“Sampai jumpa, Mantingan. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu dan lain tempat.”
Setelah kejadian malam itu, yang menyebabkan terbunuhnya murid tertua serta tersesatnya tetua Perguruan Tombak Api, semuanya kembali seperti sedia kala. Tetua yang tersesat itu berhasil Satya temukan dan dibawa melalui jalur yang benar menuju tepi sungai di mana murid-muridnya masih setia menunggu. Mereka semua pergi berdasarkan perintah dari tetua yang masih teramat sangat ketakutan itu.
Kini di tepi timur Sungai Manuk, di pagi hari yang cerah, Mantingan dan Satya berdiri. Mantingan berencana untuk pergi ke Bumi Sagandu setelah menemukan jubahnya yang tertinggal sewaktu ia membongkar isi buntelannya di dekat Kuningan.
Malam tadi Mantingan menjerit keras saat menyadari bahwa jubah istimewa pemberian Kenanga itu tertinggal jauh dari tempatnya berada. Maka dengan keputusan bulat, Mantingan akan mengambilnya. Lagi pula itu berada di satu jalur menuju Kanoman. Dan juga hutan itu sepi, kemungkinannya teramat kecil jika ada seseorang yang menemukan dan mengambil jubah itu.
“Daku berharap sedemikian pula, Satya. Sekarang izinkanlah diriku pergi.”
Mantingan melangkahkan kakinya, sedangkan Satya tersenyum sekilas sebelum membawa rakitnya kembali ke seberang. Mantingan melangkah terus dengan menggenggam tongkat pengembaranya yang sebenarnyalah tidak terlalu berguna itu. Kicau burung masih merdu terdengar, bercampur dengan suara serangga lainnya.
***
Kurang dari setengah hari berjalan, Mantingan telah sampai ke tempat di mana ia meninggalkan jubahnya. Betul saja bahwa di hutan ini sangat jarang dikunjungi manusia sehingga jubah kelabu itu masih terlipat rapi dengan daun-daun kering yang menutupinya. Betapa bahagianya Mantingan saat itu, seolah menemukan kawan lawannya yang tertinggal di jalan.
Jubah itu lekas dipakai, sebab memanglah belum pernah ia memakainya. Nyatanya jubah itu jauh lebih panjang dari perkiraannya. Jubah tersebut hampir-hampir menyentuh mata kakinya, dari perkiraan yang hanya sampai sebatas lutut saja.
Benar perkataan Kenanga, bahwa jubah kelabu itu akan terasa sejuk ketika siang hari. Mantingan merasakan kesejukan bagaikan sedang berada di perbukitan tinggi dan berkabut, meski sebenarnyalah matahari sedang benar-benar tengah terik siang itu.
Setelah betul-betul memastikan bahwa tak ada yang tertinggal lagi, maka Mantingan melanjutkan perjalanan.
Pemuda itu sebenarnya ingin menghindari daerah Kuningan. Masih ada sedikit kekhawatiran akan bertemu dengan perampok-perampok atau prajurit keamanan kota. Tetapi ia membutuhkan sebuah peta untuk melanjutkan perjalanannya ke arah yang benar. Maka sama saja ia harus mampir ke Kuningan, di mana kota itu cukup besar dan ramai pengunjung sehingga sudah barang pasti menjual peta.
Satya telah membekali Mantingan dengan makanan dan sejumlah keping emas untuk meneruskan perjalanan. Mantingan sudah tentu menolaknya, tetapi Satya berkata bahwa pemberiannya itu adalah sebagai upah sebab telah membantunya berburu sarang semut. Mantingan jelas tahu bahwa itu lebih dari sekadar upah, melainkan pemberian sebagai seorang kawan. Dan sebagai kenang-kenangan, Mantingan akan menyimpan satu keping yang tidak akan pernah dibelanjakannya.
Tak butuh waktu lama, Mantingan tiba di depan pintu gapura Kota Kuningan. Disebabkan hari masihlah dapat disebut pagi hari, banyak orang yang berlalu-lalang di sekitar gapura. Entah untuk masuk atau keluar melalui gapura itu, semuanya memiliki urusannya masing-masing. Kecuali Mantingan yang masih tampak ragu untuk melangkah masuk, hanya bisa terpaku ditatap banyak orang yang berlalu-lalang. Sejenak ia menghela napas dan mengembuskannya kembali perlahan-lahan.
Mantingan melangkah masuk mengikuti arus orang-orang yang sejalan dengannya. Setelah memasuki kota, suasana menjadi sedikit ramai sebab begitu banyak obrolan masyarakat maupun teriakan pedagang yang dapat Mantingan dengar sebagian. Mereka akan selalu membicarakan apa yang sekiranya menarik untuk dibincangkan, termasuk Mantingan yang terlihat menarik dengan jubahnya itu.
