Lily ketakutan. Dia berfikir apa yang harus dilakukan. Lily melihat sekeliling dalam kamarnya. Mencoba mencari jendela atau pintu lain yang bisa digunakan untuk kabur. Lily teringat kaca besar yang menghadap halaman rumput kosong. Kaca besar itu sebuah pintu yang bisa digeser ke samping.
Perlahan Lily menuju ke arah kaca besar tersebut dengan susah payah. Kakinya yang terkilir masih terasa sakit jika digerakkan. Saat Lily mencoba mencari kunci untuk membuka pintu geser, betapa terkejutnya ada seorang lelaki tinggi besar di depannya. Lelaki itu dengan mudahnya menggeser pintu kaca tersebut. Saat dia akan memegang Lily, Lily berteriak.
"Aaaakkkk!" Lily berteriak kencang sambil menutup matanya.
Lelaki tinggi besar itu terkejut. Dari luar pintu kamar Lily salah seorang lelaki berjas hitam masuk.
"Ada apa?!" tanya lelaki itu dengan panik menggunakan bahasa Mandarin.
Dilihatnya Nona Lily duduk di lantai sambil menutup kepala dengan kedua tangannya.
"Nona Lily.. nona kau tidak apa-apa?" tanya lelaki berjas itu sembari mendatangi Lily dan memegang bahunya.
Lily terkejut dan ketakutan. Lily merayap menempel ke tembok. Kamar Lily yang gelap membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas siapa kedua orang yang ada di depannya itu. Perlahan pria berjas berdiri dan menyalakan lampu.
"Klik" pria berjas menyalakan lampu.
"Hallo nona Lily. Don't be afraid, it's us James dan Drake." ucap lelaki berjas sambil tersenyum.
"What? Who?" tanya Lily kebingungan dan gemetaran.
"He? Do you not know us?" tanya lelaki berjas.
Lelaki berjas itu memegang jidatnya dan lelaki tinggi besar hanya geleng-geleng kepala dengan senyum sinis.
Tiba-tiba Tuan Ho datang dari halaman rumput depan pintu kaca. Dia menggunakan bahasa Mandarin.
"Nona Lily. Apa kau tidak apa-apa. Apa kau terluka?" seraya mendatangi Lily dengan khawatir.
"Apa yang sudah kalian lakukan hingga membuat nona Lily ketakutan seperti ini!" bentak Tuan Ho kepada James dan Drake.
"Kami tidak melakukan apapun. Kami hanya memperkenalkan diri, benar kan Drake." ucap James membela diri. Drake hanya tersenyum mengangguk.
Tuan Ho menghela napas. Dia memang harus bersabar jika harus berbicara dengan James. Tuan Ho menganggap kalau sikap James terkadang masih kekanak-kanakan.
"Nona Lily. Mereka ini bukan orang jahat. Lelaki yang berambut pirang itu James dan lelaki tinggi besar itu Drake. Mereka orang kepercayaan Nyonya Rose dan Komandan Zeno. Jadi Nona Lily tidak perlu takut." ucap Tuan Ho menjelaskan perlahan agar Lily tenang.
"Aduh.. padahal kita ini sangat terkenal lho di camp. Bagaimana bisa Nona Lily tidak mengenal kami." ucap James sedikit kecewa.
Tuan Ho melirik tajam ke arah James. Seketika James langsung terdiam dan tertunduk ketakutan. Drake hanya tersenyum.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Nona Lily sebaiknya kembali tidur saja. Sini saya bantu nona kembali ke tempat tidur." seraya memapah Lily yang masih duduk di lantai karena ketakutan.
Tuan Ho membaringkan Lily ke tempat tidur. Lily masih memandang James dan Drake dengan seksama. James hanya tersenyum dan Drake hanya diam saja sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada.
"Kalau begitu kami mohon diri dulu. Selamat beristirahat Nona Lily." ucap Tuan Ho dengan ramah. Drake dan James pergi melewati pintu kaca dan segera menutupnya. Tuan Ho mematikan lampu lalu pergi keluar melewati pintu masuk kamar.
Lily masih berfikir kenapa orang kepercayaan Nyonya Rose dan Komandan Zeno ada disini. Jauh-jauh datang dari camp pergi ke rumah ini. Apakah untuk melindungiku? batin Lily. Lily pun akhirnya tertidur setelah melewati malam yang menegangkan.
