Sesampainya di sekolah seperti biasanya Laras datang lebih awal
"Laraaaaaas!!"
Peni datang langsung memeluk Laras yang di sambut lirikan laras,
"Dapat salam dari Anton. Eh, ras. emang ada yang terjadi ya waktu itu?"
"Apa?"
"Waktu kita jalan?"
"Nggak ada tuh"
"Ras ada pesta ultah tempat temen aku ikut ya"
"Nggak bisa pen aku harus kerja keras untuk makan "
"Heeem harus ikut" Peni merengut
"Aku harus membantu ibuku pen, kita sudah main terus"
"Sekali ini aja, kamu ikut ya"
Laras diam saja mendengar Peni memaksa, merajut, dengan argumen yang ingin di mengerti.
******
Pelajaran fisika berakhir pada jam pertama. Laras yang khusyuk dalam belajar membiarkan teman sekelasnya riuh dengan obrolan mereka, duduk diam sudah menjadi kebiasaannya sejak SD, menjadi seorang pemenang adalah tujuan utama. Dulu saat duduk di bangku SD ia bisa melampaui semua teman-teman nya, tapi di SMP ini ruang lingkupnya lebih besar dan luas. Laras harus lebih giat belajar, belajar untuk mengenali lingkungan baru kehidupan baru dan pelajaran yang bertambah rumit. Mengingat kehidupan keluarganya yang sulit Laras tak mau bermain-main terus, hanya sesekali mengikuti gaya hidup temen-temanya, sekedar belajar mengenal kehidupan luar.
Menikmati pelajaran sekolah dengan ekspresi wajah ngantuk nya, Laras tak menghiraukan betapa bosan hidup menghitung angka dan huruf, tapi demi merubah nasib keluarga ia terus rajin mengikuti tiap detik pelajaran, tak mau menyia-nyiakan kan tiap detik waktu belajarnya Selain sekolah itu mahal rasa sakit hati pada orang di kampungnya menjadi cambuk untuknya berjuang menjadi pemenang
Waktu berjalan menapaki tangga kehidupannya usaha dalam menjual makanan ringan dan kopi bubuk nya mulai ramai, Laras pun bisa melewati masa SMP-nya dengan baik
*****
Sebuah kabar mengejutkan membuat ibu ku tak sadarkan diri, kakakku Bejo, tertangkap polisi karena membawa narkoba. Dia di hajar masa. Orang satu pasar menghakimi mama'snya sampai hampir mati. Seorang polisi mengabari kami keadaan mas Bejo.
Bapak yang pergi bekerja tak mengetahui riuhnya suara orang mengolok-olok kami, Ku peluk ibu yang mulai sadar. Pak Polisi membantu ibu ke ranjang buruk kami, memberikam ibu minuman air putih agar ibu lebih tenang. Dan dengan sopan mereka meminta maaf atas semua kejadian yang menimpa ibu
"Kami akan menanganinya dengan baik buk, bersabarlah. Muda-mudahan ini hanya salah duga"
Aku diam tak bertanya apapun, tapi semua penjelasan ke tiga polisi itu ku cerna dengan baik aku sudah besar, ibuku membaik dan bisa menangis
"Mak aku akan ikut pak polisi untuk melihat mas Bejo, mamak yang sabar aku nggak percaya Mak, masku begitu,"
Izinku pada ibu yang di sambut dengan anggukan saja. Melangkah mengikuti pak polisi menuju RS di mana tempat mas bejoku di rawat akibat pengeroyokan masa.
"Mana keluarga ya?"
Seorang pengeroyok yang masih gemas sama mas Bejo, menyambut ku, menampar wajahku keras, polisi yang bersamaku terkejut, cepat mengamankan aku, tapi ini baik-baik saja untukku, ku ingat wajah orang itu ku lihat ia dengan auraku yang berani, aku bersumpah akan menghabisi mereka semua yang menyakiti keluargaku.
"Massss !!!!"
Ku peluk tangan yang sedang di pasang infus, wajah mas Bejo memar, dia mencoba membuka matanya melihatku tangan nya bergetar menuju mulutku, jarinya menggapai mulut
"Sssssttttt..." Aku paham
Duduk di tepian ranjang menunggu mas Bejo yang tertidur, mendengar rintihan kesakitan dalam tidurnya, ku pejamkan mataku mengingat mbak Mayang, ku mainkan liontin sabit yang ada di leherku rasa hangat memelukku mencium keningku
"Mbak Mayang"
Ku buka mataku berharap, tapi kosong, hanya ada aku dan mas Bejo juga orang-orang di luar yang masih riuh menghujat mamasku
Bapak datang melihat keadaan kami
"Aku nggak percaya pak, kalo mamasku seperti yang mereka bilang "
Laras bangkit dari tempat duduknya menyambut kehadiran bapak dengan wajahnya yang dingin dan kemarahannya.
