Setelah selesai sarapan yang hanya dengan beberapa kue kering itu, Mantingan dan Rara melanjutkan perjalanan menuju Kanoman.
Jelang mereka berjalan setengah hari, Mantingan menyadari bahwa jarak yang diperkirakannya di peta amatlah berbeda dengan kenyataan yang ada.
Siang hari yang cukup terik itu, Mantingan menemukan beberapa huruf Pallawa di atas batu bertuliskan nama sebuah desa yang letaknya tidak jauh dari sana. Desa itu bernama Cikahuripan, desa yang berada dalam wilayah Kuningan.
Mantingan menepuk dahinya, ternyata dirinya bahkan belum meninggalkan Kuningan. Mungkin jarak antara Kuningan dan Kanoman terlihat sangat pendek di peta, tetapi sesungguhnyalah jarak untuk itu sangat jauh.
Mantingan berniat singgah ke desa itu dan menanyakan pada salah satu penduduk desa tentang arah cepat menuju Kanoman, tetapi kali ini ia tidak hanya membawa badannya sendiri. Rara turut menjadi tanggung jawabnya.
"Rara, apakah kau mau singgah di Cikahuripan?"
"Diriku terserah kepadamu." Rara menjawab singkat saja, tetapi dapat dimengerti oleh Mantingan bahwa Rara ingin beristirahat di desa itu.
"Kalau begitu, kita akan ke sana. Seharusnya Desa Cikahuripan tidak terlalu jauh dari sini."
Mereka berjalan terus hingga menemukan jalan setapak dan batu-batu bertuliskan huruf Pallawa lainnya. Tulisan-tulisan itu juga nampak semakin indah, sudah pasti yang mengukirnya adalah pemahat ulung. Tanda bahwa desa itu memiliki tingkat pendidikan yang tinggi.
Beberapa kali Mantingan melihat pedagang-pedagang yang lewat searah dengannya, atau beberapa petani bersenda gurau yang membawa cangkul atau rumput segar di pundaknya.
Tak lama berselang dari itu, Mantingan mulai melihat gapura tak jauh di depan sana. Gapura itu menjulang cukup tinggi dengan warna kelabu, sewarna dengan bebatuan. Tembok dari bata merah setinggi satu depa mengitari desa itu. Sedang dua arca Dvarapala yang tampak seperti menjaga desa, terletak di dua sisi gapura.
Tak banyak orang yang berlalu-lalang melewati gapura itu, tetapi sepertinya suasana lebih ramai di dalam desa.
Setelah mereka berdua melewati gapura, maka seluruh pandangan akan mengarah pada hamparan perumahan-perumahan yang indahnya bukan alang kepalang.
Tidak seperti di desa lain, rumah-rumah di desa Cikahuripan ini kental dengan peribadatan. Hampir seluruh bangunan terbuat dari bata merah atau kelabu, selayaknya sebuah candi. Terdapat pula tempat pertapaan dan tempat bakar menyan di terasnya. Lonceng-lonceng kecil terdengar beberapa kali dari berbagai macam arah, tanda orang sedang melakukan ibadah.
"Apakah kau tahu di mana tempat untuk menginap di desa ini, Rara?"
"Aku tidak pernah ke tempat ini sebelumnya, tetapi melihat dari keadaanya sekarang, maka seharusnya ada banyak penginapan di sini."
Mantingan mengangguk. Rara harus memulihkan diri terlebih dahulu di suatu tempat yang sekiranya cukup sunyi dan nyaman. Satu-satunya tempat sunyi dan nyaman di sini adalah sebuah kamar bagus di penginapan.
Disebabkan Mantingan merasa bahwa bapak dari Rara telah menyelamatkan dirinya, juga karena merasa bahwa dirinya yang telah menciptakan segala masalah di Kuningan, maka Mantingan bersedia mengeluarkan banyak uang demi kesembuhan batin Rara. Walau mungkin itu tidaklah seberapa, tetapi Mantingan berharap hal itu bisa dianggap sebagai membalas budi dan menebus kesalahannya.
Mantingan bertanya pada seorang pedagang yang berjalan di sampingnya tentang arah ke penginapan. Pedagang itu dengan ramah menjelaskan arah menuju penginapan secara merinci. Mantingan tersenyum hangat dan berterimakasih sedalam-dalamnya pada pedagang itu sebelum mengajak Rara bergerak ke arah penginapan.
Penginapan itu bukanlah satu-satunya penginapan di Cikahuripan. Tetapi, penginapan itulah yang sekiranya lebih bagus ketimbang penginapan lainnya. Terletak di sisi barat desa, Mantingan dan Rara melewati perumahan-perumahan lainnya dan satu pasar yang sudah tak terlalu ramai sebelum mereka sampai ke tempat yang ditunjuk.
Wujud dari penginapan itu membuat Mantingan cukup terkesan. Penginapan tersebut membentuk semacam komplek, bukan hanya satu bangunan besar saja. Ia memilki gapura dan arca di depannya. Sedangkan di dalamnya terdapat banyak bangunan yang membentuk wujud rumah, ukuran rumah-rumah itu hampir seragam. Tanah lapang di tempat itu telah dilapisi oleh rumput pendek, yang membuat kaki tetap bersih walau melangkah tanpa alas.
"Mantingan, mungkin kita salah mengira bahwa ini adalah penginapan yang ditunjuk penjual itu." Rara berkata setengah berbisik.
"Tidak salah lagi, inilah penginapannya. Lihat itu." Mantingan menunjuk tulisan yang tercetak di gapura. "Nama penginapan ini sesuai, bukan? Namanya Candrawulon, sesuai dengan penuturan pedagang tadi."
