Entah sudah berapa lama Mantingan dibawa ke mana pula, ia merasakan suasana di sekitarnya berubah. Seperti berada di perkotaan, sebab Mantingan mendengar suara jeritan orang banyak yang ketakutan. Perampok-perampok ini dirasa telah memasuki daerah perkotaan dan menakuti penduduk di dalamnya. Pasukan kota pasti akan tiba beberapa saat lagi, Mantingan kembali berharap.
Langkahnya dihentikan tiba-tiba, lalu terdengar suara bentakan, “Kalian, para prajurit Bumi Sagandu, kami menyandera salah satu bangsawan berharga dari Sundapura. Jika kalian tak menyerahkan setidaknya lima ratus keping emas, maka kami akan memisahkan kepalanya dari batang leher! Namun, jika uang sudah di depan mata dan telah kami terima, maka kami lepaskan orang ini serta barang bawaannya.”
Lilitan yang menutupi mata Mantingan ditarik kasar sampai terlepas. Mata Mantingan mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya pada matanya. Lambat tapi pasti, Mantingan melihat lingkungan sekitarnya di mana ia berada pada sebuah tanah lapang yang di sekelilingnya mengepung para prajurit kota bersenjata tombak dan kelewang panjang. Dalam dua sisi, ia bisa tenang dan bisa pula tidak!
Mantingan dengar tadi, jika perkiraannya tak salah, maka ia berada di salah satu kota Bumi Sagandu. Alasan para perampok ini membawanya ke sini dirasa cukup jelas. Tidak mungkin mereka membawanya langsung ke Sundapura di mana mereka bisa langsung ditumpas bahkan hingga akar-akarnya. Tiada mungkin kotaraja memiliki tingkat keamanan rendah.
Pimpinan pasukan kota mengerutkan dahi serta terlihat berbisik dengan beberapa bawahannya. Sedangkan pimpinan kelompok rampok memperlihatkan barang bawaan Mantingan yang ikut ditawan.
“Dari mana kalian dapatkan dia?” Bertanya pimpinan pasukan setelah selesai berunding.
“Tak penting kalian tahu lengkapnya, tapi biar daku beritahu, kami mendapatkannya setelah mencegat kereta kencana bertoreh permata yang sedang menuju Sundapura.”
“Apa maksudmu? Sejak seminggu yang lalu, tak ada kereta kencana menuju Sundapura. Jika benar ada, kami pasti ditugaskan untuk mengawalnya. Apalagi yang membawa bangsawan penting seperti apa yang kaukatakan.”
“Jelas ini adalah bangsawan yang demikian pentingnya hingga perjalanannya dirahasiakan. Pakai otakmu, bodoh!"
“Keberangkatan yang dirahasiakan tak akan menggunakan kereta kencana yang sangat mencolok.”
Terdengar suara decak dari pimpinan perampok. Dirinya kemudian berbisik-bisik dengan bahasa kasar pada anak buahnya. Lama kemudian, dia kembali berkata, “Kalau begitu, kami akan pergi. Kalau saja kalian berani menyerang kami, maka kami bunuh orang ini saat itu juga!”
“Apa berhak kalian? Tugas kami adalah melindungi segenap warga Bumi Sagandu dari ancaman kejahatan, kami sangat berhak menghentikan dan atau menumpas sekalian semua! Pasukan! Tarik senjata!”
Suara kelewang ditarik dari kedua pihak terdengar begitu menyayat dan mengerikan di telinga Mantingan. Ia berada dalam ketakutan yang luar biasa saat suasana tengah tegang. Penawaran masih terus dilakukan pimpinan rampok, namun ditolak mentah-mentah oleh pihak pasukan Bumi Sagandu. Hingga terjadilah sebuah putusan dari pimpinan rampok.
“Kami akan membunuhnya jika kalian berani mendekat sedikit pun!” Sambil mengarahkan kelewang ke leher Mantingan, dia melanjutkan, “kami hanya ingin keluar, dan akan kami bebaskan orang ini jika sudah berada di luar kota, ini penawaran terakhir!”
Mantingan melirik kelewang yang terancungkan dekat lehernya itu. Wicaksana—sang pemegang pedang sekaligus pemimpin rampok—terlihat tak waspada dengan pandangan matanya yang tak terpusat pada pedangnya. Mantingan menarik napas dalam-dalam dan dengan keberanian tinggi ia berdiri cepat. Ia mengarahkan bilah kelewang masuk ke sela di antara dua tangannya. Bilah pedang yang baru diasah tadi pagi itu berhasil menyentuh dan memutuskan tali yang diikatkan pada tangan Mantingan. Sungguh langkah yang sedemikian cerdik!
Namun, kakinya masih terikat yang tali ikatnya tersambung dengan tangan salah satu perampok agar dirinya tak bisa kabur. Maka Mantingan merebut kelewang yang dipegang Wicaksana. Disabetkan cepat ke tali di kakinya sebelum yang lain sadar. Segera putuslah tali yang berada di kakinya.
