“Selamat datang di rumah ini, para tamu tidak perlu sungkan duduk.”
Memang tiada bangku di rumah Satya, tetapi sebagai gantinya maka digelarlah sebuah tikar buluh luas sebagai untuk menutupi lantai kayu yang dingin. Dua tamu itu memandang Satya dengan tatapan merendahkan sebelum dengan enggan duduk di atas tikar. Mantingan bisa mengerti bahwa orang-orang setingkat mereka tentunya merasa enggan untuk duduk di tanpa bangku, mereka telah terbiasa duduk di bangku yang tinggi sedangkan orang-orang lain duduk menunduk di bawahnya.
“Begitu berkelimpahan engkau sampai bangku pun tidak disediakan?” Berkata dengan nada mengejek, tetua Perguruan Tombak Api itu mendengus pula.
Sindiran itu tak mendapat balasan dari Satya, bahkan Satya hampir seperti tak pernah mendengar ucapan itu.
Makanan yang semulanya di atas meja mulai diturunkan ke bawah satu demi satu, tepat di tengah lingkaran tempat tamu dan tuan rumah duduk bersila. Dari mata dua tamu itu, tak terlihat ada kandungan selera makan. Mereka lagi-lagi dengan jijik menatap makanan itu.
Setelah sebagian besar makanan diturunkan ke bawah, dan setelah Satya duduk bersila menghadap tamunya, barulah ia membuka mulut. “Kami tahu kalian berdua tidak menyukai basa-basi. Sehingga lebih baik daku menyampaikan inti dari permasalahan ini sesegera mungkin ....”
“Daku rasa tidak perlu dikau jelaskan lagi. Sebagaimana yang telah terjadi, kautelah mematahkan lengan kanan muridku.” Tetua itu berkata dengan nada tajam.
“Daku terpaksa melakukannya.” Satya menarik napas dalam. “Harap dipahami, Bapak, bahwa daku melakukan itu untuk membela diri. Sebab jika daku tak menangkis, maka daku yang akan patah lengannya. Siapa sangka tangkisan itu terlalu kencang hingga membuat tangan salah satu muridmu itu mengalami patah, Bapak.”
“Jadi, dikau bermaksud meledek muridku yang ilmunya lebih cetek darimu hingga patah tangannya hanya karena sebuah tangkisan?”
Dahi Mantingan mengerut. Bukankah malah tetua itu sendiri yang membeberkan kelemahan muridnya tanpa sedikitpun Satya mengatakan hal itu?
Sadar akan kesalahannya, wajah tetua itu pun merah padam. Demi menjaga harga diri yang telah terlanjur menjadi rendah, ia berkata lagi dengan nada kasar, “Di mana kausembunyikan murid-muridmu yang lain? Kalian perguruan aliran hitam harus musnah di tangan kami malam ini juga!”
“Bapak Tetua sudah melihatnya sendiri, daku tak menyembunyikan apa-apa. Hanya ada satu bangunan di daerah ini, dan itu adalah rumahku yang terlalu kecil untuk dapat disebut sebagai perguruan ini. Daku tak memiliki murid, apalagi perguruan.”
“Lalu siapa dia?!” Jari telunjuknya mengarah ke Mantingan dengan tatapan mata tajam.
Mantingan yang sedari tadi menahan diri untuk tidak berucap akhirnya membuka suara. “Daku adalah temannya yang akan menginap di sini untuk semalam. Apakah daku akan bertanya saat seorang wanita menginap di ranjangmu?”
“Lancang!”
Orang tua itu mengentak kakinya. Tubuhnya melayang ke depan dengan gerakan yang teramat sangat sulit diikuti oleh mata. Mantingan hanya melihat sekelebat bayangan yang bergerak ke arahnya. Ia bahkan belum sempat mengubah raut wajah saat tubuhnya terhempas kuat ke belakang oleh dorongan angin besar!
Dengan jantung yang berdebur teramat sangat kuat, Mantingan melihat ke depannya. Satya berdiri tegak beberapa langkah di hadapannya, ialah yang rupa-rupanya telah menahan serangan tetua itu yang menyasar kepalanya. Betapa serangan yang teramat begitu kuat sampai-sampai anginnya saja mampu mendorong Mantingan. Tidak dapat terbayangkan bagaimana jadinya jikalau serangan itu mengenai dirinya secara telak.
Tangan Satya tepat mencengkeram lengan si tetua hingga serangan itu terhenti. Angin tercipta akibat benturan dua tenaga dalam yang besar. Satya menatap tajam orang tua itu, sedang lengan lawannya bergetar.
“Jangan paksa daku untuk berbuat lebih dari ini.” Satya melepas lengan tetua tersebut sebelum menghampiri Mantingan dan membantunya bangkit.