Hari sudah berganti pagi. Cahaya matahari masuk melalui pintu kaca besar samping kamar Lily. Lily perlahan membuka matanya, melirik ke arah cahaya yang datang. Betapa senangnya Lily melihat pohon apel pemberian Liu sudah di tanam di halaman rumput seperti yang Lily minta.
"Pasti Tuan Ho yang melakukannya." batin Lily. Tiba-tiba pintu kamar Lily terbuka. Tuan Ho datang menyapa Lily menggunakan bahasa Mandarin
"Selamat pagi Nona Lily. Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Tuan Ho dengan ramah.
"Selamat pagi Tuan Ho. Ya cukup nyenyak meskipun semalam hal mengejutkan terjadi." jawab Lily dengan sebal.
Tuan Ho hanya tersenyum. Dia tahu pasti Nona Lily kaget setengah mati ditengah malam ada banyak orang di rumah ini.
"Nona, apakah Nona mau berjalan-jalan sebentar sebelum pergi mandi dan sarapan?" tanya Tuan Ho ramah.
"Ya tentu saja!" jawab Lily dengan sumringah.
Lily didudukkan dengan kursi roda oleh Tuan Ho. Mereka mengelilingi "The Grey House" dengan santai. Lily tampak takjub dan senang dengan rumah itu. Suasana ketika malam dan pagi terasa sangat berbeda. Tuan Ho mengajak Lily ke halaman depan rumah tempat pohon apel pemberian Liu ditanam. Tuan Ho berbicara menggunakan bahasa Mandarin.
"Nona Lily. Sepertinya pohon ini sangat penting untukmu." tanya Tuan Ho.
"Iya. Ini pemberian dari temanku saat aku berada di camp." jawab Lily sambil tersenyum.
"Kalau begitu kau harus merawatnya dengan baik Nona." tandas Tuan Ho.
"Tentu saja." jawab Lily dengan mata berbinar.
Sayup-sayup terdengar suara orang-orang bernyanyi ala tentara. Lily penasaran dengan suara-suara itu. Lily meminta kepada Tuan Ho agar membawanya ke asal suara itu.
Tuan Ho mendorong kursi roda Lily melewati gerbang hitam kastil menuju ke arah menara. Lily melihat ada 2 pengawas di menara tersebut, mereka melihat kedatangan Lily dan Tuan Ho. Ternyata di bawah menara ada sebuah pintu yang mengarah ke jalan bawah tanah. Ada jalanan batu turunan dan disebelahnya jalanan batu berupa anak tangga.
Tuan Ho mendorong kursi roda Lily melewati jalan turunan itu. Lily berpegang erat pada pegangan tangan kursi roda. Sebuah terowongan berdinding batu yang cukup panjang dengan lampu kecil berderet berjarak rapi di dinding terowongan. Terlihat sebuah pintu kayu yang entah menuju kemana. Tuan Ho membuka pintu itu dan terlihatlah sebuah pemandangan yang menakjubkan.
Sebuah pantai pasir putih dengan lautan biru terhampar luas sepanjang mata memandang. Terlihat barisan tentara sedang berlari sambil menyanyi di sepanjang pinggir pantai tanpa alas kaki. Ada James dan Drake juga. Mereka memakai celana panjang coklat dan telanjang dada. Lily terlihat senyum-senyum sendiri tersipu malu. Mungkin karena melihat para lelaki bertubuh kekar bertelanjang dada di depannya. Tuan Ho pun meledeknya. Mereka berbicara dalam bahasa Mandarin.
"Nona Lily, apakah cuacanya panas. Wajah Anda memerah." senyum Tuan Ho.
"Hah? Ohh tidak.. tidak.." sambil memegang pipinya dengan malu.
"Apakah Anda mau menyapa mereka?" timpal Tuan Ho.
Tiba-tiba Tuan Ho memanggil para tentara itu untuk mendatangi mereka.
"Tiidakkkk!!" Lily berteriak menggunakan bahasa Indonesia. Sontak para tentara itu kaget melihat Lily yang salah tingkah dengan kedatangan mereka. Lily malu sekali. Rasanya dia ingin kabur dari kursi rodanya namun tidak bisa. Lily hanya pasrah saja. James mendekatinya dan mengusili Lily.
"Ahhh nona Lily yang cantik. Apakah kau sengaja datang kemari untuk menyemangati kami berlatih?" ledek James.
Para tentara lainnya hanya tersenyum melihat Lily tertunduk malu sambil menutupi matanya.
"Apakah tubuh kami terlalu menyilaukan Nona Lily?" balas Drake ikut menimpali.