Semuanya terjadi begitu cepat hingga Wicaksana sendiri tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Namun, yang begitu mengherankan mereka semua adalah mengapa Mantingan tak langsung membunuh Wicaksana setelah mendapatkan kelewang itu?
Tak ada waktu banyak untuk berpikir, kedua pihak bekerja secepat mungkin untuk memenangkan keadaan. Mantingan yang berhasil melepas diri itu tentu saja bisa dimanfaatkan pasukan kota untuk menyerang balik para perampok, sebab rampok-rampok itu tak lagi mempunyai tawanan. Sedang para rampok bertaruh dengan waktu untuk menangkap Mantingan secepat mungkin.
Mantingan berkelit sangat gesit saat banyak tangan yang hendak menangkapnya. Banyak anak panah yang mulai ditembakkan ke arah kelompok rampok tersebut, hingga akhirnya pasukan kota dapat menang dalam waktu yang teramat-sangat singkat.
Mantingan memapas barang-barangnya yang sebelumnya ditawan. Tak sempat ia memasang bundelan dan kantung pundi-pundi, maka dibawa lari menuju luar kota yang jalannya sudah jelas, meninggalkan tanah lapang yang masih terbilang kacau di belakangnya.
Tak banyak yang memperhatikan kepergian Mantingan, sebab para warga sudah mengunci diri di dalam rumah.
Ketika Mantingan sudah berada di luar gapura kota, ia berhenti sejenak sebelum berlari lagi menuju hutan yang pohon-pohon dan semak belukarnya rimbun di sana.
Namun setelah memasuki hutan pun dirinya tak berhenti lari. Sesekali ia menengok ke belakang untuk memastikan tak ada yang mengejarnya. Tekanan jiwa membuat kakinya terus bergerak. Ia baru berhenti saat tubuhnya tercebur di sebuah kubangan air yang besar.
Di situ pikirannya bisa kembali jernih, seolah air di dalam kubangan itu telah meluluhkan segala pikiran buruknya. Mantingan segera naik ke darat dan melompat-lompat gembira. Ia berteriak keras dengan bahagia juga. Seperti orang gila. Tetapi betapa baru saja dirinya terlepas dari maut.
Andaikata Mantingan tak mempunyai cukup banyak keberanian, maka dapat dipastikan nyawanya melayang di bilah kelewang Wicaksana. Prajurit Bumi Sagandu tak dapat berbuat banyak jika dirinya ditawan terus-menerus. Betapa senangnya juga ketika tugasnya mencari Kembangmas akan tetap berlanjut.
Berkali-kali Mantingan bersujud untuk menyembah Gusti yang kiranya telah menyelamatkannya. Sulit melepaskan kebahagiaan yang hinggap itu, tapi Mantingan berusaha untuk tetap bersikap tenang sebab mungkin saja perampok-perampok itu ada di sini untuk melarikan diri.
Mantingan duduk di tepi kubangan air sambil matanya terus memandangi sekitar. Ia juga minum beberapa teguk air yang semakin menjernihkan pikirannya. Agak bangga juga tadi tak melanggar pantangan Kenanga untuk tidak bermain kasar. Wicaksana tak perlu dibunuh olehnya, biarlah urusannya bersama para prajurit kota.
Jika dipikir-pikir, Mantingan belum membuka dan melihat isi buntelan yang selama ini ia bawa. Terlebih ia memang tak sempat. Baru turun bukit dan menumpang kuda sebentar, ia sudah berada di tangan perampok. Sungguh malang di satu dan dua hari pertama ketika ia memulai pencariannya. Tapi sekarang ia merasa hari ini adalah hari di mana dirinya sangat beruntung.
Maka dibukalah ikatan yang ada di samping buntelan itu. Kain itu membuka. Di dalamnya terdapat barang-barang yang lebih banyak dari perkiraan Mantingan. Selain jubah panjangnya yang memakan banyak tempat, ada beberapa peralatan lainnya. Di antaranya adalah pengapian dan panci kecil, beberapa tepung dan sayuran yang dipadatkan lalu dikeringkan, jebakan penangkap ikan, cangkir dan piring kayu, alas kaki cadangan, dan satu tenda yang luar biasanya bisa menjadi besar ketimbang ukuran lipatnya.
Selebihnya, buntelan itu masih muat beberapa barang lagi. Ditambah jubah itu akan dipakai Mantingan, maka ruangan di buntelan itu masih banyak tersisa.
Mantingan lalu mencari sebatang kayu yang akhirnya ia dapatkan tak jauh dari tempatnya. Ia juga mengambil batu yang lalu dipecahkannya menjadi rupa bilah pisau, kulit kayu itu diserut sampai halus dengannya, hingga menyerupai sebuah tongkat yang ujung bawahnya tajam agar menancap kuat ke tanah.
___
Catatan:
Hadiah/gift adalah untuk menunjukkan seberapa kamu mendukung cerita ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjut
2024-11-28
0
Matt Razak
👍👍👍
2023-12-02
0
Mbah Wiro
kantong ajaib doremon 🤕🤕
2022-11-07
1