Hari itu terik matahari panas membakar ubun-ubun, ibu mencuci di sungai, rambutnya tergerai. sungguh ibuku cantik sekali kulitnya putih, badan yang sintal, rambut tergerai ikal panjang selutut.
Dengan Lenggok tubuhnya membuat banyak mata melihat dengan iri dan ingin mengganggu, tak jarang ada orang yang dengan terang terangan melamar ibuku.
Seperti malam itu, seseorang sengaja mengetuk dinding tempat kami tidur, ibu mencubit paha mas Bejo sampai mas Bejo menjerit kesakitan, lalu ibu berpura-pura. "Ada apa le...?"
"Opo le ?" kata ibu mencari-cari sesuatu. Itu semua membuat kami riuh ikut terbangun. Mas Bejo yang langsung maksud dengan yang terjadi, langsung terbangun seolah hendak membuang air besar
"Aku ikut mas," aku terus merengek
Pernah terjadi pemilik rumah yang kami tempati, berbisik-bisik memanggil ibu di balik dinding tempat ibu memasak, ibu dengan pura-pura tak mendengar menyiramkan air ke arah suara itu. Dan, terdengar suara orang pergi tergesa-gesa dengan memaki.
Ibuku seorang istri yang jujur dan setia dengan keadaan kami yang sangat buruk ibu memilih kelaparan bersama kami dari pada menerima ajakan orang untuk meninggalkan bapak atau sekedar menerima bantuan dari orang yang menyukainya.
Ibu selalu berkata "Kebaikan apa yang sudah kamu dapatkan itu tidak ada yang gratis di dunia ini semua harus ada bayarannya. Semakin baik orang pada kita maka kita harus semakin hati-hati jangan kalian menumpuk kebaikan orang-orang, itu akan menjadi hutang yang akan kalian bayar suatu hari nanti." Nasehat ibu pada kami. Mas Bejo diam menyimak, sedangkan untuk otak kecil Laras, hal itu hanya akan tersimpan dalam memorinya.
Menurut orang Laras tak normal karena Laras tak pernah berbicara kecuali bersama Bejo, dia hanya diam menerima perlakuan orang tanpa melawan, bagi Laras yang lugu, Bejo adalah satu-satunya dunia yang dia miliki. Laras dalam diamnya, dia anak yang cerdas dan dia merekam semuanya di dalam kepalanya, dia dengan baik dan nurut saja atas apa yang terjadi seperti pesan Bejo kakaknya "seeeets." Bejo selalu menempelkan jarinya ke bibir Laras.
"Menjadi orang yang jujur itu wajib," nasehat ibu selalu melekat pada kami, anak-anaknya.
Bapakku yang selalu pergi merantau jarang bersama kami, biasanya ia datang sore hari dan berangkat pada pagi hari dan akan menginap berhari-hari bahkan berminggu-minggu. tapi kami anak-anak akan melindungi ibu kami.
*******
Bejo berlari sepulang sekolah menyusul ibunya membantu mencuci baju di sungai, ibu tersenyum melihat itu, Laras sendiri langsung terus-menerus bermain air tak henti-hentinya.
Sambil terus bermain air Laras mencari kerang sungai dan seikat tumbuhan air, dengan bangga Laras berputar-putar senang
"Hari ini kita makan keong!"
Sesekali sang ibu menghentikan aktivitas nya dan tersenyum melihat putri kecilnya yang lusuh dan hitam kulit nya yang terbakar matahari
Siang semakin terik, matahari bersinar. Siang dan malam waktu yang terus berjalan menjadi saksi semua perjalanan insan di muka bumi tanpa komentar, tanpa perlawanan seolah itu adalah tugas mereka yang tidak bisa di ganggu lagi
Hari itu sepulang dari sungai. ibu langsung kaget beberapa orang dengan tak sopan membongkar rumah tempat tinggal kami tanpa permisi.
Ibu mencoba berbicara menjelaskan beberapa hal dengan pemilik rumah, tapi mereka tak mau tau, pembongkaran terus di lakukan.
Mereka tidak perduli dengan ibuku yang perutnya membuncit yang memiliki balita dan kami berdua, terlebih lagi bapak tidak ada di rumah.
Ibu hanya duduk memeluk kami bertiga tak berdaya, kenyataan memang itu rumah milik mereka.
Tanpa rasa kasian mereka terus melakukan aktivitasnya membongkar rumah dan mengeluarkan semua pakaian dan milik kami terkadang mereka melemparkan barang-barang dengan kasar,
"Memang, kami sadar hanya menumpang di rumah itu, memang kami tak punya hak, tapi setidaknya beri Kabar biar kami pindah, mencari tempat lain" Ibu berbicara lemah pada mereka,
Tapi mereka tetap tidak perduli, seolah tak punya hati mereka terus membongkar, sesekali terlihat, senyum jahat mereka tertuju pada kami, menunjukkan kuasanya.
