi aku tidak serendah itu hingga memiliki niat untuk merusak reputasi Hotelmu," Hansen mencoba menjelaskan, namun Andini tetap bungkam, dia bahkan menutup telinganya dengan earphone agar berpura pura tak dapat mendengar ucapannya.
Sadar bahwa Andini tak ingin mendengarnya sama sekali, Hansen pun mulai emosi.
Dengan penuh amarah, dia menginjak rem mobil dan berkata, "Karena kau tak mau menganggapku, aku akan turun disini!"
Andini melepas ear phone-nya dan segera menoleh ke arah Hansen dengan tampang juteknya.
"Moodku sedang buruk saat ini, pokoknya kau harus mengantarku hingga sampai ke rumah!"
"Kalau aku menolak?" jawab Hansen ketus.
"Maka jangan salahkan aku, jika aku berkunjung ke rumah sakit dan mengganggu keluargamu," ancam Andini.
"Cih," Hansen memasang muka masam, dan terpaksa kembali menyetir mobil untuk mengantar Andini.
Wooshh!!! Hansen menyetir dengan tenang, meskipun dia masih merasa cukup kesal akan tingkah Andini. Saking kesalnya, dia bahkan tak mau melirik ke arahnya lagi. Namun, rasa kesal itu tak bertahan lama. Semua karena dia mendengar suara keluhan Andini yang terdengar seperti orang kesakitan.
"Uhhh, shhh," Andini memegangi kakinya sembari berusaha mengangkatnya sedikit.
"A ... a ah!" Andini menurunkan kembali kakinya secara perlahan, dengan wajah yang nampak kesakitan.
Saat melirik ke arah kaki Andini, Hansen dikejutkan oleh betapa besarnya bengkak di punggung kaki kanan Andini.
'Apakah dia memaksakan diri untuk datang ketempatku ditahan dengan kaki seperti itu?' Hansen mulai merasakan simpati terhadap Andini. Awalnya dia pikir bahwa Andini tak mau mendengarkan penjelasan darinya karena kesombongannya, tapi setelah melihat bengkak di punggung kaki Andini. Hansen Langsung berpikiran lain.
'Apakah alasan mengapa ia menginjak pedal gas secara berlebihan adalah karena dia tak dapat menahan sakit di kakinya?'
Setelah sampai di rumah keluarga Wisnu, Hansen Pratama turun dari mobil terlebih dulu dan segera menutup pintunya. Andini masih terdiam di dalam karena bengkak di punggung kakinya terasa semakin menjadi, dia berpikir bahwa Hansen tidak peka karena keluar lebih dulu dan meninggalkannya begitu saja meski dia sengaja memperlihatkan bengkak di punggung kakinya.
Namun pikiran buruknya terhenti, setelah melihat Hansen membuka pintu mobilnya dan langsung menggendongnya keluar tanpa peringatan.
"Ka .. kau?"
"A ... apa yang sedang kau lakukan!"
"Bu ... bukankah kita sudah sepakat agar tak saling menyentuh tanpa permisi!" Andini mencoba memberontak dengan wajah yang memerah.
"Berhenti memberontak, aku tahu kau tak bisa berjalan dengan benar dengan kaki yang seperti itu," tegas Hansen sembari menggendongnya pergi.
"Ka ... kalau kau tak mau menurunkanku, aku akan berteriak dan terus memberontak!" ancam Andini dengam wajah memerah.
"Kalau kau terus menggeliat dan berisik, mungkin kau akan menjadi pincang dan cacat," ancam Hansen sembari mengendurkan pegangannya sedikit.
Tanpa sadar Andini langsung berpegangan kepada Hansen dan menjatuhkan pelukannya. Dia terdiam dan terus berada dalam posisi tersebut karena takut terjatuh.
'Dia pernah menjatuhkanku dengan sengaja tempo lalu, aku yakin dia akan melakukannya lagi kali ini jika aku melawan' pikir Andini.
Sesampainya di kamar, Hansen menurunkannya secara perlahan. Lalu pergi dan kembali dengan membawa sebuah kotak obat. Andini nampak masih terasa malu dengan wajah yang merah merona.
'Apa yang baru saja kulakukan?'
'Kenapa aku memeluknya begitu erat sampai dia menurunkanku?'
"Majulah sedikit dan biarkan aku mengobati bengkak di kakimu," ucap Hansen sambil berdiri di bawah kasur.
Andini menggeser pantatnya hingga mencapai ujung kasur, lalu menurunkan kedua kakinya agar Hansen dapat mengobatinya dengan mudah.
Hansen terkejut akan sikap patuh Andini tersebut, wajahnya yang nampak sedikit memerah pun sedikit membuatnya tertarik. 'Kalau diam dan patuh seperti ini, ternyata dia cantik juga'
Hansen membungkuk dan meraih kaki Andini tanpa ragu, Wajah Andini nampak semakin memerah karena hal tersebut. Namun Hansen belum menyadarinya, karena dia terfokus terhadap luka bengkak di punggung kaki kanan Andini.
"Ahh sakit!" Andini merengek setelah Hansen mulai mengoleskan obatnya.
Hansen yang merasa tak tega sekaligus khawatir, langsung menoleh ke atas. Dan dia dikejutkan oleh pemandangan yang tak terduga. Dia merasa bahwa tenggorokannya terasa sedikit kering, namun tak bisa mengalihkan pandangannya dari hal tersebut.
Sadar bahwa rok mininya sedikit terangkat, Andini langsung menutupinya dan berkata, "Dasar mesum!"
"A ... aku bisa jelaskan," saat Hansen ingin membela dirinya, Andini segera menendang kundur Hansen dengan kesal. "Menjauh dariku dan tinggalkan saja obatnya, dasar mesum!"
"Cih, terserah kau saja!" Hansen pergi tanpa pembelaan, karena memang dia merasa bahwa tuduhan Andini kali ini bukanlah tanpa dasar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Agustina Mose
suami istri yang belum bisa menyadari arti sebuah cinta
2022-08-29
0
Imam Sutoto Suro
semangat thor lanjut
2022-08-24
0
Arif Widia
Kan sudah pernah mlam pertama tuu...
2022-07-07
0