Dengan senyum tipis, Kenanga berkata, “Jangan terlalu banyak berjanji, Kangmas.”
“Hanya janji yang sanggup menggerakkan orang.” Jaya membalas. “Dan harapan ....”
Langit malam semakin menunjukkan gelapnya. Hampa tanpa bintang. Sunyi tanpa jangkrik. Dingin menusuk tanpa bulan. Namun, Jaya dan Kenanga tetap berdiri tegar di atas teras terbuka itu, seolah tak ada malam yang paling indah selain malam ini.
“Apa harapanmu, Kangmas?” Kenanga menghadap pada Jaya.
“Harapan?” Jaya terpaksa senyum. “Aku rasa ... tidak ada.”
Kenanga mengangkat alisnya. “Tidak ada? Bukankah orang yang tak punya harapan adalah sosok yang tak pantas hidup?”
“Kau benar.” Jaya mengangguk pelan. “Namun kini, harapanmu akan jadi harapanku juga.”
Kini dahi Kenanga berkerut. “Tapi, bukankah kita baru saja bertemu? Bagaimana Kangmas bisa percaya kepada orang asing sepertiku? Bisa saja aku menipu Kangmas.”
Jaya menoleh pada Kenanga dan menunjukkan senyum hangatnya.
“Sebagaimana engkau percayakan tugas ini padaku.”
Kenanga merasa hangat di dadanya. Sehingga ia membalas senyum Jaya dengan senyuman yang sama hangatnya. Akibat dua senyuman itu saling bersitatap, udara dingin malam seakan lenyap tak bersisa.
Begitulah mereka menghabiskan malam dengan bercakap-cakap soal banyak hal. Sambil menatap langit hampa bersama-sama. Baik Jaya maupun Kenanga sama sekali tak tidur sampai langit mendadak terang benderang menyilaukan mata.
Kenanga menunduk ke bawah. Ia tahu bahwa Jaya akan segera pergi. Maka ia akan kembali ditikam kesepian. Kenanga selalu ingin malam bersama Jaya ini berlangsung jauh lebih lama.
“Kangmas Jaya, bisakah kau tetap di sini lebih lama lagi sebelum pergi?”
“Aku khawatir kalau aku tidak bisa, Kenanga.” Jaya berkata dengan nada keras, sengaja untuk menguatkan. “Kau akan secepatnya keluar dari sini. Dan itu artinya aku harus segera keluar dari sini, menemukan Kembangmas.”
Masih menunduk, Kenanga mengangguk. Ia turun ke bawah dengan langkah kaki cepat. Jaya menghela napas panjang. Sadar bahwa perjalanannya akan panjang dan melelahkan, Jaya turun lalu tidur di ruang lukis. Tidur nyenak untuk pertama kalinya setelah ia keluar dari desanya dan akan jadi yang terakhir kalinya sebelum memulai perjalanan panjang.
***
Jaya baru terbangun setelah tubuhnya merasa cukup beristirahat. Saat membuka matanya, Jaya mendapati Kenanga ada di dalam satu ruangan dengannya. Gadis itu sedang melukis sesuatu yang sepertinya ditutup-tutupi, mengingat punggung Kenanga menutupi pandangan Jaya pada lukisan itu.
Jaya akan menyapanya, tapi agar tidak mengagetkannya, Jaya menyapa dengan suara pelan. “Kenanga.”
Kenanga terkejut dan latah walau sapaan itu sangat pelan suaranya. Terburu-buru dia membalik lukisannya menghadap ke dinding. Tangannya penuh noda pewarna yang berwarna-warni, melambai kaku pada Jaya.
“Aku akan berangkat sekarang, bisakah?”
Wajah Kenanga terlihat tidak bagus. Lalu katanya, “Sebelum berangkat, lebih baik Kangmas Jaya mandi dulu.”
Jaya bergumam di awalan kalimat. “Sebenarnya sudah sangat lama sejak terakhir aku mandi segar. Mungkin kau juga mencium bau tak sedap dari tubuhku. Aku sangat berterimakasih, Kenanga. Bisakah kau tunjukkan letak tempat mandinya?”
“Oh, tentu saja. Tempat mandi ada di telaga. Tak sulit menemukannya, Kangmas hanya perlu ke belakang rumah dan ikuti jalan setapak yang Kangmas akan lihat nantinya. Aku akan menyiapkan pakaian baru.”
Dahi Jaya mengerut. “Pakaian baru? Bagaimana kau bisa mendapatkannya?”