Memang jika dibandingkan dengan orang-orang lain, Mantingan tampak yang paling mencolok. Sebagian pria di tempat itu hanya mengenakan kain yang dililitkan di pinggang untuk menutupi bawah tubuhnya membentuk cawat, sedangkan dadanya dibiarkan terbuka; tetapi ada beberapa yang mengenakan celana dan baju.
Sedangkan yang perempuan hampir sama dengan pakaian para pria, mereka hanya memakai kain selendang panjang yang menutupi pinggang sampai mata kakinya, sedangkan dadanya dibiarkan terbuka begitu saja. Sedang ada beberapa perempuan yang melilitkan kain di atas kepalanya agar dapat dijadikan tempat untuk membawa barang bawaan.
Dalam benaknya, Mantingan bertanya-tanya soal pakaian perempuan. Raja Punawarman telah menyarankan agar rakyat perempuannya mengenakan penutup di bagian dadanya sebab penyamun-penyamun mulai sering muncul di perkotaan, tetapi dari yang terlihat di Kota Kuningan hanya sebagian perempuan saja yang mengenakan selendang untuk menutupi dadanya.
Mantingan tak terlalu terkejut dengan semua pemandangan seperti ini, sebab dahulu-dahulu telah sering ia menjumpai pemandangan yang sama, bahkan lebih.
Mantingan memasuki daerah pasar yang riuhnya bukan main oleh teriakan tawar-menawar dari penjual maupun pembeli. Hampir semua orang berdesakan di sini, sehingga Mantingan harus keluar dari arus keramaian dan melewati celah-celah di belakang pertokoan untuk menemukan toko yang menjual peta.
Jubahnya mulai kotor oleh noda tanah berlumpur yang bercampur dengan aneka sayuran busuk. Bau busuk menyengat memenuhi hidungnya, Mantingan menghirup dalam-dalam aroma tersebut agar terbiasa nantinya.
Mantingan menemukan sebuah toko yang menjual kertas dan lontar, segera ia memasuki toko yang terlihat sepi tetapi teramat bersih itu. Di dalamnya terdapat pekerja-pekerja yang tengah membuat salinan kitab dengan cara mengukir aksara-aksara Pallawa di atas lembaran lontar, mereka tampak begitu berpusat pikiran pada tulisannya sehingga tidak mempedulikan kehadiran Mantingan.
Beberapa lemari berisi keropak-keropak lontar terlihat berjejer sangat rapat dan rapi, hingga untuk melewatinya harus menyampingkan tubuh terlebih dahulu. Mantingan terus menembus lautan lemari berisi keropak lontar itu sampai dirinya tiba di bagian paling dalam dari toko tersebut. Di sana terdapat sebuah meja penerimaan pelanggan, yang di belakangnya seorang pria tua sedang duduk dan menyapa Mantingan.
“Selamat datang, Anak Muda! Kitab semacam apakah yang hendak dikau cari?”
Mantingan yang sebenarnya terkejut sebab langsung dilempar pertanyaan itu segera menjawab, “Sahaya sedang mencari peta, Bapak. Apakah toko ini menjualnya?”
Orang tua itu mengangguk sekali. “Peta seperti apakah yang hendak dikau miliki, Anak Muda? Apakah yang hanya cakupan Tarumanagara saja, ataukah beserta kerajaan-kerajaan kecil lainnya di wilayah Javadvipa bagian barat?”
“Jika peta yang menjangkau sampai pada kerajaan-kerjaan kecil, berapakah harganya, Pak?” Mantingan memilih untuk bertanya harga terlebih dahulu meski belum melihat barangnya, tentu saja ia tidak ingin kembali jatuh miskin dengan tidak menghemat uangnya.
“Ah, tidak terlalu mahal sebenarnya, hanya saja peta itu hanya tersia satu di toko kami, sehingga sangat mungkin harganya menjadi naik.”
Dahi Mantingan mengernyit. “Apakah ada toko lain yang menjual peta di kota ini, Paman?”
“Tidak ada, Anak Muda. Toko kami adalah satu-satunya yang menjual lontar atau menyajikan jasa menyalin tulisan, juga hanya kami yang menjual peta di kota ini, kecuali jika dikau punya nyali meminta peta ke pasukan penjaga kota.”
“Berapakah harganya, Pak?” Mantingan akan menyerah jika ia harus pergi ke kota lain hanya untuk mendapatkan peta, lebih-lebih jika harus meminta peta pada pasukan penjaga kota yang sudah sangat mungkin bahwa dirinya akan dicurigai sebagai mata-mata.
