Pagi itu cuaca sangat cerah. Angin bertiup semilir lembut. Matahari terasa begitu hangat tak menyilaukan. Suasana pegunungan yang damai, dimana-mana terlihat warna hijau yang menyejukkan mata.
Pagi-pagi sekali Lily sudah terbangun. Liu sudah menunggu di depan pintu pondok dengan senyuman hangat. Lily pun menyambutnya dengan gembira. Luka-luka Lily sudah berangsur pulih, hanya kepalanya saja yang masih dibalut perban karena luka robek yang cukup dalam. Kepalanya harus dijahit. Rambutnya terpaksa dicukur sebagian. Yah mirip gaya rambut anak jaman sekarang. Lebam dipipinya masih terlihat karena pukulan Lopez semalam.
Namun Lily tetap cantik meskipun rambutnya terlihat seperti anak metal. Separuh kepalanya dengan rambut panjang sedada, separuhnya lagi sudah dicukur hanya menyisakan rambut tipis yang ditutup perban karena luka jahitan yang belum kering.
Lily meminta Liu mengajaknya berkeliling di tempatnya tinggal sekarang. Lily ingin menyegarkan pikiran dan merilekskan badan-badannya yang terasa kaku karena lama tidak bergerak semenjak pingsan.
Liu mengajak Lily ke tepi sungai dengan banyak batuan-batuan kali yang sangat besar. Sebuah pemandangan yang mengagumkan. Lily melakukan perenggangan ringan dan menyanyi dengan suara sayup-sayup samar. Liu memperhatikan Lily. Dia mencoba mendengarkan suara Lily ketika menyanyi. Namun suaranya kalah kencang dengan derasnya aliran sungai.
Saat melakukan senam ringan, Lily melihat banyak ikan di sungai tersebut. Airnya sangat jernih sampai dasar sungai itupun terlihat. Lily sangat bersemangat.
"Liu.. Liu lihat. Ada banyak ikan disana!" sambil menunjuk segerombolan ikan yang mirip ikan nila berenang melawan arus air sungai.
Tiba-tiba Liu mengambil ranting kayu yang berada didekatnya. Dia mengeluarkan pisau kecil lalu menserut ujung ranting kayu itu menjadi runcing seperti pensil. Liu berjalan perlahan mengendap ke arah ikan-ikan itu bergerombol. Dan seketika "Crottt!" dua ekor ikan sekaligus tertambak diranting kayu yang Liu buat tadi. Liu segera mengambil ranting kayu yang tertancap dua ekor ikan. Dengan gembira Liu menunjukkannya kepada Lily.
"Huwahhh.. Kau benar-benar keren Liu!" teriak Lily dengan riang.
Liu lalu membawa ikan itu dan menyerahkan kepada Lily. Liu lalu bersigap mengambil beberapa ranting kayu dan daun-daun kering, menumpuknya seperti membuat api unggun kecil. Lily terkesima dan takjub dengan kemampuan Liu.
"Kamu sering pergi berkemah ya. Kau terlihat begitu ahli melakukannya." tanya Lily dengan terkagum-kagum dan masih memegang ranting kayu yang tertancap 2 ekor ikan yang sudah mulai tak bernyawa.
Liu hanya tersenyum mendengar perkataan Lily. Diambilnya ikan yang dipegang Lily tersebut. Liu memperlihatkan keahliannya membersihkan ikan, menghilangkan lapisan kulit keras, membersihkan bagian dalam ikan, serta menusuk ikan tersebut seperti sate. Lily hanya terbengong-bengong karena Liu begitu cekatan. Lily benar-benar mengagumi keahlian Liu yang sederhana ini.
Apipun dinyalakan. Liu mulai membakar 2 ikan itu. Liu duduk diatas pecahan batu. Lily pun ikut duduk yang sedari tadi hanya berdiri dan hanya melihat apa yang Liu kerjakan. Dia merasa tidak berguna karena tidak menolong apapun. Liu hanya terdiam memperhatikan ikan yang sedang dibakarnya. Lily membuka percakapan.
"Liu. Apa kau sudah lama berada disini?" tanya Lily.
"Iya." Liu mengangguk.
"Jadi.. ini sebenarnya ada dimana?" tanya Lily penasaran sambil melihat keliling.
Liu hanya terdiam. Dia mencuri pandang ke arah Lily. Lily memergokinya dan Lily hanya tersenyum.
"Apakah kita ada disuatu tempat di negara China?" Lily menebak.
Liu terkejut karena tebakan Lily benar.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Liu heran.
"Aku memang tidak tahu bahasa Mandarin. Tapi aku cukup yakin orang-orang yang sering menyapaku adalah warga daerah sini. Dan kau pernah bilang bahwa kau orang China kan? Kau juga barusan bilang bahwa kau sudah lama berada disini." ucap Lily yakin sambil memandang Liu dengan sorot mata yang tajam.
Liu cukup kagum dengan kemampuan Lily yang cepat dalam menganalisa lingkungan. "Kakak ini memiliki pengamatan yang cukup bagus." begitu batin Liu.
Asyik mengobrol ternyata ikan yang dibakar Liu sudah mulai masak. Aroma yang begitu menggoda, minyak-minyak dari dalam ikan mulai meletup-letup mengeluarkan bau yang khas. Lily terlihat sudah tak sabar ingin segera menyantapnya. Liu berdiri dan pergi memetik dua lembar daun berpunggung lebar sebagai alas makan untuk ikan tersebut. Mereka berduapun menikmati ikan bakar tersebut.
