"Namun, aku yakin bunga itu bisa membebaskanku." Kenanga menimpali.
"'Yakin'?" Jaya mengerutkan kening. "Hanya dengan keyakinan?"
Kenanga tersenyum sedih. "Hanya itu yang aku punya. Keyakinan, dan harapan."
Jaya terdiam beberapa saat sebelum mengangguk pelan. Harapan adalah alasan untuk hidup, orang yang tak memiliki harapan adalah orang yang tak pantas hidup. Selagi harapan itu masih ada, Kenanga akan terus hidup.
Jaya tak memilki harapan setelah harapannya menjadi musafir terkenal telah pupus. Sekarang ia bisa menyatukan harapannya dengan Kenanga, agar dirinya tetap hidup dan Kenanga hidup pula. Jaya bertekad kuat menemukan bunga itu. Bahkan jika Kembangmas hanya ada dalam bayangan di dalam otak Kenanga, Jaya akan tetap menemukannya.
"Kangmas tak perlu memaksakan diri untuk terlibat dengan masalahku."
"Tidak, Kenanga. Kurasa sekarang ini adalah masalahku juga.."
Kenanga menunjukkan keterkejutan. Sebenarnya ia tak berharap banyak Jaya akan mau mencari Kembangmas itu. Kenanga hanya ingin Jaya berkunjung sebentar sehingga ia punya teman. Keputusan Jaya melebihi bayangannya.
"Aku akan menemukan Kembangmas meskipun Kembangmas itu hanya ada di dalam kepalamu."
"Jaya ...."
"Aku bersungguh-sungguh, Kenanga." Jaya berdiri. "Usia kita sepantaran, bukan? Aku tak mau kau menghabiskan puluhan tahun terkurung di sini, Kenanga. Tempat ini buruk, maksudku rumahmu bagus, tapi dunia ini cukup buruk."
Tangan Kenanga bergetar saat Jaya berbalik menghadap pintu. "Kakang Mas mau ke mana?"
"Pergi secepatnya menemukan Kembangmas."
"Kangmas kira kembang itu mudah di cari?" lirih Kenanga. "Aku tak tahu letaknya di mana. Mungkin di Negeri Atap Langit, Suvarnadvipa, Champa, atau bahkan belahan bumi lain."
"Aku akan mencarinya ke seluruh Dwipantara."
"Kangmas tak bisa pergi tanpa perbekalan bukan?"
Jaya menoleh pada Kenanga sedang gadis itu melanjutkan, "Kangmas akan beristirahat di sini. Aku akan menyiapkan makanan dan perbekalan lainnya sebelum Kangmas berangkat. Kangmas Jaya bisa tidur di atas."
Jaya mengangguk dan tersenyum. "Jika kau tidak keberatan, aku di sini saja melihat lukisan-lukisan."
"Oh ... tentu." Kenanga menjawab gugup. "Kalau lukisan-lukisan ini dilihat lebih seksama, akan ketahuan jelek. Nah, Kangmas, aku akan keluar dari ruangan ini dan kembali secepatnya."
Jaya mengangguk saat Kenanga berjalan melewatinya. Pintu ditutup. Jaya menghela napas panjang dan melihat lebih seksama lukisan-lukisan di dinding.
Satu lukisan bergambarkan tiga ikan mas dan selembar daun teratai. Begitu nyata hingga gelombang air kecil di lukisan itu bisa tumpah sewaktu-waktu. Semakin dilihat seksama, maka Jaya akan melihat sisik-sisik ikan yang terlihat begitu licin dan nyata. Bahkan butir batu di dalam kolam terlihat seperti batu sungguhan. Seperti ikan dan kolam sungguhan. Ini luar biasa, jauh dari kata jelek.
Pintu kembali dibuka. Waktu berlalu begitu cepat, Jaya begitu terhanyut pada satu lukisan itu. Kenanga datang membawa nampan berisi jamur kuah dan sawi rebus.
"Kangmas Jaya, aku harap kau bisa menikmati ini." Kenanga menaruh nampan itu di atas meja. "Tapi aku jamin, sayuran ini enak."
"Tentu saja." Jaya tersenyum canggung, entah sudah berapa hari ia tak makan.
Lekas-lekas Jaya duduk di sisi meja. Mengambil sendok dan mulai memakan sayuran itu. Mata Jaya terbuka lebar saat suapan pertama masuk. Entah apakah perut Jaya yang terlalu lapar atau memang seperti ini rasa masakan Kenanga.
Jaya teringat lagi akan masakan terindahnya yang pernah ia buat di desa. Jaya yakin betul, ini sama persis seperti sayuran hutan yang pernah ia masak di desa.
Suapan itu tak berhenti. Jaya makan dengan cepat, dan dengan perasaan suka cita. Kenanga bertopang dagu melihat Jaya menikmati masakannya.
"Nanti aku akan bawakan kasur dan selimut tebal ke sini. Mungkin malam akan datang sebentar lagi. Biasanya sangat dingin jika malam." Kenanga bangkit berdiri dan keluar ruangan setelah pamit. Jaya tampak tak peduli dengan Kenanga, ia terlalu berpusat pada makanannya.
Sesaat setelah Jaya menghabiskan makanannya, Kenanga datang membawakan barang dijanjikannya. Kenanga langsung maraih mangkuk kotor Jaya dan hendak keluar ruangan, tetapi ia berhenti di ambang pintu dan menoleh pada Jaya.
