Kenanga menoleh pada Jaya lalu tersenyum.
“Kangmas terlihat jauh lebih baik selepas mandi. Sekarang mari duduk dan makan bersamaku. Kali ini waktu tersisa banyak, jadi Kangmas Jaya bisa makan dengan tenang dan pelan-pelan saja.”
Jaya memandangi meja yang penuh makanan itu lalu beralih pada Kenanga. “Kenanga, aku tak tahu bagaimana berterimakasih padamu atas semua yang kauberikan ini.”
“Justru inilah, caraku berterimakasih karena Kangmas mau menolongku. Ayo duduk dan makan.”
Jaya menurut duduk berhadapan dengan Kenanga. Ia mengambil kentang dan sedikit sayur. Jika dilihat dari keseluruhan makanan yang ada di piring Jaya, maka makanan yang diambil olehnya amat sedikit. Pemuda itu punya rasa malu dan tak ingin makan terlalu banyak kali ini—walau ia jarang makan sekalipun. Kenanga bertindak, ia duduk di samping Jaya dan menaruh banyak makanan di piring Jaya.
“Kangmas makan seperti bayi saja. Makanlah lebih banyak lagi, semua makanan ini dibuat untuk Kangmas. Aku di sini hanya untuk menemani saja, jadi janganlah Kangmas sungkan padaku.” Kenanga berkata sedang tangannya masih sibuk mengurusi tambahan makanan untuk Jaya.
Jaya tak menolak, atau lebih tepatnya ia tidak bisa menolak. Pandangannya tanpa sengaja terhenti di wajah Kenanga yang masih sibuk itu. Diam-diam Jaya memandangi dalam-dalam. Betapa lembut, bersih, cantik wajahnya. Sayang sekali jika gadis secantiknya malah terkurung di tempat ini. Kenanga bisa mendapatkan masa depan cerah jika di dunia luar sana. Gadis itu mungkin bisa memikat seorang saudagar atau bahkan pejabat pemerintahan. Tekad Jaya semakin kuat, Kenanga harus mendapatkan haknya sebagai seorang manusia merdeka.
“Kenapa Kangmas menatap wajahku? Apa ada yang salah?”
Terang saja Jaya tertangkap basah. Dan terang juga Jaya menjawab dengan gagap. Kenanga cukup peka hingga ia tak menuntut balasan lagi, sebaliknya ia mengalihkan pembicaraan. “Apa yang akan Kangmas lakukan setelah berhasil menemukan Kembangmas?”
Jaya menghentikan suapannya dan menelan makanan yang ada di dalam mulut. “Maaf, Kenanga, jika aku harus mengatakan ini. Aku tak tahu apakah aku akan berhasil menemukan Kembangmas nantinya. Jadi, aku masih belum memiliki rencana setelah itu."
“Itu tak mengapa, jangan terlalu dipaksakan juga.” Kenanga tersenyum. “Tapi ingatlah, Kangmas. Walau kau gagal, tetap kembali berkunjung ke sini.”
Jaya menatap lurus ke arah bola mata Kenanga. Bagaimana bisa ia kembali ke sini hanya untuk membawa kabar kegagalan? Apa Kenanga tak akan sangat bersedih nantinya?
“Aku tidak bisa berjanji. Jika aku tak kembali, anggaplah aku sudah mati dan tak akan pernah kembali.”
Dahi Kenanga mengerut. “Mengapa begitu?”
“Hanya kematian dari-Nya saja yang sanggup menghentikanku.”
“Aku sudah bilang, jangan dipaksakan sampai Kangmas berkata seperti ini. Itu sama saja menantang maut.”
“Aku harus mempertaruhkan nyawa dan menantang maut demi keberhasilan ini, Kenanga.”
“Tidak. Kau tak perlu, Kangmas. Jangan sampai mati. Kalau Kangmas memaksakan sampai mati, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.”
“Perlu.”
“TIDAK!” Kenanga hampir lepas kendali. “Memangnya apa artinya diriku bagimu? Seberapa berharga diriku untukmu? Mengapa Kangmas rela mati hanya untukku?”
Jaya lama terdiam. Bukan karena tak memiliki jawaban, tapi sebab bentakan Kenanga yang begitu mengobrak-abrik pikirannya.
