SMP negeri N 1 Liwa adalah satu-satunya sekolah menengah pertama yang ada di kota tempat tinggalku.
Yang memaksa ku harus sekolah bersama teman SD ku yang selalu mem bully ku
"Teman-teman aku tak memiliki uang saku, aku tak bisa ikut" kataku
Laras berkelit menghindari ajakan teman-temannya
"Oh jadi kamu nggak mau ke kantin karena gak punya uang saku" Sambung Peni,
Laras hanya mengangguk pelan.
"No problem, aku akan mentraktirmu"
Rerry tetap pada keinginannya membawaku ke kantin. Dengan engan aku mengikuti mereka,
Kami berjumlah sembilan belas orang. Teman-teman baru ku di bangku SMP
Ternyata benar masih ada orang yang baik di dunia ini. Sejak itu aku selalu bersama mereka bahkan kami memiliki sebuah geng namanya dewa asoy
Aku tiba-tiba bergabung di antara Murid elit SMP negeri 1 Liwa. Anak orang-orang yang memiliki wajah dan harta menarik.
Tapi apa yang bisa ku tawarkan dalam pertemanan ini, tak ada karena aku tak memiliki apapun.
Sepulang sekolah seperti biasa aku berjalan kaki sambil melihat warung tempat aku menawarkan jajanan dan barang dagangan yang kumiliki
Dunia sekolah ku saat SMP menyenangkan, bersama teman yang baik tak pernah menyakiti fisik bahkan hati. Namun kehidupan kami yang berbeda tetap menjadi masalah buatku. Aku tetap merasa sesuatu yang beda. Bersama Mbak Mayang tetap menjadi kehidupan yang paling menyenangkan buatku
*******
Suatu hari, tepatnya hari Minggu, Laras menyusuri hutan kecil menuju hutan besar tempat yang selalu ia habiskan bersama Mayang.
Duduk di tepi sungai memandang luasnya sungai dangkal yang jernih, melihat ikan-ikan berenang ke sana dan ke mari mendengar desiran angin dan suara binatang hutan.
Hari itu tampak ada yang berbeda, suasana hutan yang menyeramkan tampak nyata
"Sepiii, heeem kemana mbak Mayang, kok tak menjemputku dan tak mendatangiku ku"
Menunggu lama
"Sreek sreek sreek, geeerre!"
Sebuah suara menghampiri telingaku, dengan cepat ku hampiri pepohonan menyembunyikan tubuhku yang kecil, mengintip apa yang datang,
Seekor harimau loreng meneguk air dengan santai
"Gleeek,"
Ku telah ludahku seolah takut tidak tau harus berbuat apa. Semenjak menginjakkan kaki ke dunia baru di dunia remajanya, Mbak Mayang tidak pernah lagi menemui ku.
Dan ini untuk pertama kalinya
"Mungkin dia sibuk " hibur hatiku
Dengan masih bersembunyi di balik pohon,
Dan rasa yang tak pernah ku alami ku sandarkan tubuhku, ku pejamkan mataku, membayangkan wajah mbak Mayangku menyebut namanya berkali-kali, seolah rindu dalam ingatanku selalu padanya. Ia selalu ingat betapa kehadirannya selalu membantuku dalam apapun keadaanku.
"Geeerre"
Hembusan nafas dan suara keras menerpa wajahku aku tersentak kaget harimau itu menatapku tajam, terlihat tua tapi perkasa 4 kali lebih besar dariku, taringnya terlihat mengerikan, Aku mundur, bingung antara lari atau melawan, lari tak mungkin melawannyapun demikian, tapi naluriku tetap waspada
Tiba-tiba ku rasakan anting di telinga kiriku bergetar membuat telingaku berdenyut sakit seolah seekor tawon menggigit dengan spontan aku memegang telingaku kuat-kuat, anting terlepas pindah ke tanganku, ku amati antingku bingung. Sempat berpikir, tiba-tiba anting itu berubah menjadi sebuah pedang panjang seperti samurai
"Haaaah!" aku kaget, anting itu berubah menjadi sesuatu yang ada di pikiranku
Laras terkejut, namun kagetnya tak berlangsung lama, harimau dengan ganas menerjangnya. Laras yang terkejut tak sempat berfikir panjang, dengan keahlian yang di ajarkan Mayang ia membabat kan pedang panjang nya ke arah yang tepat, bagian leher harimau itu. Semua seolah mudah baginya. Pedang mengayun
"Taaaaasssss, jreng"
Darah berhamburan, pedang memotong tepat tanpa hambatan, seperti memotong pohon pisang saja. Laras terkejut bukan main, akankah ini sudah berakhir.
"Aaaah rasanya tidak seru mengalahkan harimau besar itu dengan mudah" kesalnya
Pedang berubah kembali menjadi anting yang langsung ia sematkan di telinganya, tampak ada yang berubah pada anting itu ia jadi lebih panjang menyentuh pundaknya.
