Semenjak kejadian "Babi" itu, Lily menjaga jarak dengan Han. Dia merasa bahwa Han adalah seorang pria berhati dingin dan tak berperasaan. Setiap Han berpapasan dengan Lily, Lily selalu menjauh darinya. Tak mau menegurnya, bahkan berpura-pura tidak melihatnya meskipun Han ada di dekatnya. Hal ini membuat Han semakin tidak nyaman dengan sikap Lily.
Sedangkan setiap hari Liu selalu datang ke pondok untuk menjenguk Lily. Liu tahu bahwa Lily sangat suka sekali apel. Liu sengaja memetik 1 buah apel setiap hari yang baru masak dari pohon. Lily sangat senang dengan kebaikan Liu. Lily selalu pergi berjalan-jalan dengan Liu, bercerita banyak hal, mempelajari banyak hal, bahkan saat makan malam di jamuan api unggun Lily selalu terlihat bersama Liu.
Mereka terlihat sangat akrab seperti kakak adik. Lily selalu tersenyum dan riang saat bersama Liu. Lily juga sangat ramah kepada orang-orang yang datang padanya. Ternyata Han memperhatikan hal ini. Han merasa hanya dirinya seoranglah yang tidak bisa akrab dengan Lily.
Dibawah pohon apel yang rindang, tempat biasa Liu memetik apel untuk Lily. Liu dan Lily sedang asyik mengobrol.
"Liu.. aku bosan. Kenapa lukaku ini lama sekali sembuhnya." ucap Lily sambil merebahkan badanya di rerumputan.
"Jika kau banyak istirahat maka lukamu akan segera pulih kak." jawab Liu ramah.
Liu duduk sambil memperhatikan Lily yang sibuk melakukan senam pada wajahnya. Liu menganggap terkadang sikap Nona Lily seperti anak kecil. Lucu dan menggemaskan. Sering melakukan hal-hal konyol yang tanpa disadari membuat orang yang melihatnya tertawa.
Lily memang suka bergaul. Suka bercerita dan suka mendengarkan cerita orang lain. Dia lebih senang berkumpul dengan orang-orang yang lebih tua darinya. Dan tentu saja, Liu sebagai penerjemahnya. Karena kebanyakan warga disini berbahasa Mandarin.
Menurutnya pengalaman dari para senior itu adalah hal yang sangat berharga, bisa dijadikan bekal untuk evaluasi diri sehingga kita bisa lebih menghargai dan menghormati jerih payah orang lain. Banyak hal yang Lily lakukan selama di camp. Lily suka membantu dan senang direpotkan, membuat orang-orang merasa nyaman jika berada di dekatnya.
Lily tiba-tiba terbangun.
"Eh Liu. Aku belum pernah pergi ke pondok sebelah sana. Itu tempat apa ya?" seraya menunjuk sebuah pondok yang ukurannya lebih besar dari pondok yang berada dekat pemukiman.
"Yuk kita kesana." Liu mengajak Lily ke pondok besar tersebut.
Pondok itu ternyata bangunan tingkat dua dengan fondasi dari batuan kali yang disemen. Dindingnya dari kayu dan bambu. Atapnya terbuat dari genteng tanah liat. Ruangan didalamnya juga lebih besar dari pondok-pondok yang pernah Lily kunjungi sebelumnya.
Bahkan bangunan ini tidak memiliki jendela dan pintu seperti siapa saja bebas masuk ke dalamnya. Banyak hiasan keramik tanah liat yang dicat disusun rapi serta sebuah tempat untuk membuat cetakan pot dan bejana-bejana. Tempat ini sangat bersih dan banyak tanaman-tanaman hias serta bunga-bunga dalam pot yang digantung dengan indah yang sudah dicet warna-warni. Suasananya sangat feminim sekali. Lily terpesona dengan tempat ini.
Terdengar suara langkah kaki seorang wanita yang turun dari tangga kayu. Ternyata itu Nyonya Rose. Melihat kedatangan Lily, Nyonya Rose menyambut dengan gembira.
"Hallo Lily. Apa yang membawamu datang kemari? Apa kau suka?" tanya Nyonya Rose dengan senyum yang menawan.
"Tempat apa ini ibu? Indah sekali. Persis seperti dirimu." ucap Lily yang masih asyik melihat sekeliling.
Nyonya Rose tertawa pelan.
"Mau ikut ke atas? Ada yang mau ibu tunjukkan." sembari menunjuk sebuah ruangan di lantai atas.
"Tentu saja." jawab Lily semangat.
Lily dan Liu pun pergi ke atas untuk melihat apa yang ingin Nyonya Rose tunjukkan. Lily terkagum-kagum karena banyak sekali buku disini dengan berbagai bahasa. Dari bahasa Mandarin, German, English, Japan, bahkan bahasa Indonesia juga ada dan masih banyak lagi. Buku-buku itu karya dari beberapa penulis terkenal. Mulai dari buku ilmu politik, budaya, sejarah, bahkan novel dan komik juga ada. Tempat ini mirip seperti perpustakaan Internasional karena terdapat banyak jenis bacaan.
"Lily. Adakah buku yang membuatmu tertarik?" tanya Nyonya Rose penasaran.
Lily melirik ke arah Nyonya Rose. Dia tersenyum sambil mendekatinya. Nyonya Rose sedikit bingung dengan sikap Lily.
