“Terima kasih banyak, Paman.” Mantingan naik dan masuk ke dalam kereta kuda.
Pemilik kereta kuda sangat ramah setelah Mantingan masuk ke dalam, bahkan ia mempersilakannya untuk duduk di sebelah depan yang tempatnya jauh lebih empuk dan mendapat pemandangan bagus. Namun, Mantingan menolaknya dengan sopan dan duduk di tempat belakang, memang seharusnyalah pemilik kereta yang mendapatkan bagian paling nyaman. Dirinya di sini hanya sekadar menumpang. Di kereta kuda ini hanya ada dua orang; Mantingan dan paman pemilik kereta kuda, satu kusir berada di bilik luar.
Kereta bergoyang pelan saat kuda mulai melangkahkan kaki-kakinya. Awalnya memang lambat, namun lamat-lamat bertambah laju hingga guncangan bertambah pula. Paman pemilik kereta kuda tak terlihat terganggu dengan hal ini, berbeda dengan Mantingan yang tidak terbiasa.
“Paman, sekali lagi daku berterimakasih atas tumpangannya.” Mantingan merasa berbohong pada pria paruh baya yang menganggapnya sebagai bangsawan itu, ia akan semakin merasa bersalah jika tak berterimakasih berkali-kali banyaknya.
“Daku yang justru berterimakasih pada Tuan Pemerintah yang telah sudi masuk ke dalam kereta usang ini. Daku pastikan kereta ini akan dirawat baik-baik karena Tuan Pemerintah pernah duduk di sini.” Pria paruh baya berkata sambil menunduk penuh hormat, sorot matanya juga tak berani bersitatap langsung dengan mata Mantingan.
Mantingan hanya bisa tersenyum dan mengalihkan pembicaraan, “Kalau saja diriku boleh tahu, siapakah gerangan Paman dan hendak ke manakah Paman?”
“Oh ... betapa pria tua ini beruntung telah diperhatikan oleh Tuan Pemerintah. Namaku yang jelek ini adalah Ranggapitu, orang-orang memanggilku dengan sebutan Paman Rangga, Tuan. Daku hendak ke Sundapura untuk berdagang di sana. Apakah Tuan Pemerintah ingin ke sana juga?”
“Daku tidak berencana langsung ke ibukota, Paman Rangga. Apakah Paman bisa menurunkanku di persimpangan dekat Bumi Sagandu? Orang-orang biasa menyebutnya Cipari.”
“Sampai Bumi Sagandu daku antarkan!”
Mantingan tersenyum. “Terima kasih, Paman Rangga. Tetapi cukuplah sampai di sana saja.”
Selepas itu Mantingan memilih diam. Percakapan yang terlalu banyak dan terlalu dalam tak akan menguntungkannya, bahkan bisa-bisa membahayakannya. Mantingan menikmati perjalanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dari tirai dan jeruji kayu jendela, tampak banyak pepohonan hijau. Melihat itu Mantingan jadi terpikirkan, berapa lama dan betapa melelahkankah jika ia harus berjalan kaki?
Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah dapat melihat persimpangan. Kereta kuda berbelok ke kanan berdasarkan arahan dari Paman Rangga. Orang parobaya itu sungguhan akan mengantarnya sampai Bumi Sagandu.
Kereta kuda mulai berguncang keras. Jalanan dipenuhi bebatuan saat jalan yang mereka lalui bukanlah menuju kotaraja. Kurangnya perawatan, dan kurangnya lalu lintas perdagangan membuat jalanan tersebut tidak rata. Bahkan dari yang terlihat, rumput-rumput panjang mulai menutupi sebagian jalan.
Kepala Mantingan terjedut dinding beberapa kali, begitu juga kepala Paman Rangga yang sudah tua renta itu.
“Pelan-pelan saja, Bagus.” Paman Rangga berseru pada kusirnya di bilik depan.
“Ini adalah kecepatan paling rendah, Paman! Jalanan sungguh rusak tiada terkira. Diriku belum pernah melewati jalanan serusak ini menggunakan kereta kuda. Ini lebih dari sekadar jalanan yang rusak!”
Paman Rangga terlihat mencermati nada bicara kusirnya yang memang sedikit aneh dan tergesa-gesa. Mantingan mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
“Kalau begitu, putar arah ke Sunda!”
“Kita sudah telat, Paman, maafkan daku ....”
Air muka Paman Rangga menunjukkan kebuncahan. Wajahnya berkeringat dingin, dadanya naik turun cepat. Namun dapat dilihat bahwa dia sedang berusaha tenang.
“Siapkan siasat tempur Tikus Gua Melarikan Diri!” Paman Rangga mengambil sesuatu di bawah bangkunya yang setelah diangkat ternyata merupakan sebilah golok panjang.
Jelas ini ada sesuatu yang berbahaya. Mantingan tak bisa diam saja dan berpangku tangan, walau ia harus tetap bersikap tenang dalam segala keadaan.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Paman Rangga?”
“Oh ... Tuan Pemerintah, nasib kita sedang malang sekali.” Paman Rangga meratap penuh penyesalan. “Hanya ada satu hal yang membuat kusirku berbicara seperti ini. Ada orang yang membuntuti kita, daku menduga bahwa ini adalah sebuah perampokan, Tuan Pemerintah.”
