“Daku tahu betul bahwa pengembara sepertimu tidak akan betah tinggal berlama-lama di rumah seperti ini. Kau memiliki jiwa pengembara yang sangat kuat.” Satya tertawa panjang dengan khasnya. “Tetapi untuk satu malam, sepertinya bukan masalah. Daku hanya memiliki satu kamar, tapi kau bisa beristirahat di mana saja.”
Mantingan mengangguk pelan.
“Aku akan pergi agak jauh dari sini untuk menyiapkan pesta malam nanti. Jangan coba-coba untuk keluar dari daerah ini tanpa diriku, nanti kau bisa tersesat.” Menarik napas panjang sambil tersenyum, Satya melanjutkan, “dan mungkin saja mati.”
“Tidak, tidak.” Mantingan tertawa canggung sambil mengibaskan tangannya. “Daku akan menunggumu di sini. Dan kupastikan diriku tak akan merusak apa pun di sini.”
“Daku tak bermaksud untuk menakuti-nakutimu, Mantingan, tetapi kau benar-benar bisa mati jika keluar tanpa bimbinganku,” katanya. “Baiklah, diriku akan berangkat sekarang. Jaga dirimu baik-baik!”
Satya melepas semua bawaannya sebelum melesat cepat keluar rumah. Tinggallah Mantingan yang tampak bingung di tengah ruangan. Satya tadi berkata bahwa ia bebas beristirahat di mana saja, tetapi Mantingan masih merasa canggung jika harus menjelajah rumah Satya lebih jauh lagi.
Di sisi lain, Mantingan masih berada dalam kewaspadaan terhadap Satya. Ia tetap tidak mengerti alasan apa yang membuat pemuda berusia tanggung itu begitu baik kepadanya, bahkan hendak mengadakan makan-makan nanti malam. Alasan yang tidak diketahui itulah yang membuatnya mewaspadai Satya bahkan setelah dia dilihatnya sudah turun bukit.
Sebab setelah Mantingan memasuki dunia pengembaraan, ia dikejutkan oleh sifat-sifat orang yang bermacam-macam. Yang sering ia jumpai saat ini adalah sifat yang dengan penuh tipu muslihat, sehingga Mantingan merasa bahwa sifat Satya agaknya perlu diwaspadai juga. Bisa jadi pemuda tanggung itu memiliki tipu muslihat untuk menjebaknya.
“Alangkah baiknya aku menyingkirkan pikiran itu dan memastikannya langsung di sini.” Mantingan bergumam pelan sebelum melangkahkan kaki menyusuri ruang tengah itu.
Tongkat yang semulanya diikatkan pada buntelannya itu kini dilepas dan digenggam erat-erat sebagai alat pertahanan sekaligus menyerang. Mulanya ia menyusuri ruangan yang ada di lantai bawah, namun ia tak menemukan apa-apa selain beberapa ruangan yang kosong atau ruangan yang dipenuhi alat-alat untuk berkebun dan berburu.
Menuju lantai atas, Mantingan tak merasakan adanya jebakan di tangga. Semuanya terlihat biasa-biasa saja. Begitu pula ruangan-ruangan yang ada di lantai dua. Tak ada yang berbahaya. Hanya kamar Satya yang tampak begitu nyaman lengkap dengan perapian di dalamnya.
Mantingan merasa bersalah. Bagaimana orang yang sebaik Satya bisa dicurigainya? Apakah kebaikannya tak cukup membuktikan bahwa tak ada yang berusaha menjebaknya di sini? Apakah dengan ini, Mantingan telah mengkhianati kepercayaan Satya?
Mantingan menarik napas panjang sebelum memutuskan untuk jujur bahwa dirinya telah memeriksa seluruh ruangan di rumah ini. Bahkan ia juga akan mengatakan juga bahwa dirinya telah mencurigai Satya.
***
Sore itu. Mantingan berada teras lantai dua rumah Satya yang manis. Menatap tenggelamnya matahari di antara bukit-bukit hijau tinggi di ujung sana. Langit menjingga, burung-burung pulang berbondong-bondong. Udara sejuk menjadi tambah dingin walau ketiadaan angin.
“Hai Mantingan! Senjakala yang indah, bukan!”
Mantingan menoleh ke bawah dan menemukan Satya di sana. Pemuda tanggung itu melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Di kedua tangan terdapat barang bawaan yang banyak, begitu pula di punggungnya.
“Akhirnya dikau kembali, Satya. Maafkanlah daku yang menumpang di atas sini.”
