“Caramu itu tidaklah sopan.” Berkata orang tua itu.
“Bukankah aku sudah menekankan kesopanan yang sangat tinggi dalam sambutanku? Tetapi cara kalian membalasnya membuatku tak lagi bersikap sopan di depan kalian."
Pria tua itu bergumam pelan dan melirik salah satu murid tertuanya. Murid yang diliriknya itu kemudian melompat dari atas perahu dengan lompatan yang tinggi. Di udara dirinya berputar tiga kali sebelum menjejakkan kaki ke tepian sungai. Wajahnya tampan dan tampak seperti pemuda baik-baik, tetapi keangkuhan di dalam sorot matanya itu telah menyibak hampir segalanya hanya dalam sekali tatap. Tangannya terlipat ke depan dengan dagu yang diangkat sedikit.
Lalu si orang tua itu kembali berkata, “Kami akan memenuhi perjamuanmu. Tapi jangan harap kalian bisa bermacam-macam dengan kami, atau kepala kalian yang akan terpenggal dengan kelewang ini.” Dia tampak meraba gagang kelewangnya dan berkata seolah Mantingan dan Satya adalah makhluk hina yang tiada pantas diberi kesopanannya.
“Tapi harap tak keberatan jika kami menutup mata kalian agar tak ada kecurangan sama sekali.”
Amarah dan kecurigaan pria tua itu naik tinggi. “Setan alas! Berani-beraninya kalian mencurigai kami, bahkan pada pria pikun yang kesulitan mengingat jalan ini!”
Orang tua tersebut dengan keras menarik kelewangnya. Desing-desing cabut pedang selanjutnya terdengar. Bagi mereka, tertariknya bilah kelewang pria tua itu adalah tanda untuk berperang!
Satya masih terlihat tenang, tetapi Mantingan merasa sedikit gelisah dengan kilau-kilau logam dari banyaknya kelewang yang dihunus ke arahnya itu. Satya mengangkat kedua tangannya setinggi dada, berusaha untuk menenangkan mereka.
“Kami tak akan berbuat curang. Dan jika rasa kepercayaan kalian masih juga tak cukup, daku bisa menawarkan sebuah cara lain.” Satya menatap ke sekelilingnya. “Ambillah tali panjang dan ikatkanlah pada lengan tangan orang perwakilan dari kalian. Dan jika ada masalah, orang itu bisa menarik tali sebagai tanda bahaya. Dengan mengikuti arah tali itu, kalian bisa menemukan kami dengan mudah.”
Mantingan melihat sebuah senyum dingin dari Satya, begitu juga dengan udara yang mendingin tiba-tiba.
“Tapi jika kalian mencoba mengikuti kami dengan tali itu, maka percayalah bahwa perwakilan kalian ini akan berada dalam bahaya.”
Sunyi beberapa saat. Ini seperti bukan pilihan bagi mereka, sebab kekuatan Satya bagaimanapun jua tidak bisa diremehkan. Pria tua yang merupakan tetua mereka itu menganggukkan kepala pada murid tertuanya yang juga di tepian sungai.
“Kami setuju.”
“Tapi, Tetua ....” Seruan tertahan dari murid-murid lain segera dipotong.
“Ini adalah keputusanku, tak ada yang boleh membantah.”
Tak terdengar nada ketidaksetujuan lagi. Satya tersenyum lebar dan mengangguk. Ia mengeluarkan dua lembar dari empat lembar kain yang telah disiapkannya. Mantingan diberikan satu untuk mengikatkannya pada murid tertua Perguruan Tombak Api itu. Sebuah tali tambang panjang juga diikatkan pada tangan keduanya.
Mantingan kedapatan bagian untuk menuntun murid tertua itu. Tanpa berlama-lama lagi, Satya mengarahkan tetua Perguruan Tombak Api itu masuk ke jalan setapak. Mantingan seperti biasa menyusulnya di belakang, kali ini dengan tambahan pria tiga puluh tahunan yang harus dituntunnya. Keempatnya meninggalkan puluhan murid-murid Perguruan Tombak Api yang siap menanti.
