Sebelum Mantingan berhasil membangkitkan diri, sudah terlebih dahulu didengarnya dentang logam dan ringkik panjang dari kuda. Tetapi ia memaksakan diri untuk tetap bangkit. Akibat jantung dan pikirannya yang tengah tegang itu, Mantingan tak sempat merasakan rasa sakit meski tubuhnya telah terjatuh dan terguling di atas batu-batu tajam.
Lekas ia berlari ke arah Paman Rangga yang tengah berhadapan dengan dua orang berbaju serba hitam. Terdengar juga bentakan demi bentakan yang berasal dari kedua pihak dalam beradu silat itu. Laju Mantingan terlalu lambat, buntelan besar sungguh menghambatnya. Paman Rangga sudah terdesak sampai masuk ke dalam hutan dengan dikejar empat orang lagi.
Mantingan berpikiran bahwa tak baik ia mengejar Paman Rangga. Selain dirinya tidak memiliki ilmu silat—bahkan tak pernah minat belajar silat, akan sangat berbahaya jika dirinya tak lekas-lekas meninggalkan daerah ini.
Di waktu ini, Mantingan tidak peduli akan keselamatan Paman Rangga. Perjalanannya masih sangat panjang. Tak bisa berhenti di tempat ini dan di hari pertamanya. Kembangmas harus tetap ditemukan!
Mantingan lari sekuat tenaga bagai dikejar hantu ke arah persimpangan. Sambil itu ia berdoa banyak-banyak agar keberadaannya tidak diketahui. Jikapun diketahui, maka janganlah dikejar. Jika dikejar, maka janganlah tertangkap.
Keringat dan matahari tak dipedulikannya. Batu-batu besar asal dilompati. Jantungnya berpacu seiring langkah kakinya yang berusaha membawa tubuh itu pergi sejauh-jauhnya. Namun Mantingan terjatuh dan terguling-guling lagi ketika dahan kayu terbang menabrak dua kakinya. Ia meringis pelan, lengannya robek cukup lebar. Darah bercucuran. Mantingan berusaha bangkit dan berlari lagi, tapi ia tak sadarkan diri setelah kepalanya dibenturkan oleh sesuatu yang kerasnya tiada terkira.
***
Setelah meraih kesadaran dan membuka matanya, Mantingan meronta kuat dan berteriak panjang. Usahanya sia-sia sebab tangan dan kakinya terikat pada sebuah tiang besar, mulutnya juga tersumpal, suaranya sama sekali tidak keluar. Saat melihat ke sekeliling dengan jantung yang masih saja berpacu, ia menemukan Paman Rangga dalam keadaan yang sama.
Hari telah petang, Mantingan berada di tengah tanah lapang yang di sekelilingnya terdapat gubuk-gubuk. Dikelilingi beraneka ragam jemuran, entah itu pakaian, daging asap, kulit hewan, atau kulit tetumbuhan. Api unggun terletak tak jauh di depannya, dengan orang-orang berbaju serba hitam yang tengah makan sambil bercakap-cakap dan tertawa. Mantingan pura-pura tak sadarkan diri lagi dan mendengar percakapan mereka.
“Kita akan akan dapat bunga raya-bunga raya tercantik dan makanan setingkat bangsawan, hidup kita akan senang-senang terus!”
“Ya, tapi kita harus melibas orang dari pemerintahan yang satu ini.”
“Sudah kukatakan sebelumnya, goblok! Penawanan dan penawaran. Kita tawan dia, dan kita ajukan penawaran untuk pejabat-pejabat di Sunda.”
“Kau yang goblok! Kita bisa mati semua kalau sampai-sampai mereka menyerang dengan laskar khusus!”
“Taruhan yang kita pasang kali ini memanglah besar dan berat. Tetapi hasilnya juga bukan main-main. Bangsawan ini akan kita bunuh jika mereka berani maju sejengkal saja.”
“Saranmu bagus, tapi aku tak mau mati hari ini atau esok. Aku masih belum mempelajari silat kependekaran yang setiap ilmunya menggunakan tenaga dalam.”
“Kalau seandainya kita berhasil, maka kita akan mendapatkan cukup uang dan cukup nama untuk belajar silat tenaga dalam. Bila ada yang ragu barang secuil saja, lebih baik mati saja hari ini ketimbang merepotkan besok kemudian.”
“Cakap kosong engkau Wicaksana! Lebih baik esok kaubuktikan saja cakapmu itu!”
“Esok pagi buta akan kubuktikan. Kalau sampai saja diriku berhasil, akan kupotong satu jarimu!”
“Aku bertaruh dengan dua jariku, Wicaksana!”
