Mantingan menepuk punggung kawan barunya itu dan menggeleng sedih. Sorot matanya seolah berkata bahwa dirinya turut menyesali hal itu. Satya memejamkan mata sejenak dan mengangguk sekali. “Sejak saat itu aku bersumpah untuk tidak membunuh manusia lagi.”
“Tak perlu membunuh, Satya. Kita bisa memasang lebih banyak jebakan yang tak mematikan, tetapi yang hanya bisa untuk melumpuhkan musuh. Apakah kaupunya?”
Satya menganggukkan kepalanya sekali lagi. “Daku memilikinya, jebakan ini biasanya kupakai untuk hewan saja. Siapa sangka akan dipakai untuk manusia.” Lalu dia tertawa, seakan telah melupakan bahwa dirinya telah membentak keras tadi itu. “Asalkan mereka tak masuk, maka sekiranya kita aman-aman saja.”
“Dan jika mereka berhasil masuk, maka yang mereka masuki adalah pestamu.” Mantingan balas tertawa, tetapi raut wajah Satya terlihat lebih bersungguh-sungguh saat ucapan itu selesai dilepaskan.
“Mantingan, apa yang baru saja kaukatakan?”
Sontak Mantingan menghentikan tawanya, takut ucapannya tadi malah menyinggung Satya. Cepat-cepat Mantingan menjawab dengan sejujur-jujurnya, “Daku berkata, kalau saja mereka masuk maka mereka justru masuk ke dalam pesta yang akan kita gelar. Maafkan aku, tapi aku tak bersungguh-sungguh mengatakan itu tadi.”
“Tapi dikau malah memberikan usulan yang luar biasa, Mantingan! Dengar ....”
Mantingan mendekat sedikit kepada Satya. Ia mendengarkan usulan dari Satya yang dijelaskan dengan bisikan kecil. Mantingan mengangguk setelah paham. Pesta akan diganti menjadi perjamuan, untuk para tamu yang ditawarkan perdamaian dalam selimut siasat terselubung.
“Mari kita siapkan perjamuannya.” Satya menepuk tangannya sekali. “Apakah kau bisa memasak, Mantingan?”
Mantingan mengangguk sambil. tertawa. Ia memiliki beberapa keahlian memasak, dan mungkin inilah satu-satunya keahlian yang dimiliki Mantingan. Dahulu, ia pernah menggegerkan satu desa berkat masakannya yang lezat hingga membuat kepala desa tak henti makan masakan Mantingan. Tetapi Mantingan dituduh memakai bahan-bahan dari ilmu gelap untuk membuat masakan seenak itu, hingga akhirnya Mantingan dicela habis-habisan dan gerak-geriknya diawasi sejak saat itu.
“Daku bisa melakukannya, Satya. Mungkin tak seberapa lezat, tapi cukup untuk membuat tamu-tamu kita berpikir tenang dalam menerima tawaran damai. Silakan engkau memasang jebakan-jebakan, lakukan dengan cepat sebelum sepasukan dari mereka menyerang.”
“Aku mengandalkanmu, Kawan.” Satya menepuk bahu Mantingan sebelum berlalu.
Mantingan tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Barang-barang belanjaan dari Satya yang berisi bahan masakan itu lekas-lekas diolah olehnya. Ada sebuah dapur di salah satu ruang lantai bawah yang cukup luas. Mantingan masak di sana dengan cekatan dan cepat, seakan ia telah terbiasa melakukan hal ini.
Sementara itu udara semakin dingin dan langit benar-benar gelap. Obor-obor di sudut ruangan masih menerangi rumah Satya itu. Beberapa kunang-kunang terbang melewati jendela dapur hingga mencipta keindahan untuk Mantingan. Pemuda itu tersenyum tipis.
Banyak masakan yang telah usai dimasak dan siap disantap. Terdapat satu meja panjang di dapur, Mantingan memutuskan untuk memindahkannya ke ruang tengah dan menata makanan-makan di atasnya.
Tak berselang lama, Satya kembali setelah selesai memasang banyak jebakan di hutan bagian timur. Satya bertanya apakah semua makanan sudah siap, dia juga memastikan bahwa Mantingan tidak berniat jahat dengan memasukkan racun ke dalamnya, yang hanya dibalas degan gelak tawa.
