Melihat senyum Kenanga, Jaya bukannya tenang. Lekas ia memasang kuda-kuda dan sikap silat, walau tak pernah belajar silat barang sesaat pun. Bersiap menyerang jika Kenanga menyerang. Namun jika dilihat dari manapun, gadis ini terlalu lembut, tidak terlihat sedikitpun memiliki kuasa untuk menyakiti Jaya. Tangan Kenanga terlalu halus, tampak rapuh seperti kertas.
"Pergi kau atau kupatahkan lehermu!" Jaya membentak tanpa peduli hal-hal itu.
"Kau mengusirku?" Dahi Kenanga mengerut. "Bukankah kau yang datang ke sini?"
"Aku tak peduli. Menjauh!"
"Dapatkah daku berbicara dengan dikau, sebentar saja." Kenanga mengangkat tangannya, berusaha menenangkan Jayamantingan yang terlanjur tersulut amarahnya.
Namun, usaha Kenanga gagal. Jaya terkuasai oleh amarah yang membara. Entah apa yang membuatnya marah sampai seperti ini. Jaya kalap, maju dengan tinjuan langsung ke arah kepala Kenanga. Tak peduli jika itu siluman buaya putih atau wanita biasa sekalipun. Jika benar Kenanga adalah siluman buaya putih mewangi, maka Jaya tidak akan menyesal. Tetapi saat kepalan tangan Jaya hampir mengenai wajah Kenanga, lajunya terhenti seketika. Tak hanya itu, Jaya tak bisa bergerak. Tidak bisa menggerakkan kaki, tangan, dan bahkan tubuhnya barang sejengkal saja!
Kenanga menggelengkan kepala. "Jaya, jangan biarkan amarah menguasaimu. Engkau memang dalam situasi tertekan. Terombang-ambing. Tetapi jangan mudah marah atau itu akan membahayakan dirimu sendiri."
Tak butuh pikir panjang bagi Jaya untuk mengetahui bahwa Kenanga-lah yang menghentikan laju tinjunya, bahkan menghentikan seluruh gerak tubuhnya. Tapi bagaimana Kenanga bisa melakukannya? Bukankah dia hanyalah gadis cantik, lembut, harum, dan pula rapuh?
Tak ada tanda-tanda bahwa dia adalah pendekar, penyihir, atau semacamnya dalam diri Kenanga. Apakah benar dia adalah siluman buaya putih berbau harum?!
"Matamu mengandung banyak kisah pilu di masa lampau. Dikau adalah sosok penuh wibawa, tegas, dan tak ingin dikasihani, namun dengan harga diri tertindas." Kenanga tersenyum. "Kangmas Jaya, daku tak mengasihanimu. Sebaliknya, engkau yang sepertinya harus mengasihaniku."
Dahi Jaya berkerut. Mengasihani Kenaga? Gadis itu punya rupa bagai mahadewi, pakaian berbahan bagus, punya kekuatan sakti. Untuk apa pula dikasihani?
Kenanga tersenyum tipis, seolah mengetahui jalan pikir Mantingan, dia mendekat. Sangat dekat. Jarak antar wajah Jaya dan Kenanga hanya tersisa dua jengkal saja. Dari jarak sedekat itu, Jaya bisa melihat mata Kenanga yang berlinang sedih. Hembusan napasnya. Harumnya.
"Maukah duduk dan dengar ceritaku?"
Kembali Mantingan bertanya. Kenanga ini ... sebenarnya siapa? Mengapa kecantikannya tampak begitu mengancam nyawa?
Jaya menghela napas panjang dan menunjukkan tanda persetujuan. Lagi pula ia tak punya pilihan lain.
Tubuhnya dapat digerakkan kembali dengan leluasa. Kenanga mengajak Jaya mengikutinya. Untuk saat ini, Jaya tak banyak bertanya. Ia tidak mau membuat Kenanga semakin bersedih dan ia akan dapat imbas buruknya. Siluman buaya sangat sulit ditebak perangainya.
Sampai di kaki bukit, Jaya melihat sebuah pohon besar yang tertekuk ke atas lalu ke bawah menyerupai bingkai setengah lingkaran. Kenanga berjalan ke arah sana, Jaya mengikutinya.
Jaya tanpa ragu berjalan mengolongi pohon melengkung yang menyerupai mulut gua tersebut. Namun setelah melewati pohon itu, Jaya merasakan perubahan pada udara dan hawa di sekitar. Lebih sejuk. Lebih berangin. Seketika itu juga Jaya terkejut karena lingkungan di sekitarnya berbeda jauh dengan lingkungan yang sebelumnya ia lewati.
Kalau tadi daun di pohon berwarna hijau, maka daun di sini berwarna merah dan terus berguguran tatkala angin kecil menyapunya dari tangkai pepohonan kering. Langit berwarna jingga laksana senjakala. Suara gersak menemani dedaunan yang terbang seperti gerombolan kupu-kupu jingga.
"Jangan terkejut, Kangmas. Ini adalah dunia yang berbeda dengan duniamu. Nanti akan daku jelaskan. Sekarang kumohon tetap berjalan."