"Yang membuatku lebih tertarik ketimbang seluruh buku yang ada disini adalah dirimu bu." jawab Lily dengan tatapan penuh makna.
"Apa maksudnya?" tanya Nyonya Rose bingung.
"Sebenarnya. Ibu menguasai berapa bahasa? Apa pekerjaan ibu?" tanya Lily tanpa basa basi.
Nyonya Rose terkejut dengan pertanyaan Lily. Liu juga kaget, dia tak menyangka ternyata selama ini Lily tahu bahwa Nyonya Rose bisa menguasai beberapa bahasa. Nyonya Rose tersenyum kecut. Lalu dia mempersilakan Lily dan Liu untuk duduk.
"Haruskah ibu menjawabnya?" tanya Nyonya Rose memastikan.
"Bukankah memang seharusnya begitu." jawab Lily mengintimidasi.
Nyonya Rose menghela nafas. Akhirnya dia harus jujur kepada gadis ini. Dia tahu gadis ini bukan tipe orang yang bisa dibohongi.
"Dulunya saya seorang penerjemah di sebuah Badan Pemerintah. Saya bisa 7 bahasa. Inggris, German, Jepang, Korea, Russia, Mandarin dan Indonesia." jawab Nyonya Rose dengan serius.
Lily hanya terdiam mengangguk mengagumi kemampuan ibunya yang tidak diketahuinya itu. "Pantas saja dia bisa berbicara dengan cepat dari satu orang ke orang lain dengan orang yang berbeda ras nya," batin Lily.
"Tak seperti biasanya, jika Lily mengagumi sesuatu pasti dia berteriak dengan lantang tapi kali ini dia diam saja." batin Nyonya Rose.
"Mm ibu.. maukah kau mengajariku bahasa Mandarin. Orang-orang disini berbahasa Mandarin. Terkadang aku merasa seperti orang bodoh ketika mereka mengajakku mengobrol dan aku tidak mengerti apa yang mereka katakan." ucap Lily dengan sinis.
"Kak Lily. Kan ada aku yang akan membantumu menerjemahkan setiap kata yang mereka ucapkan. Aku tidak akan membohongimu. Aku bersumpah." tandas Liu membela.
"Mau sampai kapan Liu. Jujur. Aku saja iri kepadamu. Kau baru berumur 8 tahun tapi sudah bisa 3 bahasa. Aku cuma bisa 2. Bisa hancur dunia persilatanku jika orang-orang tahu." jawab Lily dengan kesal.
Lagi-lagi Lily mengatakan bahasa alien yang tidak mereka pahami. Sebenarnya mereka juga merasa bodoh ketika Lily berbicara bahasa non-formal dan mereka tidak tahu apa artinya.
Akhirnya Nyonya Rose mengizinkan Lily untuk belajar bahasa Mandarin dengannya. Lily sangat senang.
Setiap hari Lily selalu datang ke pondok tempat ibunya untuk belajar bahasa Mandarin ditemani Liu. Saat Lily asik belajar, Liu juga sedang serius mempelajari bahasa lain. Hal itu membuat Lily sebal. Dia merasa tertantang untuk bisa mendahului kemampuan berbahasa Liu.
Lily bertekat, setelah fasih dengan bahasa Mandarin dia akan belajar bahasa Korea. Entah kenapa dia begitu ingin bisa belajar bahasa itu. Dia merasa takdir akan membawanya ke negara Gingseng tersebut.
Sudah hampir 3 minggu berlalu. Luka jahitan dikepala Lily sudah membaik. Perban sudah bisa dilepas. Namun karena rambut Lily yang masih tipis membuat Lily kurang percaya diri melepas perbannya. Akhirnya Lily mensiasati untuk menutup luka dikepalanya dengan kain hitam yang biasa dipakai Han untuk masker wajah. Lily mencoba meminta kain tersebut kepada salah seorang dalam pasukan Han.
Namun pria itu mengatakan, jika Lily menginginkannya dia harus bicara langsung kepada Han. Hal ini membuat Lily sebal. Dia membatalkan niatnya untuk memiliki masker tersebut.
Seperti biasa. Makan malam di lapangan samping api unggun. Malam ini begitu tenang tak begitu berangin. Udara juga cukup hangat tak dingin seperti biasanya. Suasana ramai dan meriah. Rasa kekeluargaan terasa disini. Lily duduk disamping Liu. Mereka asyik mengobrol setelah selesai makan malam.
Tiba-tiba Han muncul di depan Lily. Lily terkejut dengan kedatangan Han. Lily masih tidak mau bertegur sapa dengannya. Saat Lily beranjak pergi, Han memegang lengan Lily sambil menyerahkan sesuatu.
"I know you need it. Take it." seraya menyerahkan sebuah masker berwarna hitam seperti yang biasa Han pakai ketika bertugas.
Han langsung pergi meninggalkan Lily begitu saja. Lily yang belum sempat mengucapkan terima kasih menjadi tak enak hati kepada Han. Meski begitu, Lily senang karena Han sedikit peduli kepadanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 502 Episodes
Comments
clover
buset susah semua
2023-07-15
0
clover
oh karena anggota perkumpulan itu berasal dari berbagai negara makanya buku buku itu juga dari berbagai macam bahasa ya
2023-07-15
0
clover
makanya jangan galak galak bang
2023-07-15
0