Han membaca novel itu dengan sangat serius. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana orang bisa jatuh cinta dengan cara seperti itu. Dia sibuk mengomel mengomentari setiap adegan dalam cerita novel tersebut yang menurutnya tidak masuk akal. Dibacanya novel itu sampai habis. Logikanya dengan perasaanya saling berbenturan, dia berfikir keras.
Novel itu mengajarkan banyak hal bagaimana cara meluluhkan hati seorang wanita, memenangkan hatinya, dan mencintainya. Han kesal karena tidak bisa memahaminya jadi dia melempar buku itu. Dia pergi keluar dari ruang baca dengan raut wajah tidak senang.
Han melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore tapi Lily dan James belum pulang juga. Han mulai kepikiran, apa saja yang mereka lakukan hingga bisa pergi selama ini. Dia mendatangi Nyonya Rose yang sedang membersihkan hama liar di tanaman dalam rumah kacanya. Mereka berbincang dalam bahasa Mandarin.
"Bibi. Sudah jam 4 sore Lily dan James belum pulang." ucap Han resah.
Nyonya Rose hanya memandangi Han sambil tersenyum. Dia mengambil handphone nya dan mencoba menelepon Lily di depan Han. Dia sengaja menspeaker agar Han bisa mendengarnya juga. Han pura-pura tidak peduli. Lily mengangkat teleponnya. Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia.
"Ya ibu, ada apa?" tanya Lily dengan suara ramai dibelakangnya.
"Kau ada dimana?" tanya Nyonya Rose khawatir.
"Ohh.. aku sedang berkeliling di French Concession Region dengan James. Aku mau makan malam dulu dengannya baru pulang. Tidak apa-apa kan?" tanya Lily memelas.
"Oh ya sudah tidak apa-apa. Selamat bersenang-senang." tandas Nyonya Rose dengan santai.
Han tidak percaya Nyonya Rose membiarkan Lily pergi begitu lama dengan James.
"Bibi. Kenapa kau tidak menyuruh Lily pulang? Sebentar lagi malam." tanya Han kesal.
"Mereka sudah besar. Mereka akan baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir." jawab Nyonya Rose sembari mencabuti rumput liar di tanaman kesayangannya.
Han berkerut kening dan segera pergi meninggalkan Nyonya Rose. Nyonya Rose hanya tersenyum melihat sikap Han.
Han penasaran dengan apa yang dilakukan Lily dan James hingga begitu lama. Dia pun pergi menyusul ke FCR menggunakan mobil Jeep. Sesampai disana Han sibuk mencari dimana Lily berada.
Setelah mengelilingi beberapa tempat akhirnya Han menemukan Lily. Sepanjang jalan Lily bergandengan tangan dengan James seperti sepasang kekasih. Han menghampiri mereka. Berbicara dengan bahasa Mandarin.
"Hei kalian. Ini sudah jam berapa? Cepat pulang!" bentak Han. Lily dan James kaget melihat Han ada ditempat mereka berada.
"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya James heran.
"Bukan urusanmu." jawab Han ketus. Han langsung menarik tangan Lily dan membawanya masuk ke dalam mobil. James mengikuti mereka sampai ke mobil. James mencoba menghentikan Han yang terlihat menyakiti Lily.
"Han.. Han, hentikan jangan seperti itu!" ucap James sembari memegang lengan Han.
Han yang tidak suka disentuh itupun malah mengajak James berkelahi. James tahu Han sedang kesal tapi bagaimanapun perkelahian tidak dapat dihindari.
Di parkiran mobil Han bertubi-tubi melakukan pukulan ke arah James. James berusaha mengelak sebisa mungkin dari serangan Han. Han terkenal sebagai instruktur bela diri di camp, Drake saja bisa dikalahkan olehnya apalagi James. Lily hanya bisa terdiam melihat mereka berkelahi tanpa melakukan apapun.
"Untung saja parkiran mobil sedang sepi jika tidak akan timbul keributan", batin Lily.
Han melakukan tendangan tepat ke arah dada James, James sudah menangkisnya tapi masih terpental dengan kekuatan Han yang begitu dasyat.
"Sudah hentikan! Baik aku akan ikut pulang denganmu!" teriak Lily dengan kesal atas sikap Han yang seenaknya sendiri.
"James aku minta maaf. Tapi aku akan pulang dengan Han." seraya mendatangi James dan membantunya berdiri.
"Tidak apa-apa Lily, aku mengerti." jawab James sambil memegang dadanya yang sakit.
Lily memasukkan beberapa kantong hasil belanjanya dengan James ke mobil Han. Lily masuk ke mobil tanpa berbicara apapun. James melihat mereka pergi dengan emosi.
"Sialan Han. Dia selalu bertindak semaunya!" batin James dengan kesal.
Ternyata banyak orang di camp yang tidak menyukai Han karena sikapnya yang dingin dan kasar. Dia selalu berbuat seenaknya, egois dan meremehkan orang lain. Memang Han orang yang memiliki banyak talenta. Dia ahli bela diri, judo, menembak bahkan memanah.
Dalam pasukan dia adalah Kaptennya. Seorang sniper dan juga seorang mata-mata. Dia juga bisa 4 bahasa yakni English, Korea, Mandarin dan baru-baru ini Indonesia. Mungkin karena banyaknya talenta dalam diri Han menjadikan dia seorang yang sombong dan angkuh.
Sepanjang perjalanan Lily dan Han hanya diam saja tak berbicara sepatah katapun. Lily masih tidak menyangka Han bersikap kasar kepada James. Tiba-tiba Han mengajak Lily berbicara menggunakan bahasa Indonesia.