Kenanga menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Aku bosan dan aku menjahit pakaian beraneka macam, termasuk pakaian pria.”
Jaya menyeringai senang. “Aku mengerti dan aku sangat berterimakasih atas pakaiannya yang kutahu sangat berharga itu.”
Jaya tidak pernah membeli pakaian sejak kepergiannya dari desa. Mendapatkan pakaian baru yang akan ia dapatkan tentu saja membuatnya senang bukan main. Andai bukan sedang di hadapan Kenanga, ia sudah melompat-lompat kegirangan bahkan mungkin sampai memanjat pohon saking senangnya. Ia harus menjaga sikap.
“Nanti aku antarkan saja. Dan selagi Kangmas membersihkan diri, akan kubuatkan hidangan dan perbekalan untukmu.”
Jaya tahu persis bahwa sebenarnya Kenanga berniat menahannya lebih lama. Bahkan ia sudah tahu sedari tadi. Namun, Jaya paham. Kenanga akan kesepian jika ia pergi dari tempat ini.
Berangkatlah Jaya ke telaga itu. Dengan tidak membawa apa pun selain pakaian dan alas kaki yang melekat, ia berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah hutan jingga. Perjalanan itu berujung pada sebuah telaga berbatu dengan air jernih. Beberapa daun mengapung di atasnya, sedang ikan-ikan besar maupun kecil berenang bebas di bawahnya.
Jaya tak sanggup menahan kegembiraannya saat melihat air segar di depan matanya. Langsung menanggalkan seluruh pakaiannya dan menceburkan diri ke dalam air telaga. Gelombang besar tercipta mengoyangkan daun yang mengapung di permukaan air.
Air di telaga itu teramat segar. Tidak terlalu dingin, tapi penuh kesegaran. Jaya sudah lama tak merasakan ini, bahkan ia belum pernah merasakan air sesegar itu seumur hidupnya.
Entah berapa lama sejak Jaya berendam di sana saat Jaya mendengar suara Kenanga memanggilnya dari jauh. Kenanga bicara tak banyak—gadis itu tahu hal itu tak pantas dibicarakan di sini—selain mengatakan bahwa baju baru diletakkan pada sebuah batu hitam besar. Jaya ingat di mana letak batu yang disebutkan itu, sehingga ia menyahut paham.
Selesai menggosok seluruh tubuhnya, Jaya keluar dari telaga sedikit was-was. Dalam keadaan telanjang bulat ia berjalan ke arah batu hitam besar yang letaknya tak jauh dan tak dekat dari telaga. Lihatlah pakaian yang Jaya dapatkan. Sebuah baju kampret hitam dan celana panjang yang sama warna, terbuat dari bahan halus tapi kuat. Jaya tak perlu pintar untuk mengetahui bahwa ini adalah kain sutra. Jaya juga mendapatkan kain persegi panjang corak batik serba merah untuk dililitkan di pinggangnya. Satu lagi, Jaya mendapatkan destar berwarna merah dari bahan yang sama-sama sutra.
Tidak menahan semua kesenangannya lagi, Jaya memakai semua pakaian itu. Dari atas sampai bawah dipakainya lengkap. Penampilan Jaya berubah hampir seluruhnya setelah mandi dan pakai pakaian bagus. Jaya terlihat sebagai pemuda tampan. Pakaiannya membuatnya terlihat seperti seorang terpelajar atau pejabat pemerintahan.
Setelah memakai kembali alas kaki ikatnya, lalu berjalan kembali ke arah rumah Kenanga, Jaya mencium aroma lezat datang dari rumah merah itu. Sanggup membuat perutnya bergemuruh minta diisi lagi. Segera Jaya masuk ke dalam rumah dan menuju ruang lukis—yang merupakan kamar sementaranya. Namun ternyata, di ruangan itu juga Kenanga menunggu Jaya, duduk di depan meja yang penuh dengan makanan.
Dari yang dilihat, makanan kali ini jauh berbeda dan lebih banyak dari makanan yang sebelumnya disajikan. Mulai dari sawi, kentang, umbian, dan sedikit buah-buahan tersaji di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjut
2024-11-28
0
Matt Razak
Mantap 👍
2023-12-02
0
Sugiono.S.T
entah bagaimana perasaan jaya kalau pada akhirnya gadis itu bebas dan dia di hianati,, Karna kecantikan bisa mebohongi seseorang
2022-12-17
2