Mereka kembali ke tepi sungai. Mantingan mengikuti Satya yang berbelok ke kanan, di mana arah itu menuju ke utara. Tak jauh di depan, terlihat perahu tertambat di belakang batu besar sehingga tak terlalu diguncang arus besar. Saat sudah sampai, Satya melangkah ke dalam perahu yang panjangnya lebih sedikit dari sedepa itu. Kemudian Mantingan naik ke atasnya pula.
Ada dua dayung panjang yang terbaring di lantai perahu. Juga ada bambu panjang yang digunakan jika kapal tersangkut atau membutuhkan gerakan membelok yang tajam. Perahu ini keseluruhan terbuat dari kayu.
Mantingan melepas barang bawaannya dan meletakkannya di tempat bagian belakang. Ia menggerakkan lengan dan punggungnya dan terdengar suara tulang bergemertak, Mantingan lega setelah melepas beban-beban besar di punggungnya itu.
Satya melepas tambatan perahu. Ia berdiri di ujung paling depan perahu, tangannya menggapai bambu panjang dan mendorong perahu mendekati arus. Perahu meliuk-liuk dengan lajunya mengikuti arus sungai. Satya memainkan tongkat bambunya dan mengubah arah perahu jika akan menabrak batu.
Saat orang melihat arus ini terlalu cepat untuk dikendalikan, maka itu tak berlaku bagi Satya. Penguasaannya pada perahunya dapat membuatnya santai mengendalikan perahu itu. Arus sungai seakan bersahabat dengannya. Batu-batu pun seakan sudah dihapal di luar kepalanya.
Bahkan pernah sekali Satya menusukan tongkat bambu itu ke dalam dan mengangkatnya kembali dengan membawa ikan yang tertancap perutnya.
“Mantingan, kau jadi menginap di rumahku, bukan?”
“Tentu, jika itu tak memberatkanmu.”
Satya tertawa panjang sebelum menusuk tombak dan membawa satu ikan lagi. “Itu artinya nanti malam akan ada pesta kecil-kecilan.”
Banyak ikan yang berhasil dibawa naik oleh Satya. Katanya, itu untuk pesta nanti malam. Mantingan hanya bisa menggeleng pelan dengan senyum. Sekarang ia mengubah jalan pikir, tak semua manusia sama memperlakukan dirinya. Ada yang memperlakukannya kasar seperti pemilik-pemilik kedai di kota yang lalu; bersikap baik, namun karena pandang harta seperti Ki Ranggapitu; dan ada orang baik yang pantas disebut teman seperti Satya.
Tak berapa lama kemudian, Satya membelokkan perahunya ke kiri sungai. Tepat di belakang batu besar, ia menambatkan perahunya. Di sisi kiri sungai inilah terdapat lebih banyak pepohonan rimbun dan semak belukar yang tinggi, tetapi terdapat satu jalan setapak yang mengarah masuk lebih dalamnya. Saking tinggi semak belukar, Mantingan tak bisa melihat ke mana jalan itu mengarah.
“Mantingan, kali ini kau harus benar-benar ikut di belakangku. Jika tidak, maka kau akan tersesat di semak belukar yang teramat berduri ini. Dan perkenalkan, semak-semak berduri ini adalah tanaman-tanamanku.” Satya kembali tertawa panjang.
Mantingan dengan tenang memasang kembali bundelan dan kantong-kantong lainnya. Tongkatnya diikatkan pada bundelnnya. Satya mengangguk dan Mantingan membalas dengan anggukan juga, itu adalah tanda untuk segera berangkat.
Mantingan dan Satya turun bersamaan. Satya yang pertama masuk ke dalam jalan setapak itu. Mantingan menyusulnya, tepat di belakang Satya. Selain pemandangan semak belukar tinggi, ia hanya bisa melihat jalan di depan dan langit yang ditutupi dahan ranting hijau.
Ternyata jalan ini tak hanya searah. Tak berapa lama setelah masuk, keduanya dihadapkan pada tiga jalur berbeda di persimpangan. Satya melihat ke belakang sekali untuk memastikan Mantingan masih mengikutinya, lalu pemburu sarang semut itu memilih jalur paling kiri. Mantingan menghapalnya.
Tapi tak hanya satu, semakin banyak jalur berbeda hingga membuat Mantingan pusing dan kehilangan hapalannya. Hanya Satya saja masih percaya diri dengan jalur yang dipilihnya.
