Orang-orang berkumpul di pondok tempat Lily dirawat. Mereka masih kagum dengan cerita Liu tentang apa yang Lily lakukan di hutan tadi. Mereka tak menyangka Nona Lily yang terlihat lemah ternyata mampu mengalahkan seekor babi hutan besar. Di dalam pondok Nyonya Rose bersama tenaga medis mengobati Lily yang masih pingsan karena kelelahan.
Luka di kepalanya kembali terbuka. Para tenaga medis berusaha semampunya untuk menutup luka itu kembali. Lily yang mengeluarkan banyak darah ternyata butuh transfusi. Untunglah golongan darah Lily sama dengan komandan Zeno yakni B. Komandan Zeno pun dengan suka rela mentransfusikan darahnya.
"Suamiku, bagaimana menurutmu?" tanya Nyonya Rose menemani Komandan Zeno yang sedang berbaring mentransfusikan darahnya.
"Tentang apa?" tanyanya pelan.
"Tentang yang gadis ini lakukan. Apakah kau bisa mempercayainya? Aku bahkan tidak menyangka." ucap Nyonya Rose dengan rasa kagum.
"Kuakui aku juga cukup kaget." jawab Komandan dengan senyum tipis diwajahnya.
Sayup-sayup Lily terbangun karena mendengar suara orang berbicara. Lily melirik ke kiri dan ternyata ada seorang lelaki berwajah garang dengan luka melintang di mata sebelah kanannya sedang memandanginya dengan tajam. Ibunya pun juga berada disini, disamping lelaki seram itu. Lily kaget dan langsung duduk.
"Ahhh.. kepalaku." Lily merintih kesakitan memegang kepalanya yang baru selesai dijahit.
Nyonya Rose segera menghampirinya mencoba menenangkannya.
"Jangan bangun dahulu. Kau baru selesai dijahit. Kau juga sedang transfusi darah. Jangan banyak bergerak." tegas Nyonya Rose dengan khawatir.
Lily baru sadar kalau dia sedang transfusi darah dengan lelaki seram di sebelahnya. Lily tak berani memandanginya. Lily pun hanya dapat menuruti perintah Nyonya Rose. Lily kembali berbaring.
Liu yang tahu Lily sudah siuman segera masuk kedalam untuk melihat kondisinya.
"Nona Lily, kau baik-baik saja?" tanya Liu khawatir.
"Hehe.. tidak apa-apa. Hanya sedikit nyut-nyutan dikepala." menjawab dengan meringis menahan sakit.
"Benarkah? Syukurlah." Liu terlihat lega.
Liu tampak ingin mengungkapkan sesuatu kepada Lily tapi takut karena ada Komandan Zeno disana. Nyonya Rose menyadarinya, dia mempersilakan Liu untuk mengatakannya.
"Ada apa Liu, apakah ada yang ingin kau sampaikan kepada Lily?" tanya Nyonya Rose memberikan kesempatan.
"Oh itu.. Mmm nona. Nona Lily. Kenapa saat itu kau berbalik menolongku? Padahal kau bisa selamat dan tak perlu seperti ini jika kau tetap berlari sampai ke padepokan." tanya Liu sambil tertunduk.
"Dan membiarkanmu diserang babi itu? Aku tahu aku lemah, tapi entah kenapa, melihat orang yang aku sayangi tak berdaya membuatku tak bisa berdiam diri. Tak peduli tadi aku akan kalah atau terluka tapi tak akan kubiarkan diriku menyerah begitu saja." jawab Lily tegas.
"Kau.. kau rela mengorbankan nyawamu demi diriku?" tanya Liu gemetar.
"Tentu saja. Kau kan temanku." jawab Lily santai dengan senyum tulus diwajahnya.
Liu berlari keluar menangis kencang dan terisak. Dia tak menyangka Nona Lily begitu peduli padanya. Bahkan tidak peduli dengan luka yang dialaminya, dia hanya ingin melindungi orang yang disayanginya. Hal ini membuat Liu semakin bertekat untuk menjadi seorang lelaki yang kuat yang kelak akan menjadi penjaga Nona Lily.
