Mantingan kemudian mengangguk perlahan setelah didengarnya nama perempuan itu. “Dan jika Saudari hendak tahu, maka namaku adalah Mantingan.”
Tak ada jawaban, dan itu dapat dikatakan sebagai hal yang wajar. Mantingan hanya bisa tersenyum tipis sambil menambah reranting pohon ke dalam api unggun. Setelah api membesar dan dipastikan bisa bertahan lama, Mantingan duduk di atas batu terdekatnya. Ia melepas tali buntelan dan mengambil peta di dalamnya, ia juga mengeluarkan beberapa kue kering di kantung perbekalannnya dan memberikannya beberapa potong pada Rara. Namun, gadis itu agaknya masih terguncang berat oleh kejadian siang tadi dan kenangan-kenangannya bersama bapaknya mulai mengisi pikirannya, sehingga tawaran Mantingan itu tak didengarnya. Akhirnya, Mantingan sendiri yang melahap kue itu.
Ia membuka peta untuk menentukan di mana letak keberadaannya sekarang ini. Dan jika dilihat dari peta yang sangat rinci itu, Mantingan bisa menentukan posisinya. Jika saja tadi ia berjalan dengan arah yang benar, maka ia sudah sampai di Kanoman sekarang ini. Namun, ia sepertinya telah melenceng sedikit ke arah timur, tetapi itu tak mengapa sebab jarak yang dibutuhkan untuk sampai ke Kota Kanoman tidaklah terlalu jauh.
Andai saja ia sendirian sekarang, maka Mantingan lebih memilih untuk langsung melanjutkan perjalanan menuju Kanoman. Namun, dengan keberadaan Rara yang sepertinya tidak membaik membuatnya memutuskan untuk beristirahat sampai pagi menjelang.
“Saudari membutuhkan tidur sebelum melanjutkan perjalanan esok hari, lebih baik lekas tidur, ya?” Mantingan berkata dengan lembut.
Rara menatap sejenak pada Mantingan sebelum menggeleng. Namun, Mantingan tetap menggelar alas tidur yang satu-satunya ia miliki itu untuk Rara, sebelum ia kembali ke tempat duduknya dan memperhitungkan jarak di gelaran peta. Lama kelamaan, Rara bergerak merebah dengan hanya beralaskan tanah, tidak di atas alas tidur yang Mantingan berikan. Tidurnya begitu cepat dan pulas, sampai-sampai Mantingan tak sempat mengingatkan perempuan itu untuk tidur di tempat yang seharusnya.
Mengetahui hal itu membuat Mantingan salah tingkah. Ia tak mau Rara tidur beralaskan tanah, dan ia tidak tega jika harus membangunkan gadis yang begitu lelah dan terluka dari dalam hati itu, tetapi ia juga tak mau menolongnya dengan cara menggendongnya ke alas tidur. Apakah yang harus ia pilih? Membiarkannya, membangunkannya, atau justru menggendongnya?
Sedikit enggan, tetapi Mantingan berdiri dan menghampiri Rara. Sesaat ia menghela napas panjang sebelum mengangkat tubuh perempuan itu ke atas tempat tidur dengan perlahan-lahan.
Entah apakah sentuhan Mantingan begitu halus atau memang kantuk yang telah begitu besarnya, tetapi Rara sama sekali tidak terbangun. Raut wajahnya terus menunjukkan kesedihan dan kemuraman. Bukan wajah cantiknya yang seolah tak pantas menerima ini semua, tetapi hati lembutnya yang tak pantas menerima semua penderitaan ini. Mantingan menyeret buntelannya yang lalu digunakan sebagai bantalan bagi kepala Rara.
Mantingan kembali ke tempatnya. Disebabkan tak mengetahui apa yang harus dilakukan selain menatapi api unggun, Mantingan mengambil bentuk bersila sebelum mulai samadhinya.
Sebelumnya ia tak pernah melakukan samadhi, alasannya adalah keterbatasan waktu. Namun kini ia memiliki banyak waktu luang, dan orang berkata bahwa samadhi dapat menjernihkan pikiran. Mantingan mulai terbenam dalam perenungan.
***
Saat waktu memasuki terang tanah, Mantingan keluar dari samadhinya. Entah apakah malam tadi bisa dikatakan bahwa dirinya tertidur atau tidak. Antara sadar dan tidak sadar. Yang pasti, berkat samadhinya tadi malam, ia berada dalam keadaan yang sungguh sulit dijelaskan menggunakan kata-kata. Setengah pikirannya berada di luar, dan setengah yang lainnya berada di dalam. Begitulah jika dijelaskan sebagaimana Mantingan bermeditasi semalaman.
Api unggun sudah hampir mati, dan Rara masih tertidur pulas di atas alasnya. Mantingan tidak berniat membangunkannya, melainkan menyusun rencana untuk kelangsungan hidup Rara.