“Tidak apa, bukan masalah. Daku sudah katakan kau bisa beristirahat di mana saja.” Satya membalik tubuhnya dengan tatapan yang tak lepas dari matahari jingga.
Sesaat setelah matahari benar-benar tenggelam di antara celah perbukitan, dan langit mulai menggelap, barulah Satya masuk ke dalam rumahnya. Mantingan mau tidak mau turun ke bawah.
“Apakah dikau berburu?” Mantingan bertanya heran, sebab barang bawaan Satya bukan seperti hasil perburuan.
“Berburu akan memakan waktu yang lama, Mantingan. Aku belanja di pasar.”
“Aku kira kau anak rimba.”
“Biarpun daku anak rimba, tetapi aku tetap saja bergantung hidup pada pasar.” Satya tertawa panjang, lalu henti tawanya tetiba dan berkatalah sungguh-sungguh, “Mantingan, kurasa pesta kita akan terganggu nanti malam.”
Mantingan pun mengubah raut wajahnya menjadi lebih bersungguh-sungguh. “Ada masalah, Satya?”
“Ini salahku sebenarnya.” Satya menghela napas panjang. “Saat aku sedang berbelanja di toko buah, seorang murid dari Perguruan Tombak Api mendatangiku ....”
Namun, Satya menggeleng perlahan dan terlihat tak ingin melanjutkan cerita. Mantingan tetap bertanya sebab ini menyangkut keselamatannya pula. “Lalu apa yang salah dengan Perguruan Tombak Api?”
Mantingan telah lama mengetahui nama dari Perguruan Tombak Api. Perguruan itu termasuk ke dalam aliran putih yang sangat mengecam segala perbuatan dari kelompok-kelompok aliran hitam. Perguruan Tombak Api adalah perguruan yang paling banyak berperang melawan perguruan aliran hitam. Tidak sedikit perguruan aliran hitam yang dimusnahkannya. Letak perguruan ini sendiri berada di Kanoman dekat Bumi Sagandu, tetapi murid-muridnya tersebar luas di seluruh wilayah Taruma untuk membunuh setiap pendekar golongan hitam yang ditemuinya.
Untuk apakah perguruan putih memiliki masalah dengan orang sebaik Satya? Mantingan merasa perlu mengetahuinya.
“Akhir-akhir ini sering kudengar bahwa perguruan mereka terus diperbincangkan sebab memiliki sepak terjang yang dianggap terlalu ganas membunuh pendekar-pendekar golongan hitam. Mereka dianggap tak manusiawi. Bahkan kabar burung yang berembus mengatakan bahwa mereka telah membunuh lima pendekar aliran putih sebab dikiranya sebagai pendekar bergolongan hitam.” Satya menarik napas dalam-dalam. “Dan sekarang daku merasakan sendiri kebenaran dari kabar itu. Mereka mengira bahwa diriku adalah pendekar golongan hitam. Daku dianggap memiliki perguruan hitam yang tak bisa diselinapi di pedalaman hutan, padahal aku hanya membangun rumah saja di sini. Tadi murid itu menyerangku, daku terpaksa mematahkan tangannya. Dia memang mundur, tapi sembari mengatakan bahwa perguruannya akan menyerang tengah malam nanti.”
Wajah Mantingan memburuk. “Apakah kita akan aman-aman saja? Bukankah dikau memiliki banyak jebakan?”
“Memang benar, tapi daku tidak ingin membunuh manusia lagi.” Dan entah mengapa Satya menjambak rambutnya sendiri. “Baiklah, Mantingan, kuberi tahu tentang dirimu yang sebenarnya!”
Nada bicara Satya meninggi tanda amarah tengah menguasai sebagian darinya. Tapi amarah itu jelas bukan ditunjukkan kepada Mantingan, melainkan pada dirinya sendiri. Mantingan sama sekali tidak merasa tersinggung, malah menunjukkan keibaan.
“Daku memang murid dari guru golongan putih. Memang diriku pendekar beraliran putih. Tapi bagaimana aku bisa disebut pendekar aliran putih jika daku telah banyak membunuh manusia golongan hitam? Terlebih saat guruku datang untuk mengingatkanku bahwa daku berbuat salah, malah kubunuh dirinya! Dia sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri, dan apa yang daku telah perbuat? Aku membunuhnya, Mantingan. AKU MEMBUNUHNYA!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjutkan
2024-11-28
0
Mbah Wiro
lanjuuuuut👌👌
2022-11-07
2
🥰Ani🥰
like komentar dukungan 💪💪💪
2022-08-20
2