Liu sudah memutuskan. Saat besar nanti dia akan menjadi bodyguard Nona Lily. Mengorbankan hidupnya untuk melindungi dan menjaga Nona Lily dari siapapun yang ingin mencelakainya seperti yang Nona Lily lakukan sekarang. Liu merasa dia berhutang budi kepada Lily.
Liu pergi ke pondoknya. Sebuah pondok dengan beberapa kasur tingkat seperti barak. Ada sekitar 6 kasur disana. Liu duduk disebuah kursi kayu. Dia membuka laci meja kecil mengambil selembar kertas dan menuliskan sesuatu. Dia menuliskannya dalam bahasa Mandarin.
"*Hallo kakak,
Apa kabarmu? Aku baik-baik saja seperti biasa. Kakak apakah kau tahu. Hari ini Nona Lily mengorbankan nyawanya untukku tapi Nona Lily jadi terluka karenanya. Aku merasa sangat bersalah. Tapi akan kutebus kesalahanku. Aku akan berlatih dengan giat agar menjadi kuat! Dan ketika aku sudah besar nanti, aku akan menjadi bodyguard Nona Lily. Tak akan kubiarkan siapapun menyakiti Nona Lily. Ini janjiku kak. Kau akan mendukungku kan?
Salam sayang,
Liu*."
Liu menulisnya dengan bersungguh-sungguh. Dia melipat suratnya dan memasukkannya kedalam amplop. Liu keluar pondok dan memberikan kepada seorang laki-laki yang berada di gerbang pintu masuk padepokan. Lelaki itu paham bahwa surat ini harus diantar. Liu pergi meninggalkan lelaki itu. Dia pergi ke dapur. Dia bermaksud untuk memasakkan sesuatu yang enak untuk Nona yang sangat disayanginya itu.
Nyonya Rose memandang Lily dengan senyum yang merekah. Ternyata Lily menyadarinya.
"Ibu. Kenapa melihatku seperti itu. Aku jadi takut." ledek Lily.
Nyonya Rose hanya tersenyum ringan, dia duduk disebelah Lily.
"Lily, apakah kau tahu siapa pria disebelah sana yang sedang mentransfusikan darahnya untukmu?" tanya Nyonya Rose.
"Tidak tahu." Lily menjawab pelan.
"Dia Komandan Zeno. Dia pemimpin di camp ini." jelas Nyonya Rose.
Lily langsung menoleh ke arah Komandan Zeno. Dia tak menyangka pria disebelahnya adalah pemimpin disini. Wajahnya yang garang ternyata tak seperti hatinya yang lembut. Dia rela memberikan darahnya kepadaku, begitu batin Lily.
"Mm.. Pak Zeno. Terima kasih ya." kata Lily tulus dan tertunduk malu.
"Huh, hanya terima kasih? Kau berhutang banyak padaku. Jangan lupa membalasnya." jawab Komandan dengan angkuh.
"Halahhh.. ternyata si bapak ini banyak maunya." batin Lily dengan sebal. Wajahnya langsung berubah cemberut.
Nyonya Rose hanya tersenyum melihat Lily sebal dengan perkataan suaminya.
Transfusi darah telah selesai. Komandan Zeno bersiap untuk pergi. Lily mencoba menahanya.
"Pak Zeno. Pak tunggu sebentar." Lily memohon.
"Ada apa?" Komandan Zeno menoleh ke arah Lily. Dia sudah berada di depan pintu untuk segera keluar.
"Bagaimana caraku membalas budi Anda?" tanya Lily dengan serius.
Komandan Zeno tersenyum sinis.
"Sembuhkan dulu lukamu. Jika sudah sehat temui aku." tegas Komandan Zeno seraya pergi meninggalkan pondok.
Lily merasa bahwa Komandan Zeno bersikap dingin padanya. Begitu pula dengan lelaki bernama Han. Entah apa salahnya, Lily merasa kedua lelaki ini tidak menyukai dirinya. Tapi Lily tidak mau terlalu memikirkannya. Lily yang masih merasa pusing dan lemas diminta Nyonya Rose agar kembali beristirahat. Lily hanya ingin cepat sembuh agar dia bisa segera membalas budi Komandan Zeno. Hutang budinya ini membuat Lily tidak nyaman. Dia tidak pernah berhutang sebelumnya.
