"Orang-orang busuk, pergilah ke neraka!” Pria kekar itu mengayunkan pedangnya, yang dalam seketika membunuh salah satu pelanggan kedai di dekatnya.
Mantingan menggapai jubahnya dan mengalungkan buntelannya. Jaraknya dengan pintu cukup jauh, ia masih sempat melarikan diri melalui jendela. Tetapi saat ia hendak melompat ke jendela, gadis pemilik kedai yang melayaninya itu masih tertegun, mematung tak bergerak. Maka Mantingan dengan lekas menarik tubuh gadis itu. Ia melemparnya terlebih dahulu ke luar jendela, sebelum pria kekar pengacau itu menyadarinya.
“Mau ke mana kau?!”
Perhatiannya tertuju pada Mantingan yang belum sempat keluar dari jendela. Sebagai seorang pendekar, ia bisa dengan sekali loncatan untuk dapat menghadang Mantingan. Dan seharusnya Mantingan mati dalam sekejap itu pula sebab terpapas pedang besar tersebut, tetapi seseorang telah menahan gerakan si pria kekar, yang ternyata adalah pria paruh baya pemilik kedai yang datang dengan dua kelewangnya!
“Selamatkan anakku, Tuan Pendekar!”
Mantingan ingin membantu, tetapi ia sadar bahwa dirinya justru akan menjadi beban serta menyia-nyiakan pengorbanan pemilik kedai. Maka ia lekas melompat keluar. Gadis yang tadi dilemparnya masih berusaha untuk berdiri, tetapi Mantingan tak memberinya cukup waktu dan lekas menariknya untuk berlari.
“Di mana bapakku?”
Mantingan tak menjawab, terus menarik lengan gadis itu untuk berlari ke tempat yang sekiranya lebih tersembunyi.
“DI MANA BAPAK?!”
“Dia adalah pahlawan, Saudari. Pahlawan bagimu dan bagi semuanya!” Mantingan membawanya masuk ke dalam perkebunan pisang lebat.
Gadis itu memberontak dan berteriak, jelas ia tahu apa yang telah dilakukan bapaknya. Mantingan lekas berhenti dan membekap mulutnya sebab betapa pun suara teriakan itu dapat mengundang marabahaya!
Berontakan yang keras dari perempuan itu membuat keduanya sama-sama jatuh ke tanah dengan Mantingan masih terus menyekap mulutnya. Rasa sakit akibat gigitan si gadis segera ditahannya.
“Maafkan daku, maafkan daku.” Mantingan berkata di tengah ringisannya. “Dia adalah sosok yang hebat, dia yang menyelamatkanmu dan daku. Dia tidak akan mau jika kau malah mati di sini dan membuang pengorbanannya sia-sia belaka!”
Gadis itu sedikit-sedikit berhenti berteriak, berganti suaranya menjadi isak tangis. Telapak tangan Mantingan basah oleh air mata dan darah. Menyadari tak ada yang perlu disekap lagi, Mantingan melepas sekapan tangannya dari mulut si gadis, darah segar masih mengalir pelan dari luka gigitannya.
“Bapak!” Rara berteriak dengan suara serak untuk yang terakhir kalinya. Air mata membanjiri wajahnya.
Mantingan kembali menarik tangan perempuan itu untuk mengikutinya, tempat mereka masih belum aman di sini. Setelah mereka menembus perkebunan pohon pisang, Mantingan tanpa sengaja menemukan lubang cukup besar di tembok perlindungan kota. Entah siapa yang menciptakan lubang ini, tetapi sepertinya lubang tersebut telah lama tercipta, terbukti dari banyaknya lumut di sekitaran.
Gadis itu masuk terlebih dahulu setelah Mantingan memintanya, baru setelah itu Mantingan yang masuk. Di hadapan mereka adalah sebuah ladang semak belukar luas setinggi lutut yang harus mereka tembus sebelum sampai ke hutan yang sekiranya lebih aman untuk bersembunyi.
Mantingan berlari menembus semak belukar dengan perempuan itu bersamanya. Namun saat mereka hampir mencapai deretan pepohonan di batas hutan, Mantingan mendengar suara ringik kuda yang melengking dari kejauhan. Bagaikan kepalanya hendak dihantam godam raksasa, Mantingan menjatuhkan dirinya sekaligus perempuan di sampingnya ke tanah.
Jubahnya direntangkan dan digunakan untuk menutupi tubuhnya dan tubuh si perempuan. Jubah tersebut bisa menirukan warna di sekitarnya, Mantingan berharap ini bisa membantu banyak. Di dalam jubah itu, Mantingan mengisyaratkan si gadis untuk tidak membuat suara sama sekali. Samar-samar, Mantingan mendengar suara derap langkah kuda yang mendekat lalu berhenti agak jauh darinya. Dan samar-samar pula, Mantingan mendengar percakapan dua orang.