“Dikau akan menyesali perbuatanmu ini suatu saat nanti!” Masih dengan tangan yang bergetar, tetua itu menunjuk-nunjuk wajah Satya. “Cakra, lekas kita tinggalkan tempat busuk ini!”
“Tidak, Tetua.” Murid tertua yang nyatanya bernama Cakra itu menggelengkan kepala tenang. “Masalah dia denganku masih jauh dari kata selesai. Daku ingin menantangnya bertarung. ”
“Terserahlah!”
Tetua itu berlalu meninggalkan rumah seakan yakin bisa keluar hutan tanpa tersesat. Sedangkan Cakra masih dalam posisi bersila dan berlipat tangan ke depan. Ia memejamkan mata, tapi terlihat tatapan tajam dari balik kelopak matanya.
“Apakah daku masih memiliki masalah denganmu, Saudara?”
“Daku akan menantangmu.”
Suasana hening sejenak.
“Kalau begitu, dengan maaf, daku mesti menolaknya. Lebih baik sekarang Kisanak Daku antarkan bersamamu agar dapat keluar tanpa tersesat.”
“Daku tak memerlukan izinmu. Awas, daku akan menyerang!”
Setelah Cakra bergerak dan lantai kayu sedikit berderit, saat itu pula tubuhnya menjadi bayang-bayang hitam saja yang tiada mampu ditangkap mata dengan jelas. Satya juga menghilang dari tempatnya, menjadi bayang-bayang. Pertarungan di dalam ruangan itu sama sekali tidak dapat Mantingan perhatikan. Gerakan keduanya sangat sulit diikuti ekor mata, serta berpindah-pindah tak tentu tempat.
Desis angin terdengar setiap kali mereka membuat pergerakan. Suara timpukan juga terdengar bersamaan dengan suara bentakan yang bukan dari Satya. Pertarungan tak kasat mata terus berlanjut selama beberapa saat, Mantingan pelan-pelan mundur ke pinggiran dinding.
Suara bentakan nyaring terdengar berbarengan dengan terbenturnya tubuh Cakra ke tembok. Mantingan melihat Satya melayang di udara seperti orang yang habis melepas serangan tapak. Dengan enteng Satya turun ke lantai, tak lama menyusul tubuh Cakra yang ambruk tak bergerak lagi teruntuk selama-lamanya!
“Beginilah pada akhirnya, Mantingan.” Satya menoleh pada Mantingan yang masih pula berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. “Daku membunuhnya. Orang seperti dia pantas dibunuh, pantas hilang dari bumi. Ia akan selalu menantang orang untuk bertarung dengannya. Sampai ia belum mati, ia tak akan puas. Begitulah kehidupan para pendekar, Mantingan.”
Mantingan mencerna perkataan Satya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. Pendekar akan saling menantang pendekar lain. Jika mati belum menjemputnya dalam pertarungan, dia tidak akan pernah puas.
“Dalam pertarungan tadi, daku mendapat jawaban atas pertanyaanku selama ini. Daku memang membunuh guruku, dan kuakui bahwa diriku memang salah; memang berdosa. Tetapi tak lantas itu membuatku mengurung diri di sini tanpa peduli segala urusan dunia. Biarlah dosaku ini menjadi dosa sampai kumenebusnya. Daku akan tetap berbakti pada guruku, bukan pada raganya melainkan jiwanya dan pengajarannya. Sesuai dengan pesannya saat jiwanya masih ada di dalam raga, daku akan berbuat kebaikan di setiap tempat yang kupijak. Harap dikau menjadi saksi atas diriku, Mantingan.”
Mantingan bisa melihat semangat membara bagai api abadi yang akan sukar dipadamkan di dalam mata Satya. Walau Satya terlihat berbicara padanya, tetapi sejatinya Satya berbicara pada jiwanya sendiri. Benar perkataannya bahwa raga hanya tempat persemayaman sementara bagi jiwa, sedangkan jiwa akan terus hidup dalam bentuk ajaran atau kebaikannya; dalam bentuk kesesatan atau kejahatan yang pernah dilakukan orang itu.
Sedangkan jasad yang terkapar di sudut dinding itu menjadi bukti bahwa Satya bukanlah pendekar sembarangan. Siapa pun guru Satya, pastilah pendekar yang berbakat. Sayang jika harus terbunuh di tangan muridnya sendiri, tetapi sekarang ini dosa itu seolah telah tertebus.
“Daku menjadi saksi atas dirimu, Satya.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
selanjutnya
2024-11-28
0
Matt Razak
Mantap 👍👍👍
2023-12-02
0
🥰Ani🥰
keren
2022-08-20
3