"Tetapi ini ...."
"Rara ...." Mantingan tersenyum padanya, lalu melanjutkan, "ini adalah tempat yang terbaik untukmu."
Mantingan tak berbasa-basi lagi, langsung masuk ke dalam lingkup penginapan. Mau tidak mau, Rara pun mengikutinya masuk ke dalam.
Seorang pelayan wanita yang entah datang dari mana segera menyambut Mantingan dan Rara. Mantingan tentu saja terkejut dengan kehadirannya yang dapat terbilang cukup aneh, tetapi pelayan muda itu memberi isyarat untuk tidak membuat kegaduhan.
"Jika Tuan dan Puan hendak memesan kamar, mari ikuti sahaya."
Mantingan mengangguk dan mengikuti jalan pelayan itu yang mengarahkannya pada sebuah bangunan paling besar di antara seluruh bangunan di penginapan Candrawulon. Mantingan masuk ke dalamnya, di mana pintu bangunan itu terbuka lebar serta telah banyak orang yang menunggu di dalamnya.
Ruangan itu diisi oleh bangku-bangku panjang, beberapa pot tanaman, dan patung-patung bernilai seni. Namun, yang paling mencolok adalah meja penerimaan tamu panjang dan besar di tengah ruangan, banyak orang berbaris di depan meja itu.
"Tuan dan Puan bisa memilih siapa saja yang akan menjadi perwakilan untuk menunggu giliran, sisanya silakan menunggu di bangku yang telah kami sediakan. Saya mohon diri."
Mantingan mengangguk pelan sebelum pelayan wanita itu pergi. Ia kemudian menoleh pada Rara dan berkata bahwa Rara bisa duduk di bangku mana saja asalkan tak jauh dari pandangannya.
Setelah itu Mantingan berdiri di barisan paling belakang yang sebenarnya tak terlalu panjang. Tidak butuh waktu lama, Mantingan telah mendapatkan dua kamar yang masing-masing berharga dua keping emas.
Kamar yang mereka dapatkan sebenarnya tak pantas disebut kamar, alangkah baiknya jika disebut sebagai sebuah rumah. Masing-masing dari Mantingan dan Rara mendapatkan satu kamar, atau satu rumah.
"Apakah tidak terlalu besar?" Rara memberi pendapat dengan cemas saat Mantingan mengajaknya berjalan keluar.
"Tidak terlalu besar untuk dua orang muda-mudi, bukan?"
Rara mengerti maksud Mantingan dan hanya bisa mengangguk pelan.
Rumah sewaan Mantingan bersebelahan dengan rumah sewaan Rara. Ia memang sengaja memesan jarak yang berdekatan agar tetap bisa mengawasi dan menjaga Rara.
Saat Rara masuk ke dalam rumahnya, Mantingan lebih memilih untuk bersantai di teras rumahnya. Ia duduk di atas sebuah dipan bambu yang telah disediakan. Entah Mantingan memandang apa, tetapi suasana di tempat itu jauh lebih nyaman ketimbang suasana perkotaan yang cenderung ramai. Mantingan bisa mendapatkan ketenangan untuk berpikir lebih jernih tentang rencana hari esok.
***
Sore itu. Seorang pelayan wanita mendatangi Mantingan yang masih pula duduk di atas dipan. Mantingan segera tersadar dari lamunannya saat pelayan itu menyapanya.
"Hari telah menjelang malam, apakah Tuan membutuhkan sesuatu?"
Mantingan menggeleng pelan, tak ada yang diperlukannya.
"Makan malam misalnya? Ada hal lain yang benar-benar lain?" tanyanya lagi dengan sedikit mengedipkan mata.
Mantingan terlihat berpikir sejenak lalu mengangguk. "Mohon sediakan makan malam untuk rumah yang ada di sebelahku juga, di sana terdapat seorang perempuan yang merupakan kawanku. Pembayarannya bisa dikau dikenakan kepadaku saja."
"Baiklah, saya mengerti dan saya mohon diri ...."
"Tunggu." Mantingan menahannya. "Di tempat manakah diriku bisa membeli baju-baju untuk perempuan?"
"Tuan bisa membelinya di pasar, yang kebetulan malam ini akan buka lebih besar sebab akhir pekan telah tiba." Wanita itu sedikit memerah wajahnya. "Tuan benar-benar pengertian pada wanita, ya?"
Mantingan hampir tersedak ludahnya sendiri saat pelayan itu berani menanyakan hal sedemikian kepadanya. Ia hanya menggeleng dan melambaikan tangan dengan senyum canggung di wajahnya, maka begitulah pelayan perempuan itu berbalik pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjut lagi
2024-11-29
0
Putra Bungsu
karya yg bagus
2023-05-01
1
Irwan Murad
aku pembaca baru jd komenku mungkin ga berpengaruh....tp aku tetap akan utarakan.....ada sedikit keganjilan dari cerita ini....mencari sesuatu didataran bumi yg luasnya jutaan kilometer tanpa klu.....sesuatu hil yg mustahal.....kalau akhirnya ketemu terkesan spt sinetron indosiar....MUKZIZAT.....kurang bisa diterima logika....harusnya diberi sebuah klu....bisa aja dibilang berdasarkan cerita ada di sebuah tempat yg tempat itu sudah hilan dan berganti nama.....jadi tetap ada sasaran dg berbagai macam kesulitan tapi lebih jelas tidak terkesan smsalabim abakadabra tolong dibantu.... 😁
2022-07-23
4