Aku Laras anak ke dua dari pasangan suami-istri miskin, aku memiliki satu kakak bernama Bejo Pangestu, satu adik laki-laki bernama Wahyu, kami mulai tinggal di sebuah perkampungan beberapa tahun yang lalu.
Bapak dan ibuku memiliki cita-cita agar kami sekolah tinggi, mas Bejo masih dengan kerja kerasnya bersekolah di SMA sambil bekerja. Pagi sekolah dan pulang sekolah langsung bekerja.
Kerja apapun mas Bejo lakukan, untuk mewujudkan cita-cita nya, mas bejo jarang berkumpul atau bergaul Dengan orang-orang di kampung, dia tidak punya waktu untuk itu, sedangkan Laras yang masih SD masih harus berkumpul dengan orang orang dan membantu ibu merawat adik kecilnya saat ibu bekerja
"Ras bapakmu mana ?"
" Kerjo !"
"Kerja apa?, upahan ?"
"Iya! apa saja!"
" Bapakmu itu nggak tau diri, orang miskin sok kaya, pake menyekolahkan anaknya SMA!, buat makan saja susah!"
Laras diam saja menangapi omongan orang orang Sambil berlalu
"Iyo sok-sokan!''
"Aku sebel liatnya, gregetan!"
Laras terus berjalan pulang tidak perduli
"Mak..! mamak...?!kemana ya?!"
Laras terus mencari cari ibunya yang tidak ada di rumah
"mamak mu ngelayap (main) noh, cari lanangan (laki-laki)"
Seorang tetangga memberi taukan Laras kemana ibunya pergi. Ternyata ibu menidurkan adiknya dengan berjalan jalan.
Lalu Laras mencari ibunya di rumah tetangga,
"Mak pulang yok...!"
"Ntar Ndok"
"Ayolah! Mak!"
Tak ingin melihat ibu nya di hina, Laras memaksa ibunya pulang. Bagaimana tidak, mereka yang tampak baik itu sangat jahat di belakang ibunya.
Ibunya melangkah mengikuti langkah Laras
"Mak mereka itu jahat mamak tidak usah terlalu dekat, mereka sering ngomongin mamak di belakang mamak!"
"Ras manusia itu memang begithu. Kalau kamu marah karena orang ngomong, kita gak bisa bergaul ndok"
"Mak bagaimana pekerjaan Bapak? apa Bapak baik-baik saja..?"
Ibu mendengar yang di katakan anaknya dengan diam saja, ia merasa heran
"Ras itu anaknya ya bude Jum, kan bisa di ajak berteman Lo nak"
"Iya mak"
Ibu tidak tau Rini dan ke tiga saudara-saudara nya sangat jahat, mereka pemeran utama dalam pembullyan yang terjadi padanya
Hati ku berbisik alangkah kasihan ibuku.
"Badokkan ( makanan ) wong cilik gak punya apa-apa, makan aja susah kok nekat menyekolahkan anaknya. Kalau Sampek bisa lulus SMA tak sembah dia! " buk Jum mengumpat ibu di belakang
"Nih mamak di bawain sayuran sama bude Jum.." kata ibu pelan
Ibu tampak bahagia memiliki tetangga
Hari itu mas Bejo dan bapak pulang larut sekali, malam sudah mulai datang, kami makan makanan sederhana yang di masak ibu sore tadi
"Bapak, memang orang miskin itu nggak boleh sekolah apa ?" Protes Laras di sela makan malam mereka
" Siapa yang bilang, justru kalo kita miskin kita berusaha supaya nasib kita berubah"
Paiman menjawab putrinya antusias yang langsung di balas oleh Bejo
"Untuk merubah nasib nggak ada jalan lain kecuali dengan sekolah, kamu harus sekolah Laras." kata Bejo
"Terus mengapa mereka selalu menghina kita! ?"
Semua terdiam mendengar nada bicara gadis mungil ini yang tiba-tiba meninggi lalu Laras pergi begitu saja meninggalkan mereka yang masih makan. Tak lama Bejo menyusul Laras dan menasehati adiknya itu. "Ras kita orang miskin, kita terlahir bukan dari orang yang istimewa tapi kita berhak berusaha merubah nasib hidup kita, ingatlah yang sudah kita lewati kemarin, itu menjadi pengalaman yang sangat penting dan mahal. Jadikan itu semua sebagai cambuk untuk kita jadi pemenangnya"
Laras terdiam mendengar Bejo bicara, meskipun ia tak banyak tau tapi ia tau kata pemenang adalah Kata yang sangat istimewa
''Apapun keadaannya dan jalannya aku harus jadi pemenang nya." tekad Laras dalam hati
*****
Besok ulangan kenaikan kalas enam, aku harus melampaui mereka."semangat"
Langkah kaki mantap buk Eka menuju kelas kami, senyum manis di sana menyapa
" Selamat pagi anak-anak?"
"Pagi ibu....!"
