Bibi Mei mulai menyiapkan makan malam dan Tuan Ho membantu Bibi Mei menyiapkan peralatan makan. Han menunggu di dapur sembari membaca sebuah buku. Lily berada di ruang baca mencari buku baru yang belum dia baca sebelumnya.
Selama kakinya sakit di The Grey House, Lily menghabiskan waktunya dengan belajar bahasa Korea dan membaca buku koleksi Nyonya Rose. Lily menemukan sebuah komik bertuliskan Jepang. Lily menyukai ilustrasi gambarnya sayang Lily tidak mengetahui apa artinya. Jadi Lily bertekat untuk belajar bahasa Jepang.
Lily pun pergi mencari Nyonya Rose. Ternyata dia duduk di meja makan bersama Han. Lily ragu untuk menemuinya tapi akhirnya dia memberanikan diri bertemu ibunya meskipun ada Han disebelahnya. Lily berbicara bahasa Mandarin.
"Ibu. Apakah ibu akan pergi lagi." tanya Lily sambil mendekati Nyonya Rose.
"Dalam waktu dekat ini tidak. Ada apa?" tanya Nyonya Rose heran.
"Ah.. aku hanya ingin kau mengajariku bahasa Jepang." pinta Lily dengan manja.
Han melirik ke arah Lily tapi kembali membaca buku lagi.
"Bahasa Jepang? Lalu bagaimana dengan pelajaran bahasa Korea. Katanya kau ingin mempelajarinya?" tanya Nyonya Rose memastikan.
Lily tersenyum riang. Tiba-tiba Lily berbicara bahasa Korea dengan fasih. Han dan Nyonya Rose terkejut.
"Kau sudah menguasainya? Siapa yang mengajarimu?" tanya Nyonya Rose kagum.
Lily menunjuk ke arah Tuan Ho. Tuan Ho pun hanya menunduk dengan sungkan. Han memandang Lily dengan seksama entah apa yang dipikirkannya.
"Jadi kapan kita akan belajar bahasa Jepang?" tanya Lily tidak sabar.
"Besok pagi?" Nyonya Rose menyarankan.
"Oke." jawab Lily dengan riang.
Lily pun ikut duduk di kursi meja makan dan mengobrol asyik dengan ibunya. Tak lama Komandan Zeno datang dan ikut bergabung. Lily lalu menjadi diam tak bicara lagi. Dia bahkan memalingkan muka dari ayahnya.
Han, Nyonya Rose dan Komandan Zeno memperhatikan sikap Lily yang tiba-tiba berubah. Makan malam berlangsung dengan tenang, entah kenapa Lily merasa tidak nyaman. Tidak seperti saat makan bersama dengan Tuan Ho dan Bibi Mei.
"Eh ibu.." Lily mengajak ngobrol Nyonya Rose saat sedang makan.
"Jangan bicara saat sedang makan!" bentak Komandan Zeno dengan tatapan tajam ke arah Lily.
Lily terkejut dengan sikap ayahnya. Saat Lily ingin beranjak dari meja makan karena sudah tidak bernafsu, Komandan Zeno membentak Lily lagi.
"Kalau makan harus dihabiskan!" ucap Komandan Zeno dengan lantang.
Lily pun kembali duduk dengan terpaksa. Dia mencoba menghabiskan makananya secepat mungkin. Setelah habis dia segera mengumpulkan piring-piring kotor yang ada dimeja dan membawanya ke wastafel. Komandan Zeno mengomentari sikap Lily lagi.
"Kau ini bukan pembantu. Letakkan saja. Biar bibi Mei yang membereskan!" tegas Komandan Zeno.
Lily benar-benar tidak suka ucapan ayahnya yang mengatakan bibi Mei sebagai pembantu.
"Bibi Mei, terima kasih makanannya. Enak seperti biasa." ucap Lily dengan senyum tulus ke bibi Mei.
Bibi Mei tahu perasaan nona Lily. Tuan Ho juga tidak bisa berbuat banyak, dia hanya diam saja. Nyonya Rose dan Han hanya memandang Lily yang seraya beranjak pergi meninggalkan dapur.
Lily berjalan keluar The Grey House ke tempat pohon apel pemberian Liu. Lily duduk di rerumputan dan memandangi pohon apel tersebut. Lily tertunduk dan menangis sedih. Dia sangat merindukan Liu. Dia tak menyangka bahwa tinggal di rumah ini begitu menyiksa.