Mereka meneruskan perjalanan. Jaya dibawa ke sebuah rumah, agaknya bertingkat dua, yang di depannya terdapat gapura dengan ukiran mirip aksara-aksara Pallawa. Di halaman rumah itu terdapat kebun, tanaman di dalamnya jadi satu-satunya tumbuhan berdaun berwarna hijau. Kenanga mengajak Jaya masuk ke rumah yang mungkin saja itu adalah rumahnya sendiri.
Bagian dalam rumah itu sangatlah mengesankan. Penataan rumah yang rapi, di mana tak banyak barang serta merta menjadikan ruangan menjadi sejuk. Ada beberapa pahatan patung dari kayu dan keramik yang ditempatkan di atas meja-meja sudut ruangan tengah.
Terdapat empat ruangan lainnya yang tersambung dengan ruang tengah. Kenanga mengajak Jaya ke salah satu ruangan itu, yang ternyata merupakan ruang untuk lukis.
Sebuah meja pendek dan lebar terletak di tengah ruangan, ada beberapa cangkir dan sebuah teko tanah liat di sana. Di setiap sisi dinding ruangan, terpajang lukisan-lukisan indah.
"Sudilah Kangmas duduk." Kenanga tersenyum saat dirinya kembali berucap sopan.
Jaya duduk bersila di salah satu sisi meja, sedang Kenanga membuka tutupan jendela sebelum dirinya duduk bersebrangan dengan Jaya.
"Ini adalah dunia yang terpisah dari duniamu, Kangmas. Seperti yang daku katakan tadi. Dunia ini sedikit berbeda. Ruang dan waktu terpisah dari duniamu, dan di sini hampir tak pernah malam. Waktu di sini berjalan lebih cepat dari waktu di duniamu. Satu hari di sini sama saja satu kejapan mata di sana. Kangmas mengerti?"
Jaya mengangguk pelan tanda paham. Walau semua ini tidak dapat diterima akal sehatnya. Namun jika melihat kekuatan Kenanga, maka hal seperti ini seharusnya sudah dapat dinyanya.
"Untuk suatu alasan, aku dikurung di sini. aku hampir tak bisa ke mana-mana, dunia ini sempit. Hanya aku manusia satu-satunya di sini. Tidak ada teman selain bayanganku yang setia. Jika aku pergi ke duniamu, maka aku tak bisa pergi lebih dari bukit yang kaudatangi tadi." Kenanga terdiam sambil menghela napas panjang.
"Daku turut bersedih mendengarnya." Jaya pura-pura memasang raut sedih dan menghela napas panjang. "Tidak adakah yang datang membantumu?"
"Itulah tujuanku mendatangimu di bukit itu, Kangmas. Aku melihat sesuatu yang luar biasa dari dalam dirimu, aku yakin engkau bisa menolongku dari kurungan ini."
Mantingan diam beberapa saat, sebelum berkata sedikit takut, "Aku akan membantumu sebisa yang bisa aku lakukan saja. Tapi jika boleh aku bertanya, siapa yang mengurungmu dan menjatuhi kutukan ini?"
Jika dipikir-pikir, Jaya tidak punya tujuan lagi sekarang. Jaya sudah lelah menjadi pengembara dan ingin mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan. Ia memang suka berpetualang, tetapi jika itu membuat hidupnya hancur dan miskin, Jaya memilih untuk berhenti. Membantu Kenanga tak ada salahnya jika mendapat imbalan. Terlebih jika Kenanga ini adalah benar-benar siluman, mungkin saja berbaik hati memberikan kesaktian pada Mantingan! Oh, lihatlah siapa yang akan jadi penguasa nantinya!
"Maaf, Kangmas Jaya. Aku tak bisa menjawab hal itu."
Jaya terlihat berpikir sejenak. Ia tak mau berusan jika tak perlu pada kekuatan besar yang mengurung Kenanga. Namun kepalang tanggung, Kenanga begitu menakutkan dari siluman-siluman buaya lainnya. Bahkan mati pun tak apa, Jaya tak ada tujuan lain, tak ada dia gunanya hidup.
"Itu bukan masalah besar, Kenanga. Sekarang katakan padaku, bagaimana aku bisa membantumu?"
Kenanga mengulas senyum hangat. "Ada satu benda yang bisa membebaskan seseorang dari kutukan ini."
Jaya menatap Kenanga dalam-dalam saat melihat keraguan dari gadis itu.
"Tapi, Kangmas. Benda ini hanya pernah terdengar di ranah dongeng. Mungkin tak pernah ada di jagat Dwipantara. Benda ini bernama Kembangmas. Sebuah bunga. Warnanya emas dan harum sekali wanginya."
Jaya mengingat sebentar. Ia pernah mendapat cerita tentang Kembangmas ini, walau hanya sedikit. Kembangmas ini konon bisa mendatangkan dewi kahyangan bahkan memperbudak setan, Jaya tak pernah percaya akan hal itu, terlebih bunga tersebut tidak pernah ditemukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjutkan
2024-11-28
0
Luo Zan Thian
panggilan utk mc satu aja tor
Jaya, jaya saja
atau
Mantingan ya mantingan saja
ini kadang jaya kadang mantingan
authornya PLIN-PLAN
2024-07-13
0
Cazzo Grande
semangat
2024-01-24
0