Bu Eka langsung membagikan kertas soal ulangan yang langsung di kerjakan oleh Laras dengan teliti .
"Wah, soalnya mudah sekali"
Tak menunggu lama iapun sudah selesai
Buk Eka melihatnya dengan senang
"Kamu sudah besar ras..."
Itu yang selalu buk Eka katakan saat bertemu dengan Laras
Lembar soal kedua langsung di bagikan lagi, menghemat waktu katanya.
Alhamdulillah soal kedua pun di kerjakan tanpa hambatan oleh Laras
"Rernyata aku cukup mampu saat aku mau berjuang." semangat terpancar di mata Laras
Dengan langkah bahagia ia menikmati masa ujian kenaikan kelas kali ini
Selama seminggu semua soal ia kerjakan dengan mudah, semangatnya semakin membara. Ia hanya berfokus pada prestasi saja,
" Saat aku tak di terima oleh teman-temanku, aku hanya cukup belajar sendiri dengan tekun."
Ulangan kenaikan kelas yang terbilang sangat mudah mengawali rasa percaya diri seorang yang tinggi.
******
"Mas aku mau ikut Karate kayak mas"
"Kamu masih kecil ras"
"Itu Supri ikut" protes laras
"Ya tapi kita nggak punya uang"
"OOO githu mas, jadi pakek uang ya?"
Bejo mengangguk pelan dan Laras paham tapi ia sedikit kecewa. Menghabiskan waktu libur selesai ulangan dengan hanya duduk diam membuatnya bosan
"Aku mau ke pohon jambu kesayangan ah, kangen"
Laras berlari-lari menuju hutan kecil matanya mencari kalau ada gajah di sekitar.
Desa memang tidak lagi di serang binatang Gajah, tapi binatang itu masih terus membayangi desa kami, terkadang muncul tiba-tiba.
Jika ada yang tau aku memasuki hutan itu mereka pasti akan memarahiku, karena jalan yang ku lewati adalah jalan yang selalu di lewati gajah, jalan yang menyimpan tragedi berdarah yang menewaskan pak Salman warga kampung kami
"Waaaah..."
Kupeluk pohon jambu itu, dengan sayang, sebuah tangan menyentuh pundakku.
"Mbak Mayang.." aku langsung memeluknya
"Jangan khawatir aku akan mengajarimu"
"Emang mbak bisa?"
"Bisa dong!"
"Mbak, aku nggak bisa ke sini, nggak aman ada Gajah, aku takut!"
"Apa yang kamu takutkan?"
"Takut mbak Gajah itu besar, aku kalo di injak tubuhku hancur, hiih serem"
"Seorang yang ingin menjadi pemenang tidak boleh takut"
Mbak Mayang membelai rambutkki sayang, seolah dia tau apa yang terjadi pada ku, termasuk keinginanku ingin ikut Karate.
Kemudian mayang memberi Laras batu-batu kerikil kecil dan memintanya untuk melempar sebuah pohon kecil yang jauh, berjarak bermeter-meter sampai bisa mengenai nya dan akan bertepuk tangan saat ia berhasil.
Laras menghabiskan waktu bersama mayang, berlatih melempar tepat sasaran, pelajaran pertama dari Mayang
"Laras waktunya sudah sore pulanglah, ingat"
"Masih siang mbak"
"Pulanglah lewat jalur sawah jangan lihat ke atas, ambil batu dan lemparkan ke tengah sawah sampai kamu benar-benar sudah keluar dari hutan ini" pesan Mayang padanya
"Kan itu jauh mbak?"
"Iya, itu jauh tapi seorang pemenang akan mengambil jarak yang jauh untuk melatih fisiknya, dan untuk menyusun sertateginya"
" Oke mbak Mayang"
"Jangan lupa, ikuti kata mbak ya Laras, besok mbak yang akan menemui Laras, Laras jangan ke sini"
"Iya mbak"
Mayang menyarankan melewati jalur sawah karena jalur yang baru saja di lewati Laras terdapat ekor gajah yang sedang tertidur, sesungguhnya tanpa Laras sadari, Mayang selalu menyelamatkannya dari hal-hal buruk yang selalu mengancamnya. hanya saja Laras benar-benar anak yang polos, dan tidak memahami akan bahaya yang mengancam.
Dengan langkah gontai Laras mengikuti jalur sawah, ia selalu mengambil batu dan melemparkannya ketengah sawah membidik orang-orangan sawah melawan luasnya sawah.
Bidikan yang ia lempar terkadang gagal dan juga berhasil, untuk beberapa bidikan terakhir Laras terus dan berhasil.
Melempar menjadi Hobi pertama Laras, Laras terus dan terus melakukannya,ada rasa bahagia dan bangga saat ia berhasil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Halimah Aja
jadi candu nunggu setiap episode nya
2024-01-02
0
Ririt Rustya Ningsih
lanjut thoor
2023-12-27
0
Ai Emy Ningrum
tetangga pak Paiman pada julid kabeh 🤪🤪
2021-06-29
2