"Lebih baik aku tinggal di camp saja, disana aku merasa bebas", batin Lily.
Han melihat Lily menangis sedih di depan pohon apel pemberian Liu. Han ingin menghiburnya tapi tidak tahu bagaimana caranya. Setiap sikap yang Han tunjukkan pada Lily hanya membuat Lily semakin membencinya. Tiba-tiba Komandan Zeno muncul dari belakang Han. Han terkejut melihat pamannya ada disampingnya. Komandan Zeno memperhatikan Lily dengan sendu. Dia menghampiri Lily.
"Lily. Apa kau sedih?" Komandan Zeno berbicara dalam bahasa Indonesia.
Lily hanya diam saja dan memalingkan muka dari ayahnya. Komandan Zeno tahu bahwa Lily sedih karena perkataanya yang kasar.
"Aku tidak bisa bersikap lembut kepada siapapun. Kamu harus tahu itu." ucap Komandan Zeno menjelaskan.
Lily tetap tidak peduli dengan ucapan ayahnya. Dia tetap diam dan memalingkan wajahnya. Komandan Zeno pun pergi begitu saja meninggalkan Lily. Han semakin bingung bagaimana memperbaiki situasi ini.
Tiba-tiba seseorang masuk mengendarai motor sport berwarna merah menyala dan mengenakan helm. Lily menoleh ke arah datangnya motor tersebut. Dibukanya helm yang menutupi wajahnya dan sapaan ramah keluar dari mulut pria itu.
"Hallo nona Lily apa kabar?" sapa James menggunakan bahasa Mandarin.
"Oh hai James." jawab Lily dengan tersenyum. Han melihat perubahan langsung dari wajah Lily saat disapa James.
"Hanya begitu saja? Hanya cukup disapa dan dia langsung tersenyum?" batin Han dengan terheran-heran.
"Kau kenapa duduk disana sendirian. Nanti pantatmu digigit semut lho." canda James sambil tertawa dan turun dari motornya.
"Semutnya genit ya. Gigit saja pilih-pilih." jawab Lily menimpali dengan tertawa.
James tahu ada Han disana tapi dia pura-pura tidak lihat. Dia mendatangi Lily dan ikut duduk disebelahnya. Dia menyadari bahwa Lily habis menangis.
"Gadis cantik tidak boleh menangis, nanti luntur cantiknya." canda James sembari menghapus air mata Lily.
Lily terkejut dengan sikap ramah James. Dia hanya tersenyum saja. Han melihat semua yang dilakukan James padanya.
"Dasar buaya. Dengan mudahnya kau menggoda seorang gadis. Menyebalkan." batin Han dengan kesal.
Han tahu bahwa dia tidak bisa bersikap manis seperti James. James memang dikenal sebagai buaya darat dan tukang rayu di camp. Hampir semua wanita disana digoda olehnya. Hanya Lopez dan Sasha saja yang tidak mempan termakan rayuan gombalnya.
"Oia Lily. Apakah besok kau sibuk? Jika tidak, mau kah pergi temani aku keluar?" tanya James dengan ramah.
"Keluar dari kastil? Benarkah? Memang bisa?" jawab Lily dengan antusias.
Tiba-tiba Nyonya Rose muncul dan berdiri tepat di samping Han. Dia ikut menimpali ucapan James.
"Kita tunda saja dulu pelajaran bahasa Jepangnya. Kau pergi saja dengan James tidak apa-apa." ucap Nyonya Rose.
Han terkejut Nyonya Rose mengizinkan Lily pergi. Saat Lily dan James terlihat gembira, Han memperburuk suasana.
"Pelajaran bahasa Jepang lebih penting ketimbang jalan-jalan keluar. Komandan Zeno juga tidak mengizinkan Lily keluar kastil." tegas Han.
Lily kesal karena Han mencoba memprovokatori ibunya.
"Nanti aku yang akan bicara dengan Komandan Zeno." jawab Nyonya Rose enteng.
"Bersenang-senanglah kalian berdua. James jaga Lily baik-baik ya." tegas Nyonya Rose.
"Siap Nyonya Rose!" sembari memberi hormat.
Lily dan James terlihat senang dan malah bertepuk tangan. Han kesal dengan semua ini. Nyonya Rose berbisik padanya.