Setelah sebuah kelokan, itu menjadi kelokan terakhir. Sebab kelokan itu merupakan jalan keluar dari kerumitan persimpangan di belakang. Barisan-barisan pepohonan kembali terlihat, tetapi barisan pepohonan ini berada dalam barisan yang rapi sehingga sedap dipandang.
“Entah berapa ratus tahun yang lalu, telah terjadi perang di sini. Dulu daerah ini adalah daerah gundul karena perang menuntut pembakaran pohon-pohon. Aku menemukan banyak tulang belulang dan tengkorak manusia, juga aku menemukan pedang yang bentuk dan bahannya lebih kuno. Pohon-pohon ini tumbuh besar bersamaku sejak aku menanamnya. Di bagian utara adalah pohon karet, bagian barat pohon bambu, daerah selatan selatan adalah pohon-pohon obat-obatan, dan timur adalah tanaman-tanaman yang penuh jebakan.”
“Ini adalah daerah timur, bukan?”
“Benar, maka dari itu berhati-hatilah.” Satya tersenyum santai. “Ayo.”
Mantingan berjalan sambil melihat ke sekeliling. Lingkungan ini hampir sama dengan lingkungan Kenanga jika saja pohon-pohonnya berwarna jingga.
Tak jauh dari situ, terlihat bukit yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Satu-dua rusa yang sedang makan rumput berlarian saat melihat Satya, tetapi mereka tak berlari menjauh melainkan berlari mendekati Satya.
“Rusa-rusa yang manis!” Satya mengelus dan menciumi rusa-rusa itu sebelum kembali berjalan. “Sebenarnya daging mereka juga manis, tapi janganlah untuk pesta nanti malam. Kasihan.”
Mantingan tertawa mendengar itu. Sepanjang pelariannya dari desa, ia tak pernah melihat rusa yang begitu jinak pada manusia. Biasanya rusa akan lari menjauh setelah mencium bau tubuh manusia yang jaraknya masih jauh dari tempatnya.
Di kaki bukit terdapat satu jalan ukuran setapak lagi. Namun kali ini, jalan-jalan itu dibentuk menyerupai tangga dan dilapisi batu bata merah. Terdapat juga gapura kecil-kecilan jika berjalan sedikit ke atas.
“Rumahku ada di atas bukit. Tak terlalu banyak anak tangga yang perlu kita naiki.”
Mantingan mengangguk pelan dan mengikuti Satya menaiki tangga yang membelah deretan pinus itu. Setelah satu kelokan lalu bertemu gapura kecil-kecilan. Setelah melewati gapura itu, satu kelokan lagi menuju atas yang jalannya menembus dan melubangi batu besar.
“Batu ini sulit disingkirkan, dan dirasa menyatu dengan bagian inti bukit. Maka aku lubangi saja.”
Mantingan tersenyum tipis menanggapi itu. Berapa banyak waktu dan tenaga yang diperlukan untuk melubangi batu sebesar ini?
Setelah melewati batu itu, ada satu kelokan terakhir yang mengarah langsung ke atas bukit.
Tepat di kelokan itu pula terdapat dua kolam di dua sisi. Kolam-kolam itu airnya tetap mengalir dan diisi teratai serta ikan berwarna jingga.
Mereka naik lagi.
Mata Mantingan tak bisa berkedip untuk beberapa saat ketika melihat rumah Satya. Rumah itu adalah rumah kayu yang dilapisi cairan khusus hingga tampak mengilap. Serta mempunyai dua tingkat dan satu balkon di segala sisi pada tingkat kedua. Banyak jendela lebar dan menghadap ke segala arah. Udara di atas sini juga sejuk dan memungkinkan rumah kayu itu menjadi rumah idaman.
“Inilah rumah manisku, rumah idamanku.” Satya merentangkan tangannya dan menghirup napas dalam-dalam. “Jangan malu-malu untuk masuk ke dalam, Mantingan.”
Mantingan mengikuti Satya yang masuk ke dalam rumah. Di dalamnya sama indah dengan di luarnya, banyak tergantung wayang kulit di langit-langit dinding. Sayangnya, sepertinya ia tak bisa berlama-lama di sini, masih ada tugas dan janji yang diembannya. Kembangmas harus ditemukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
iya
2024-11-28
0
Agam Khadziq
ijeh bingung pie alur ceritanya, ini yg jd tokoh utama masih di bikin pekok sama penulis
2023-08-01
1
Mbah Wiro
lanjut terus👍👍👍
2022-11-07
1