Percakapan yang selanjutnya hanya membahas soal wanita dan uang semata, Mantingan tak mau mendengarkan lagi. Penawanan atas dirinya yang dikira seorang bangsawan itu telah membuatnya takut setengah mati. Semakin rapat pula ia menutup matanya.
“Bangsat kalian ....” Terdengar suara geraman dari Paman Rangga di sampingnya. “Akan kupotong leher kalian semua ....”
Geraman itu terdengar oleh orang-orang berbaju hitam, yang malah memunculkan gelak tawa panjang keras tak bernada.
“Memangnya kau bisa apa dengan tangan dan kaki terikat itu, hah?” bentak salah seorang dari mereka.
Namun, mereka tak dapat menyadari bahwa mulut Paman Rangga yang semulanya tersumpal itu bisa mengeluarkan suara begitu jelasnya. Mantingan melirik ke arahnya, yang ternyata tangan dan kaki Paman Rangga telah terlepas dari ikatan. Orang-orang berbaju hitam itu berseru kaget. Mantingan kembali menutup matanya. Sebentar kemudian, terdengar desing senjata ditarik.
“Bagaimana bisa kau terlepas?”
“Lebih baik bicara lewat tangan, bajingan!” Paman Rangga membentak.
Sungguh Mantingan tak mau membuka matanya. Ia hanya memantau melalui pendengarannya sahaja.
Suara sawut-sawutan terdengar dari pedang yang membelah angin. Terdengar Paman Rangga melolong panjang satu kali sebelum tak terdengar suara pertarungan lagi. Mantingan memberanikan diri melirik ke depan, hanya untuk menemukan leher Paman Rangga yang tertancap batang tombak.
“Nah, sudah bangun rupanya kau, kerbau.” Perkataan dingin itu disusul gelak tawa yang lainnya.
Tertangkap basah dalam upaya melirik, Mantingan mengangkat kepala dan membuka penuh matanya. Ditatapnya mereka penuh kebencian. Kemarahan merasuki dirinya setelah melihat kematian Paman Rangga—yang telah menolongnya—yang mengenaskan dan menyakitkan.
“Bagus-bagus, aku suka melihat tatapanmu itu. Aku akan lebih suka jika kau melihat ini juga.” Pria tersenyum licik.
Kaki Paman Rangga yang telah terbujur kaku itu ditarik dan tubuh tua itu dilempar ke api unggun besar. Bukannya padam, api unggun itu malah semakin besar dan melahap-lahap tubuh Paman Rangga.
“Kematianmu akan lebih menyakitkan esok hari jika kawan-kawanmu tak menghiraukan penawaran kami.”
Salah seorang dari mereka mendekat membawa pentungan ke arah Mantingan.
***
Saat udara luar mendingin dan sayup-sayup terdengar kicauan burung, Mantingan kembali tersadar. Tubuhnya masih terikat pada tiang besar itu, berusaha bertahan dari dinginnya udara pagi buta. Haus dan kelaparan.
Orang-orang berpakaian serba hitam terlihat tengah menyiapkan senjata mereka masing-masing di sekitarnya. Ikatan Mantingan dilepas. Sebelum ia sempat memberontak, tangannya sudah terikat lagi. Bahkan kali ini matanya ditutupi pula. Tubuhnya diseret dengan bentak-bentakan kasar. Dalam keadaan seperti itu, Mantingan hanya bisa pasrah pada takdir. Di perjalanan yang gelap gulita itu juga Mantingan teringat akan Kenanga yang akan menantinya tanpa mengetahui dirinya telah mati nantinya.
Keputusannya untuk pergi ke Bumi Sagandu adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya saat ini.
Dalam perjalanan, Mantingan sering tersandung bebatuan, beberapa bahkan sampai terjatuh. Dengan matanya yang tertutup, ia hanya bisa mengandalkan tuntunan kasar dari perampok-perampok berbaju hitam itu. Hanya satu nama dari perampok itu yang akan ia ingat selalu: Wicaksana.
Perlahan sinar mentari hangat mulai menyentuh kulitnya. Haus dan laparnya sedikit dilupakan Mantingan. Pikirannya tertuju untuk menikmati sentuhan matahari pagi itu. Mungkin inilah hari terakhirnya merasakan hangat sinar mentari pagi. Betapa seorang Mantingan menemukan makna betapa berharganya sinar mentari pagi.
Dalam benaknya, ia berharap. Semoga saja Kenanga memilih orang lain untuk meneruskan kisah pencarian Kembangmas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjutkan lagi
2024-11-28
0
Matt Razak
Mantap 👍
2023-12-02
0
Dirman6987
mao
2022-12-08
1