"Kau harus lebih banyak belajar bagaimana bersikap dengan seorang gadis. Ada banyak novel romantis di ruang baca. Kau bisa mempelajarinya dari sana." ucap Nyonya Rose menyindir. Han tersipu malu mendengar ucapan Nyonya Rose.
"Tidak perlu. Aku tidak butuh." jawab Han. Segera dia pergi ke dalam meninggalkan Nyonya Rose, Lily dan James. Nyonya Rose hanya tersenyum geli.
Esok paginya Lily sudah bersiap-siap. Lily terlihat cantik sekali seperti seorang gadis muda umur dibawah 20 tahun. Padahal menurut Nyonya Rose dan bibi Mei umur nona Lily sekitar 25 tahun keatas. Lily mengenakan sepatu boot dibawah lutut yang terbuat dari kulit berwarna biru tua dengan design bunga-bunga cantik disekelilingnya.
Roknya mengembang tinggi selutut berwarna cokelat muda dengan ornamen bunga-bunga kecil disekeliling rok bawahnya. Atasan lengan panjang ketat berwarna merah maroon dengan kerutan dibagian dadanya. Lily membawa tas kecil untuk menyimpan barang-barangnya. Sebelum pergi Nyonya Rose memberikan sesuatu kepada Lily. Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia.
"Lily. Ibu ingin memberimu sesuatu." sembari membuka sebuah kotak kecil.
Ternyata isinya sebuah jam digital cantik berwarna putih mengkilat. Terlihat ada butiran-butiran seperti berlian di sekelilingnya. Lily sangat menyukai jam tangan pemberian ibunya itu. Lily pun segera memakainya.
"Dan ini handphone layar sentuh." sembari memperlihatkan sebuah telepon genggam berwarna putih yang begitu elegan. Semua serba putih. Lily mulai menyadari bahwa ibunya ini menyukai warna putih.
"Kau simpan ini baik-baik ya. Jangan sampai hilang. Di dalam handphone itu ada nomor telepon rumah, no ibu, ayah, dan Han. Mendengar ada nama Han raut muka Lily menjadi berubah jelek, Nyonya Rose hanya tersenyum saja.
Nyonya Rose juga memberikan segepok uang Yuan. Lily kaget kenapa diberikan uang sebanyak itu.
"Banyak sekali ibu. Untuk apa?" tanya Lily heran.
"Ibu tidak tahu seleramu. Jadi belilah apapun yang kamu mau. Jangan terlalu dipikirkan. Itu hanya sedikit kok tidak banyak." terang Nyonya Rose.
Lily hanya mengangguk dan memasukkan uang itu ke tas kecilnya bersamaan dengan handphone pemberian ibunya.
James datang tepat waktu. Segera dia mengajak Lily pergi usai berpamitan dengan Nyonya Rose. Mereka berbicara dalam bahasa Mandarin.
"Lily. Pegangan yang kuat ya." ucap James genit.
"Hahaha. Oke!" Lily pun memeluk James dengan erat.
Mereka pun segera melesat pergi meninggalkan The Grey House, keluar dari kastil.
Ternyata Han mengamati kepergian mereka berdua dari lantai atas. Han menuruni tangga dengan cepat dan pergi ke ruang baca. Dia seperti sibuk mencari sesuatu dalam kumpulan buku-buku yang tersusun rapi.
Sebuah novel berjudul "She is My Sweet Wife" karya Rahayu Avilia diambilnya dari rak. Dia segera duduk dan fokus membaca novel itu. Nyonya Rose memergoki Han yang membaca novel di ruang bacanya. Dia hanya tersenyum geli.
"Dasar Han. Dia tidak bisa menipu dirinya sendiri." batin Nyonya Rose. Dia pun pergi meninggalkan Han sendiri di ruang baca.
-------
**Ilustrasi James.
Abang ganteng ini bernama Ton Heukles dan dia seorang model. Saat saya tak sengaja menemukannya, sosoknya menginspirasi saya akan karakter James di novel saya😁 gantengnya duhhh..
Source : pinterest**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 502 Episodes
Comments
Summergrass
lily and james, punya anak harry?
2023-08-31
1
Faris Maulana
babang james tampan... tapi kyk nya htiq tetap pada babang kai..
2023-01-05
0
Adryan Eko
cucokk.. sesuai ekspektasi.. novel nya keren.. ilustrasi nya mantap dan ngena banget di imajinasi
2022-07-04
0