Ketika sedang asik makan tiba-tiba terdengar suara dari semak-semak dari seberang sungai kecil. Lily dan Liu terdiam seketika. Mereka waspada, tidak tahu ada apa dibalik semak-semak tersebut.
Liu dan Lily sangat terkejut tiba-tiba seekor babi hutan hitam liar besar muncul. Ada taring tajam menyumbul seperti cula diantara moncongnya. Sepertinya babi itu ikut tergoda dengan aroma ikan bakar yang dimasak Liu. Spontan Liu kaget dan langsung menarik tangan Lily untuk berlari. Ternyata babi hutan itu ikut mengejar mereka. Liu berteriak ketakutan. Lily berlari lebih cepat ketimbang Liu, Liu jadi ketinggalan.
Karena panik dan tidak memperhatikan jalan, Liu tersandung batang pohon dan jatuh tersungkur. Liu berteriak minta tolong kepada Lily yang ternyata sudah berlari jauh di depan Liu.
"Kak Lily.. Tolong!!" teriak Liu ketakutan.
Spontan Lily menoleh dan dilihatnya Liu jatuh tersungkur sambil meminta tolong kepadanya. Babi itu berlari cepat siap menerjang Liu. Entah apa yang menggerakkan Lily, Lily berlari berbalik menghampiri Liu.
Dengan sigap Lily mengambil sebuah batang pohon cukup besar dan "PLAKK!!" Lily memukul wajah babi hutan itu sekuat tenaga dengan satu tangan menggunakan batang pohon tersebut. Babi hutan itupun jatuh tersungkur. Liu masih gemetaran tak bisa bergerak. Babi hutan itu menjadi semakin ganas, dia berlari tepat kearah Lily, siap menerjang dengan cula runcingnya.
Lily tanpa gentar berdiri menantang babi itu dan "BANGG!!" Lily memukul kepala babi itu tepat diantara kedua matanya dengan batang kayu. Seketika Babi itu ambruk.
Lily langsung mengambil kuda-kuda dan menendang babi hutan itu hingga terlempar menabrak bebatuan di dinding bukit hingga batuan di bukit itu mulai terjatuh dan menimpa badan babi. Babi itu diam tak bergerak.
Lily terlihat ngos-ngosan dengan keringat mulai bercucuran. Darah dikepala Lily mulai mengucur lagi dari balik perban. Lily jatuh bersimpuh. Liu langsung berdiri menghampiri dan menolongnya.
"Nona Lily, kau tidak apa-apa?" sambil menyilangkan tangan Lily ke pundaknya. Liu khawatir dengan kondisi Lily yang mulai sayup-sayup hampir tak sadarkan diri.
"Babi itu matikah? Hanya dengan sekali tendang? Luar biasa." batin Liu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Nona Lily yang terlihat lemah ternyata memiliki tenaga yang luar biasa." kagum Liu.
Liu tak memperdulikan babi itu. Segera dia membantu Lily berdiri. Mencoba menuntunnya untuk segera kembali ke padepokan. Tapi karena tubuh Lily yang lebih tinggi dari Liu, dia sedikit kebingungan bagaimana membawa Lily kembali. Dia meminta agar Lily menunggu sebentar dibawah pohon besar karena Liu harus kembali dahulu ke padepokan untuk meminta bantuan. Lily mengangguk setuju. Segera Liu bergegas kembali ke padepokan. Tak sengaja Liu menabrak Han yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Duakk! Brukk." Liu menabrak Han dan terjatuh.
Han hanya melihatnya dengan dingin. Dia tahu bahwa Liu dekat dengan Lily dan Han tidak menyukainya.
"Kak han tolong!" tegas Liu meminta tolong kepada Han menggunakan bahasa Mandarin. "Lily.. Nona Lily pingsan!" sambil menunjuk ke arah dalam hutan.
Segera Han langsung berlari ke dalam hutan mencari Lily. Dilihatnya Lily sedang memegang batang kayu berdiri dengan susah payah dengan darah mengalir di kepalanya.
Ternyata babi itu masih hidup dan mencoba menyerang Lily lagi.
Dengan sigap Han langsung menembak kepala babi itu ketika babi itu akan menyerang Lily. Lily yang terkejut karena suara tembakan menoleh ke arah Han. Lalu tiba-tiba Lily ambruk dan terjatuh di badan babi tersebut tak sadarkan diri dan masih memegang batang kayu.
Orang-orang yang mendengar suara tembakan segera berlari ke arah Han. Mereka terkejut melihat Lily pingsan diatas seekor babi besar dengan kepala berlumuran darah dan sebuah batang kayu di tangannya. Han segera menginstruksikan orang-orang tersebut untuk membawa Lily kembali ke padepokan untuk segera diobati.
Han melihat babi itu dengan seksama, dia tahu bahwa sebelum ditembak babi itu telah terluka karena pukulan. Tapi Han ragu apakah itu pukulan dari Lily?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 502 Episodes
Comments
clover
adrenaline rush wkwk
2023-07-15
0
Adryan Eko
alurnya gw suka.. detail tulisan nya luarbiasa untuk menghipnotis pembaca buat baca dan baca lagi kelanjutannya..
btw suara mu bagus mbak.. deg deg ser gw dengernya.. uhuii
2022-07-03
1
Chester🇵🇸
Lily was a little girl🙈
2022-05-21
1