Malam merambat pelan, menelan habis kegelapan, mungkin seperti itulah takdir.
Cahaya menerobos masuk melalui celah dinding bambu yang di anyam rapi, tapi karena keadaannya yang sudah rapuh anyaman itu tak terlihat rapi lagi, beberapa telah terkoyak
Laras gadis lusuh yang manis membuka matanya perlahan, terlihat bapak, ibu, mas Bejo dan adiknya, lengkap sedang tersenyum, paiman tampak baik-baik saja
"Ras kamu dapat ramuan jamu dari mana?, manjur bapak langsung sembuh."
"Ramuan pak?, ramuan apa pak?" Laras tampak bingung.
******
Malam itu ada sebuah kejadian yang terasa ganjil, Laras pergi menuju tempat Paiman di rawat, Bejo melihat Laras terkejut
"Lo ras, kamu jalan sendiri kesini?"
"Iya mas aku Bawak jamu dari mbak Mayang, kata mbak Mayang ini tidak mengobati tapi menghilangkan racunnya"
Bejo keluar melihat-lihat, merasa aneh saja Laras tiba-tiba muncul, sedangkan jarak rumah ke tempat bapak berobat sangat jauh, melewati jalan yang berkelok, menanjak dan menurun
"Ras kamu nyusul sama siapa ?"
"Sama mbak Mayang mas."
"Mana mbak Mayang?"
Bejo mencari-cari Mayang yang di maksud Laras
"Mas aku mau pulang takut mbak Mayang nunggu kelamaan"
Laras terburu-buru meninggalkan Bejo
"Mana lo ras?"
Bejo masih terus mencari, mendengar Bapak terbatuk-batuk membuat Bejo lupa, berlari mengambilkan air minum
"Coba Jo sini jamu yang di bawa Laras"
Bapak meminum jamu yang di bawa Laras hingga tandas.
Benar saja setelah minum jamu itu bapak tidur pulas, keringat bercucuran, pagi hari bapak sudah di perbolehkan pulang oleh dokter
*******
Dengan rasa penasaran Bejo bertanya pada Laras yang mulai menyiapkan diri untuk ke sekolah
"Semalam kamu berani nyusul, hebat, nggak takut kamu Ras?"
"Aku tidur di rumah mas, mana aku tau rumah pak dokter"
"Iya juga ya''
Bejo membenarkan yang di katakan Laras, tidak mungkin kalau Laras datang menyusul semalam, tapi siapa yang datang semalam dengan wajah Laras.
Masih dengan perasaan penasarannya Bejo meninggalkan Laras sendiri yang sedang bersiap berangkat sekolah.
Paiman memang sudah sembuh tapi batuknya masih ada
******
"Laras si miskin," julukan indah pada gadis kecil lusuh yang selalu menyendiri. Memiliki hobi baru berpetualangan ke hutan belantara, melewati bebatuan dan tebing curam. Dari hari ke hari hobi yang di tanamkan Mayang di nikmatinya dengan kepuasan.
Laras dapat membidik dengan tepat sasaran, seberapa jauhnya. Laras pun mulai terbiasa dengan liarnya hutan, kembali Mayang mengenalkannya akan hidup sebagai seorang pemburu
Laras gadis lugu yang harinya mulai di penuhi kebencian dan tidak tau pada siapa ia sekarang bersama selalu menuruti apa yang di katakan Mayang.
Siang itu Mayang memberinya sebuah anting berbentuk Pedang panjang terbuat dari tulang, seperti nya anting itu hanya satu, di kenakan di telinga sebelah kirinya. Hadiah pertama dari Mayang sebagai tanda pertemanan mereka
"Laras apapun yang terjadi jangan kamu lepas anting itu, sampai kamu besar kelak, karena anting itu terbuat dari tulang rusukku"
"Heeemmm iya Mbak Mayang" Laras mengangguk pelan tanpa tau apa maksud dari ucapan Mayang
Laras yang masih polos hanya mengangguk pelan. Hari itu Laras mendapatkan ilmu baru yaitu berburu hewan. Saat pulang
"Mak aku bawa rusa" Laras pulang sekolah sudah sore dan membawa hewan tangkapan
"Heh, sembarangan, dari mana?"
"Aku menangkapnya"
"Ras, bagaimana caranya?"
"Ya di kejar mak, terus di lemper batu"
Ibu heran Laras menyayat rusa itu tanpa takut-takut, membersihkan dan menyerahkan pada ibunya.