Pada malam tadi, telah terpikirkan olehnya untuk membawa Rara sampai ke Kanoman saja dan meninggalkannya dengan sepuluh keping emas. Itu cukup untuk hidup hingga dua bulan lamanya, atau untuk membangun usaha kecil-kecilan yang mungkin bisa berkembang nantinya. Ia yakin Rara tidak mau mengikuti perjalanan panjangnya yang seolah tidak memilki tepi sebab yang ditujunya adalah dongeng semata. Dan Rara pasti akan tertawa jika diketahui tujuan perjalanan Mantingan adalah mencari Kembangmas.
Pagi masihlah basah. Mantingan kembali menambahkan kayu-kayu ke dalam api, dan saat itulah Rara terbangun. Gadis itu menatap ke sekitar dan menemukan Mantingan, dahinya mengernyit.
“Kau siapakah? Di mana aku?” Bertanyalah Rara dengan raut wajah heran.
Mantingan menahan napasnya, menyangka sesuatu yang buruk telah terjadi pada Rara. “Saudari ... ini daku. Mantingan.”
Lalu Rara memejamkan mata perlahan. “Jadi itu semua bukan mimpi, ya?”
Mantingan terdiam sejenak sebelum memahami keadaannya. “Daku harap Saudari bisa menerima ini semua dengan lapang dada, dan percayalah bahwa ini adalah takdir yang harus dilewati.”
Rara mengangguk pelan lalu tersenyum. “Bapak sudah mendatangiku di dalam mimpiku dan berkata bahwa daku tak harus bersedih lagi.”
“Itu sangat bagus.” Mantingan turut tersenyum.
“Dan terima kasih atas segala bantuanmu. Maaf telah mengatai dirimu sebagai sesuatu yang buruk dan amat sangat tidak pantas kemarin hari.”
“Itu tidak mengapa, Saudari, daku paham.”
“Dan mohon jangan panggil daku dengan sebutan itu lagi, panggil daku Rara.”
Mantingan mengangguk sebelum memilih untuk menjelaskan rencana yang telah disusunnya. “Rara, daku berniat pergi ke Kanoman, apakah dikau hendak ikut bersamaku?”
“Apa kota itu adalah rumahmu?”
“Bukan, daku adalah pengelana yang tiada memiliki tempat untuk disebut rumah. Daku hanya berniat singgah ke Kanoman. Mungkin kau bisa memulai kehidupan baru di sana, daku akan meninggalkan sejumlah keping emas untukmu.”
Rara tersenyum tipis dan menundukkan kepala. “Jadi aku terlalu mengganggumu, ya?”
“Tidak, tidak, bukan begitu.” Mantingan tersenyum canggung. “Daku yang justru takut merepotkanmu jika harus melibatkanmu ke dalam perjalananku yang tampaknya tidak berujung.”
“Memangnya ke manakah arah perjalananmu, Mantingan?”
“Daku ....” Senyum Mantingan semakin canggung. “Daku ... daku hendak menemukan Kembangmas.”
Rara tersenyum penuh arti. Mantingan justru mengerutkam dahi. Bagaimana bisa dia tersenyum? Apakah senyum itu dikarenakan ia masih tak kuat untuk tertawa terbahak-bahak, sehingga senyuman telah cukup mewakilkan? Atau memang senyum yang tulus, senyum yang menyemangati? Mantingan tak mengetahui jelasnya sebelum Rara kembali berkata.
“Andai dikau ingin percaya, maka aku dulu aku pernah mencari Kembangmas juga. Waktu aku kecil, aku nekat keluar rumah dan masuk hutan untuk menemukan Kembangmas. Apakah yang aku peroleh? Tidak ada. Aku sudah keburu ditemukan warga dan dibawa pulang, saat itu aku dimarahi habis-habisan oleh bapak. Dan, ya, seharusnya aku tahu bahwa Kembangmas bukanlah bunga yang disembunyikan di tempat khusus. Ia tak tersembunyi, tetapi letak keberadaannya tidak diketahui. Aku kagum denganmu yang sampai besar seperti ini tetap mencari Kembangmas.”
Mantingan tertawa hambar. Tujuannya menemukan Kembangmas bukanlah tujuan kanak-kanak, ini sesuatu yang lebih dewasa, atau bahkan orang dewasa biasa tak akan sanggup mengembannya. Maka dari itu tadi ia sedikit tersinggung dengan Rara yang seolah menyamakan dirinya dengan anak-anak.
“Jadi, bisakah ... daku mengikutimu?”
Mantingan diam sebentar saja untuk berpikir, tetapi Rara segera berkata lagi.
“Daku tak berniat mengambil Kembangmas itu juga, tetapi daku hanya ....”
“Hanya apa, Rara?”
“Hanya tak siap untuk ditinggal sendirian. Tidak, aku tidak akan mengikutimu selamanya. Mungkin hanya untuk beberapa minggu, saat aku sudah siap untuk hidup sendirian.”
Mantingan merasa tak keberatan, walau mungkin perjalanannya akan terhambat sedikit. Pasti akan ada pelajaran baru yang ia dapatkan dari kehadiran seorang teman seperjalanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjutkan
2024-11-28
0
Matt Razak
mantap
2023-12-02
0
Putra Bungsu
ikut 👍
2023-04-30
1