Jaya menggelengkan kepalanya seraya berdecak kagum. Belum pernah ia melihat kain yang demikian menakjubkan seperti itu. Dingin di siang hari dan hangat di malam hari, kain macam apa itu? Bahkan Kenanga mengatakan bahwa di dalamnya masih ada beberapa baju dan makanan, yang semuanya dikemas rapat. Jaya sangat berterimakasih dengan semua perlengkapan ini. Hasrat berpetualangnya itu meninggi seketika.
“Aku tidak memberimu senjata, Kangmas. Kau akan berjalan dengan kedamaian, dalam kedamaian, dan membawa kedamaian. Kalau sampai Kangmas berkelahi, maka kembalilah ke sini untuk menerima hukuman.”
Jaya malah tertawa. Bagaimana tidak tertawa? Kenanga yang tampangnya gadis lemah lembut dan cantik itu berusaha menjadi tegas seperti seorang pimpinan pasukan. Kenanga malah terlihat lucu dengan sikap itu.
“Mengapa Kangmas tertawa? Apa aku kurang tegas memarahimu?”
Jaya tertawa lebih keras, Kenanga ikut tertawa dengan itu. Setelah salah satunya berhenti dan yang satu pula, keduanya bertatapan.
“Aku harus pergi sekarang.”
“Sebagai hadiah perpisahan, Kangmas bisa mengambil apa pun dariku.”
“Ini saja sudah cukup untuk perbekalan.” Jaya menunjuk bundelan dan empat pundi-pundi itu.
“Aku tak membahas soal perbekalan. Kangmas bebas mengambil apa pun dariku.”
Jaya memincingkan mata. Berusaha mencari sesuatu dari tatapan berani Kenanga. Setelah menemukannya, ia lekas berdiri, berbalik, lalu berdeham kecil.
“Aku tak mau.”
“Yakin?”
“Ya. Sekarang aku akan pergi.” Jaya mengambil bundelam dan mengalungkannya di punggung, lalu empat pundi-pundi itu diikatkan di pinggang dengan cepat. “Ya, aku yakin."
“Kangmas, lihat aku.”
Jaya menggeleng, tidak mau menatap sedikitpun tubuh Kenanga apalagi wajahnya. Ia takut berubah pikiran, yang lalu membuat Kenanga kehilangan kehormatannya. Bahkan Jaya mulai berjalan ke arah pintu saat seluruh perlengkapan telah terpasang.
“Kangmas, berhenti!”
Jaya menghela napas panjang, mau tidak mau berhenti juga.
“Berbalik dan tatap mataku!”
Jaya berbalik, agak enggan tapi tetap menatap wajah cantik Kenanga.
“Mengapa tak mau?”
“Aku bukanlah orang yang seperti itu, Kenanga. Aku tahu kau jarang bertemu pria, tapi janganlah seperti ini ....”
“Benar itu alasanmu?”
“Benar.”
“Apa kau berubah pikiran? Bagaimana jika kutawarkan sekali lagi?”
“Berapa kali pun kautawarkan, aku tetap tidak mau, Kenanga. Cari yang lain saja.”
Kenanga mengangguk sekali. Tiba-tiba tersenyum lebar. Wajahnya menunjukkan kebijaksanaan.
“Kangmas berhasil melalui ujian terakhir dariku.” Kenanga menepuk tangannya sekali. “Jika saja Kangmas menerima tawaran itu, maka nyawa Kangmas akan berakhir di tempat ini.”
Mantingan mengembuskan napas panjang, sadar bahwa dirinya baru saja berhadapan dengan maut. “Kau sungguh-sungguh akan membunuhku?”
“Ya, untuk apa meminta bantuan pada orang yang tidak baik? Kangmas adalah orang baik, aku tak akan membunuh Kangmas.” Kenanga tertawa pelan. “Tapi aku tetap tidak suka saat Kangmas berkata, ‘Cari yang lain saja’.”
Jaya tertawa kecil di kemudian. “Aku menyelamatkan diriku sendiri.”
Kenanga menimpali dengan tawa. Setelah terdiam, mereka kembali saling bertatapan. Sekali lagi.
“Aku harus pergi.”
“Kau sudah mengatakannya tadi.” Kenanga tersenyum. “Mari aku antarkan.”
Jaya dan Kenanga keluar dari rumah. Menuju halaman.
Saat itu angin sedang bertiup kencang-kencangnya. Daun-daun merah berterbangan, satu-dua hinggap atau menabrak tubuh kedua muda-mudi itu. Baju keduanya berkibar selayaknya bendera yang terpanjang pada tiang. Suasana perpisahan yang sungguh tak akan dilupakan Jaya.