Setelah semua makanan tersaji di atas meja dan Mantingan telah meninggalkan dapur, seekor rusa datang meringik dengan kaki depan terangkat. Tingkahnya itu seperti kuda marah hendak bertempur, tetapi Satya tahu betul bahwa rusanya itu datang memberi peringatan. Bahwa musuh telah datang.
Lalu katanya pada Mantingan, “Musuh baru menduduki daerah sungai tanpa satupun berani masuk.”
“Mari ke sana dan sambut mereka.” Mantingan menatap mantap ke arah pintu keluar.
“Mari.” Dibalas Satya dengan anggukan mantap pula.
Maka saat itulah berjalan dua pemuda yang membawa obor menembus belantara. Mereka tak membawa senjata apa pun, bahkan Mantingan sengaja meninggalkan tongkatnya walau tongkat itu tak bisa jadi senjata membahayakan.
Setelah melewati barisan pepohonan yang rapi, Mantingan melihat semak-semak belukar tinggi yang penuh dengan kunang-kunang. Sebuah jalan setapak mengarah masuk ke dalam semak belukar itu. Satya maju terlebih dahulu, lalu disusul Mantingan yang berada dalam jarak aman dengan Satya.
Walau hanya mengandalkan cahaya obor dan sesekali cahaya dari kunang-kunang, Satya tidak kehilangan ingatannya untuk mengambil jalan yang benar. Persimpangan-persimpangan itu dengan mudah dilaluinya, sampailah keduanya di tepian sungai yang sekarang terang benderang oleh lampu obor.
Banyak perahu-perahu yang tertambat di tepi sungai, bahkan mulai memenuhi bagian tengah sungai. Semua perahu itu dilengkapi obor-obor yang sinarnya terang benderang. Mereka menjadikan sungai yang biasanya sepi itu menjadi mirip pasar terapung.
Mantingan dan Satya tampak tak gentar berdiri tegak di tepian sungai walau dipandang bengis dari puluhan pendekar-pendekar bersenjata.
“Selamat datang di rumahku!” Satya berkata dengan suara menggetarkan udara, tapi dalam nadanya terkandung keramah-tamahan. “Jikalau sudi, masuklah ke rumahku satu atau dua orang sebagai perwakilan untuk membicarakan semua kesalahpahaman ini baik-baik. Kami telah menyiapkan perjamuan kecil-kecilan untuk menyambut tamu-tamu kami dari Perguruan Tombak Api.”
Seorang pria tua dengan kelewang disandang di pinggang melompat dari perahu ke daratan. Lompatan itu ringan sekali, hampir-hampir tak menciptakan jejak di tanah yang dipijak oleh pria tua tersebut. Ia menghadap tubuhnya kepada Satya dan Mantingan lalu berkata ramah, “Terima kasih atas sambutannya, tapi aku berharap tidak ada lagi sandiwara. Kami di sini bermaksud untuk memusnahkan kalian berdua.”
“Aku harap kau tidak tergesa-gesa, Ki." Nada bicara Satya lebih tajam lagi, Mantingan bisa merasakan bahwa suara yang dikeluarkan Satya mengandung tenaga dalam, terbukti dari gendang telinganya yang berdengung pelan. “Permasalahan ini butuh dibicarakan dengan kepala dingin serta dengan menjunjung tinggi nilai perdamaian.”
“Bagi kami, tak ada yang perlu dibicarakan.” Salah pemuda menyahut tajam. “Pendekar golongan hitam berbicara tentang perdamaian? Bukankah kalian yang mengacaukan kedamaian yang telah kami ciptakan?”
Satya menatap pemuda itu dengan senyum lebar, sebelum beberapa saat kemudian pemuda dari Perguruan Tombak Emas itu membungkuk dan muntah darah ke sungai. Bahkan ia hampir-hampir jatuh ke sungai jika saja tak dipegangi rekannya.
Mantingan tentu terkejut dengan kemampuan Satya yang mampu membuat lawan muntah darah tanpa menyentuh itu, tetapi ia tak tahu kekuatan apakah yang membuat Satya dapat melakukan hal itu.
Serangan tak terlihat yang ditunjukkan Satya cukup membuat orangtua di tepi sungai itu berpikir sekali lagi untuk menyerang langsung keduanya di tepi sungai itu. Ia bisa melihat bahwa Satya memiliki kemampuan kuat, tetapi dari Mantingan ia tak melihat sesuatu yang istimewa darinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjut lagi
2024-11-28
0
Matt Razak
Mantap
2023-12-02
0
Mbah Wiro
🥰🥰🥰
2022-11-07
1