Para tentara lainnya hanya berusaha menahan tawa melihat Lily menutupi wajah dengan rambut panjangnya. Tuan Ho merasa bahwa candaan ini sudah cukup. Segera dia pergi meninggalkan para tentara yang sudah cukup bersenang-senang menggoda nona Lily. Tuan Ho mendorong Nona Lily kembali masuk ke dalam lorong. Tuan Ho merasa kasihan dengan nona Lily yang sedari tadi menutupi wajahnya karena malu.
"Minum segelas air dingin sepertinya cukup untuk menghilangkan rasa panas di tubuh nona." ucap Tuan Ho dengan tenang. Lily pun hanya mengangguk mengiyakan.
Mereka kembali ke The Grey House. Tuan Ho memberikan segelas air dingin kepada Lily dan Lily pun segera meminumnya.
"Hahhh.. benar-benar menyebalkan. Aku dipermainkan!" begitu batin Lily. Lalu Lily pun mengajak Tuan Ho mengobrol menggunakan bahasa Mandarin.
"Tuan Ho. Ibu kemana? Aku tidak melihatnya dari semalam." tanya Lily penasaran.
"Nyonya Rose masih ada urusan yang harus diselesaikan. Mungkin 1 bulan lagi baru pulang." jelas Tuan Ho.
"1 bulan? Lama sekali. Aku ingin segera belajar bahasa Korea dengan ibu." ucap Lily sedih. Tuan Ho memperhatikan raut wajah Lily yang memelas. Sepertinya Lily begitu ingin mempelajari bahasa tersebut.
"Jika hanya bahasa Korea saya juga bisa mengajari Anda Nona Lily." jawab Tuan Ho yakin.
"Benarkah? Anda bisa?" tanya Lily dengan penuh semangat.
Tuan Ho mengangguk menandakan bahwa dia memang bisa bahasa Korea. Bahkan Tuan Ho menunjukkan kefasihanya dalam berbicara. Lily terkagum-kagum dengan kemampuan Tuan Ho.
"Wah Tuan Ho, Anda benar-benar hebat. Anda mempelajarinya dari mana?" tanya Lily penasaran.
"Dulu isteri saya orang Korea jadi saya sedikit bisa bahasa Korea." pungkas Tuan Ho seraya tersenyum.
"Eh ngomong-ngomong soal isteri. Lalu dimana isterimu?" tanya Lily semakin ingin tahu.
Tuan Ho terdiam sejenak.
"Untuk hal itu saya tidak ingin membicarakannya Nona Lily." jawab Tuan Ho lirih.
"Aku minta maaf Tuan Ho jika aku menyinggungmu." ucap Lily sungkan.
Melihat ekspresi Tuan Ho yang mendadak sedih Lily menjadi tidak enak hati dan merasa bersalah. Sepertinya Tuan Ho memiliki masa lalu yang kelam dengan isterinya tersebut.
Tuan Ho pun berjanji akan segera mengajarkan Lily berbahasa Korea. Dia mengantarkan Lily kembali ke kamarnya untuk segera mandi. Bibi Mei datang untuk membantu Lily mandi tapi Lily menolak. Mereka berbicara dalam bahasa Mandarin.
"Ah Bibi Mei tidak usah. Saya bisa melakukannya sendiri." jawab Lily dengan sungkan.
"Tapi bagaimana nona Lily akan menggosok punggung? Kaki nona juga masih sakit." jawab Bibi Mei bingung.
"Ah, aku tidak biasa Bibi. Aku akan melakukannya sendiri. Bibi memasak saja. Buatkan makanan yang enak untukku ya." ucap Lily dengan malu.
Bibi Mei pun pergi meninggalkan Lily sendirian di kamar mandi. Bibi Mei merasa bahwa nona Lily pasti bukan berasal dari negara dengan budaya mandi bersama. Ini membuktikan bahwa asumsi Nyonya Rose benar kalau Lily berasal dari Indonesia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 502 Episodes
Comments
Angel Ribka
aku baca novel ini untuk yang kedua kalinya 👍
2024-11-02
1
💕💕syety mousya Arofah 💕💕
thooorrr,,,qpendatag baru tp lngsng fav,,,,q sukaaaa,,,tapi kerjaanku jd terbengkalai,,,🤭🤭🤭
2023-06-27
1
Adryan Eko
masih tergila-gila dengan suaranya author jadi gak bisa komen banyak.. wkwkw
2022-07-04
1