Mobil Jeep yang dikendarai Nyonya Rose dan Lily berangsur pergi meninggalkan kawasan perkotaan. Mereka melaju menuju ke arah pinggiran laut dekat dengan pantai. Jarak antara beberapa rumah mulai terlihat jauh. Ratusan meter baru terlihat beberapa rumah lagi.
Perlahan mobil menaiki bukit dan terlihat sebuah gerbang hitam besar dengan rumah mirip sebuah kastil, begitu megah namun terlihat sedikit menyeramkan. Ada sebuah menara di dalam kastil dan ada pengawas di menara itu. Di depan gerbang tampak 2 orang penjaga berpakaian serba hitam mirip dengan pasukan dibawah komando Han.
Pak sopir bernama Tuan Ho membuka kaca mobil dan memberikan sinyal kepada penjaga agar membuka pintu gerbang. Mobil perlahan memasuki area kastil itu. Terlihat halaman kastil begitu luas. Pohon cemara tinggi menjulang mengelilingi pekarangan. Ada sebuah air mancur ditengah-tengah pekarangan. Dan mobilpun berhenti didepan pintu masuk kastil.
Sebuah pintu besar berwarna hitam yang terbuat dari kombinasi kayu dan besi terlihat sangat kokoh. Tuan Ho membantu Lily duduk di kursi rodanya. Nyonya Rose berjalan menuju pintu dan meletakkan tangannya pada sebuah papan dari kaca yang ada di samping pintu.
"Ternyata harus menggunakan sidik jari, wahh keren sekali." batin Lily.
Lily memperhatikan sekeliling kastil itu dengan seksama. CCTV terpasang disetiap sudut kastil itu. Dan tak lama pintu kastil itupun terbuka.
Ternyata rumah yang mirip kastil ini hanya sebuah benteng saja. Saat pintu terbuka masih ada halaman lagi yang lebih mirip dengan rumah sesungguhnya. Tuan Ho mendorong kursi roda Lily perlahan. Dia membiarkan nona nya ini melihat rumah yang akan ditinggalinya dengan seksama.
Sebuah rumah model minimalis dengan kombinasi warna dominan abu-abu dan putih. Sebuah taman mungil yang ditengahnya ada kolam ikan koi dan jembatan yang menghubungkan taman dengan pintu samping rumah kaca. Ada sebuah rumah kaca yang di dalamnya banyak sekali jenis tanaman hias dan bunga-bunga seperti yang ada dipadepokan tempat Lily belajar bahasa.
Lily begitu kagum melihat suasana rumah minimalis ini. Masih ada halaman rumput kosong di depan sebuah ruangan dengan jendela kaca besar.
"Ibu.. bolehkah aku menanam pohon apel pemberian Liu di depan kaca besar itu?" sembari menunjuk sebuah halaman rumput kosong.
"Tentu saja boleh." jawab Nyonya Rose seraya tersenyum.
Nyonya Rose kembali meletakkan jempolnya dekat pegangan pintu masuk. Sebuah pintu berwarna putih terbuat dari kayu. Ternyata setiap pintu utama di rumah ini dibuka dengan pemindai sidik jari. Benar-benar sebuah rumah dengan sistem keamanan yang ketat.
Lily memasuki rumah barunya. Suasananya benar-benar nyaman. Rumah ini terlihat begitu tenang dan bersih. Sebuah ruang tamu yang luas dengan sofa berwarna putih yang terbuat dari kulit dan karpet dari bulu seekor beruang hitam dengan kepala dan mulut yang menganga.
"Wow.. sebuah kesan yang sangat menegangkan" batin Lily.
Lily mengamati sekeliling ruangan itu dari kursi rodanya. Rumah itu sangat lega karena banyak ruangan-ruangan besar dan lorong yang panjang. Lampu-lampu hias tergantung indah di plafon atap rumah. Ada sebuah anak tangga dengan besi pegangan yang kokoh menuju ke lantai dua. Sayang Lily belum bisa bereksplorasi karena kakinya masih sakit.
Nyonya Rose memberitahu kalau kamar Lily ada di lantai dua. Namun karena kaki Lily masih sakit jadi untuk sementara waktu Lily akan tinggal di lantai dasar. Saat ditanya Nyonya Rose dia mau memilih ruangan yang mana, Lily meminta ruangan yang menghadap halaman rumput tempat pohon apel pemberian Liu ditanam. Nyonya Rose pun memperbolehkannya.
Sebenarnya itu adalah ruangan tempat Nyonya Rose membaca buku tapi karena Lily menginginkannya Nyonya Rose tidak keberatan untuk mendekorasi ulang ruangan tersebut.
Nyonya Rose menginstruksikan kepada Tuan Ho untuk membawa Lily ke dapur untuk makan malam.
"Lily, ibu masih ada urusan, kamu makan duluan saja dan langsung istirahat, tak usah menunggu ibu ya." ucap Nyonya Rose menjelaskan.
"Baik Bu." jawab Lily menurut.