“Tidak ada orang yang melarikan diri di sini.”
“Tetapi kita diperintahkan untuk mengawasi bagian ini, Kakang.”
“Dikau terlalu lugu sampai tidak mengetahui bahwa sebenarnya mereka sedang bersenang-senang di kota dan sengaja mengusir kita! Ayo kita lekas kembali!”
“Tetapi, Kakang, daku tidak hendak melawan perintah ketua.”
“Dikau mau ikut atau tidak?”
Terdengar suara desing besi, Mantingan menebak-nebak apa yang sedang terjadi.
“Aku akan ikut, Kakang ....” Tetiba saja suaranya menjadi patuh.
“Bagus, dikau masih menyayangi lehermu itu. Sekarang lekas kita kembali!”
Mantingan bernapas lega.
“Sebentar, Kakang!”
Jantung Mantingan kembali berdegup kencang. Napasnya tertahan.
“Daku seperti melihat ada sesuatu yang aneh di semak belukar itu.”
“Kau berniat menjebakku?”
“Tidak, Kakang, daku benar-benar melihat ada yang aneh di sana ... AKHHH!”
Mantingan mendengar sesuatu benda jatuh berdebam ke tanah yang disusul ringikan kuda, lalu terdengarlah suara tawa yang menggelegar.
“Banyak bacot, rasakan sendiri akibatnya.”
Terdengar lagi derap kuda yang menjauh hingga benar-benar menghilang. Mantingan tanpa ragu lagi menyibak jubah dan melihat ke sekitarnya. Ia menemukan seekor kuda yang masih berdiri di antara semak belukar dengan kepala tertunduk, tidak terlihat ada penunggang di atas punggungnya.
Mantingan kembali melangkah kaki dengan cepat, tetapi sejurus kemudian berhenti sebab perempuan itu tidak mengikutinya.
“Kita harus sesegera mungkin pergi dari sini.” Berkata Mantingan pada gadis di belakangnya itu.
“Daku tak bisa, daku tak bisa, BAPAKKU masih ada di belakang sana. Orang gila macam mana yang akan meninggalkan bapaknya seorang diri melawan hewan-hewan bejat? Lebih baik dikau pergi sendiri saja! Tinggalkan daku!”
“BAPAKMU BERKATA PADAKU BAHWA KAU HARUS DISELAMATKAN!” Mantingan hampir kehilangan kesabarannya, membentak tanpa takut lagi. “Jika kau memang hendak kembali, maka kembalilah! Tetapi daku peringatkan dikau sekali lagi, bahwa bapakmu tidak menyukai hal itu!”
Gadis itu menatap Mantingan tajam-tajam, sama seperti Mantingan yang menatap dia tajam-tajam. Lalu sejenak gadis itu bersimpuh dan kembali menangis tersedu-sedu.
Angin berembus perlahan, membelai semak belukar yang seperti gelombang lautan itu. Mantingan turut mengembuskan napas perlahan dan menundukkan kepala. Ia juga tak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi. Namun, yang pasti sekarang ini adalah bahwa dirinya harus menyelamatkan anak pemilik kedai. Sebab biar bagaimanapun, Mantingan merasa bahwa semua masalah ini bersumber dari dirinya sendiri. Perampok-perampok itu mungkin saja balas dendam pada pasukan kota yang telah menangkap kawan-kawannya setelah menyandera Mantingan. Maka masalah ini dapat dianggap bersumber darinya.
Mantingan menjulurkan lengannya pada gadis itu untuk membantunya berdiri dan meneruskan pelarian. Dia menatap Mantingan sekilas sebelum berdiri sendiri tanpa bantuan. Mantingan mengangguk dan berjalan memimpin.
***
Malam itu. Di tengah hutan berkabut. Dingin yang menusuk sampai tulang. Setitik cahaya terlihat bagai kunang-kunang di sana, tetapi sebenarnya itu adalah setitik cahaya dari api unggun besar. Mantingan baru saja membuat api unggun itu, untuk menjaga kehangatan badan di tengah malam yang teramat sangat dingin.
“Kalau boleh kutahu, siapakah nama Saudari?” Mantingan berusaha membuka percakapan setelah sedari siang tadi tak bercakap-cakap—bahkan mereka baru saja berhenti berjalan ketika matahari benar-benar tenggelam.
“Rara.” Dia menjawab singkat, tapi itu sudah sangat bagus untuk seorang gadis yang tengah terguncang isi kepalanya dengan kesuraman dan kesedihan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 650 Episodes
Comments
Doni Gunawan
lanjut
2024-11-28
0
Membo 69
kirain bagus.trrnyata hanya cerita tanpa kekuatan dr MC..Sdh 18 chapter MC masih lemah...menyedihkan😭
2023-08-07
0
Raysonic Lans™
kawin... kawin...
Minta Kawinnn.....
2022-07-21
2