Mantingan menghela napas lega saat tongkatnya itu telah selesai dibuat. Sebenarnya Mantingan masih belum membutuhkan tongkat, sebab dirinya tidak kesulitan mendaki hingga sampai membutuhkan tongkat daki. Ia melakukan ini semata-mata hanya untuk menghilangkan rasa cemasnya.
Namun nyatanya, rasa cemas itu tak kunjung menghilang. Mantingan berpikir bahwa lebih baik ia secepatnya pergi dari tempat ini. Semakin jauh akan semakin baik. Mungkin itu akan menghilangkan rasa cemasnya, dan pula rasa takutnya.
***
Mantingan tidak tahu betul di mana dirinya berada saat ini semenjak ia memutuskan segera pergi dari daerah Bumi Sagandu. Namun bila tak salah, maka saat ini ia berada di tepi Sungai Cimanuk. Terlihat di depannya sungai yang lumayan lebar dan deras alirannya itu. Batu-batu besar yang diterpa air yang cukup deras. Dan jika benar, maka dirinya kini di dekat pesisir utara yang hanya membutuhkan waktu setengah hari perjalanan kaki untuk mencapai pantai.
Saat ini Mantingan berada dalam kebingungan tentang bagaimana cara menyeberang sungai. Sebab dirinya mau pergi terus ke arah barat. Ia tak pandai berenang, terlebih aliran sungai Cimanuk cukup deras dan banyak batu-batu tajam di dalamnya. Begitu mengerikan membayangkan tubuhnya tenggelam sebelum akhirnya tercabik-cabik oleh bebatuan.
Mantingan memutuskan menyusuri tepi sungai ke arah utara dengan harapan menemukan jembatan atau rakit untuk menyeberang.
Saat Mantingan berjalan cukup lama dan jauh, ia bertemu dengan seorang pemuda yang agaknya merupakan pemburu sarang semut. Pemuda tanggung itu membawa jaring yang tongkatnya panjang agar mampu menggapai sarang semut di pohon tinggi. Ada tabung anyaman bambu di punggungnya, dengan tutupan di atasnya.
Pemuda itu terkejut melihat Mantingan, dan Mantingan sendiri pun cukup terkejut melihatnya. Satu pertanyaan yang sama dari keduanya: bagaimana bisa ada orang di tengah belantara seperti ini? Mantingan menyapa terlebih dahulu pemburu sarang semut tersebut, lalu dibalas dengan sapaan yang sama.
Mantingan lalu bertanya tentang cara menyeberang sungai setelah berbasa-basi cukup lama.
“Jika Saudara ingin menyeberang, maka pergilah sedikit ke utara. Di sana ada jasa penyeberangan menggunakan rakit, dan juga berbayar pastinya. Namun, Saudara juga bisa ikut daku menyeberang dengan perahuku yang tak jauh letaknya dari sini.”
Mantingan awalnya ingin menolak tawaran itu. Lebih baik berbayar yang keamanannya terjamin. Masih ada rasa khawatir kalau kejadian yang itu akan terulang kembali, Mantingan seolah tak bisa melupakan penghadangan oleh perampok yang mengakibatkan dua orang terbunuh itu. Namun, saat ini ia tak memiliki uang untuk menyewa jasa penyeberangan. Setelah banyak pertimbangan, Mantingan akhirnya menerima tawaran pemburu sarang semut itu. Apa pun risikonya, ia akan tanggung, semoga saja tak mati.
“Daku sangat senang jika Saudara menerimanya. Namun, sepertinya Saudara harus ikut daku mencari sarang semut rangrang sebelum kita pergi menyeberang.”
Mantingan tak menunjukkan tanda-tanda keberatan. Malah menyambutnya dengan baik.
“Itu adalah kehormatan, Saudara. Aku bisa belajar banyak dari Saudara.”
Pemburu sarang semut itu tersenyum. “Namaku Satya, siapa namamu?”
“Panggil daku Mantingan saja.”
“Baiklah, Mantingan, saat berjalan nantinya pastikan dirimu berada terus di belakangku. Hutan ini bisa menyesatkan siapa saja di dalamnya.” Satya berbalik dan berjalan masuk ke dalam barisan pepohonan. “Dan satu lagi, jangan bosan mendengar ocehanku.”
Mantingan terus mengikuti Satya tepat di belakangnya. Benar bahwa Satya suka bicara banyak, panjang dan lebar. Namun dari percakapan itu, Mantingan bisa mengetahui banyak hal, seperti cara masuk ke semak yang berduri, memanjat pohon dengan cepat, menemukan air di bawah pohon beringin, memetik sarang semut dengan jaring atau dengan tangan langsung, bahkan tentang keadaan pemerintahan saat ini.