Ku amati harimau yang sudah terbelah jadi dua itu,
"Mau aku apakan ia?"
Berlahan Laras mencongkel taring yang sepanjang telapak tangannya, ia ambil kulitnya, Laras benar-benar mengacak-acak tubuh harimau itu berharap mbak Mayang akan datang. Darah membasahi tubuh dan bajunya, tak dipedulikannya.
Mencari kepuasan hati, kecewa, hingga sore tak mbak Mayangnya tak datang. Laras
membersihkan badan hanya masuk ke sungai dengan suka-suka, tanpa melepaskan baju yang ia kenakan, lalu menyusuri hutan untuk pulang
"Mbak Mayang ke mana?"
Hatinya sedih sudah sejak masuk SMP Laras tak pernah bertemu Mayang, ada kerinduan yang dalam
"larassss!!!"
Ibu berteriak keras melihat anaknya yang memiliki bercak darah berceceran di mana mana, kaget bercampur khawatir
"Kamu kenapa? nak."
Ibu menarik Laras, Langsung memaksanya mandi menghabiskan sabun, ibu menggosok badan Laras dengan sabun mandi, Laras hanya diam melihat ibunya panik ,
Bapak kaget melihat buntalan yang di bawa Laras, terdapat kepala, kulit dan taring harimau.
Menghampiri Laras yang baru selesai mandi
"Laras, ini apa Ndok?"
"Dia menyerang ku"
Jawab Laras tanpa ekspresi, wajahnya menunduk
"Bukan itu Ndok!, siapa yang membunuh ini?"
"Aku pak, aku yang membunuhnya, dan mengambil kulitnya dagingnya ku buang di hutan"
Paiman memeluk anak gadisnya dengan sayang rasa khawatir dan tak percaya menghinggapi hatinya mencoba berpura-pura percaya
Mana mungkin di lihat dari taringnya ini jelas harimau yang sudah tua dan ganas
Laras menghampiri buntalan yang berisi hasil buruannya, di ambilnya dua taring harimau yang di bawa nya lalu di cuci bersih dan ia simpan sendiri
Hari itu Laras baru menyadari kegunaan dari antingnya, di pegangnya anting itu di elusnya tanpa ia sadar ia tertidur.Seraut wajah yang ia rindu berdiri di depannya
"Mbak Mayang"
Laras bangkit menghampiri tapi mayang hanya duduk di tepi ranjang membelai rambut Laras mencium keningnya
"Kamu sudah dewasa, harus belajar hidup dengan baik mbak akan mengawasi mu saja tak bisa menemanimu, ingat mbak akan ada untukmu"
Mayang memakaikan sebuah kain putih ke lehernya sebagi kalung yang berliontinkan bulan sabit
"Laras kain ini adalah aku, jika kamu ingin bersamaku jangan kamu buang, aku akan selalu melindungi mu"
"Mbak, maaaa...!!!!"
Laras membuka matanya seolah masih terasa memangil Mayang, tangan nya menggapai angin yang kosong
"Aku mimpi"
Menyadari semua hanya mimpi, tampak bapak yang belum tidur memandangi Laras Heran
"Ngopo ras, ngimpi?"
Hanya di tanggapi Laras dengan mengangguk perlahan, kecewa hanya mimpi Laras merebahkan tubuhnya lagi, tetes air mata mengalir dalam diamnya, ia tertelungkup membelakangi bapaknya takut akan bapak melihat air matanya
"Mbak mayang" bisik hatinya sedih
Tangannya menutupi wajahnya, tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang ada di lehernya
"Loh, bukan mimpi"
Kaget memegang ada kain melingkar di lehernya liontin bulan sabit ada juga di sana
"Bapak, ada mbak Mayang ya?"
Laras bangkit mencarinya, tak ada siapapun bapak dengan heran malah bertanya
"Mayang sopo to Ras?, sana tidur besok sekolah, nanti ke siangan"
Dengan heran, Laras tidur dengan semangat berharap ia bertemu Mayang dalam mimpi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Ika Reno
Aku jg pernah merasakan seperti laras tpi tak terlalu parah aku pernah dihina dicemoh direndahkan dipadang sebelah mana masa kecilku tak seperti anak lainya di saat pengin sesuatu harus ku tahan karena g punya uang pisah dri bapak sejak aku lahir punya ibu yg sayang tpi sakit sakitan disaat yg lain bisa menikmati masa remaja bersekolah main aku hanya bisa putus seklh krena harus bantu ibu cari uang 😢
2022-06-07
1
Ika Reno
Sedih loh bacanya kasian sekali laras ga punya teman ga ada yg ngajarin ngaji dihina dicemoh masa kecilnya penuh dengan kenangan kelam
2022-06-07
0
👑✧ಡkumaqiಡ✧
aku comeback nih 😁😁
2021-11-24
1