Lily pun tertidur dengan lelap, mendengkur malah. Sepertinya dia benar-benar lelah dengan kejadian yang menimpanya hari ini. Diluar pondok orang-orang berkumpul merayakan kehebatan Lily. Mereka memanggang babi yang Lily kalahkan tadi. Aroma daging panggang membangunkan Lily.
"Hmm.. bau enak apa ini. Air liurku jadi menetes." Lily yang masih terpejam mengira ini adalah sebuah mimpi.
Tetapi akhirnya Lily terbangun karena mendengar suara orang-orang bernyanyi. Lily bangun perlahan. Kepalanya masih sedikit sakit tapi darah sudah tidak keluar. Lily hanya berharap bahwa hasil jahitan dokter disini bagus dan rapi. Membayangkan kepalanya dijahit sudah membuat Lily lemas lagi.
Dalam batinya "huhu.. kepalaku sudah tidak cantik lagi, semoga bekasnya tidak menyeramkan."
Lily berdiri perlahan mencoba berjalan keluar pondok ingin melihat ada apa di luar karena begitu ramai seperti ada perayaan.
"Selamat datang Nona Lily." serentak orang-orang yang ada disana baik warga sipil maupun tentara menyambutnya dengan gembira.
"Eh? Ya ya. Terima kasih." jawab Lily bingung.
Segera Liu datang menghampiri Lily. Liu menggandeng tangan Lily dengan senyum lebar. Mengajaknya untuk duduk di kursi kayu yang sudah disiapkan. Lily pun menuruti permintaan Liu. Di depannya ada seekor babi guling yang sangat besar. Lily kaget setengah mati.
"Busettt.. apaan nih? Gede amattt!! Babi?!" ucap Lily keheranan.
Semua orang bingung dengan logat bahasa Lily. Beberapa dari mereka memang ada yang bisa bahasa Indonesia. Tapi bahasa Indonesia yang Lily gunakan sangat tidak normal, mereka hanya saling memandang tidak tahu apa yang Lily katakan. Serasa mereka seperti bertemu alien cantik yang sedang berceloteh entah apa yang dikatakan. Mereka hanya memaklumi apa yang Lily katakan. Bagaimanapun mereka masih kagum dengan kekuatan tersembunyi Lily.
"Nona Lily. Ini adalah babi yang kau kalahkan tadi." ucap Liu dengan senang.
"He? Memang babinya mati? Aku kira dia hanya pingsan." jawab Lily bingung.
"Iya, kakak Han membunuhnya. Dia menembaknya. Tepat dikepala. Hebat ya." jawab Liu dengan kagum.
Han duduk tak jauh dari tempat Lily duduk. Han terlihat bangga. Tapi entah kenapa Lily terlihat kesal.
"Kenapa harus membunuhnya? Kau cukup mengusirnya saja." ucap Lily dengan kesal.
Han merasa usahanya tidak dihargai.
"Can't you just say thank you?!" jawab Han kesal.
"Yes. Thank you, Mr. Han." ucap Lily dengan sinis. Lily berdiri dan beranjak dari meja makan. Liu mencoba menghentikan Lily.
Lily berbalik dan berkata, "From now. I don't eat pork." Lily pergi meninggalkan perjamuan sambil mengambil sebuah apel di meja makan.
Han menatap Lily dengan dingin, tak mengerti dengan apa yang dipikirkannya. Liu dan orang-orang hanya terdiam melihat Lily pergi meninggalkan mereka.
---------
Ilustrasi Komandan Zeno
Source : Pinterest
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 502 Episodes
Comments
clover
kenapa ly? haram kah? 😭
2023-07-15
0
Vientiene Velove You
bahasa inggrisnya dikasih translate dong othorrr
2023-01-30
2
Faris Maulana
msh tetap penasaran dgn cerita selnjutnya.. wlwpun udah pernh baca.. krna mang udah rada2 lupa alurnya.
2023-01-05
0