“Maharaja Punawarman memang menata budi pekerti bangsanya dengan baik. Jika diibaratkan, Sri Maharaja Punawarman telah menata budi pekerti selayaknya dia memperbaiki aliran sungai. Jika air dari hulu bersih, maka yang sampai di hilir pun harus bersih pula. Ilmu yang dari awal bersih, harus bersih pula sampai yang terakhir menerima ilmu itu.
“Dengan itu, Tarumanagara menjadi bangsa maju sampai Salakanagara diganti dengannya. Namun sekarang, negara ini sedang dihantui bayang-bayang perampok dan bibit-bibit pemberontakan yang kian jadi nyata. Di tahun ini, perampokan tengah marak dan bahkan sudah dianggap sebagai sebuah pekerjaan. Sri Maharaja selalu menanggapi pertempuran dengan perdamaian, dalam artian tidak ada pertempuran.” Satya menghela napas dalam.
Mantingan sudah merasakan bagaimana rampok-rampok yang kejam beraksi. Bahkan orang sebaik Ki Rangga pun harus terbunuh di tangan perampok kelas rendah yang mengandalkan jumlah saja. Mantingan masih belum terlalu percaya kepada Satya, sehingga ia tak menceritakan kejadian yang dialami olehnya sebelumnya.
“Kau harus berhati-hati, Mantingan. Pakaianmu bagus dan barang bawaanmu banyak, kau akan jadi mangsa melezatkan di mata perampok.” Satya memasukkan satu sarang semut yang baru didapatnya ke dalam anyaman bambu. “Nah, sudah cukup untuk hari ini. Sekarang kita bisa menyeberang sungai.”
Mantingan mengangguk. Sambil berjalan, ia bertanya, “Apakah rumahmu di seberang sana, Satya?”
“Ya, aku membangun rumah manis di bukit yang tak terlalu tinggi. Tak banyak yang mengetahui keberadaan rumah dan keberadaanku.”
“Satu lagi kehormatan untukku telah mengetahui ini." Mantingan tersenyum.
“Santai saja. Dan juga kalau kau tak keberatan, mungkin bisa bermalam di rumahku?”
Mantingan berpikir sejenak, sedang Satya tertawa panjang.
“Tenang saja, rumahku aman dari perampok. Dan bukannya aku sombong, tapi aku dapat bermain ilmu silat menggunakan tenaga dalam.”
Mantingan tersenyum canggung lalu menggaruk leher belakangnya.
“Kalau aku diizinkan bertanya, apakah itu perbedaan silat tenaga dalam dengan silat biasa?”
“Biar aku jelaskan garis besarnya saja. Silat biasa adalah sekumpulan gerakan silat yang memerlukan tenaga dari otot dan pikiran, silat ini paling umum dan tidak butuh banyak biaya untuk mempelajarinya, bahkan tak perlu bakat dan kerja keras pula untuk menguasainya.
“Namun silat tenaga dalam berbeda. Silat ini menggunakan tenaga inti yang terletak di sekitar pusar perutmu. Di sana tenaga dalam diolah. Pengguna tenaga dalam untuk tujuan silat biasanya disebut pendekar. Tenaga dalam ini melebihi kekuatan otot dengan daya hancur yang luar biasa, bahkan ada yang bisa memecahkan batu besar dengan hanya satu pukulan.
“Tapi untuk menguasainya, kau lebih dari perlu melatih gerakan, kau juga perlu melatih pernapasan sebab kunci dari silat tenaga dalam adalah pengolahan napas dan batin. Di aliran hitam, ilmu tenaga dalam dijual mahal. Sedang di aliran putih, ilmu tenaga dalam hanya diturunkan oleh guru pada muridnya untuk perbuatan yang baik. Kelompok aliran merdeka malah memperdalam ilmu silat sebagai jalan hidup. Ilmu silat tenaga dalam disebut juga sebagai ‘silat sejati’.”
“Aliran mana yang kauambil, Satya?”
”Aku memakai silat aliran putih, sebab guruku adalah pendekar aliran putih.”
“Di mana gurumu sekarang?”
Satya kembali tertawa panjang. “Pertanyaanmu terlalu dalam, Mantingan. Aku tak bisa menjawab pertanyaan yang satu ini.”
Mantingan mengangguk perlahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
mantap
2024-11-28
0
Matt Razak
👍👍👍👍
2023-12-02
0
Mbah Wiro
lanjutkan🌹🌹🌹
2022-11-07
1