Pak tua pemilik toko lontar kembali tak lama setelah itu, membuat lamunan Mantingan terbuyar. Seperti apa yang dipesan oleh Mantingan, dia membawa sebuah peta yang tergulung rapi. Panjangnya hampir mencapai setengah depa.
“Apakah ini bisa masuk ke dalam bundelanmu itu?”
Mantingan menerima peta tersebut dan mengangguk pelan. Dengan panjang yang hampir menyentuh satu depa, maka peta itu cukup banyak mengisi ruang kosong di dalam bundelannya. Mantingan berpamitan tak lama setelahnya, lalu keluar dari toko. Saat itu pula ia mendapati pasar yang semakin ramai oleh orang-orang.
Sebenarnya agak tidak wajar jikalau pasar seramai ini pada waktu siang hari. Puncak keramaian sebuah pasar biasanya terjadi di waktu terang tanah, ketika kokok ayam pertama baru terdengar dan matahari belum timbul barang sedikitpun.
Mantingan merasa bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak biasa sehingga memang memancing keramaian. Ia kemudian bergerak menembus kerumunan orang-orang yang nyatanya tidak sedang berjual-beli, maka kecurigaannya semakin besar. Lamat-lamat ia mendengar suara sorakan orang-orang yang terdengar amat sangat bahagia dan puas. Semakin cepat langkahnya menembus kerumunan, tibalah ia di titik terciptanya kehebohan.
Kerumunan itu mengitari sejumlah orang berpakaian hitam-hitam yang bersimpuh dengan tangan terikat. Tiga prajurit kota berdiri di belakang mereka dengan masing-masingnya memegang kelewang panjang, dan kelewang itu berkilauan dengan darah melumurinya. Mantingan juga segera menyadari ada beberapa tubuh yang sudah tergeletak tanpa kepala. Dan sepertinya kerumunan ini bersorak untuk itu.
Dari pakaian mereka, Mantingan bisa mengenalnya. Mereka adalah perampok-perampok yang menyerangnya beberapa hari lalu, perampok-perampok itu yang menahannya, perampok-perampok itu pula yang menyebabkan Paman Rangga mati.
Tetapi meskipun begitu, Mantingan tetap merasa bahwa perbuatan prajurit-prajurit kota itu tidaklah manusiawi. Dibunuh di depan umum dan ditertawakan orang banyak bukanlah hal terpuji. Tak ada efek jera dari para perampok itu, kecuali hanya ancaman bagi perampok lain yang berkemungkinan besar akan memilih berbuat nekat dan menghiraukan ancaman.
“Bukan ini yang seharusnya mereka lakukan,” gumam Mantingan yang tanpa disadari terdengar oleh orang di sebelahnya.
“Apakah kiranya yang Sanak katakan? Jika saja perkataan Sanak sampai didengar oleh prajurit-prajurit itu, maka kepala Sanak juga akan dipenggal!”
“Daku tidak bersungguh-sungguh, Saudara. Tidak sadar mengucapkan itu.” Mantingan membalas dengan senyum tipis di wajahnya.
“Untung ucapanmu hanya didengar oleh diriku yang berbaik hati dan mengasihani Sanak, sehingga daku tidak akan melaporkanmu pada mereka-mereka itu.”
Mantingan merasa bahwa orang itu terlalu besar mulut, tetapi dirinya juga merasa bahwa berdebat bukanlah sesuatu yang bagus untuk saat ini. Maka ia hanya bisa menghaturkan salam dan berterimakasih seolah orang itu benar-benar telah menyelamatkan hidupnya. Maka selesailah masalah itu, bertepatan dengan Mantingan yang memutuskan untuk menyingkir dari sana sebelum melihat kepala-kepala lain menggelinding di atas tanah.
Agak sulit sebenarnya untuk dapat keluar dari kerumunan yang begitu padat, tetapi Mantingan tetap berhasil melakukannya. Di depannya terdapat sebuah kedai makan yang hanya diisi beberapa orang saja. Mantingan merasa memiliki cukup uang untuk makan, sedari pagi perutnya belum diisi. Maka bergegaslah ia menuju kedai itu.
Mantingan memasuki kedai tanpa ada penolakan dari orang lain sama sekali, bahkan dirinya sangat dihormati di sana. Dengan jubah perak berbahan bagus seperti itu, maka Mantingan akan dikira sebagai seorang bangsawan atau paling tidak adalah pendekar yang memilik latar belakang tinggi, tak ada yang cukup berani mengganggunya.