“Jangan sampai kau mati karenaku, Jaya. Jika menemukan Kembangmas dapat membuatmu mati, maka hentikan.”
“Lalu bagaimana denganmu sendiri?” Jaya menjawab juga. “Berapa kali kau ingin bunuh diri? Di telaga kutemukan bermacam-macam benda tajam dan tali melingkar. Berapa banyak cara bunuh diri yang ingin kaucoba? Bukankah itu sama saja mempertaruhkan nyawa? Aku tahu, kesepian adalah pembunuh paling kejam dan gila. Aku tak mempermasalahkan percobaan bunuh diri itu selagi kau tetap hidup di sini. Tapi itu artinya kau sudah mempertaruhkan nyawa.”
Kenanga melebarkan mata. Ia merasa telah menyembunyikan semua itu, lalu bagaimana Jaya bisa tahu?
“Harapanmu adalah harapanku juga. Keadaanmu adalah keadaanku juga, Kenanga. Jika kau mempertaruhkan hidup untuk melawan kesepian, maka aku juga akan mempertaruhkan hidup. Kalau mimpimu tak menjadi nyata dan kau mati ditikam kesepian, maka aku akan mati juga sebagai pria paling gagal sejagat!”
“Tapi kau tak harus mempertaruhkan nyawa, ya?”
“Aku akan tetap berjuang hidup atau mati. Bukan demi dirimu, tapi demi KITA.”
Janji yang begitu mudah diucapkan seolah apa yang dihadapinya esok hari akan semudah melompati batang pohon.
Kenanga kembali merasakan hangat di dadanya.
Selesai mereka makan, Jaya tanpa berlama-lama langsung berdiri.
Ia pergi ke sudut ruangan di mana diletakkannya bundelan berisi perlengkapannya. Kenanga bangkit sebelum Jaya mengambil bundelan dekil itu.
“Kangmas, aku sudah menyiapkan buntelan baru dan perbekalan di dalamnya. Harap Kangmas sudi memakainya.”
Jaya menoleh ke belakang dan menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum canggung. “Tentu saja, Kenanga. Terima kasih.”
Kenanga berlutut di pojok ruangan yang lain. Jari-jarinya masuk ke sela-sela lantai papan kayu yang lebih besar di sana.
Lalu ia melakukan gerakan seperti menarik papan itu. Ajaibnya, papan itu terangkat dan nampaklah sedikit rongga persegi di dalamnya. Kenanga mengangkat dua papan lagi lalu mengeluarkan buntelan putih yang lebih bagus dan elok.
Kain buntelan itu tampak bersinar keperakan jika terpantul sinar mentari. Menyamarkan diri di lingkungannya.
Jelas itu bukan kain sutra, kain ini pastilah sangat berharga sebab Jaya belum melihat atau mengenalnya.
Jahitan di buntelan itu juga rapi dengan benang perak yang besar-besar. Tali yang digunakan untuk mengalungkan buntelan ke punggung itu dibuat pipih dan lembut dengan bulu-bulu tipis, sehingga nyaman mengenakannya.
Kenanga juga mengeluarkan empat kantung berukuran sedang. yang membentuk pundi-pundi. Kantung itu bisa terbuka jika dilonggarkan tali di ujung atasnya, atau menarik tali untuk menutupnya. Kenanga berkata bahwa pundi-pundi itu bisa diikatkan di pinggang.
“Kain-kain ini bisa mengembang lebih dari ukuran aslinya jika diisi muatan lebih. Kain ini juga bisa meniru warna di lingkungan sekitarnya, akan menjadi perak atau hijau ketika terkena mentari, dan menjadi kehitaman saat tak terkena mentari. Suhu di dalam kain-kain ini juga terjaga. Di dalam buntelan ini ada satu jubah dengan bahan yang sama, akan dingin saat siang hari dan hangat ketika malam datang.”
___
catatan:
Membaca sampai di sini? Klik tombol favorit sekarang!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjutkan
2024-11-28
0
Matt Razak
Mantap
2023-12-02
0
Mbah Wiro
udah daku klik tombol favorit nya thoor🤪🤪
2022-11-03
1