Tuan Ho seorang laki-laki berumur sekitar 40 tahunan, tinggi 170cm, berambut hitam kemerahan seperti sering terpapar matahari, gaya rambut belah tengah dan kulit sedikit kecokelatan. Cukup tampan untuk seorang bapak-bapak.
Tuan Ho mendorong kursi roda Lily ke dapur. Dapur itu begitu luas, semua peralatan masak tertata rapi. Terlihat seorang ibu-ibu berumur 50 tahunan, rambut digulung keatas, sudah sedikit beruban, sedikit gemuk dan agak pendek sedang memasak. Mereka berbicara dalam bahasa Mandarin.
"Bibi Mei. Hallo apa kabar." Tuan Ho memberi salam.
"Oh Tuan Ho. Kau sudah datang." sambut bibi Mei. "Selamat datang Nona Lily. Senang bertemu denganmu. Semoga kau senang tinggal disini." ucap bibi Mei ramah.
Tuan Ho menatap bibi Mei tajam, sepertinya Bibi Mei salah bicara. Bibi Mei yang menyadari kesalahanya segera meralatnya.
"Oh maksud saya, lama tidak berjumpa, bibi sangat merindukanmu." seraya mendekati Lily dan memeluknya.
Lily yang sudah fasih berbahasa Mandarin sudah tidak kesulitan lagi jika berbicara dengan orang-orang dari negara ini.
"Nona Lily saya mohon diri dulu. Saya ingin merapikan barang-barang yang dibawa Nyonya tadi." ucap Tuan Ho.
"Ya Tuan Ho. Terima kasih sudah mengantar saya." jawab Lily ramah.
Tuan Ho pun pergi meninggalkan dapur. Bibi Mei menggantikan Tuan Ho mendorong kursi roda Lily ke meja makan dan merapatkannya. Bibi Mei menyiapkan makan malam untuk Lily. Semangkok sup ayam gingseng, nasi hangat, irisan buah apel dan tumisan daging sapi.
"Aromanya benar-benar sedap", batin Lily.
Tanpa ragu-ragu Lily segera menyantapnya dan menghabiskannya tanpa sisa. Dia tidak menyangka ternyata masakan bibi Mei sungguh luar biasa. Rasanya dia ingin tidur di dapur saja.
Bibi Mei yang melihat Lily begitu menyukai masakannya terlihat senang. Dia jadi teringat dulu ketika Nona Lily anak kandung Nyonya Rose melihat masakannya dikatakan bahwa makanannya seperti orang kampung, tidak menarik dan rasanya biasa-biasa saja.
Bahkan dulu sampai harus mengundang chef dari restaurant terkenal hanya untuk memasak khusus untuk Nona Lily. Melihat gadis yang baru ditemuinya ini bibi Mei sudah langsung menyukainya.
"Pantas saja Nyonya Rose mengangkatnya sebagai anak, gadis ini benar-benar santun." batin Bibi Mei.
Usai makan malam bibi Mei mengantarkan Lily untuk beristirahat. Di kamar barunya yang sudah di dekorasi ulang secara kilat, Lily mencoba untuk beristirahat. Ternyata sudah disiapkan baju ganti untuk Lily. Sebuah piyama cantik berwarna putih bersih, begitu halus dan wangi. Lily pun segera mengenakannya.
Lily merebahkan badannya dan meluruskan kakinya yang sakit agar peredaran darah lancar dan bisa segera pulih.
"Hari ini benar-benar melelahkan. Aku ingin cepat-cepat sembuh supaya bisa melihat-lihat rumah ini, aku benar-benar penasaran ada apa saja di dalamnya." batin Lily dengan tak sabar. Tak lama Lily pun tertidur lelap.
Hari masih begitu gelap. Bulan pun masih nampak. Namun dari luar kamar Lily terdengar suara gaduh entah apa yang terjadi. Lily terbangun karena suara-suara itu. Dilihatnya jam dinding waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi. Lily mencoba untuk bangun dan berjalan dengan satu kaki.
Saat Lily membuka pintu kamarnya dan mengintip, dia terkejut karena banyak lelaki berjas hitam, bersepatu vantofel layaknya seperti bos-bos di perusahaan besar. Mereka berbicara dengan bahasa Mandarin.
"Cepat segera pindahkan peti-peti itu, jangan sampai ketahuan." bisik salah seorang laki-laki berjas hitam.
Para lelaki berjas itu mengangkat peti-peti berukuran besar dalam jumlah yang lumayan banyak turun dari lantai 2. Lily segera menutup kembali pintu kamarnya. Lily bingung dan ketakutan.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi dan siapa lelaki-lelaki itu. Apakah mereka perampok atau jangan-jangan mereka pembunuh?" Lily bertanya-tanya dalam pikirannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 502 Episodes
Comments
Ramita Aprilia
ceritanya mengesankan. bagus banget .
2022-09-07
1
Adryan Eko
mantappp.. gw suka karya mu mbak
2022-07-03
1
Cahya Duasatu
ntah sudah berapa x q ulang, tapi gak bosan2 rasanya, 😄
apalagi waktu berita Rusia dan Ukraina lg tranding, langsung inget lili lagi,,,, hah le, ceritamu candu buatku
💖💖😂
2022-05-03
1