“Satu keping emas saja, Anak Muda. Peta ini akan sedikit lebih besar ukurannya, tetapi tata letaknya sangat merinci, apakah dikau akan tetap membelinya atau tidak?”
Sebelumnya, Satya memberikan Mantingan dua puluh keping emas. Walau dua puluh keping emas sangatlah besar jumlahnya, tetapi ia masih amat sayang melepaskan satu keping emas hanya untuk sebuah peta. Melihat keraguannya, pak tua itu memberi penawaran lainnya.
“Jika dikau mau, maka ada jalan lain selain membeli peta. Dikau bisa menyewa seorang kusir atau pemandu jalan, biasanya mereka mangkal di pintu gerbang sebelah timur kota. Perjalanan dikau pasti akan lebih cepat dan nyaman, hanya saja harga yang mereka pasang jauh lebih mahal ketimbang sebuah peta.”
Mantingan menggeleng, ia berniat berjalan kaki, mungkin saja Kembangmas bisa ditemukan secara tak sengaja di antara semak belukar. Penyewaan kuda hanyalah untuk orang yang terburu-buru atau sekadar melancong, tujuan Mantingan berbeda daripada itu.
“Daku akan ambil peta itu, Bapak.” Mantingan mengeluarkan satu keping emas dari dalam kantung pundi-pundinya.
Pria tua itu menerima keping uang tersebut. “Baiklah, apa ada lagi yang ingin dikau beli di sini?”
Mantingan berpikir sebentar sebelum berkata dengan ragu-ragu, “Apakah Bapak memiliki tulisan yang menyangkut tentang keberadaan Kembangmas?”
Pak tua itu sebaliknya mengernyit. “Kami tak menjualnya, Anak. Dan atau lebih tepatnya, tak ada yang menulis dan menjual kisah dongeng anak-anak. Kembangmas hanya diceritakan oleh orangtua pada anak-anaknya, dan terus diceritakan hingga kisah itu masih bertahan sampai sekarang sehingga memang tidak perlu sampai dibuatkan menjadi kitab.”
“Dongeng?” Mantingan mengernyitkan dahi pula. “Tidakkah Kembangmas adalah adalah bunga yang pernah ada, hanya saja pada hari ini telah punah? Maksudku, meskipun sudah punah, pasti masih ada keterangan tentang Kembangmas.”
Pak tua itu menggeleng pelan. “Daku tidak tahu bagaimana cara dirimu berpikir. Namun harus daku katakan padamu, bahwa Kembangmas tidak pernah ada. Tak pernah punah, karena bunga itu memang tak pernah ada. Dan apa alasanmu mencari keterangan tentang Kembangmas? Apakah dikau belum pernah dengar kisah Kembangmas? Jika mau membayar sedikit, daku bisa menceritakannya.”
Mantingan menggeleng pelan, ia sudah pernah mendengar kisah Kembangmas dari ibunya meski ingatan itu telah menjadi samar-samar. “Daku sedang mencari Kembangmas, Bapak.”
Tak bisa dipungkiri bahwa pria tua di depannya itu tertawa keras. Tawaan yang seolah saja meledek Mantingan, tetapi sebenarnyalah pak tua itu hanya tertawa untuk sesuatu yang lucu.
“Daku akan ambilkan peta itu untuk dikau,” katanya setelah berhasil menghentikan tawanya. “Tapi daku harap dikau tidak terlalu bersungguh-sungguh mencari bunga khayalan itu.”
Tanpa menunggu jawaban lagi, pak tua itu berlalu. Mantingan masih tak bisa mencerna maksud dari tawaan pak tua tadi. Apakah itu bermaksud meledek dan menganggapnya terlalu lemah untuk mencari Kembangmas, ataukah memang benar bahwa dirinya bodoh sebab mencari bunga khayalan yang tidak pernah ada di muka bumi? Bagaimana jika ternyata Kenanga menipu dirinya untuk suatu alasan?
Tetapi Mantingan segera menyingkirkan pikiran buruk itu. Telah nyata baginya bahwa Kenanga bersungguh-sungguh. Jelas ia menemukan benda-benda tajam di pinggir telaga yang merupakan alat percobaan bunuh diri Kenanga. Dan jelas pula ia melihat dari sorot mata Kenanga, bahwa gadis itu sungguh kesepian dan berada di tepi jurang keputusasaan. Betapa tatapan gadis itu sangat menyayat hati saat dirinya melangkah pergi. Mantingan lihat semua itu. Ia tak akan berpaling dari janjinya. Ia tak akan berpaling dari Kenanga. Tidak akan. Mantingan yakin, Kembangmas akan ditemukan!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjutkan lagi
2024-11-28
0
Matt Razak
Mantap
2023-12-02
0
🥰Ani🥰
next Thor
2022-08-20
3