Meski Dengan penasaran ibu memasaknya juga .
Bapak yang baru pulang dari kerja langsung di buru sama ibu
"Pak, Laras itu pulang bawa rusa, memang nangkap rusa gampang opo ?"
"Aneh-aneh mak , mana bisa Laras nangkap Rusa"
"Bapak kok gak percaya, itu Lo tak masak"
Bapak menghampiri kuali yang berisi daging Rusa
"Besok anak nya tak ikuti" kata bapak sedikit takut
"Iya pak aku khawatir"
Malam itu kami makan daging Rusa hasil tangkapan Laras
*****
Paiman sengaja tidak bekerja hari ini, dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada putrinya. Seperginya Bejo dan Laras bapak duduk di ujung gedung tempat Laras sekolah secara diam-diam.
"Eh kamu tau nggak? itu laras si miskin. kerjanya ke hutan tempat gajah sering datang loh,"
"Biarin, biar di makan gajah"
"Terus katanya bapaknya di racun kok nggak mati ya,"
Anak kecil-kecil berbincang di sisi lain gedung, paiman menghela nafas dalam
"Jadi benar aku di racun, y ampun Ndok, kamu berkata jujur"
Tak lama anak-anak mulai berhamburan pulang, Paiman mulai mengendap-endap mengikuti langkah kaki Laras, dari jauh tampak Laras melangkah menuruni persawahan berlari-lari kecil tak henti-hentinya tangan mungil itu melempar pohon, ranting, dan beberapa burung, Langkah kaki itu terus melangkah jauh masuk ke hutan besar
"Loh kok masuk hutan besar anakku"
Tampak kesusahan Laras menaiki tebing memanjat pohon dan terus melangkah semakin jauh meninggalkan area perkampungan
Dengan sabar Paiman terus mengikuti anaknya, sampailah di hutan yang terkenal angker yang tak seorangpun berani datang ke sana, Sesekali tampak Laras tertawa sangat bahagia.
Laras hari ini berburu lagi, mbak Mayang menginginkan ia untuk menangkap seekor ular, Jadi Laras terus menyusuri hutan mencari hewan incarannya itu.
Sore hari Laras baru mendapat hewan yang di carinya, dengan berlahan Laras mengambil bambu membidik kepala, keahliannya melempar ia jadikan senjata. Ular yang memiliki tubuh besar setara betisnya, dapat ia taklukkan dengan mudahnya.
Paiman terduduk lemas kakinya seolah tak dapat mengangkat berat badannya, melihat apa yang di lakukan putrinya, ia tak habis pikir
"Bagaimana pak" wagiyem isteri Paiman ibu Laras menghampiri suaminya
"Ora mak, nggak ada apa-apa"
Paiman menghela nafasnya dalam-dalam berbohong agar istrinya tidak merasa khawatir
"Mak buatkan aku kopi"
Paiman duduk di kursi kayu menunggu Laras, jam dinding menunjukan pukul 18:00, gelap mulai merayap, bayangan akan putrinya tak dapat hilang dalam kepalanya.
"Laras mengalahkan ular yang bisa saja menelan tubuhnya dengan mudah dan meletakan ular itu begitu saja di atas sebuah batu besar.
*****
Laras sendiri sangat senang berburu ular dan mendapatkan hasil memuaskan, dengan bangga ia menyerahkan hasil buruannya pada mbak Mayang.
Mayang menemani Laras hingga mendapatkan hasil buruannya dan seperti biasa ia akan mengantarkan Laras pulang hingga sampai ke perbatasan desa
" Ctek ctek ctek ctek ctek," suara langkah kaki kecil menghampiri pintu rumah, wajah Laras Muncul dengan senyum manisnya
"Bapak mas Bejo udah pulang?"
"Belom Ndok, kamu dari mana?"
"Dari main sama mbak Mayang"
"Oalah, kok nggak kamu ajak masuk"
"Kata mbak mayang, belum bisa main pak"
"OOO iya"
Paiman mengelus kepala putri nya dengan sayang ada rasa kasihan, ternyata anaknya tidak memiliki teman si sekolah.
"Assalamualaikum" suara. Bejo menghampiri bapak ibu untuk bersalaman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Nitizen
crita keluarga miskin yg harmonis ❤️❤️👍👍👍❤️💖💖💖💖
2021-06-15
3
Ayesha
semakin seruuuu
2021-06-11
1