Seorang pria paruh baya datang menyambutnya dengan wajah ramah, “Tuan Pendekar, menjadi suatu kehormatan besar bagiku sebab Tuan telah sudi masuk ke dalam kedai bobrok ini ....”
Mantingan memotong ucapan orang itu dengan lambaian tangan, sudah pernah ia mendengar pujian berlebihan seperti ini dari Paman Rama. “Makanan apa sajakah yang disediakan di kedai ini, Bapak?”
“Sahaya yang hina ini sungguh tak pantas menyebutkan senarai makanan-makanan kepada Tuan Pendekar, maka biarlah anak gadis sahaya yang kemari untuk melayani Tuan Pendekar.”
Mantingan tidak terlalu peduli dengan siapa yang akan melayaninya, bahkan sebenarnya pun ia tidak benar-benar butuh dilayani. Yang ingin Mantingan lakukan adalah singgah dan makan sejenak sebelum meneruskan perjalanan. Kepalanya pun masih acak-acakan memikirkan tentang keberadaan Kembangmas yang nyata-nyatanya hanya ada di dalam kisah dongeng saja.
Ia mengambil tempat duduk di sudut kedai, di tempat itulah ia dapat melihat semua isi kedai tanpa perlu banyak menoleh dan sekaligus tidak menjadi pusat perhatian. Di sudut kedai itu juga terdapat sebuah jendela yang akan menjadi jalur pelariannya jika terjadi sesuatu.
Ketika Mantingan melepaskan jubahnya, seorang gadis yang sepantaran dengannya datang. Dia memakai pakaian yang boleh dikata cukup sopan, di mana dadanya dan perutnya tertutup oleh pakaian berwarna pekat. Kulitnya putih bersih, dan rambutnya tebal halus serta sedikit bergelombang. Meski bersikap seolah datang untuk melayani, tetapi tampang wajahnya yang dingin itu sungguh tiada dapat berdusta.
“Apakah yang ingin engkau pesan?” tanya gadis itu dengan nada ketus.
Mantingan mengerutkan dahi. “Sahaya mengira kedatangan Saudari adalah untuk menyebutkan makanan apa yang disediakan di kedai ini?”
“Tak perlu daku sebutkan. Dari pakaianmu itu, telah dapat kulihat bahwa dikau bisa membeli apa pun di sini. Tapi sayang, saya tidak bisa dibeli dengan uangmu itu.”
Dahi Mantingan semakin mengenyit. Siapakah kiranya yang ingin membeli gadis itu? Mantingan sama sekali tidak tertarik dengannya meski gadis itu boleh dikata memiliki tampang yang cantik, tetapi tetap saja ia bahkan tak rela mengeluarkan satu perak saja untuk membelinya.
“Daku pesan makanan yang sedikit lebih banyak, sertakan sayuran dan daging.”
"Dikau akan mendapatkannya.” Gadis itu berlalu tanpa ada lirikan pada Mantingan sama sekali.
Mantingan hanya bisa menggelengkan kepala sebelum pikirannya kembali terpusat pada Kembangmas.
Pernah sekali dirinya diceritakan tentang Kembangmas oleh ibunya saat ia tidak mau makan sewaktu usianya masih lima tahun. Kata ibunya jika Mantingan tak mau makan, maka ia tidak akan pernah bisa menemukan Kembangmas dan memohon keajaiban. Maka dari itulah juga ia datang ke kedai ini. Mungkin saja selepas makan, Kembangmas bisa ditemukan sesegeranya.
Dikisahkan pula bahwa Kembangmas lebih dari bunga siluman. Kembangmas bisa memunculkan keajaiban yang bahkan sulit dipikirkan dalam benak sekalipun. Kembangmas bisa menyelamatkan rakyat dari raja yang kejam, dan bahkan bisa menghidupkan orang yang telah lama mati sekalipun. Tetapi Mantingan tahu, bahwa cerita itu berkemungkinan besar hanyalah sekadar khayalan semata. Bagaimana mungkin manfaat serta keajaiban Kembangmas dapat diketahui sedangkan belum pernah ada yang menemukan ataupun sekadar melihatnya?