"James pacarmu kah? Kenapa kalian bergandengan tangan?" tanya Han sambil menyetir mobil dengan fokus. Lily terkejut Han bisa bahasa Indonesia. Tapi Lily tidak peduli.
"Aku tidak keberatan jika harus berpacaran dengan James." jawab Lily ketus.
Han terkejut dengan jawaban Lily. Semudah itukah dia menerima James tanpa mencari tahu dulu latar belakangnya, Han tidak habis pikir dengan sikap Lily. Dia menghentikan mobilnya. Lily pun kaget dan menatap Han tajam. Dia tahu bahwa Han butuh penjelasan.
"Aku sengaja bergandengan tangan dengan James agar aku tidak diganggu orang. Aku masih baru disini. Aku tidak tahu seperti apa tingkah laku orang-orang disini, bagaimana cara mereka berinteraksi, bagaimana mereka bersikap, aku sedang mempelajarinya. Memang apa yang kau pikirkan?" jawab Lily dengan tegas.
Han tidak menyangka ternyata itulah alasan Lily bergandengan tangan dengan James. Han memandangi Lily dengan seksama tapi Lily memalingkan muka dengan sebal. Han melanjutkan perjalanannya lagi.
Tiba-tiba Han mengeluarkan sebuah benda dari dalam laci mobil yang ada di depan Lily. Setangkai bunga mawar putih yang sudah dibungkus dengan plastik putih transparant dan diikat dengan pita berwarna merah. Lily tetegun melihatnya. Dia melirik ke arah Han.
"Itu sebagai permintaan maafku karena sudah salah paham." ucap Han tanpa menoleh sedikitpun ke arah Lily.
Lily bingung dengan sikap Han. Saat Lily mengambil bunga dari dalam laci tiba-tiba Han menghentikan mobilnya secara mendadak dan bunga itupun jatuh di karpet mobil. Lily melihat ada segerombolan laki-laki berjumlah 5 orang membawa senjata api dan senjata tajam di depan mobil mereka.
Mereka menodongkan pistol tepat ke arah Lily dan Han. Orang-orang itu menyuruh Han membuka pintu dengan paksa. Lily terlihat panik. Han diam saja tak merespon, salah seorang itu akhirnya menembak ke arah kaca depan mobil, nyaris mengenai Han. Lily ketakutan dan berteriak.
Han memegang tangan Lily seperti mengatakan "Jangan khawatir, tidak apa-apa."
Lily melihat Han turun dari mobil sambil mengangkat tangannya. Sekejap Han langsung menarik tangan lelaki yang memegang pistol dan mematahkan lengannya. Orang tersebut mengerang kesakitan. Dengan kilat Han segera menendang orang disebelahnya yang terkejut melihat temannya dipatahkan lengannya, orang itupun juga ambruk dan memegang perutnya yang di tendang Han.
Lily tidak waspada, orang yang menodongkan pistol ke arah Lily membuka pintu mobil dan menyeret Lily keluar dan menodongkan pistol di lehernya. Lelaki itu menyekapnya dengan kuat dan mengancam akan menembak Lily. Lily berusaha melepaskan dekapan lengan orang tersebut tapi dia terlalu kuat. Tiba-tiba Han berkata.
"Lily, miringkan kepalamu?" Lily tidak mengerti apa maksudnya tapi segera dia melakukannya.
Secepat kilat Han menembakkan sebuah peluru tepat mengenai mata kiri orang tersebut. Orang tersebut mengerang kesakitan yang akhirnya tewas terkapar dipinggir jalan. Lily ketakutan setengah mati. Suara tembakan, cipratan darah mengenai wajah Lily. Lily gemetaran tak bisa bergerak.
2 orang sisanya ketakutan melihat apa yang Han lakukan. Merekapun segera kabur dan meninggalkan 2 temannya yang masih mengerang kesakitan di pinggir jalan. Han menyimpan kembali senjatanya. Dia menyeret 2 orang yang sudah dilumpuhkannya ke pinggir jalan.
Lily masih berdiri ketakutan tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Han mendatangi dan memeluk Lily. Lily hanya terdiam membeku. Han merangkulnya dan mendudukkan Lily ke dalam mobil. Han segera melaju kendaraannya.
Sesampai di The Grey House, Han segera mengelap cipratan darah dari wajah Lily. Lily terlihat masih shock dengan yang terjadi di jalan tadi. Han mencoba menenangkannya. Dia memegang wajah Lily dan mengelus kepalanya. Lily mulai tenang. Dia menatap Han dalam-dalam.
Han berkata padanya agar jangan menceritakan hal ini kepada Komandan Zeno dan Nyonya Rose. Segera dia turun dari mobil dan menurunkan barang-barang dan memasukkannya ke dalam kamar Lily. Han menuntun Lily kembali ke kamarnya.
"Aku masih ada urusan. Aku pergi dulu. Kau tidurlah. Lupakan yang terjadi tadi." ucap Han seraya pergi.
"Melupakan? Bagaimana bisa aku melupakan hal itu begitu saja?!" batin Lily.
-----------
Yep. Saya terinspirasi nama Han dari film "RED 2" aktor Lee Byung Hun. Karakternya yang begitu kuat membuat saya berimajinasi dia bermain di novel saya. Hehehe.. Tapi saya tetap mencari sesosok real man yg berkarakter seperti dy. Chapter brp? Ikutin aja kisahnya😁 Tar ketemu visual Han versi real saya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 502 Episodes
Comments
Nengah Suarni
koq lebih keren james
2022-12-17
2
Adryan Eko
ilustrasi nya bener bener sesuai ekspektasi.. terimakasih karya nya bosku
2022-07-04
0
Linggar
gak jadi romantis dong 🤣🤣
2022-05-28
0