Tiga hari sudah Bejo di rawat di RS umum, keadaan nya sudah membaik dia sudah bisa tertawa mencairkan suasana hati keluarganya, ibu tak muncul bapak tak membiarkan ibu masuk untuk mengunjungi mas bejo ke RS meski hanya melihat keadaan Bejo, takut membuat ibuku yang memiliki fisik lemah jatuh sakit. Dua orang polisi masuk
"Maaf pak kami adakan interogasi pada anaknya"
Mereka meminta ijin dengan sopan pada bapak yang mengharuskan kami keluar, mas Bejo menunjuk bibirnya memberiku isyarat agar diam dan tentang.
Duduk di luar ruangan bersama bapak memainkan liontin bulan sabit membuatnya nyaman tak pernah ia lupa dalam ingatannya mbak mayang nya yang sudah pergi entah kemana tanpa kabar berita.
Setiap hari ada saja orang yang datang menghujat keluarganya sebagai perusak generasi muda, menjual narkoba obat terlarang
Bapak diam saja menerima hujatan mereka dengan sabar tapi aku tidak,
Sedetikpun momen yang di lewati Laras dari kecil hingga saat ini tidak ada yang terlewat dari ingatannya. Matanya yang tajam memperhatikan satu persatu orang-orang yang menghakimi mereka
******
Kembali duduk di bangku kelas nya menikmati jenuhnya jam pelajaran. Peni, Rerry dan semua temannya yang berjumlah sembilan belas anak dari kelas satu sampai kelas tiga bahkan teman- temanya dari luar sekolah ada di sana.Di luar sekolah, berkumpul menunggunya di depan gerbang sekolah
Dengan heran Laras melangkah menghampiri mereka yang langsung berkumpul memeluk Laras
"Ada apa?"
Heran Laras melihat tingkah teman-temannya
"Sorry, kita baru tau lu dapat musibah" Anton menjawab
Herannya Laras, ada rasa sayang dari mereka, sebagai teman
"Kalo kita tau itu kakak Lo kita pasti bantu, waktu itu kita ada di lokasi ras." Heri menimpali
"Kita ada di sana Ras saat kejadian itu, tapi kita diam saja, maaf"
Laras diam mendengarkan teman-temannya bicara .kepalanya masih berisi banyak hal membuatnya tidak konsen dengan percakapan mereka.
Melihat kasak kusuk teman-teman sekampungnya di sebrang pandangannya semakin nanar saja
"Ras, kita akan bantu kamu cari pelakunya," Pitak memeluk Laras di ikuti semua temannya mencoba ikut merasakan beban Laras
"Senangnya memiliki banyak teman"
Sepulang sekolah Laras langsung menuju RS melihat Bejo, tapi ruangan itu sudah kosong, kabarnya mas Bejo di bawa ke polres untuk di selidiki, dengan berlari khawatir Laras menuju polres mencari Mama's nya
Jam besuk sudah habis, hari ini tidak bisa bertemu mas bejo. "Rumah ku jauh buk tolonglah, aku ingin ketemu mas Bejo sebentar saja"
Seberapapun Laras memohon tak ada yang perduli
"Mudah-mudahan Mama's baik-baik saja"
Dengan langkah gontai meninggalkan polres yang letaknya sangat jauh dari rumahnya, hari sudah mulai malam perjalanan ke rumah masih jauh, Laras menikmati perjalanan nya dengan hati yang terbakar dendam. Berkumpul menjadi satu, tinggal dalam jantungnya dan nafasnya menjadi kiblat dalam hidupnya.
"Aku harus sekolah"
Ia memandang langit malam yang biru, bintang bertebaran menandakan malam yang cerah, dengan menyentuh liontin bulan sabit di lehernya Laras dapat merasakan kehadiran mbak Mayang
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
👑✧ಡkumaqiಡ✧
akhirnya Laras punya teman yg peduli dengan nya,, semoga mereka tetap peduli
2021-11-26
0
Kustri
Tragis banget..
Ada kebahagiaankan thor endingnya n pastikan ada balasan u org" dzolim
2021-07-08
0
Nitizen
semoga teman-teman nya Laras tulus menerima Laras sebagai teman mereka
2021-06-15
1