Agak lama, tetapi mereka berhasil keluar dari semak-semak tinggi itu menuju deretan pepohonan yang disusun rapi. Mantingan dan Satya sesuai rencana melepas kain yang menutupi mata kedua tamunya setelah melewati persimpangan-persimpangan rumit.
“Apa kalian berusaha menjebak kami?! Ini hanya hutan, di mana letak perguruan tersembunyi kalian?!”
“Harap tenang. Daku tak mengatakan bahwa diriku memiliki perguruan, tetapi daku memiliki rumah yang letaknya agak jauh dari sini. Aku rasa tali tambang kalian tak akan cukup panjang untuk sampai ke bukit itu.” Satya menunjuk titik-titik cahaya yang merupakan cahaya obor dari rumahnya. “Jadi aku sarankan, lepas saja talinya. Lagipula kami tak membawa senjata.”
“Baiklah, baiklah.” Murid tertua itu menarik kelewangnya dan menebas tali tambang tebal yang mengikat di tangannya. Potongan itu sangat rapi, bagai memotong sehelai daun saja. Saking rapinya, tak ada serat-serat yang melesak keluar dari potongan tambang itu.
Lalu tetua Perguruan Tombak Api juga menarik kelewangnya kembali dan dengan gerakan cepat memotong tambang di tangannya. Potongan tambangnya memang tak rapi, tetapi dari potongan itu muncul bara api merah tanda tenaga dalam yang digunakan adalah tenaga dalam yang besar.
Walau mereka menyandang gelaran sebagai anggota perguruan golongan putih, tetapi tabiat sombong dari keduanya tampak tak meyakinkan keputihan itu.
Mantingan terlihat tak terganggu, sama halnya dengan Satya yang berperilaku seakan tak pernah melihat dua tebasan mantap tersebut.
“Silakan lewat sini,” kata Satya dengan wajah ramah yang tersinari cahaya obor.
Dua tamu itu berjalan dengan sikap kewaspadaan yang tinggi. Sedangkan Mantingan dan Satya berjalan santai. Dalam benaknya, Mantingan tersenyum puas sebab rencana berjalan dengan mulus dan sesuai.
Tak lama setelahnya, bukit yang di atasnya terdapat sebuah rumah itu mulai terlihat. Dua obor di anak tangga pertama masih menyala dengan begitu terang meski dibelai angin. Dan pada setiap sisi tepi anak tangga sampai ke atas terdapat mangkuk gerabah kecil yang diberi minyak dan kapas untuk kemudian dinyalakan api.
“Tampaknya kau benar-benar ingin menjebak kami dengan api-api itu, ya?” Tetua Perguruan Tombak Api tertawa panjang dan enggan melangkah naik.
“Kami tak memiliki niat seperti itu, tetapi kami bisa mematikan api-api ini.”
“Tak perlu,” dengusnya, “biar aku yang matikan api-api penjebak ini!”
Lagi-lagi ia menarik kelewangnya dan bergerak dalam kecepatan hampir tak tertangkap mata.
Kelewangnya mengibaskan angin kuat hingga api mati, lalu mangkuk tanah itu dicungkil olehnya ke udara sebelum ditampar pada bilah pedang hingga pecah berhamburan.
Orangtua itu melakukan hal sama pada setiap mangkuk api di tangga hingga tak tersisa satupun. Hancur semua olehnya.
Dan dengan tidak sopannya, dia melampaui tuan rumah yang masih di bawah bukit sedangkan dirinya telah berada di atas. Satya terlihat tak mengalami perubahan mimik wajah, Mantingan hanya bisa menggeleng pelan atas sikap besar kepala tetua yang seharusnya menjadi percontohan murid-muridnya.
“Mari ke atas," kata Satya masih mempertahankan keramahannya.
Tak butuh waktu lama ataupun rasa keterkaguman dari kedua tamu, Satya langsung meminta mereka memasuki rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjutkan
2024-11-28
0
Matt Razak
Mantap 👍
2023-12-02
0
Mbah Wiro
mantap sekali dikau Satya👍👍👍
2022-11-07
1