Kami hanya diam, mas Bejo ambil alih, memegang tangan ibu yang terduduk lemas, tapi Laras berdiri memandang mereka satu per satu seolah mengingat siapa saja mereka.
Laras terdiam dengan lugunya ia berdiri mematung melihat keramaian orang membongkar rumah tempat yang kami tinggali,
"Kok di bongkar mak? " tanya Laras polos "Kita tidur di mana Mak?" kembali Laras dengan lugunya bertanya,
Matanya terus melihat teringat sesuatu
" Mak itu yang manggil emak malem itu Kan ?"
Bejo bergegas membungkam mulut Laras, dengan sigap.
Benar malam itu seorang lelaki mengetuk pintu rumah mencoba merayu ibu, tapi ibu menolak dengan tegas, merasa tak terima dengan penolakan ibu dan mereka mengusir kami.
Ibu diam melihat yang mereka lakukan, kesetiaan ibu sama bapak harus di bayar dengan penderitaan, malam itu kami tinggal di sebuah teras rumah orang, adikku sudar menggigil demam, mas Bejo tertidur memelukku, tapi aku tidak tidur, aku terjaga semalaman melihat ibu menangis diam-diam, masih teringat kata mas bejo
"Sssssssuuttttt diem"
Setiap kali melihat apapun mas Bejo selalu bilang begitu, Hingga Laras terbiasa diam saat melihat apapun.
********
Pagi pagi sekali ibu menangis diam-diam menggendong sudar menuju arah yang agak jauh meninggalkan kami yang masih tertidur.
Tapi Laras yang tidak tidur mengikuti ibunya, berjalan pelan menuju rumah pak Hasan hansip kampung.
Sebenarnya di kampung itu ada seorang teman lama yang mengenal kami, tapi ibu tak ingin membebani orang, jadi kami memilih tinggal di sebuah teras
Hansip baik hati itu langsung menghampiri ibu menyambut adik, di sana mereka membawa masuk adik ke rumah kecilnya. Tak lama kemudian pak Hasan bersama ibu berjalan kembali menghampiri di mana kami tidur
"Laras sudah bangun?" kata ibu memeluk Laras dengan kasih sayang
Laras mengangguk pelan, pak Hasan membopong mas Bejo membawa kami pulang ke rumahnya
Tak lama beberapa orang membawa adik ke suatu tempat untuk di makamkan
"Adikku sudar meninggal."
Laras masih diam melihat itu, untuk anak seusia Laras, ia belum mengerti akan hal itu.
Tapi, mereka salah menilai seorang Laras, Sebenarnya Laras anak yang periang, polos, dia merekam semua kejadian dengan hanya diam, momen air mata ibunya ia simpan jauh di hatinya seperti yang mas Bejo katakan
"Sssssuutttt" sambil menempelkan telunjuk jarinya
Kata-kata kakaknya Bejo, selalu melekat di hati dan pikiran Laras.
Hari itu hari bersejarah dan hari yang menyakitkan buat kami, adik kami telah pergi, Sudar yang masih berusia dua setengah tahun tak kuat menahan dinginnya malam. Malam dimana kami terusir dari rumah menjadi saksi adik kecil kami meninggal dunia, meski adik kecil kami berbadan besar hampir menyamai tubuh Laras namun fisiknya tak sekuat Laras, demam tinggi yang tak kunjung mendapat pertolongan pengobatan membuat dia kehilangan nyawa. Sesungguhnya ibu Sudah berjuang mencari uang ke beberapa tetangga bahkan kepada saudara satu-satunya bapak bude Tirta, dengan jaminan ayam ternak milik ibu, tapi mereka menolak membantu dengan alasan tidak memiliki uang.
Sungguh adik kecilku yang malang, ibuku menangis sejadi-jadinya, melihat itu, mas Bejo Selalu setia di samping ibu dan memegang erat tangan ibu. Tak pernah sedikitpun mas Bejo meninggalkan ibu, Bejo menjadi anak pertama begitu tangguh, dengan sekuat tenaga dia menjaga ibu dan adik-adiknya disaat ayahnya tidak di rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Paulina H. Alamsyah Asir
Thor, kau buat aq menangis ..... I'm veey Sad because of you😭
Vote meluncur, thanks sudah buat gw nangis.
sedih banget. Banyak banget bawangnya Thor😭
baru jg baca 2 bab, dah banjir saja nih mata😭
Semangat Thor, sukses selalu untukmu😍💪🙏
2023-05-08
1
nath_e
astaghfirullah...ini beneran??
2021-11-14
2
Pangeran Matahari
sadis..
2021-11-11
2