Mereka sampai juga pada pohon melengkung yang bagai pintu itu. Kenanga menghadap ke Jaya dan memegang dua tangannya. Menatap wajahnya. Sambil senyum sedih ia mengatakan, “Kembalilah apa pun yang terjadi. Dan jangan mati sebelum kembali ke sini, Kangmas.”
“Aku ingin saat aku kembali nanti, kau berhenti memanggilku Kangmas, Nyai.” Jaya tersenyum.
“Sekarang pun bisa." Kenanga tersenyum. "Mulai saat ini, namamu adalah Mantingan. Selama kau masih dibanting, maka namamu adalah Mantingan. Namun saat kamu kembali membawa keberhasilan, namamu akan berubah menjadi Jaya.”
“Aku suka nama bagus itu.” Jaya mengangguk pelan. “Dan namamu akan kuubah menjadi Kenangan selama aku merindukanmu di dunia luar.”
“Jangan membuat suasana jadi sedih.” Kenanga menunduk, menyembunyikan air matanya.
“Kau menangis?”
“Angin-angin meniupkan debu ke mataku, aku jadi menangis.” Tapi Kenanga malah terisak-isak, jelas bukan karena debu. Kini ia mengangkat wajahnya. “Aku akan merindukanmu.”
“Aku juga.” Jaya yang entah dorongan dari mana, memeluk Kenanga lembut. Kenanga membalas. Tangan Mantingan bergerak mengusap rambut gadis malang itu. “Aku pasti akan kembali walau dalam keadaan yang kacau.”
Setelah itu Jaya melepas pelukannya. Mengangguk mantap, lalu berjalan mengolongi pohon yang melengkung itu. Tubuhnya menghilang dari pandangan Kenanga, membuat gadis itu bersimpuh dan menangis sejadi-jadinya.
***
Mantingan merasakan hawa yang berbeda. Begitu juga hutan yang ia lihat. Kali ini pohon-pohon berwarna hijau, dan ia berada di ketinggian. Kembalilah ia ke tempat semula sebelum bertemu Kenanga. Seandainya bukan karena pakaian dan perbekalan yang diberikan Kenanga, Mantingan akan merasa bahwa semua yang terjadi barusan itu adalah mimpi belaka.
Pertama-tama, Mantingan berpikir dirinya harus mencari tahu tentang legenda Kembangmas lebih jauh lagi. Mungkin ia bisa menemukannya di kota. Dengan pakaian yang masih rapi dan mirip seorang terpelajar, maka tak akan sulit menggali kabar itu seharusnya.
Mantingan tak berlama-lama lagi, ia teringat janjinya. Maka turunlah ia perlahan ke kaki bukit. Beban di buntelan itu baru sedikit terasa sekarang. Setelah turun dari bukit, Mantingan berjalan menuju kota. Tak butuh waktu lama untuk ke kota itu, hanya setengah hari perjalanan kaki.
Dari bukit ini, ada jalan setapak di kaki bukit yang akan mengarah pada jalan utama menuju kota. Jalan setapak ini jarang dijamah orang, terbukti dari rumput-rumput yang meninggi dan reranting yang menutupi sebagian jalan. Kaki Mantingan yang sudah terbiasa terkena tanah itu hampir tak merasakan gatal oleh rerumputan, kakinya juga sanggup mendobrak reranting tanpa lecet sedikitpun.
Saat matahari berada tepat di ufuk tengah, Mantingan memasuki jalan utama menuju kota. Di sana ia tak terlindungi pohon dari sinar mentari, sehingga panas menyengat benar-benar membakar kulitnya. Tapi ia tak takut hitam, biarlah hitam asalkan jadi lelaki sejati.
Sebuah kereta kuda melaju tak jauh di belakang menuju Mantingan. Pemuda itu berhenti dan memberi isyarat untuk menumpang. Disebabkan pakaiannya yang bagus itu, Mantingan dengan mudah mendapatkan tumpangan.
“Sudilah Raden masuk ke kereta kuda bobrok ini.” Seorang pria paruh baya membuka kereta kuda kayu itu dan dengan muka ramah menunjuk ruang dalam keretanya dengan jempol.
Mantingan hampir saja tersedak karena dipanggil dengan sebutan “Raden”. Pakaian benar-benar mengubah pandangan kedudukan pada seseorang. Meskipun dipanggil begitu dan sangat dihormati, sikap Mantingan tak lantas menjadi sombong.
___
catatan:
Jangan lupa bintang lima dan follow penulis WestReversed, selamat membaca chapter selanjutnya. Siapkan alas kaki dan isi bundelanmu, kita akan berpetualang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lagi
2024-11-28
0
Matt Razak
Mantap 👍
2023-12-02
0
Sugiono.S.T
duh so sweet perpisahan,, Tapi..
2022-12-17
2