"Nanti kalau malam benar-benar terjadi, maukah Kangmas datang ke atas dan melihat indahnya malam bersamaku?"
Jaya menoleh juga dan menatap Kenanga dalam-dalam. Gadis itu terlihat mengharapkan sekali kehadiran Jaya nanti. Jaya tak bisa menolak permintaan itu.
Maka dia mengangguk. "Baiklah."
"Terima kasih banyak, Kangmas."
Jaya mengangguk sekali lagi dan Kenanga keluar ruangan sekali lagi. Maka tersisalah Jaya yang memandangi lukisan lain dalam ruangan tersebut.
Pemuda itu begitu terhanyut dan masuk ke dalam dunia yang ada di setiap lukisan. Saat Jaya melihat lukisan pesawahan, Jaya merasa benar-benar berada di tengah sawah tersebut. Di lukisan air terjun, Jaya benar-benar bisa mendengar deburan air yang menabrak batu. Hingga tak terasa malam yang jarang pun tiba. Udara tetiba mendingin, seolah seluruh rasa hangat dibawa pergi pula oleh matahari.
Jaya meskipun terlarut dalam lukisan, masih bisa merasakan dinginnya udara dan gelapnya ruangan selepas mentari pergi. Seketika itu Jaya mengingat akan janjinya menemani Kenanga di lantai atas, maka bergegaslah ia keluar dari ruangan setelah jendela tertutup.
Jaya menaiki tangga menuju lantai dua yang terbuat dari ubin kayu. Di lantai dua, ada beberapa pintu ruangan yang mungkin diisi kamar-kamar. Kamar-kamar itu bersisian dan saling berhadapan. Di tengahnya terdapat lorong yang mengarah langsung ke balkon. Dari tempat Jaya, balkon itu berada dalam keremangan lampu lentera merah.
Tanpa ragu, Jaya melangkahkan kaki menuju balkon itu. Papan-papan kayu berderak pelan mengiringi setiap langkah Jaya.
Sesampainya di balkon itu, Jaya kedinginan hingga ke tulang-tulang. Balkon ini tak memilki atap, dengan panjang empat depa dan lebar dua depa. Terlihatlah langit yang gelap gulita. Dengan pagar-pagar di sisi luar. Tanpa suara serangga, suasana benar-benar hening.
Kenanga ada di ujung kanan balkon. Terlihat khusyuk menyalakan satu lentera merah lagi di sana. Pakaian yang ia pakai sedikit berbeda, kini ia memakai gaun merah dengan tudung merah berenda tembus pandang.
Api di kapas minyak telah menyala, lalu Kenanga masukan ke dalam tabung merah. Sinar yang dipancarkan berwarna merah, serasi dengan gaun Kenanga.
"Kangmas sudah datang." Kenanga menoleh pada Jaya dengan senyum hangatnya. "Terima kasih sudah memenuhi permintaanku yang aneh ini." Kenanga tertawa kecil sambil melangkah ke dekat Jaya.
"Ini janjiku." Jaya ikut tersenyum. Kenanga tepat di sampingnya, menatap langit.
"Saat duniamu sedang malam hari, aku tak bisa ke luar dari sini ke bukit itu. Aku menyebutnya Bukit Harapan. Langit malam ini bagiku sangat berharga. Jarang sekali terjadi, Kangmas. Dan jikapun terjadi, hanya sebentar saja sebelum matahari kembali teguh di ufuk tengah."
Jaya memandang wajah Kenanga yang disinari cahaya merah lentera. Terlihat betapa gadis itu berbinar memandang langit kosong tanpa bintang dan rembulan. Tak ada suara jangkrik dan seranga lainnya, tetapi Kenanga tetap menikmati ini. Jaya membayangkan betapa lebih buruknya di hari-hari sebelum dirinya menemani Kenanga di sini.
"Saat Kangmas tak ada di sini, aku merasa malam bisa membunuhku dengan sejuta hari kesepian. Aku mencoba menikmatinya dengan menyalakan lentera-lentera di setiap malam. Namun kini, aku sangat menikmati malam. Tanpa sepi. Ada teman yang bisa kuajak bicara, bukan angin."
Jaya merapatkan giginya. Kenanga pasti telah melalui saat-saat yang buruk dan saat-saat yang kesepian. Jaya merasa dirinya tak pantas mengeluh lagi, karena ia masih bisa melihat birunya langit, hijaunya rumput, serta bintang dan bulan. Ia merasakan keberlimpahan mengelilinginya. Tak pantas ia mengeluh.
"Kau akan melihat malam yang indah dengan bulan, bintang, jangkrik, dan kunang-kunang. Aku berjanji."
Terucaplah sebuah janji yang terlalu berani.
____
catatan:
Halo, West di sini. Sang Musafir akan semakin dipenuhi petualangan nantinya. Berikan like jika kamu menyukai Sang Musafir. Berikan komentar untuk menyampaikan pendapat atau untuk membuktikan bahwa kamu adalah pembaca aktif Sang Musafir. Terima kasih. Saya usahakan update 2 kali setiap hari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
selanjutnya
2024-11-28
0
Matt Razak
Mantap
2023-12-02
0
WAKANDA NO MORE
asyikkkkk, kasur😂
2022-12-16
3