Terlebih lagi Kembangmas adalah bunga tunggal, di mana bunga itu hanya berjumlah satu di muka bumi. Apakah mungkin Kembangmas berada di Dwipantara? Atau malah tempat nan jauh di sana, Negeri Atap Langit mungkin? Apakah ia harus mencari Kembangmas sampai sejauh itu? Apakah usianya tak keburu habis? Apakah hidupnya akan sia-sia saja nanti?
Mantingan tentunya tidak bisa mengabaikan semua kemungkinan itu, tetapi ia memiliki harapan yang cukup besar untuk meneruskan pengembaraan sampai sejauh yang ia bisa untuk menemukan Kembangmas. Mantingan percaya, jika harapannya sangat besar, maka alam semesta akan membantunya.
Anak gadis pemilik kedai kembali datang ke meja Mantingan, memecah lamunannya. Ia membawa dua piring makanan, yang satu berisi lauk-pauk serta sayuran, dan satu piring lainnya berisi nasi. Gadis itu menaruhnya di atas meja dengan sikap acuh tak acuh, lalu berdiri seperti patung arca di sisi Mantingan.
“Apakah atau sesuatu hal lain yang kurang, Saudari?” tanya Mantingan yang heran mengapa gadis itu berdiri di sebelahnya.
“Jangan salah paham, pria bejat. Sahaya di sini hanya berdasarkan perintah bapakku untuk melayanimu. Tapi jangan harap aku melayanimu dengan suka hati!”
Mantingan hanya menggelengkan kepala dan mengelus dadanya. Merasa seperti terdapat sesuatu yang salah dalam kepala gadis itu.
“Sahaya tidak meminta pelayananmu atau pelayanan dari yang lainnya. Dan sungguh sahaya bisa mengatakan bahwa diri sahaya adalah orang baik-baik. Dikau bisa pergi sekarang, dan terima kasih.”
“Dikau tak bisa memperintahkanku untuk pergi, tolong tarik kembali kata-katamu itu.”
“Mengapa tidak?” Mantingan memejamkan matanya manakala kesabarannya dirasa telah mencapai ambang batas.
"Nanti diriku dimarahi bapakku. TOLONG tarik kembali kata-katamu.”
Mantingan menahan diri untuk tidak memukul meja, lalu berkata dengan pelan, “Daku menarik kata-kataku, apakah dikau puas?”
Gadis itu mengangguk, Mantingan lalu mulai menyuap makanannya seolah tiada orang di sampingnya yang pula sedang memperhatikannya. Ia hampir-hampir tidak peduli pada keberadaan gadis itu, dan makan hanya sambil memikirkan Kembangmas.
Tetapi jalan makannya terganggu saat ia mendengar suara debam yang demikian kerasnya hingga membuat air di dalam kendi berguncang. Mantingan lekas menoleh dan menemukan pintu kedai telah terlepas dari tempatnya, terlempar jauh ke dalam kedai. Pelanggan-pelanggan lain yang sedang makan turut terkejut, bahkan jauh lebih terkejut daripada Mantingan.
Seorang pria kekar dengan pedang besar bermata dua masuk ke dalamnya. Wajahnya bengis dan dengus napasnya terdengar seperti napas seekor binatang buas. Ia menatap satu per satu orang yang ada di dalam kedai, seakan mengisyaratkan bahwa dialah yang menendang pintu itu.
Mantingan sebagai orang yang paling berkepala dingin di dalam kedai itu lekas menoleh ke luar jendela. Ia menemukan bahwa hal serupa juga terjadi di sekitarnya, bahkan beberapa tubuh bersimbah darah terlihat tergeletak begitu saja di tanah. Mantingan mengenali mereka dari pakaian hitamnya, itu adalah kelompok perampok yang sama. Kelompok perampok yang pernah menahannya, yang telah membunuh Paman Rangga, dan yang dipenggal kepalanya di hadapan khayalak luas. Mantingan segera memperkirakan apa yang terjadi, dan perkiraannya itu tidaklah bagus.
___
Catatan:
Vote darimu adalah untuk menunjukkan dukungan pada karya ini, hadiah adalah untuk menunjukkan seberapa kamu mengapresiasi saya, sedangkan tips adalah untuk menunjukkan seberapa kamu minta crazy up. Terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lagi
2024-11-28
0
Matt Razak
Mantap 👍
2023-12-02
0
Membo 69
mau lanjut.kalau MC masih blm op mikir² 😭😭
2023-08-07
0