Kusir membentak panjang di luar, sepertinya sedang mengentak tali kuda agar berjalannya lebih cepat lagi. Walau Mantingan agak meragukan bentakan itu, ia merasa lebih terdengar seperti jeritan.
“Tuan Pemerintah harus mempersenjatai diri, diriku masih menyimpan satu golok lagi. Akan kuambilkan.”
Mantingan menahan gerakan Paman Rangga. “Daku tidak diperkenankan mengangkat senjata, Paman Rangga.”
Dahi Paman Rangga berkerut. “Tidak bisakah sekali ini saja, Tuan? Keadaan tengah genting ...."
“Maaf ....” Mantingan menggeleng pelan penuh penyesalan.
Dari lubuk hati yang terdalam pun sebenarnya ia ingin menghindari pertempuran. Mengangkat senjata untuk membunuh bukanlah kesenangannya. Agak takut juga seorang Mantingan telah dikepung bahaya di hari pertamanya mencari Kembangmas.
“Baiklah, Tuan Pemerintah. Daku akan melindungi Tuan jika memang Tuan tidak bisa memegang senjata.” Paman Rangga berkata tegas.
Mantingan lalu mengangguk dan menyempatkan diri untuk berterimakasih. Ia juga berharap keadaan akan baik-baik saja. Kereta kuda ini tidaklah dipenuhi barang dagangan, mungkin para penyamun berubah pikiran untuk membebaskan mereka mereka.
“Diriku kenal betul wilayah ini, Tuan Pemerintah. Kita pasti akan selamat.” Paman Rangga lalu berkata pada kusirnya, “tetap berada di jalan ini, Bagus!”
Namun lama tak terdengar jawaban. Paman Rangga memanggil lagi. “Bagus, apa dikau mendengar suaraku?!”
Masih tak ada balasan. Mantingan bisa melihat Paman Rangga yang raut wajahnya semakin tak bagus, pria paruh baya itu telah basah oleh keringat dingin. Buru-buru ia membuka jendela, kepalanya dijulurkan ke luar sedang kuda masih berjalan dalam kecepatan tinggi.
“Oh, astaga. Nak Bagus! Apa yang terjadi padamu, Bagus. Mengapa malang sekali nasibmu ini. O ... ini semua salahku. Salahku ....” Paman Rangga meratap seperti orang menangis, entah apa yang tengah dilihatnya.
“Apa yang terjadi, Paman Rangga?!” berkata buncah Mantingan.
“Nak Bagus, Tuan Pemerintah, kusirku Bagus! Kusirku mati, Tuan Pemerintah ... kusirku mati ....”
Bagus—kusir kuda Paman Rangga itu—mati. Tapi apa yang membuatnya mati? Mantingan membuka jendela di sebelah kiri dan melongok ke depan juga. Betapa terkejutnya ia setelah menemukan kusir itu telah tertancap panah di dadanya, darah merembes dan mewarnai bajunya menjadi merah. Mantingan lekas memasukkan kembali kepalanya ke dalam dengan mata membeliak tak percaya. Ia tak pernah melihat pembunuhan yang begitu sangat keji baginya ini. Sedang Paman Rangga masih terus meratapi kematian kusirnya itu.
Mantingan tahu, bahwa kuda tak bisa dilepas kendali seperti ini. Dalam beberapa keadaan, kuda yang lepas kendali justru dapat berakibat kematian. Maka dengan nekat, Mantingan menjulurkan tubuhnya keluar jendela. Hendak mengambil alih kendali.
Tetapi kemudian, telinganya itu dipekakkan oleh suara benturan yang disusul suara dengung. Panah tertancap di badan kereta kuda, tepat di sebelah telinganya. Satu jengkal dari kepalanya. Mantingan menarik diri ke dalam kereta kuda dengan mata yang lebih terbuka lebar. Betapa maut baru saja lalu di depan matanya.
“Ini tak bisa dibiarkan, orang-orang biadab itu harus mati!” Paman Rangga memekik marah.
Paman Rangga seakan lupa keberadaan Mantingan di dalam kereta kuda, ia membuka pintu dan melompat ke luar. Tubuhnya terguling-guling di tanah. Mantingan yang sedang dalam keadaan buncah dan tak tahu harus bagaimana pada akhirnya melompat di pintu yang sama.
Pendaratannya tak semulus pendaratan Paman Rangga. Tubuhnya berdebam di tanah, berguling-guling ke tepi jalan yang banyak batu besarnya. Paman Rangga yang jauh di belakangnya telah bangkit berdiri dengan golok terancungkan, memutar ke segala arah.
___
catatan:
Tarumanagara beribukota di Sundapura. Orang-orang biasa menyebut kota itu sebagai “Sunda”.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjut lagi
2024-11-28
0
Matt Razak
Mantap
2023-12-02
0
Idrus Salam
Ceritanya semakin menarik, bahasa penyampaian banyak diwarnai dengan majas dan cukup menggelitik, kemasan sejarahnya tersampaikan secara apik.
lam
2023-08-20
0